Tikam Samurai (Bagian 7)

Senja ini dia kembali duduk di atas batu pipih itu. Menatap ke lembah sana, ke kaki gunung di mana sawah menghampar. Di mana kerlip lampu dari kampung-kampung mulai kelihatan. Dia duduk menatap ke arah kampungnya.Rindu kembali bertalu-talu gemuruh di dadanya untuk turun ke sana. Sudah berbilang purnama dia berada di pinggang Gunung Sago ini. Tidur di pondok beratap lalang yang dia buat secara daru¬rat. Yang membuatnya untuk sembuh dari luka yang nyaris membelah punggungnya dan tetap hidup adalah keinginannya yang keras untuk membalas dendam.
Kini dia merasa ingin segera kembali ke kampungnya. Dia menarik nafas panjang. Namun telinganya yang sudah sangat terlatih di rimba raya itu juga menangkap dengus nafas lain. Dia tertegun. Apakah dengus sebentar ini adalah dengus nafasnya sendiri yang terdengar sampai dua kali? Dia tak berani menoleh. Namun nalurinya mengatakan bahwa ada bahaya mengancam dirinya dari belakang. Tapi bahaya apakah itu. Kenapa dia tak menge¬tahuinya?
Sudah belasan purnama dia duduk di sini. Setiap ada yang bergerak mendekati tempatnya ini, bahkan kupu¬-kupu yang terbang ringanpun, akan segera dia ketahui. Semua itu berkat latihan konsentrasinya selama ini. Secara instink tubuhnya juga bersiap untuk menerima setiap kemungkinan yang tak diingini. Aneh, tak ada suara apa-apa. Padahal biasanya senja begini, setiap dia habis sembahyang Magrib dia selalu dihibur oleh dendang jang¬krik dan suara nyanyian binatang malam lainnya. Termasuk suara siamang yang bersahutan.
Tapi kini kenapa suara-suara itu lenyap? Sejak bila lenyapnya? Kesunyian ini adalah kesunyian yang belum pernah dia alami selama ini. Dan tiba-tiba kembali dengusan nafas aneh itu dia dengar. Dia yakin dengusan halus dan amat perlahan itu bukanlah dengusan dari mulutnya. Tidak. Dengusan itu jelas dari belakangnya. Menurut perkiraannya, jarak antara diri¬nya yang duduk membelakang dengan mahluk yang men¬dengus itu paling-paling hanya tiga depa !
Tiga depa! Ya Tuhan, bulu tengkuknya merinding habis. Kalau benar dugaannya, bahwa yang men¬dengus itu berada sekitar tiga depa di belakangnya, itu berarti ”tamunya” itu telah berada di atas batu pipih besar di mana dia duduk, yang lebarnya sekitar empat depa persegi. Dia duduk di bahagian ujung paling depan. Yang mem¬buat dia kaget adalah kehadiran mahluk yang belum dia kenal itu di atas batu ini. Kenapa sampai tak terdengar olehnya sedikitpun?
Krosak…!
Tiba-tiba dia mendengar suara terpijaknya daun kering di bawah di sekitar batu di mana kini dia duduk. Meski amat perlahan, hampir-hampir tak terdengar oleh telinga orang biasa, namun dengan latihannya selama belasan purnama dia dapat menebak ada sekitar selusin kaki di bawah batu sana. Ketika dia lebih memusatkan pendengarannya ke atas, dia tambah kaget. Ada dua makhluk berada di bela¬kangnya. Satu di kiri, satu di kanan! Manusiakah ?
Darahnya mengencang. Tangannya melemas.
“Siapakah yang ada di belakang?” Dia bertanya tanpa menoleh.
Tatapannya lurus ke depan dengan konsentrasi penuh. Tak ada jawaban. Dia segera tahu, siapapun yang ada dibelakangnya, pastilah tak berniat baik. Tangan¬nya makin melemas dan terasa panas. Bulu tengkuknya makin merinding. Tiba-tiba dia merasakan ada angin menyambar! Dia tak segera mencabut samurainya. Namun dia berguling ke kanan. Gerakan itu dia pelajari dari tingkah dua ekor tupai yang berkelahi di cabang pohon di dekat batu pipih ini. Dia amati perkelahian itu dengan seksama. Kemudian dia berlatih meniru cara bergulingan menyelamatkan diri itu, menyelingi latihan samurainya.
Kini jurus berguling itu dia lakukan. Dia selamat dari terpaan makhluk itu. Kemudian dia duduk berlutut. Namun sebelum dia lihat siapa yang menyerang, kembali makhluk itu menyerangnya secepat kilat. Dia kembali mempergunakan gerak tupai itu. Bergulung dua kali ke ka¬nan dan melambung tegak. Dan kini makhluk yang menye¬rang itu tegak empat depa di depannya.
“Ya Allah!!”
