Tikam Samurai (Bagian 4)

Suatu malam terjadi kegemparan di kampung itu. Kelima serdadu Jepang yang ditempatkan di surau mengaji, yang dijadikan pos darurat, subuh-subuh kedapatan mati semua. Pada tubuh mereka ada bekas tikaman. Jelas tikaman keris. Lewat subuh sedikit, hampir seratus serdadu Jepang mengepung kampung itu Ternyata Datuk Maruhun dan kedua temannya lolos dari tahanan. Kabarnya bersama Datuk Berbangsa dan beberapa pejuang lainnya mereka membunuh pula empat orang serdadu Jepang di penjara. Lalu malam itu juga menyelusup ke kampung. Mereka membawa anak dan isteri melarikan diri.
Ketika kampung itu dikepung Jepang, yang tinggal di sana hanya beberapa keluarga saja. Umumnya perempuan yang suaminya telah tertangkap atau dikirim ke Logas, atau bersembunyi. Empat lelaki yang tertangkap segera dibariskan di de¬pan surau di mana kelima serdadu Jepang itu mati malam tadi. Keempat lelaki itu sebenarnya orang-orang biasa yang tak ada sangkut pautnya dengan kejadian di kampung itu. Mereka hanya petani biasa. Malahan satu di antaranya adalah seorang bisu dan tuli. Namun Jepang itu tak perduli.
Seorang Kapten yang memimpin pengepungan itu, bernama Saburo Matsuyama, tampil ke depan. Wajahnya kelihatan angkuh sekali. Bibirnya tertarik ke bawah dengan garis-garis wajah yang keras dan kuat. Semua penduduk dikumpulkan. Tua muda lelaki dan pe¬rempuan. Saburo lalu berpidato dalam bahasa Indonesia yang lebih banyak tak dimengerti orang kampung itu.
“Ini sebuah contoh dan peringatan bagi orang-orang yang coba melawan balatentara Kaisar dari Negeri Matahari Terbit. Jika setelah ini ada seorang serdadu Jepang mati oleh penduduk pribumi, maka akan dibalas dengan membunuh tiga orang penduduk pribumi. Jika tak ada lelaki, maka perempuan yang akan dibunuh. Jika tak ada, anak-anak kami jadi¬kan gantinya. Ingat itu baik-baik. Kalau di antara kalian ada yang mata-mata, sampaikan ucapan saya ini pada orang ¬orang yang menyusun kekuatan untuk melawan kami, yang kini bersembunyi entah di mana. . .”
Keempat lelaki itu disuruh berjongkok. Perempuan dan anak-anak mulai bertangisan. Dan dengan suatu komando, empat orang serdadu Jepang segera berdiri di belakang keempat lelaki itu. Di tangan keempat serdadu itu tergeng¬gam sebuah Samurai. Sebuah komando dalam bahasa Jepang terdengar bergema. Dan dalam sekejap, keempat kepala lelaki itu terpisah dari tubuhnya. Beberapa perempuan jatuh terjerembab ke tanah menyaksikan kebuasan ini. Beberapa anak-anak memekik-mekik.
Tiba-tiba seorang serdadu datang berlari dan berbisik ke telinga Kapten Saburo. Kapten itu tertegak dan melihat ke Utara. Dia lalu memerintahkan penduduk bubar dan memberi aba-aba pada pasukannya. Sekitar tiga puluh ser¬dadu segera berhamburan ke Utara. Dalam sekejap mereka kini telah mengepung sebuah rumah. Rumah itu adalah sebuah rumah adat yang besar, rumah si Bungsu! Saburo segera tampil ke halaman rumah yang telah dikepung ketat itu. Dia menghadap ke atas anjungan.
“Kalian telah terkepung. Keluarlah!. Kalau kalian tak keluar dalam lima menit, saya akan membakar rumah ini. . !!” seru Komandan tentara Jepang itu.
