Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 422)

”Dua kali kau menyelamatkan kami, Nak. Engkau seperti malaikat yang dikirimkan Tuhan ke kedai ini, persis di saat-saat yang sangat genting. Kami dua beranak tidak tahu bagaimana membalas budimu…”
Si Bungsu hanya menatap dengan tenang.
”Saya sangat lapar, apakah mungkin saya minta bantuan Siti menanakkan nasi? Saya rasa kita makan dengan Pak Wali bersama-sama. Saya rasa besok belum tentu ada orang yang mau menanakkan nasi buat saya di Situjuh Ladang Laweh. Di sana tak ada lagi sanak famili saya. Mamak saya suami isteri, sudah meninggal. Anaknya Reno Bulan kini berjualan kain di Bukittinggi bersama suaminya.”
Siti hiba hatinya saat si Bungsu berkata ”besok belum tentu ada orang yang mau menanakkan nasi buat saya” .
”Saya akan tanakkan nasi untuk Uda. Tapi … bila Uda bertemu dengan kak Reno? Kabarnya hidupnya susah, dia ikut suaminya yang tukang salung..”
”Saya bertemu dengannya beberapa bulan yang lalu. Sebelum peperangan besar melanda Bukittinggi. Dulu suaminya memang tukang salung. Tapi berkat yakin, dari uang yang mereka kumpulkan sedikit demi sedikit, kini mereka sudah berjualan kain di Los Galuang.”
Siti menatap lelaki yang tak pernah lenyap dari hatinya itu nanap-nanap. Kemudian mulai menjerang nasi, menyiangi ikan limbat dan gurami yang dibeli sore tadi dari orang yang memancing di sungai kecil tak jauh dari kampung itu. Kemudian menggorengnya dengan cabe hijau yang dia giling. Sambil menanti Siti bertanak, ketiga lelaki itu terlibat pembicaraan tentang pertempuran PRRI dan APRI di Bukittinggi. Tentang ratusan korban yang bergelimpangan yang dikumpulkan di bawah Jam Gadang, yang tidak jelas apakah penduduk atau tentara PRRI.
Ketika azan subuh terdengar, walinagari minta diri seraya juga mengucapkan terimakasih kepada si Bungsu atas perannya menyelamatkan Siti dan ayahnya, sekaligus menyadarkan ketiga orang PRRI yang sering jadi momok di kampung-kampung di kaki Gunung Sago itu. Si Bungsu menompang sembahyang subuh di rumah itu. Mereka sembahyang berjamah, dengan ayah Siti sebagai Imam. Usai sembahyang Siti meletakkan kopi dan ketan serta pisang goreng yang dia siapkan dengan cepat.
Tapi akhirnya tiba juga saat yang sangat dia takuti, sangat tidak dia ingini.  Yaitu saat si Bungsu minta diri. Entah mengapa, dia ingin anak muda itu berada lebih lama lagi di rumahnya. Namun si Bungsu sudah minta diri.
”Saya harus pergi, terimakasih masakanmu Siti. Selamat jalan kalau kelak Bapak dan Siti berangkat ke Negeri Sembilan. Salam saya kepada suamimu, Sutan Sinaro,  Siti…” ujar Si Bungsu. Siti menatap si Bungsu, kemudian tertunduk. Ada manik-manik air mengalir perlahan di pipinya.
”Akan lama Uda di Situjuh?”
”Saya tidak tahu, Siti. Seperti saya katakan tadi, di sana tidak ada lagi sanak famili saya..”
”Kalau sebelum kami pergi Uda lewat di sini, singgahlah. Saya akan menanakkan nasi untuk Uda..”
—o0o—
Rumah Gadang tempat dia lahir dan menjalani masa remaja, rumah dimana ayah, ibu dan kakaknya mati ditangan Saburo dan pasukannya, masih terurus dengan baik. Dia dapat cerita dari Reno Bulan sewaktu di Bukittinggi bahwa rumah itu kini dihuni kemenakan ayahnya. Waktu mereka bertunangan dulu kemenakan ayahnya itu berada di Jambi, menikah dan berdagang di sana. Si Bungsu tak pernah mengenal kemenakan ayahnya itu. Karenanya dia sengaja tak singgah di rumah tersebut. Kendati hatinya direjam rindu, namun dia hanya melihat dari kejauhan saat akan menuju ke pekuburan. Sudah tiga hari dia di kampungnya ini. Pandam pekuburan kaum dimana keluarganya dimakamkan sudah tak terurus dan ditumbuhi lalang padat.
Dia baru menemukan ketiga kuburan keluarganya itu setelah mencari dengan susah payah. Selama di kampung dia tidur di masjid dimana dulu terjadi keributan karena tentara Jepang akan menangkap Sawal dan Malano, dua pejuang yang sebeumnya mencuri senjata di gudang tentara Jepang di Kubu Gadang. Peristiwa itu terjadi setelah dia ikut sembahyang berjamah di masjid itu. Sawal adalah anak haji yang menjadi imam di masjid tersebut. Itu adalah hari pertama dia turun dari puncak Gunung Sago. Dan hari itu, untuk membela Saleha, anak kedua Imam masjid dan sekaligus menolong Sawal dan Malano agar tak tertangkap, dia membunuh ketiga Jepang yang datang itu. Itulah kali pertama dia membunuh tentara Jepang.