Dia terpekik dan surut dua langkah. Hampir saja dia ter¬perosok jatuh dari atas batu. Makhluk itu! Ya Tuhan, belum pernah dia melihat makhluk sedahsyat ini. Dalam sinar senja yang masih terang-¬terang tanah, dia lihat dua makhluk yang luar biasa bentuk¬nya.
“Harimau jadi-jadian!!” dia berbisik sendiri.
Tanpa dapat dia kuasai, tangannya gemetar. Ya, di hadapannya, kini berdiri dua harimau jadi-jadian. Kepalanya mirip kepala harimau. Tubuhnya berbulu mirip harimau. Namun dia tak berdiri di keempat kakinya. Mahluk ini berdiri di atas dua kaki seperti manusia. Tangannya yang berbulu mirip tangan manusia. Demikian pula kakinya. Bulunya berbelang seperti harimau. Matanya merah berkilat. Kuku kaki dan kuku tangannya kelihatan menyembul runcing mengerikan. Makhluk ini kelihatan dahsyat di mata si Bungsu. Dia tak dapat menahan gigilan tubuhnya.   
Sewaktu kecil  di kampung dahulu, dia memang sering mendengar cerita tentang harimau jadi-jadian. Cinda¬ku kata orang-orang tua. Namun sejak dia dewasa, cerita itu tak pemah lagi dia dengar. Kalaupun ada, maka cerita itu hanya dimaksudkan sebagai menakuti anak-anak. Siapa menyangka, hari ini dia menyaksikan apa yang dianggap  orang kampung itu sebagai dongeng, ternyata benar-benar ada. Dongeng itu bukan sekedar isapan jempol. Senja ini dia melihatnya dengan mata kepala sendiri. Dia melirik ke kanan. Jauh di bawah sana, dia lihat kampungnya. Di kampungnya dahulu kabarnya ada orang yang mati dibunuh Cindaku. Di kampung lain juga pernah ada orang yang di teror Cindaku. Apakah ini Cindaku yang meneror orang di kampung di bawah sana?
Kalau dilihat jarak antara gunung dengan kampung di bawah, nampaknya memang inilah Cindaku itu. Tapi dia tak tahu berapa jumlah mereka. Dan dia segera ingat pada suara kaki di bawah sekitar batu tadi. Dia segera menoleh. Dan kembali dia menyebut nama Tuhan beberapa kali. Dia melangkah ke depan tiga langkah. Si Bungsu benar-benar dicoba iman dan jiwanya. Di bawah dia lihat tak kurang  dari enam ekor harimau! Duduk di kaki belakang dan menegakkan kaki depannya. Keenam harimau itu mengelilingi batu pipih di mana dia berada. Dia yakin, jumlahnya pasti lebih dari enam ekor. Sebab tadi dia dengar di sekitar batu itu langkah-langkah yang halus. Inilah rupanya.
Dia kembali menoleh pada Cindaku itu. Keduanya kini mengangkat tangan. Dia tak mengerti kenapa harimau-harimau itu berada di bawah. Seperti menonton ke atas. Apakah harimau-harimau itu adalah bawahan Cindaku ini? Hatinya benar-benar terguncang. Dia tak sempat berpikir banyak. Cindaku yang paling besar menyerang dengan satu loncatan. Seharusnya dia segera mempergunakan samurainya. Namun terlambat! Kehebatan peristiwa ini membuat reflek yang telah dia latih jadi kacau. Dia hanya mampu menunduk. Dan itu menyebabkan punggungnya dirobek kuku Cindaku. Dia terpental. Di bawah sana dia dengar geraman harimau. Nampaknya harimau-harimau itu menunggu dirinya dilemparkan ke bawah.
Ketika dia terguling, Cindaku yang lebih kecil menyerang. Loncat tupai! Dia segera menggunakan ilmu loncat tupai itu kembali. Berguling tiga kali ke kanan, kemudian tiga kali ke kiri. Dua terkeman Cindaku itu berhasil dia elakkan. Kemudian meloncat berdiri! Luka di punggungnya pedih sekali. Di punggungnya. Tanpa sengaja dia meraba luka itu. Tiba-tiba dia sadar, luka itu persis di tentang luka yang ditimbulkan oleh tebasan Samurai Kapten Saburo Matsuyama dua belas purnama yang lalu. Persis melintang miring dari belikat kanan ke rusuk kiri! Ingatannya kembali ke masa lalu. Kesaat ayah dan ibunya dibabat samurai. Di saat kakaknya diperkosa dan dibabat samurai. Di saat dia juga dibabat samurai!
Wajahnya mengeras tiba-tiba. Mulutnya tertarik ke bawah. Suatu rasa marah  yang tak terperikan tergambar pada wajahnya. Saat itu Cindaku yang kecil menerjangnya. Tiba-tiba dalam pandangannya Cindaku itu berobah seperti Kapten Saburo yang membunuh keluarganya. Tangannya bergerak ke Samurai di balik sarungnya. Amat cepat.