Beberapa penduduk memberanikan diri melihat keja¬dian itu dari kejauhan. Mereka tidak mengerti siapa yang disuruh keluar oleh Jepang itu. Sebab setahu mereka Datuk Berbangsa sudah lari subuh tadi bersama anak isterinya. Sementara itu, si Bungsu yang tadi tegak di antara penduduk, kini menyeruak ke depan di antara barisan penduduk yang melihat dari kejauhan itu.
Wajahnya yang biasa murung kini jadi pucat. Dia me¬natap ke rumahnya dengan tegang. Dan benar, tak lama kemudian kelihatan ayahnya, Datuk Berbangsa, muncul di pintu! Menyusul ibu dan kakaknya.Melihat ayah, ibu dan kakaknya itu, si Bungsu berlari ke depan.
“Ibu…. !!” himbaunya.
Tapi seorang serdadu Jepang menghantamnya. Dia tersungkur di tanah. Ayah, Ibu dan kakaknya tertegun. Mereka mamandang padanya dengan tatapan tak berkedip. Ada jarak dua puluh depa antara dia tertelungkup dengan ayah dan ibu serta kakaknya. Namun dia serasa dapat merasakan panasnya tatapan mata keluarganya. Terutama sekali tatapan ayahnya.
“Engkau memang dilahirkan untuk menjadi dajal, buyung.  Saya menyesal mempunyai anak seperti engkau! Kau jual negeri ini berikut penduduknya pada Jepang semata-mata untuk mendapatkan uang agar kau bisa ber¬judi. Mengapa tak sekalian kini kau ambil kepala kami dan kau jual?” suara ayahnya terdengar bergema tajam.
Si Bungsu tertegak kaku. Bulu tengkuknya merinding mendengar ucapan ayahnya itu. Mulutnya bergerak ingin bicara. Namun tak satupun suara yang keluar dari mulut¬nya. Dia menatap ayahnya. Menatap ibunya. Menatap ka¬kaknya. Akhirnya dia menatap pada ibunya. Perempuan itu tegak dengan gagah. Menatap padanya dengan kepala tegak.
“Bungsu, barangkali banyak dosamu. Tapi Ibu tak menyesal melahirkanmu.. . Nak!” Si Bungsu merasakan dirinya tiba-tiba jadi luluh. Dia seperti dapat melihat air mata ibunya meleleh. Demikian juga air mata kakaknya. Dirinya tiba-tiba jadi kecil di hadapan keluarganya yang gagah perkasa ini. Dan tiba-tiba dia jatuh berlutut. Saat itu Datuk Berbangsa bersuara, ucapannya ditujukan kepada Kapten Saburo.
“Saya bersedia ditangkap. Tapi isteri dan anak saya, harap dibebaskan. . .”
“Heh, setelah kau bunuh sembilan orang serdadu kami, kau minta keluargamu dibebaskan he? Bagero!”
“Kalau tak ada jaminan itu, saya takkan menyerah!” Datuk Berbangsa berkata dengan suara yang pasti.
Saburo mengagumi sikap jantan lelaki itu. Namun dia tertawa terbahak.
“He…he….ha! Apa yang kau banggakan, sehingga kau berani mengatakan bahwa kau bisa tak menyerah Datuk”. 
“Saya akan berkelahi sampai mati!”
“Siapa yang kau sangka bersedia mati konyol bersamamu?”
“Jangan lupa, Anda seorang Samurai. Saya tahu, seorang Samurai sejati takkan menampik tantangan ber¬kelahi dari orang lain!”
Saburo terdiam. Matanya menatap tajam pada Datuk itu.
“Atau barangkali serdadu Jepang yang datang kemari adalah Samurai-samurai pengecut yang mengabaikan sikap satria sebagaimana layaknya Samurai sejati?”