Kini tak ada lagi orang sembahyang berjamaah di masjid itu. Pergolakan merobah kampung itu, dan juga kampung-kampung lain di pedalaman Minangkabau. Sebagaimana dijelaskan walinagari di kedai Siti, para lelaki sebagian ada yang ikut masuk hutan bergerilya melawan tentara pusat dengan sukarela. Sebagaian lagi ikut dengan terpaksa. Sebagian yang lain lagi pada meninggalkan kampung. Merantau ke Jawa, Tanjung Pinang atau Pekanbaru. Sebagian besar yang tinggal di kampung adalah orang-orang tua, lelaki maupun perempuan.
Jika di kota seperti di Payakumbuh, Bukittinggi dan Batusangkar saja orang jarang sembahyang berjamah ke masjid, apa lagi di kampung-kampung kecil di kaki Gunung Sago itu. Tapi keadaan itu membuat si Bungsu agak tenteram. Karena hampir tak ada orang yang tahu dia berada di kampung itu. Situjuh Ladang Laweh, karena letaknya di pinggang Giunung Sago, situasinya sangat rawan. Letaknya itu menyebabkan desa tersebut setiap sat dengan mudah didatangi pasukan PRRI. Sebaliknya, pada waktu tertentu tentara pusat yang disebut sebagai APRI itu datang ”membersihkan” desa-desa dari PRRI yang mereka sebut sebagai ”gerombolan”.
Penduduk benar-benar seperti memakan buah simalakama. Mereka tak mungkin menolak bila ada dua atau tiga anggota PRRI yang singgah dan meminta nasi. Namun bagi orang tertentu hal itu  digunakan untuk mencari keuntungan bila tentara APRI datang. Bisa saja untuk balas dendam bila orang yang rumahnya didatangi PRRI itu adalah orang yang berseteru dengannya. Sebaliknya, bila yang naik ke sebuah rumah adalah anggota TNI dari APRI, maka itu juga bisa dijadikan sumber fitnah oleh seterunya. Lapor melapor antar-sesama penduduk seperti itu bukan hal yang jarang terjadi. Itulah yang menyebabkan orang merasa lebih baik angkat kaki dari kampung halaman mereka. Pergi merantau ke Jawa, ke Riau atau ke daerah lain.
Si Bungsu tengah menuju ke pemakaman untuk kembali membersihkan kuburan keluarganya itu. Saat lewat di depan rumah milik kedua orang tuanya, dimana dahulu dia hidup di sana, dia lihat seorang lelaki separoh baya tengah membelah-belah kayu di bawah rumah gadang tersebut. Lelaki itu menoleh ke arahnya. Dia cepat-cepat mengalihkan pandangan dan terus berjalan. Dia tahu, lelaki itu adalah kemenakan ayahnya yang menunggu rumah gadang tersebut.
Lewat tengah hari dia selesai membuat ketiga makam keluargnya menjadi amat bersih. Selain ketiga makam itu, dia juga membersihkan tiga atau empat makam di sekeliling makam keluarganya tersebut. Pergolakan tidak hanya membuat kampung menjadi lengang, juga menenyebabkan kuburan, kebun, sawah dan ladang menjadi terelentar. Rumah-rumah yang tidak berpenghuni atap ijuknya pada ditumbuhi lumut atau sakek.
Saat akan mengakhiri pekerjaanya membesihkan kuburan itu tiba-tiba jantungnya berdebar. Dia tegak, menatap keliling. Hanya ada belukar yang semakin lebat. Debar jantungnya makin menguat. Biasanya debar seperti itu adalah isyarat datangnya bahaya. Jauh di atas sana dua ekor elang terbang berputar seperti sedang mengintai mangsa. Dia memejamkan mata, memusatkan kosentrasi. Mencoba mengetahui apakah bahaya yang mengancamnya, yang membuat debar jantungnya berdenyut tidak normal itu, datang dari dalam belukart yang mengelilingi kuburan tersebut.
Dalam kosentrasinya dia mencoba menangkap suara sehalus apapun yang datang dari dalam belukar itu. Mungkin desah nafas, mungkin dengus, mungkin suara dedaunan yang tergeser oleh tubuh mahluk apapun. Harimau, beruang atau ular sekalipun. Dari pengalaman hidup di puncak Gunung Sago dahulu, dia memilik kemampuan untuk mendengarkan perbedaan sekecil apapun suara yang ditimbulkan. Antara suara daun yang ditiup angin dengan daun yang terkuak oleh lewatnya mahluk hidup.
Namun meski beberapa kali dia coba memusatkan kosentrasi tetap saja tak satupun sumber suara yang bisa disimpulkan sebagai ancaman. Dia hanya mendengar suara beberapa ekor ayam hutan mengais makanan. Kemudian suara desiran seekor ular, mungkin ular tedung yang besarnya tak melebihi lengannya. Suara bergeraknya ular itu, menurut perkiraannya, ada sekitar dua puluh depa dari tempatnya berdiri. Lagipula arah bergerak ular itu menjauhi tempatnya berdiri, bukan ke arahnya. Jadi samasekali bukan ancaman bagi dirinya.
Dengan fikirian…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s