”Jahanam kubunuh kau!!” desisnya dengan sepenuh rasa benci. Dan samurainya bekerja! Dua kali tebasan ke muka. Pada tebasan pertama, dada Cindaku yang sedang melayang ke arahnya kena dia tebas. Pada tebasan berbalik yang kedua, leher Cindaku itu  hampir putus. Dan anak muda ini berputar ke belakang. Tubuh Cindaku itu turut tertegak setengah depa di belakangnya. Dan saat itu dia menirukan gerak yang dipergunakan ayahnya dahulu. Menikamkan samurai di tangannya ke belakang sambil menjatuhkan diri di lutut kanan!
Crep! Plasss!!
Samurai itu menembus dada kiri jadi-jadian itu. Terdengar raungannya memecah senja. Merobek ketenangan hutan. Suara ribut hewan gunung terdengar tatkala hewan-hewan itu berlarian dari semak ke semak mencari perlindungan. Kera berlompatan dari pohon ke pohon. Raungan itu amat dahsyat. Harimau-harimau yang berada di bawah pada terlompat mundur saking kagetnya.
Si Bungsu menarik samurainya, dan snapp!! Samurai itu kembali masuk ke sarungnya dengan amat cepat. Dia tegak membelakangi tubuh Cindaku yang terkapar  tak bernyawa itu. Menghadap pada Cindaku besar yang tertegun  kaget di ujung batu sana. Mereka saling menatap. Wajah si Bungsu yang biasanya murung  dan sinar matanya yang kuyu, kini berobah. Wajahnya jadi keras dan penuh kebencian. Matanya bersinar penuh amarah.   
    Dan tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Harimau-harimau yang ada di bawah sana mengaum hampir bersamaan. Mengaum dan menganga menghadapkan moncong mereka ke bulan yang kelihatan seperti sabit di langit yang tinggi. Pertanda apa pula ini? Pikir si Bungsu. Dia ingin tahu untuk apa kehadiran harimau-harimau itu. Dengan tetap tak melepaskan pandangan matanya dari Cindaku besar di depannya, dia mundur tiga langkah.
Lalu dia tendang bangkai Cindaku mati itu ke bawah. Terdegar suara kaki menjauh dan auman panjang. Lalu suara berkrosak. Suara saling rebut. Cindaku besar yang masih hidup di depannya mendengus dan menggeram. Nyata sekali dia jadi murka. Lalu tiba-tiba dia menyerang dengan loncatan panjang ke arah si Bungsu. Si Bungsu kembali menyentak Samurai dan menghayunkan dalam empat kali tebasan. Namun dengan terkejut dia melihat Cindaku itu melambung dan kembali tegak di tempatnya semula!
Luar biasa! Dalam terkamannya tadi dia rupanya bisa melihat kilatan samurai yang demikian cepat. Tidak hanya mampu melihat, tapi sekaligus juga mengelakkannya! Tak segorespun dia kena. Samurai itu sudah berada kembali di dalam sarungnya. Kini samurai bersarung itu dia pegang  dengan tangan kiri. Mereka bertatapan. Tiba-tiba Cindaku itu menyerang lagi. Tapi kali ini menyerang dengan bergulingan di bawah. Tubuhnya bergulung seperti pohon yang digulingkan dari atas tebing.
Si Bungsu melompat ke kiri dan mencabut samurainya. Cres, cres, cres! Dari kiri dia mengirimkan tiga sabetan cepat ke tubuh Cindaku itu. Lalu samurai itu kembali masuk ke sarangnya. Namun kembali dia lihat Cindaku itu tegak tiga depa di depannya. Tak kurang satu apapun. Luar biasa. Dia yakin benar tadi, bahwa sabetannya mengenai tubuh Cindaku ini. Apakah tubuh Cindaku besar ini tak mempan oleh senjata tajam?
Bulu tengkuknya merinding. Kalau hal itu benar, maka itu berarti tamatlah riwayatnya di sini. Dia tak memiliki ilmu batin seperti pesilat-pesilat lainnya. Dia hanya mempunyai kepandaian memainkan samurai dan meloncat seperti tupai atau kera yang dia pelajari selama di gunung ini. Bukan ilmu silat. Bukan Kumango seperti yang dimiliki ayahnya. Bukan pula silat Lintau seperti yang dimiliki Datuk Maruhun, ayah Renobulan. Apakah di sini ajalnya?

Tidak!. Dia tak mau mati sekarang. Alangkah akan sia-sianya dia menahan segala derita selama belasan purnama kalau hanya akan mati di sini. Dia teringat pada sumpah ayahnya sewaktu akan meninggal. Bahwa ayahnya akan menuntut balas. Bukankah itu suatu isyarat, bahwa dialah yang akan dipergunakan ayahnya untuk menuntut balas atas dendam keluarganya itu? Tangan siapa lagi yang akan dipakai ayahnya untuk membalas kekejaman Saburo dan ptajuritnya kalau tidak tangannya sendiri?