“Diam kau! Jangan sembarang berkata. Tidak ada di antara kami yang tidak berjiwa Samurai. Kau takkan pernah saya bebaskan. Kalaupun kau memilih berta¬rung dengan salah seorang samurai, kau juga tetap takkan bisa memenangkan perkelahian. Tak ada di antara kalian yang akan mampu mengalahkan ilmu Samurai kami. Ilmu silat kalian masih terlalu rendah untuk berhadapan dengan kecepatan Samurai . . ”
“Kebenarannya akan kita buktikan sebentar lagi!” Datuk Berbangsa menjawab dengan tenang dan pasti.
Saburo yang berang segera memberi perintah. Enam orang serdadunya segera meletakkan bedil panjang mereka. Kemudian mem¬bentuk lingkaran besar di halaman rumah gadang tersebut. Datuk Berbangsa yang terkenal sebagai Guru Silat Kumango itu melangkah dengan pasti ke tengah lingkaran. Dia tak bicara sepatahpun pada isteri dan anak gadisnya.
Nampaknya mereka sudah bicara saat bersem¬bunyi di loteng. Datuk ini memang seorang yang bernasib malang dalam pelariannya. Tengah malam tadi dia sampai kemari bersama Datuk Maruhun dan teman-temannya. Mereka menyudahi nyawa kelima serdadu Jepang yang berpos di surau. Kemudian dia mengatur pengungsian keluarga-keluarga pelarian dari penjara itu. Ada sepuluh keluarga yang harus diungsikan keluar kampung ini. Kalau mereka tidak diungsikan, mereka pasti ditangkap dan disiksa. Tanpa mereka sadari, ketika pengungsian itu selesai, hari telah hampir siang. Orang terakhir yang meninggalkan kampung itu adalah Datuk Maruhun dan keluarganya.
“Duluanlah. Saya menyusul . .” ujar Datuk Berbangsa kepada Datuk Maruhun.
Dia tak dapat segera melarikan diri bersama Datuk Maruhun disebabkan isterinya sakit. Dia telah diminta oleh isterinya untuk lari duluan bersama anak gadisnya. Namun Datuk Berbangsa menolak. Mana mau dia meninggalkan isterinya. Dan anak gadisnya juga tak mau meninggalkan ibunya. Padahal si Ibu tak begitu parah sakitnya. Perempuan ini sebenarnya tak mau pergi dari kampung itu karena dia masih menunggu seorang anak lagi, si Bungsu!. Dia tahu suaminya tak menyukai si Bungsu.
Tapi dia seorang Ibu. Bagaimana dia bisa membenci anak yang dia lahirkan, yang dia kandung selama sembilan bulan, yang dia susui dari kecil, yang dia besarkan dengan air mata dan keringat? Dia mengakui anaknya yang seorang itu tak bisa dididik. Tapi bagaimana seorang Ibu akan membenci anaknya?. Demikianlah hati seorang Ibu. Jika sangat terpaksa, sekali lagi ”jika sangat terpaksa”, dia lebih rela kehilangan suami dari pada kehilangan anaknya.
Karena hari telah siang, untuk melarikan diri tak mungkin lagi. Mereka khawatir akan bertemu dengan patroli Jepang. Mereka lalu memutuskan untuk bersembunyi di loteng rumah. Ber¬sembunyi dan menanti malam berikutnya datang. Sementara itu, si Ibu tetap berharap, agar siang ini si Bungsu pulang. Dia akan  mem¬bujuk suaminya untuk membawa serta anaknya itu mengungsi. Namun nasib mereka memang sedang malang. Per¬sembunyian mereka diketahui oleh serdadu yang tadi memeriksa rumah itu.
