Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 424)

Sama sekali tak ada niatnya untuk melukai apalagi membunuh si Bungsu, lelaki yang siang malam memenuhi relung hatinya. Satu-satunya lelaki yang pernah merebut hatinya, yang siang malam dia rindukan. Lelaki yang dia cari sampai ke ujung dunia, tanpa mempedulikan apapun rintangannya. Kalau tadi dia menghunus samurai, itu dengan keyakinan yang amat sangat bahwa serangannya dengan amat mudah dapat dielakkan atau ditangkis oleh si Bungsu. Dia sebenarnya sangat berharap dialah yang dilukai dan dilumpuhkan.
Kalau si Bunsgu tidak mencintainya, dia rela mati di tengan lelaki yang dia cari ke segenap penjuru ini. Dia memang mencari lelaki itu dengan dendam di hati. Tapi jika ditimbang mana yang berat antara dendam dengan rasa cintanya kepada lelaki itu, perbandingannya bisa satu untuk dendam, sepuluh untuk cinta. Dia benar-benar tidak menduga sedikitpun, bahwa gerakan si Bungsu di awal tadi adalah gerakan untuk membuang samurainya. Dalam fikirannya, serangannya yang tak berbahaya dalam bentuk memancung dari atas kiri ke dada lelaki itu  akan mudah digagalkan. Dia tahu, serangannya itu dapat ditangkis siapapun dengan gerakan sederhana sekali, apalagi oleh si Bungsu.
Tapi si Bungsu ternyata samasekali tidak mencabut samurainya. Dia merasa hiba melihat gadis itu memburunya ke mana-mana untuk membalas dendam. Dia amat menyesal telah menyebabkan Michiko sebagai anak tunggal kehilangan ayah. Kini tak ada lagi tempat gadis itu menggantungkan hidup. Ibunya sudah lama meninggal. Dia dapat merasakan betapa sepi dan terguncangnya jiwa Michiko setelah kematian ayahnya, dia dapat merasakan karena hal yang sama juga menimpa dirinya.
Itulah sebab dia ingin segera mengakhiri dendam turunan itu. Itulah pula sebabnya kenapa dia samasekali tidak mencabut samurai untuk melawan Michiko. Yang dia lakukan justru melemparkan samurainya ke tanah. Dan saat itu serangan ke dadanya tak lagi sempat ditarik Michiko. Lalu…terjadilah tragedi dan malapetaka itu!
Dalam ketakutan ditinggalkan lelaki yang amat dicintainya itu, Michiko teringat ucapan pendeta Kuil Shimogamo yang menjadi senseinya berlatih samurai, sepeninggal ayahnya. Saat sensei itu tahu Michiko berlatih untuk mencari dan membalas dendam kepada si Bungsu, pendeta itu mengingatkannya dengan lembut:
”Saya tahu anak muda bagaimana musuhmu itu Michiko-san. Dia akan membunuh lawan-lawannya. Tapi percayalah, jika engkau bertemu kelak dengannya, dia takkan melawanmu. Dia adalah  anak muda yang berbudi. Dia tak akan melawanmu, dia akan merelakan nyawanya di tanganmu. Percayalah, Nak . .”
Dia juga teringat penggalan dialognya suatu hari dengan Zato Ichi, pendekar legendaris Jepang yang ternyata juga sudah sangat mengenal si Bungsu setelah peristiwa wafatnya Obosan Saburo Matsuyama. 
”Michiko, muridku. Saya dapat menerka, bahwa antara kalian ada salah pengertian . .”
”Maksud bapak?”
”Salah fahaman itu datangnya bukan dari dia. Tapi dari engkau Michiko-san . .”
”Maksud bapak?”
”Maksud saya, kalian sebenarnya saling cinta . .. ”
”Tidak. Dia tak mencintai saya . . ”
”Bagaimana dengan engkau. Apakah engkau mencintainya?”
Sat itu Michiko tak bisa menjawab pertanyaan Zato Ichi.
”Jawablah. Apakah engkau mencintainya?”
”Saya orang Jepang. Dia telah menyebabkan kematian ayah saya. Bagaimana mungkin dengan kedua perbedaan yang amat besar ini saya bisa mencintainya?”