Tidak. Dia tak boleh mati sekarang. Kalau dia mati sekarang, maka dendam ayahnya takkan pernah berbalas. Kematian keluarganya dan kematian orang kampungnya takkan pernah ada yang membalaskan. Kalau dia mati sekarang, maka sia-sialah segala usahanya selama ini. Tidak. Dia tak mau mati sekarang. Apalagi kematian di mulut seekor Cindaku. Seekor harimau jadi-jadian.
Tapi, sampai bila dia mampu bertahan? Sementara punggungnya luka parah. Luka itu terasa amat mengganggu. Sangat pedih. Kata orang, konon kuku dan gigi Cindaku mengandung bisa. Nah, kini punggungnya telah terluka. Berapa lamakah dia bisa bertahan?
Dia lihat Cindaku di depannya merendah. Dia tegak dengan melebarkan kaki dan membungkukkan lipatan lutut. Kemudian meletakkan samurai itu melintang di depan dadanya. Dia menanti gerakan Cindaku itu berikutnya.
Jadi-jadian itu mulai melangkah  memutar ke kanan. Dia tetap dalam posisinya. Langkah Cindaku itu dia ikuti dengan sudut mata. Cindaku itu kini berada di sebelah kirinya. Berarti berada tentang ujung samurai. Dia masih tegak menanti. Wajah lurus ke depan dan sudut mata menikam ke arah Cindaku itu. Cindaku itu bergerak ke belakangnya. Dia tak memalingkan kepala. Tidak. Untuk memalingkan kepala dia harus memakai sekian detik. Dan itu merugikannya. Dia lalu memejamkan mata. Memusatkan konsentrasi dan ”melihat” melalui pendengarannya yang amat tajam.
Langkah Cindaku itu amat ringan. Di atas batu besar dimana kini mereka berada langkah mahluk itu hampir-hampir tak terdengar. Namun dia sudah belasan purnama berlatih. Dia tak khawatir, dengan memejamkan mata dia dapat mendengar dengan jelas langkah Cindaku itu. Langkah terutama jadi jelas baginya karena gesekan halus kuku Cindaku yang panjang itu dengan batu. Bagi orang biasa, gesekan itu pasti takkan terdengar. Namun bagi si Bungsu, suara gesekan itu amat jelas terdengar. Cindaku itu berhenti tepat di belakangnya. Sejajar dengan tulang punggungnya dalam jarak sedepa. Itu berarti mahluk jadi-jadian itu bisa menjangkau punggungnya dengan tangannya yang panjang.
Dia menanti, sementara suara dengus dan berebutan daging mentah di bawah sana sudah berhenti. Dia yakin harimau-harimau itu kini menatap ke atas, ke arah mereka. Si Bungsu tetap memejamkan mata. Dia mendengar nafas Cindaku itu memburu. Dia yakin kini Cindaku itu bersiap untuk meyerang. Nafasnya yang memburu itu sebagai tanda. Dan nafas memburu itu juga sebagai pertanda bahwa Cindaku itu juga menaruh rasa gentar. Ya, sama saja seperti dia yang juga merasa gentar. Nafasnya juga memburu.
Tiba-tiba dia rasakan angin bersuit. Itu pertanda Cindaku itu tengah menyerang! Samurainya bergerak. Dia berputar sangat cepat menirukan berputarnya macan kumbang. Kemudian samurainya berkelebat.
Cras! cras! cras!!
Tiga kali sabetan cepat dan kuat, kemudian dia menikamkan samurai ke belakang. Snap! Dia duduk di lutut kanan dan menekankan samurai itu ke belakang kuat-kuat. Namun jadi-jadian di belakangnya masih bergerak. Dan tiba-tiba sebuah hantaman menerpa  kepalanya! Dia terpekik dan terlempar ke batu. Samurainya lepas! Kulit kepalanya di bahagian belakang terkelupas selebar telapak tangan! Buat sesaat dia nanar.
Namun di antara rasa terkejutnya yang luar biasa, dia ingat bahwa dia harus tetap hidup. Dia sadar bahwa dirinya kini dalam keadaan kritis. Loncat Tupai! Gerak itu kembali dia lakukan. Berkali-kali gerakan tupai bergelut itu telah menyelamatkan dirinya. Kini begitu tubuhnya menghantam batu, dia bergulingan tiga kali ke kanan saat  Cindaku itu menerkam. Seringan tupai dia bergulingan  dengan lambungan sehasta tiga kali ke kiri. Kemudian berputar. Cindaku itu menerkam ke sana. Dia bersalto ke belakang! Tegak di atas kedua kaki dengan lipatan lutut di bengkokkan.
Cindaku itu tegak pula empat depa di depannya. Dia hoyong. Luka di punggung dan di belakang kepalanya mengucurkan banyak darah. Berdenyut-denyut. Dia menatap Cindaku itu. Ternyata apa yang dia khawatirkan benar adanya. Cindaku itu tidak mempan oleh senjata tajam. Tidak mempan. Ilmu Cindaku kecil tadi rupanya belum mencapai tingkat yang sempurna. Masih banyak kadar manusianya. Itulah sebabnya dia termakan oleh senjata tajam. Tapi yang satu ini nampaknya sudah mencapai tingkatan yang tinggi. Tak lagi dimakan besi.