Serdadu itu melihat tangga naik ke loteng. Tangga itu rupanya tak ada yang membuang. Sebab semua sudah naik ke loteng. Siapa lagi yang akan membuang tangga? Waktu sudah kasip. Jepang sudah memasuki kampung.  Maka mereka tetap bertahan di loteng itu sambil berdoa. Perkelahian seperti yang akan dihadapi Datuk Berbangsa ini juga sudah diperhitungkan tatkala tadi mereka disuruh turun oleh Saburo. Dari pada mati di Logas atau mati ditembak di penjara, lebih baik mati secara satria dalam perlawanan. Begitu mereka putuskan. Dan kini, Datuk itu tegak di tengah lingkaran tersebut. Tegak dengan dada busung dan tangan terkepal. Kapten Saburo memberi isyarat. Seorang Jepang berpangkat sersan maju. Tubuhnya besar berdegap. Di pinggangnya terdapat sebuah Samurai.
“Kau boleh memilih senjata Datuk …,” kata Saburo.
“Terima kasih. Saya dilahirkan oleh Tuhan lengkap dengan bekal untuk melawan kekerasan dengan tulang yang delapan kerat” suara Datuk itu terdengar perlahan.
Si Bungsu menegakkan kepalanya. Menatap tak ber¬kedip pada ayahnya yang tegak berhadapan dengan serdadu Jepang itu. Serdadu itu memberi hormat dengan membungkukkan badan sebagaimana layaknya orang-orang Jepang menghormat.  Datuk Berbangsa tegak dengan dua kaki dirapatkan.
Tatapannya lurus ke depan. Dia berdoa dengan kedua tangannya menampung ke atas. Kemudian tangan kanan meraba dahi, dan tangan kiri meraba dada di tentang jantung. Setelah itu memberi hormat dengan tegak lurus dan kedua telapak tangan dirapatkan di depan wajah. Dia memberi hormat dengan cara penghormatan Silat Tuo Pariangan. Yaitu silat induk yang menjadi ibu dari silat-silat yang ada di Minangkabau.
“Engkau boleh menyerang duluan Datuk……,” Saburo berkata.
Datuk Berbangsa tetap tegak dengan tubuh condong sedikit ke depan. Matanya melirik ke tangan kanan Jepang besar di hadapannya. Semua orang pada terdiam. Tak terkecuali Kapten Saburo sendiri. Ada sesuatu yang membuat Kapten ini iri pada Datuk itu. Yaitu keyakinan pada kemampuan dirinya. Dia sudah banyak menyaksikan kehebatan penduduk pri¬bumi di Indonesia ini. Namun jarang yang punya keyakinan atas dirinya seperti Datuk ini. Biasanya sesudah tertangkap, orang lalu berhiba-hiba minta ampun. Jika perlu dengan membuka semua rahasia atau menjual harga dirinya. Tapi tak demikian halnya dengan Datuk ini. Dia menantang berkelahi bukan karena dia kalap dan nekad. Tapi karena dia memang seorang satria sejati.
Saat itu Datuk Berbangsa tengah melihat betapa tangan kanan Jepang itu mulai bergetar dan secara perlahan pula, hampir-hampir tak kelihatan, ber¬gerak mili demi mili mendekati gagang samurainya. Ini adalah gerakan pendahuluan. Tiba-tiba tangan itu bergerak cepat. Dan saat itu pula Datuk Berbangsa melompat ke kiri kemudian berguling di tanah dan tumitnya menghantam siku kanan Jepang itu. Sungguh sulit untuk diceritakan. Kejadiannya demikian cepat. Demikian fantastis. Hampir-hampir tak bisa dipercaya. Gerakan Samurai yang terkenal cepat itu terhenti tatkala samurainya baru keluar separoh.
Siku si tinggi besar itu kena dihantam tumit Datuk Berbangsa. Terdengar suara berderak. Jepang itu terpekik. Sikunya patah! Dia mencabut samurainya dengan tangan kiri. Tapi gerakan ini juga terlambat. Guru Silat Kumango itu telah mengirimkan sebuah tendangan lagi ke selangkangnya. Tubuh Jepang itu terangkat sejengkal, kemudian tertegak lagi di tanah. Mula-mula hanya agak hoyong. Masih berusaha untuk tetap tegak. Tapi Datuk Berbangsa telah tegak dan mengirimkan sebuah pukulan dengan sisi tangan kanannya ke leher Jepang itu.