Zato Ichi tertawa bergumam, lalu menarik nafas panjang.
”Kalau engkau orang Jepang, apakah itu menjadi halangan untuk mencintai bangsa lain? Ah, sedangkan diriku yang tua tak berfikir sekolot engkau Nak. Yang penting bukan bangsa apa dia. Bukan pula bangsawan atau tidaknya dia. Tapi yang penting apakah engkau mencintainya dan dia mencintaimu. Jika hal ini terjadi timbal balik, maka persetan dengan segala perbedaan yang ada. Apakah tak pernah kau dengar betapa banyaknya orang yang kawin hanya karena mementingkan derajat, kekayaan, martabat, akhirnya perkawinan mereka jadi puing. Perkawinan mereka jadi neraka bagi diri mereka. Ah, saya sudah banyak mendengar perkawinan yang demikian Nak . . . ”
Terakhir, dia teringat dialognya dengan Salma, orang yang dicintai si Bungsu sebelum bertemu dengannya, yang ternyata menjadi isteri sahabatnya, Overste Nurdin, Atase Militer Malaya yang berkedudukan di Kota Singapura. Saat itu dia akan naik pesawat ke Padang melalui Jakarta. Saat itu suami Salma berkata:
”Saya berharap akan dapat bertemu dengan kalian berdua, Michiko. Maksud saya engkau dan si Bungsu. Saya tahu, engkau menaruh dendam padanya. Namun, saya benar-benar menginginkan tak satupun di antara kalian yang cedera…”
Kala itu Michiko hanya tersenyum. Senyumnya kelihatan getir. Sebelumnya Salma juga sempat bicara  empat mata dengannya.
”Sebagai sesama perempuan, Michiko, saya ingin mengatakan padamu. Engkau punya kesempatan untuk bertemu dengan lelaki yang sama-sama kita cintai. Engkau yang memiliki kesempatan paling besar untuk mendapatkan dirinya. Jangan engkau sampai dikuasai oleh dendam keparat itu. Itu nonsens sama sekali. Berfikirlah dengan akal sehat. Dia takkan mau melawanmu, aku tahu itu bukan sifatnya. Bila dia engkau bunuh Michiko, sama artinya engkau membunuh harapanmu sendiri. Kau akan menyesal seumur hidupmu. Kalian kini sama-sama sebatangkara. Yang kalian butuhkan adalah kasih sayang. Bukan perkelahian dan saling bunuh. Sebagai seorang yang lebih tua darimu, Michiko san, saya ingin engkau bahagia. Saya ingin si Bungsu bahagia. Dan saya yakin, kebahagiaan itu takkan kalian peroleh kalau kalian tidak bersama. Saya ingin mendengar kabar bahwa kalian menikah. Saya akan menanti kalian di sini. Datanglah sebagai suami isteri. Saya selalu berdoa untuk itu, Michiko, Adikku!”
Michiko tak bisa menahan air matanya. Dia memeluk Salma. Salma juga basah matanya. Kini, lelaki yang dia cintai dan dia cari ke ujung langit itu, bersimbah darah dan sekarat dalam pelukannya karena dimakan mata samurainya! Apa yang pernah diucapkan sesnseinya di Kuil Shimogamo dan Salma, bahwa anak muda itu takkan pernah mau melawannya, akan merelakan nyawanya di tangan Michiko, kini semua terbukti. Semua!
Di antara ratap sesalnya Michiko sayup-sayup seperti mendengar suara ledakan dan tembakan sahut menyahut. Disusul suara gemuruh. Semua suara berdesakan ke dalam kepalanya, susul menyusul dan kacau balau. Hiruk pikuk tak menentu. Bathinnya yang terpukul amat dahsyat akhirnya membuat pertahanan jiwanya berada di titik paling nadir. Mula-mula semuanya menjadi samar-samar, lalu akhirnya tubuhnya  rebah ke jalan berkerikil tak sadarkan diri, dengan tetap memeluk tubuh si Bungsu!

—o0o—

”Dia sadar..” ujar…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s