Kini si Bungsu tidak lagi bersenjata selain sarung samurai. Samurainya sendiri berada sedepa di depannya. Berarti senjata itu berada di antara dia dengan Cindaku itu. Dia tak berani gegabah memungut senjata yang terletak sedepa di depannya itu. Tidak, itu akan memudahkan Cindaku itu menerkamnya. Dia makin lemah. Dan rasa takut yang luar biasa menjalarinya. Dia takut mati. Tapi takut tak bisa membalaskan dendam keluarganya.
Cindaku itu mulai lagi mempersiapkan diri untuk menyerang, Si Bungsu tetap tegak di tempatnya. Ketika Cindaku itu menggeser tegak ke kiri, dia menggeser tegaknya ke kanan. Jadi mereka bergerak searah. Dia bukannya tak tahu, bahwa Cindaku itu kembali ingin menyerangnya dari sebelah kiri. Yaitu di bahagian rusuknya yang luka.
Tapi dia sendiri juga punya maksud menggeser tegaknya ke kanan. Dia ingin meletakkan samurai itu di bahagian kirinya. Dua langkah, tiga langkah, empat!. Dan tiba-tiba Cindaku itu menyerang. Loncat tupai! Gerakan itu lagi-lagi menyelamatkan dirinya. Tubuhnya berguling ke kiri dengan ringan dua kali putaran, kali ketiga tangannya menyentuh hulu samurai. Gerakan keempat sambil menggenggam samurai itu tubuhnya melentik setinggi setengah depa dan hep! Dia tertegak di pinggir  batu. Geraman harimau terdengar di bawah!
Kini dia bisa bernafas lega. Samurai itu berada lagi di tangannya. Dia tahu, bahwa senjata ini takkan mempan pada makhluk tersebut. Namun tanpa senjata. Dia merasa dirinya seperti telanjang. Meskipun tak mempan, senjata ini memberinya semacam sugesti. Dia tegak dengan diam. Melintangkan samurai itu di depan dadanya. Memusatkan konsentrasi dan pendengaran. Jauh di bawah sana, dari kampung di pinggang gunung itu dia mendengar suara tabuh.
Tabuh itu pastilah tabuh sembahyang Isa. Suaranya sayup-sayup. Tapi itu jelas suara tabuh dari suara atau masjid. Telinga yang  amat tajam  dapat mendengar suara tabuh itu. Suara tabuh itu jelas terdengar olehnya tiap hari setiap dia memusatkan konsentrasi di gunung Sago ini. Barangkali tabuh itu berasal dari masjid di kampung Manang Kadok atau kampung Sikabu-kabu. Yang tak terdengar sampai kemari adalah suara azan muazinnya. Mungkin karena suara manusia jauh lebih pelan daripada suara tabuh.
Azan! Ya, dia segera ingat  pada azan. Bukankah ayahnya yang taat beragama itu pernah bercerita, bahwa banyak ilmu-ilmu hitam yang bisa dipunahkan dengan suara azan? Azan di subuh hari, azan di senja hari yaitu setiap subuh dan maghrib, selain bermaksud memanggil orang sembahyang, juga punya makna mengusir segala roh jahat dan pengaruh ilmu siluman yang coba mempengaruhi kehidupan manusia. Menurut ayahnya azan di subuh hari bermakna juga mengusir pengaruh setan yang menyelusup di waktu tidur lewat tengah malam. Azan di waktu Maghrib mempunyai makna mengusir roh-roh jahat untuk tak terbawa tidur.
Itu menurut cerita ayahnya sewaktu dia masih kecil. Apakah hal itu benar? Apakah azan mampu memunahkan ilmu kebal makhluk siluman ini? Dia harus mencobanya. Harus! Mustahil ayahnya bercerita sewaktu mereka kecil dulu hal-hal yang tak bermanfaat. Ayahnya bukan jenis orang yang mau menakut-nakuti anaknya dengan cerita-cerita seperti itu. Kini dia meletakkan sarung samurainya. Memegang samurai itu dengan tangan kanannya. Meletakkan telapak tangan kiri di telinga kiri. Dia memusatkan konsentrasi. Kemudian memejamkan mata. Keselamatannya kini sepenuhnya digantungkan pada pendengarannya. Begitu matanya terpejam, dia membaca Bismillah. Kemudian mulai melafaskan bait-bait azan.
”Allahuakbar – Allahuakbar”.
Suara bergema mengoyak kesunyian belantara. Dia dengar Cindaku itu tersurut selangkah.
”Allahuakbar – Allahuakbar”.
Cindaku itu melangkah ke kanan tiga langkah. Kemudian selangkah lagi.
”Ashadualaaa-ila haillallaaah!”