Itu adalah sebuah serangan yang disebut ”Tatak Pungguang Ladiang” dari jurus Kumango yang terkenal ampuh. Tetakan dengan sisi tangan itu mendarat di leher Jepang tersebut. Begitu suara berderak terdengar, begitu nyawa Jepang itu berangkat ke lahat. Tubuhnya rubuh ke tanah tanpa nyawa! Hanya dalam sekali gebrak, serdadu Jepang itu mati! Beberapa saat suasana jadi sepi. Benar-benar sepi.
Keenam serdadu yang membuat lingkaran besar itu ternganga. Kapten Saburo sendiri hampir-hampir tak mempercayai matanya. Lelaki pribumi ini telah membunuh seorang samurai dari Jepang hanya dengan tangan kosong. Mung¬kinkah ini? Apakah ini tidak semacam sihir? Tapi ini memang kejadian. Dia tak melihat lelaki itu mempergunakan sihir sedikitpun. Serangan itu benar-benar sebuah serangan silat yang telak dan tangguh dari silat aliran Kumango!
       Kini Datuk Berbangsa tegak dengan kaki dipentang. Tegak dengan gagah menatap kepada Kapten Saburo. Kapten itu memberi aba-aba dalam bahasa Jepang. Dua orang serdadu maju ke depan. Kedua mereka juga menyisipkan samurai di pinggang. Mereka kembali saling memberi hormat. Ini adalah per¬kelahian kaum satria. Salah satu dari Jepang yang maju ini bertubuh pendek dan kurus. Gerakannya gesit sekali. Yang satu lagi agak tinggi dengan tubuh sedang. Begitu habis memberi hormat, begitu dengan cepat sekali mereka menghunus samurai dan menyerang!
    Datuk itu berbarengan diserang dari muka dan belakang. Saburo dengan jelas sekali melihat kedua prajuritnya masing-masing mengirim serangan tiga jurus. Berarti Datuk itu diserang enam jurus dalam gebrakan pertama saja. Enam bacokan yang cepat dan terarah! Namun ketika kedua Jepang itu kembali tegak dengan diam sambil memegang samurainya, Datuk itu juga tegak tiga depa dari mereka dengan diam dan tak kurang satu apapun! Luar biasa!!. Tanpa dapat ditahan, dan diluar sadar, beberapa serdadu Jepang yang menyaksikan pada bertepuk tangan.
Saburo harus mengakui, bahwa Datuk itu memang patut mendapat tepuk tangan dari serdadu. Tatkala kedua serdadu itu tadi menyerang, Datuk Berbangsa segera bergulingan ke tanah. Dua kali bergulingan dia berhasil menghindarkan dua bacokan. Kemudian seperti kucing dia melompat bangun dengan gerakan seenteng kapas. Lompatannya tinggi dengan kaki dilipat. Dengan gerakan yang diperhitungkan ini, empat bacokan berhasil pula dia elakkan. Gerakan selanjutnya dia melompat dan menunduk sambil memutar. Gebrakan pertama berakhir.
Kini mereka saling menatap. Yang bertubuh agak sedang lambat-lambat mengingsut tegaknya. Telapak kakinya beringsut di pasir mili demi mili. Kedua tangannya dengan kukuh memegang hulu samurai. Kini jarak mereka hanya tinggal sedepa. Datuk Berbangsa memiringkan tubuh dengan jari kanan lurus di depan dada dan sudut mata memandang pada mata Jepang itu. Mereka tegak bertatapan. Tiba-tiba dengan sebuah pekik Bushido, sejenis pekik khas para pesilat Samurai, serdadu itu membuka serangan.
Namun ternyata Datuk Berbangsa lebih cepat lagi. Dia ternyata cepat menangkap jurus-jurus Samurai. Setiap samurai pasti mengawali gerakannya dengan membawa samurai itu agak ke kanan atau ke kiri sedikit. Gerakan ini diperlukan untuk memberi kekuatan hayun bagi samurai itu bila dibacokkan.

Hanya saja, makin tinggi kepandaian seorang samurai, makin tak kelihatan gerak mengambil ancang-ancang itu. Dan makin cepat dan halus pula gerakannya. Jepang ini gerakannya cukup cepat. Namun tak begitu cepat di mata Datuk yang guru silat Kumango ini. Sebagaimana jamaknya pesilat-pesilat tangguh, dia tidak melihat pada gerakan senjata lawan. Dia menatap langsung ke mata serdadu itu. Di sana pesilat-pesilat tangguh dapat membaca kemana gerakan tangan dan kaki setiap lawan. Itulah yang dilakukan oleh Datuk Berbangsa. Begitu tangan Jepang itu bergerak, dia segera mengetahui bahwa tangan Jepang ini akan bergerak sedikit ke kanan.
Dan kesempatan yang sedikit itulah yang dinantinya. Sebelum gerakan itu sempurna, dengan kecepatan loncat¬an seekor harimau tutul, dia melesat ke arah Jepang itu. Dan sebelum Jepang itu sadar apa yang terjadi, Datuk Berbangsa telah memiting leher Jepang tersebut. Kemudian dengan gerakan yang sempurna dia mere¬mas kedua tangan si Jepang yang memegang Samurai. Jepang itu terpekik. Saat itulah temannya yang seorang lagi sadar bahwa bahaya tengah mengancam temannya, dia lalu diam-diam menyerang dari bela¬kang. Namun Datuk Berbangsa memutar Jepang yang masih dia piting itu. Jepang itu dia jadikan sebagai perisaai. Se¬mentara serdadu itu tak berdaya menggerakkan samurainya, karena tangannya tengah dicengkam amat kuat.
               Si kurus tidak bisa berbuat banyak. Dia harus hati-hati agar serangannya tak mengenai kawan sendiri. Mereka berputar-putar sejenak. Suatu saat  Jepang itu berputar dengan cepat. Karena tengah memiting lawan, Datuk Berbangsa tidak dapat bergerak lincah. Dia kurang cepat berputar. Saat itulah serangan Jepang itu datang dari belakang. Namun kembali suatu keajaiban terjadi. Datuk Berbangsa kiranya sengaja memancing dengan membiarkan lawannya ke belakangnya. Dan ketika angin serangan samurai itu datang, dia meluncurkan dirinya ke bawah. Menjatuhkan diri dan bertekan di tanah dengan lutut kanan. Samurai lawannya yang dia piting itu tiba-tiba berpindah ke tangannya. Dalam suatu gerakan yang sempurna samurai di tangannya dia tikamkan ke belakang tanpa menoleh sedikitpun. Tapi lawan di belakangnya bukan pula sembarang samurai.
Gerakannya ternyata amat cepat. Meski Datuk Berbangsa sempat selamat dari bacokan yang fatal, namun tak urung punggungnya robek sehasta. Mulai dari bahu kanan mereng ke lambung kiri. Darah membanjir. Dan saat itu pula Jepang yang menyerang dari belakangnya itu terhenti dan terpekik. Samurai kawannya yang berhasil dirampas dalam suatu gerakan yang disebut Piuh-pilin dari jurus Kumango yang sempurna dan dihujamkan ke belakang oleh Datuk Berbangsa, kini menancap hampir separohnya ke dada Jepang itu.