Cindaku itu meyerang dengan sebuah dengusan panjang. Sambil tetap melafaskan kalimah  Ashadualaaa-ila haillallaaah itu sekali lagi, samurainya bergerak secepat kilat. Dua kali sabetan cepat. Dia yakin sabetan samurainya mengena.
Namun dia tetap memejamkan mata. Membaca terus lafas azan itu.
“Ashaduanna Muhammadarasulullah…!”
Tiga langkah di belakangnya Cindaku itu terdengar mendengus. Ketika dia mengulangi kalimah itu sekali lagi, Cindaku itu kembali menyerang dengan sebuah lompatan dan terkaman yang tak tanggung-tanggung. Dia berguling di lantai. Kemudian sambil mempergunakan gerak tupai bergelut, samurainya menghantam ke atas. Sret! Sret! Sret! Tiga sabetan berlainan arah. Kena!
Cindaku itu terhenti. Si Bungsu tetap tegak sambil memejamkan mata. Memusatkan konsentrasi dan membaca terus lafas azan itu. Dia seperti mendapatkan tenaga baru ketika membaca azan tersebut. Dia seperti mendapat sugesti. Ketika dia membaca kalimah ”Hayaalasholah” dia mendengar benda jatuh. Dia membuka mata. Dan Cindaku itu tengah berlutut di batu, mendekap dadanya. Dalam temeram cahaya dia lihat darah hitam kental mengalir dari sela tangan Cindaku itu.
”Allahuakbar. Maha Besar Engkau ya Allah…” dia berkata perlahan.
Tak terasa air mata merembes di pipinya. Dia selamat setelah mengingat ajaran-ajaran yang pernah diberikan ayahnya dahulu. Ya, dia berkali-kali tak mau tidur di rumah, karena kala dia tidur di rumah, subuh-subuh buta sudah dibangunkan ayahnya. Disuruh azan. Dan dipaksa sembahyang. Alangkah bencinya dia. Alangkah muaknya dia atas suruhan itu. Dia ingin bangun tengah hari. Bahkan ingin bangun sore, sebab sepanjang malam dia berjudi.
Sewaktu kecil dia memang mengerjakan suruhan itu. Tapi setelah agak dewasa, dia lebih senang tidur di rumah temannya. Kini, ternyata ajaran ayahnya itu telah menyelamatkan nyawanya. Dia menangis. Benar-benar menangis. Si Bungsu yang dahulu ketika ayah, ibu dan kakaknya mati tak tahu bagaimana caranya menangis, malam ini menangis di tengah rimba di Gunung Sago. Dia menangis karena menyesal telah membangkang perintah ayahnya. Dia menangis karena rindu pada orang tua yang keras dan angkuh itu. Sikap ayahnya adalah gambaran dirinya sendiri.
”Terima kasih Allah. Engkau selamatkan aku dengan ayat-ayatMu. Terima kasih ayah. Engkau selamatkan aku dengan ajaranmu yang pernah aku ingkari. Terima kasih. Aku yakin Tuhan akan menempatkan engkau di tempat yang bahagia….” dia berbisik di antara air matanya yang mengalir turun.
Dan tiga depa di depannya, Cindaku itu jatuh terguling. Ada keluhan panjang keluar dari mulutnya. Ada lenguhan sakit dan penderitaan yang amat sangat terdengar. Tubuhnya terlonjak-lonjak seperti ayam tak sempurna dipotong. Ajal seperti mempermainkannya. Menyakiti seluruh pembuluh darah dan setiap bulu di tubuhnya. Mungkin sebagai pembalasan atas segala laknat  yang telah dia sebar semasa hidupnya.
Si Bungsu jadi hiba melihat penderitaan makhluk itu. Dia melangkah ke dekatnya. Sinar mata jadi-jadian yang tadi merah menyala, kini menatapnya minta dikasihani. Sinar mata itu seperti minta pertolongan. Lenguhnya menghiba seperti meminta agar nyawanya cepat diambil.

”Maafkan saya…” si Bungsu berkata.
Dan samurai di tangannya berkelebat. Cres! Cres! Dua kali sabetan cepat dan kuat. Membuat dada kiri jadi-jadian itu robek besar. Membuat lehernya hampir putus. Penderitaan makhluk itu benar-benar berakhir. Tiba-tiba rimba itu seperti dikoyak lagi oleh raungan harimau yang ada di bawah. Seperti raung kemenangan. Bulu tengkuk si Bungsu kembali merinding. Dia ngeri kalau-kalau harimau itu berlompatan naik. Itu bisa menyebabkan nyawanya melayang.
Dia melemparkan mayat jadi-jadian itu ke bawah. Terdengar suara berkerosak. Dan dalam waktu sekejap, semua harimau yang ada di bawah melompat dan lenyap ke palunan rimba. Masing-masing membawa serpihan bangkai makhluk jadi-jadian itu. Si Bungsu menghapus air matanya. Menghapus keringat dingin yang merengas di keningnya. Ternyata ayahnya berkata benar tentang ada ayat-ayat Al Qur’an dan lafas Azan yang sanggup memunahkan ilmu hitam. Dia membuktikannya malam ini.