Samurai itu tembus dan menyembul keluar dari baju di punggungnya! Semua Jepang yang ada di sana jadi tertegun kaget dan kagum akan kehebatan perkelahian itu. Belum pernah mereka melihat perkelahian antara pribumi memakai samurai sedahsyat ini. Belum sekalipun! Datuk ini benar-benar memiliki ilmu silat yang tangguh, pikir mereka. Jepang bertubuh kecil itu masih tertegak diam. Mata¬nya berputar. Dia tegak setengah hasta di belakang Datuk Berbangsa yang masih memegang samurai itu dengan kuat. Lambat-lambat Jepang itu mengangkat samurai di tangan. Dan menebaskannya ke leher Datuk Berbangsa yang masih tetap berlutut membelakanginya. Namun gerakan Jepang itu hanya sampai mengangkat samurai saja. Setelah itu gerakannya terhenti tiba-tiba. Dan tubuhnya rubuh ke belakang. Mati! Semua orang terdiam.
Tapi isteri Datuk Berbangsa terpekik melihat darah di punggung suaminya. Dia berlari menghambur ke tengah lingkaran. Tapi Kapten Saburo Matsuyama menganggap sudah cukup memberi angin pada Datuk itu. Dalam marahnya yang luar biasa, dia mencabut samurai, dan di saat isteri Datuk itu lewat di sampingnya, samurai itu beraksi. Isteri Datuk itu tersentak, tapi dia masih tetap melangkah ke arah suaminya. Tubuhnya telah hoyong tatkala mencapai suaminya.
“Uda….perempuan itu rubuh ke pangkuan suaminya.
“Jahannam…….Jepang jahannaam!” Datuk Berbangsa memekik. Dan meletakkan isterinya di tanah. Dengan punggung robek dia tegak menghadapi Kapten Saburo.
Saburo dengan mata yang nyalang menatapnya. Kini Datuk itu menyerang duluan. Tetapi mungkin karena keah¬lian Saburo memang jauh lebih tinggi dari pada anak buahnya, atau mungkin pula karena Datuk itu dalam keadaan luka, perkelahian mereka kelihatan tak seimbang.
Datuk Berbangsa memegang samurai dengan meng¬hadapkan ujungnya ke belakang, dia menikamkannya ke arah Saburo. Sebuah tikaman ke belakang yang tadi telah menghabisi nyawa serdadu yang menyerangnya dari bela¬kang. Sabetannya yang pertama, yang mengarah ke depan, membunuh serdadu yang tadi dia piting lehernya. Tapi tikaman samurai ke belakang itu tak mengenai sasaran. Saburo menghayunkan samurai dalam tiga serangan berantai. Datuk Berbangsa menangkisnya. Namun serangan tiga serangkai itu merupakan serangan tangguh. Begitu dia menangkis sabetan samurai Saburo, dia merasakan tangan¬nya kesemutan. Tanpa dapat dia cegah, samurai di tangan¬nya lepas. Bukan main hebatnya tehnik dan tenaga Saburo.
Samurai itu melayang ke udara. Datuk Berbangsa tak mau menanti. Dia mengirim sebuah tendangan. Dan ten¬dangan itu tak diduga sedikitpun oleh Saburo. Kapten itu terjajar ke belakang karena perutnya kena hajar tumit Datuk Berbangsa. Dia jatuh berlutut. Dan saat itu samurai yang tadi terlambung meluncur turun ke atas kepala Saburo.
Tapi perwira Jepang ini memang seorang samurai pilihan. Dia mendengar desiran angin samurai    yang menghunjam ke arah kepalanya itu. Tanpa menoleh ke atas, dia memutar samurai di atas kepalanya. Dan samurai itu kena dipapas, dan dengan amat laju melayang ke arah Datuk Berbangsa. Datuk itu coba mengelak, namun samurai ter¬sebut terlalu cepat. Dan karena dia coba mengelak, tubuhnya miring ke kiri. Dan crepp!! Samurai itu menancap separoh ke dada kirinya. Menembus jantung! Tembus ke punggung! !
Datuk Berbangsa tertegak. Dia tak mengeluh sedikit¬pun. Si Bungsu terlonjak.
“Ayaaah” pekiknya, namun dia takut untuk bangkit.
Ayahnya tak menoleh ke arahnya. Lelaki tua perkasa dan keras seperti baja itu lambat-lambat jatuh di atas kedua lututnya. Matanya masih menatap Saburo.