Kini tubuhnya terasa lemah. Dia tak tahu sudah berapa banyak darah yang keluar dari luka di punggung dan belakang kepalanya. Dengan mengumpulkan segala tenaga, dia berjalan ke sudut kanan batu pipih dimana dia mendirikan pondoknya. Batu pipih itu sebagai halaman pondok darurat tersebut. Di pondoknya dia menyimpan ramuan obat-obatan. Obat yang dibuat dari ramuan daun dan kulit kayu. Dengan ramuan itu dahulu luka menganga bekas bacokan samurai Kapten Saburo Matsuyama dia obat.
Dengan susah payah dia masuk. Menggesekkan dua batu api dengan sisa tenaganya untuk memasang damar yang dibuat dari getah kayu. Dengan sedikit sisa tenaga, sebisanya dia pergunakan untuk menempelkan ramuan obat kering itu ke lukanya. Kemudian dia berbaring. Sakit, lelah dan tertidur. Tiga hari dia diserang demam hebat. Tubuhnya panas dingin. Dia harus berjuang melawan maut. Untunglah daging macan tutul yang dia buat dendeng sangat membantu kesembuhannya. Daging macan itu berkhasiat melawan bisa dan racun. Daging itu juga membuat daya tahan tubuh melebihi manusia biasa. Dia mengunyah dendeng harimau itu sambil terbaring diam.
Hari keempat dia mulai berangsur sembuh. Namun masih belum mampu untuk berdiri. Tapi di pagi keempat dia bisa lagi menikmati kicau burung. Menikmati pekik siamang dan cericit burung punai dan balam, yang barangkali puluhan banyaknya di atas pohon rimbun dekat pondoknya. Burung-burung itu menyanyi di sana. Berlompatan dari cabang ke cabang. Memakan buahnya yang kecil-kecil. Kini dia bisa tersenyum mendengar dendang sahabat-sahabatnya itu.
Ya, selama belasan purnama di gunung ini, sahabatnya adalah hewan-hewan yang ada. Burung, tupai, beruk, siamang, kijang bahkan terkadang harimau dan ular. Sementara di kampungnya dia tak punya sahabat seorangpun. Kehadirannya pertama kali memang mengejutkan dan dimusuhi oleh penghuni-penghuni gunung tersebut. Mereka seperti sangat keberatan atas kehadiran pihak lain di tempat mereka yang selalu aman itu.
Tak jarang harimau dan ular berniat menerkamnya. Namun di bulan-bulan pertama itu, si Bungsu memilih diam saja di dalam pondoknya. Kalaupun dia keluar, itu hanya untuk berlatih di batu pipih di depan pondoknya. Kalau akan minum dia cukup pergi ke sudut selatan batu lebar tersebut. Di bahagian itu ada air mengalir dari batu di atas batu layah itu. Air itu nampaknya mengalir dari puncak gunung. Tak terlalu besar, namun airnya jernih, sejuk dan segar.
Di sudut selatan itu ada kolam kecil yang terbentuk karena tikaman air terjun, mungkin sudah ratusan tahun. Lebar kolam itu tak lebih dari tiga depa persegi, dengan dalam sedepa. Di dalam tebat batu alam itu hidup ikan kecil-kecil. Tak lebih dari sebesar telapak tangan. Ikan-ikan yang alangkah indah warnanya. Ada yang hijau bercampur merah. Seperti bendera. Ada yang hitam dengan biru dan merah. Bergaris-garis seperti ragi kain. Ketika pertama kali dia mandi di dalam tebat itu, ikan itu berlarian ketakutan. Mungkin  menyangka dia sejenis makhluk gergasi  yang akan menelan mereka.
Namun dari hari terbilang purnama, akhirnya ikan-ikan itu jadi sahabatnya. Jika dia mandi, ikan-ikan itu selalu bersamaan berenang dan membenturkan kepala mereka ke perut si Bungsu. Si Bungsu terpekik-pekik kegelian. Ikan-ikan itu mengulangi lagi tingkah mereka. Sebaliknya, lama-lama si Bungsu berhasil dengan mudah menangkap ikan tersebut. Terkadang dia berhasil menangkap empat ekor.  Kecepatan tangannya terlatih berkat biasa dan diulang berkali-kali hari demi hari.
”Ku gulai kalian. Ku makan kalian dengan tulang-tulang kalian,” dia berseru sambil memegang ikan-ikan itu.
Ikan-ikan tersebut menggelepar-gelepar ingin melepaskan diri. Nampak seperti ketakutan. Dengan tertawa si Bungsu melepaskan ikan-ikan itu kembali. Dan mereka kembali berenang dan membenturkan diri ke perut si Bungsu. Terkadang menggigit daging perutnya. Membuat si Bungsu kembali terpekik-pekik. Demikian persahabatan aneh itu terjalin. Begitu juga dengan burung-burung. Tupai dan musang.
Ah, semuanya sangat indah. Seindah bila dia melihat ke kampung-kampung di bawah sana. Kalau siang dia lihat asap mengepul. Mungkin dari ladang, dan mungkin dari dapur di rumah. Dari batu pipih ini, dia dapat melihat dengan jelas kampung-kampung di kaki gunung Sago itu. Dia dapat melihat rumah atau kerlip lampu di malam hari dari Kampung Sikabu-kabu, Situjuh Ladanglaweh, Tungka,  Manangkadok,  Padangmangatas, Tabing, Sungaikumayang. Tanjungharo, Halaban atau si Tujuhbatur.
Dari atas sini semua terlihat indah. Asap yang membawa harumnya jagung dari pembakaran di ladang-ladang. Dia sepertinya mencium bau harumnya jagung panggang. Atau nikmatnya rasa gelamai. Ah, semua rasanya menghimbaunya untuk segera turun. Namun dia harus bertahan beberapa waktu lagi di atas ini. Memang tak ada yang melarangnya untuk turun. Dia bisa pergi setiap saat bila dia mau. Namun yang menahannya adalah hatinya sendiri.
Dia tak akan turun sebelum dia merasa yakin akan mampu menuntut balas dendam keluarganya. Dia takkan turun sebelum dia yakin akan bisa menyaingi kemahiran Saburo Matsuyama mempergunaskan samurai dalam perkelahian. Dia harus mampu!. Sebab ayahnya telah bersumpah untuk membalas dendam. Ayahnya telah bersumpah untuk membunuh Saburo dengan samurai.
Sumpah ayahnya itu dia dengar nyata. Bukankah itu suatu isyarat padanya, agar melaksanakan perintah ayah yang tak pernah dia patuhi suruhannya selama ayahnya hidup? Dia harus melaksanakan niat ayahnya. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menebus segala dosa yang pernah dia buat pada si ayah. Semasa dia hidup dia tak pernah menyenangkan hati ayahnya. Kini setelah orang tua itu mati, dia ingin melaksanakan niat ayahnya. Dia ingin berbuat baik padanya.
Dari pondoknya tak jauh di depannya dia lihat dua ekor tupai bergelut bekejaran. Saling terkam, bergulingan. Lepas, terkam lagi, bergulingan lagi. Lambat-lambat dia melangkah keluar. Kedua tupai itu masih berlarian. Masih bergelut. Masih bergulingan. Meloncat. Melambung dan menerkam. Dia memperhatikan kembali dengan seksama. Gerakan itu seperti sengaja diperlihatkan kepadanya berulang-ulang. Dan gerakan itu telah dia tiru berkali-kali, sampai mahir. Ya, gerakan yang telah menyelamatkan nyawanya dalam perkelahian dengan Cindaku itu dia tiru dari gerakan dua tupai itu.
Suatu hari dia melihat keduanya berkelahi di cabang pohon. Berkelahi dengan sengit. Saling loncat, saling terkam. Bergulung dan melambung di cabang pohon. Namun tak seekorpun yang jatuh. Mereka nampaknya memiliki ilmu keseimbangan yang sempurna. Kemudian dia menirukan gerakan itu. Mula-mula sudah tentu tak berkelincitan. Tubuhnya berkelukuran. Namun berbulan-bulan setelah itu dia jadi bisa. Dan anehnya, tanpa dia sangka kedua tupai itu ternyata memperhatikan setiap tingkah lakunya. Kemudian kedua tupai itu sering bergelut di batu layah itu. Seperti memberikan petunjuk dan pelajaran baru padanya. Dan tentu saja dia mengikutinya. Dan tupai-tupai itu kemudian menjadi ”sahabat dan guru”nya.
”Terima kasih, saya akan ingat selalu  atas pelajaran yang kalian berikan…” ujarnya suatu hari.
Kedua tupai itu menjilat kaki depan mereka. Kemudian meloncat pergi. Dia melambai meskipun tupai itu tak melihat lagi padanya. Dia menatap pada burung-burung yang bernyanyi di pohon. Menatap pada ikan-ikan  kecil di tebat alam di atas batu itu. Menatap dan mencium  dengan segenap rasa terima kasih bau harumnya hutan belantara itu. Ini adalah hari-hari terakhir dia berada di gunung Sago itu.
Dia tak pernah punya guru secara langsung. Gurunya adalah alam terkembang. Dia lihat Jepang berkelahi mempergunakan samurai. Dia tiru gerakan itu. Dia lihat ayahnya berkelahi menikamkan samurai. Dia tiru cara mrnikaman samurai itu. Dia lihat tupai berkelahi dan bergulingan. Dia tiru gerakan itu. Tuhan menjadikan alam ini untuk dipelajari. Dan dia belajar banyak sekali padanya. Banyak hikmah tersembunyi di balik alam semesta ini. Hanya manusia yang tak mengetahui isyarat-isyarat yang dijadikan Allah Yang Maha Pencipta itu.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s