“Beginikah sikap satria seorang samurai yang dibanggakan itu? Membunuh seorang perempuan dan menghantam orang yang luka?” Datuk Berbangsa bertanya dengan tatapan mata yang membuat hati Saburo jadi ciut.
Datuk itu bicara lagi, perlahan :
“Kau takkan selamat Saburo! Aku bersumpah akan menuntut balas dari akhirat. Kau juga akan mati oleh samurai. Akan kau rasakan betapa senjata negerimu menikam dirimu, ingat itu baik-baik. Itu sumpahku………Saburo….!”
Ucapannya tererhenti, darah menyembur dari mulutnya. Dan lelaki perkasa itu, yang memakai kopiah berlilit berukir-ukir pertanda jabatan penghulunya, jatuh ter¬telentang. Dia tak pernah mengeluh. Samurai yang tertancap di dadanya tegak seperti tonggak peringatan. Tegak angkuh dan kukuh. Sekukuh lelaki yang mati di ujungnya.
Datuk itu mati sedepa dari tempat isterinya. Matanya menatap ke langit yang tinggi. Seekor Elang terbang melintas. Suara pekiknya terdengar menyayat pilu. Saburo merasa bulu tengkuknya berdiri mendengar sumpah Datuk itu tadi. Anak gadis Datuk itu tiba-tiba menghambur ke tengah mengejar ibu dan ayahnya yang bermandi darah. Namun tangannya disambar oleh Saburo.
“Bersihkan kampung ini !” teriaknya pada anak buahnya.
Dan begitu anak buahnya memencar, dia segera menyeret gadis bertubuh montok itu naik ke rumah Adat. Gadis itu meronta dan memberikan perlawanan. Dia belajar silat Kumango dari ayahnya. Kini dia mencoba melawan kehendak Jepang laknat itu. Namun di tangan Saburo, yang tidak hanya mengerti ilmu samurai, tapi juga mahir dalam Karate dan Judo, kepandaian gadis ini jadi tak ada artinya.
Tangannya memang berhasil menampar Kapten itu tiga kali. Tapi begitu Saburo membalas menamparnya sekali saja, gadis itu pingsan. Saburo memangku tubuhnya yang tersimbah itu ke atas rumah. Di tengah ruang dia tegak. Mencari dimana letak bilik. Saat terpandang pada kamar gadis itu sendiri, dia melangkah ke sana. Kamar itu bersih dan indah. Bau harum bunga melati menyelusup ke hidungnya. Itu menyebabkan nafsunya menyala.
Dia menghempaskan tubuh anak gadis Datuk Berbangsa itu ke kasur. Kaki gadis itu terkulai ke bawah tempat tidur. Dan kainnya tersimbah lebar. Di bawah rumah itu ada kandang ayam sedang mengerami selusin anaknya yang gemuk-gemuk. Suara berdentam di atas rumah, yang ditimbulkan oleh sepatu Saburo ketika naik tadi mengejutkan ayam-ayam tersebut.
Induk ayam itu tegak dan berlari ke tempat gelap. Anak-anaknya memburu dan menyeruak sayap ibunya dan masuk ke bawah sahap induknya. Salah seekor di antaranya, yang berwarna putih pucat, gemuk dan besar, masih berputar-putar di luar.
Induknya diam saja melindungi anaknya yang sebelas ekor. Anak ayam yang satu itu mulai memutari tubuh induknya. Kemudian menyeruak di antara bulu sayap induknya yang hitam kepirang-pirangan. Induknya merapatkan sayap. Beberapa kali anak ayam gemuk itu tak berhasil masuk ke bawah ruangan di bawah perut ibunya. Tapi akhirnya, dia berhasil juga. Dia merasa hangat di bawah perut induknya itu. Tubuhnya berputar-putar di antara sebelas saudaranya yang lain. Tubuh induknya tergoyang-goyang karena dia berputar-putar di bawah.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s