Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 427)

Namun adanya perintah berkode HD itu, berikut menjadikan Michiko sebagai penunjuk jalan, tak pernah diungkapkan kedua letnan itu kepada siapapun, tentu saja termasuk kepada si Bungsu dan Michiko. Dari pertemuan hari itu pula si Bungsu mengetahui, bahwa ke Sumatera Barat ini RPKAD yang dikirim hanya dua peleton yang dipimpin Fauzi dan Azhar. Sementara ke Riau dikirim satu batalyon, berkekuatan lebih kurang seribu orang.
Hal itu disebabkan pemerintah Pusat mengamankan PT Caltex yang berkantor di pinggiran kota Pekanbaru, serta ladang-ladang minyaknya yang bertebaran di dalam belantara Riau tersebut. Letnan Fauzi dan Letnan Azhar memerlukan datang menemui si Bungsu, karena dua peleton RPKAD yang mereka pimpin akan kembali ke Jakarta. Masa tugas mereka selama tiga bulan di daerah ini sudah berakhir.
“Terimakasih, Letnan. Aku berhutang nyawa pada kalian…” ujar si Bungsu dengan nada bergetar.
“Kalau kalian nikah nanti jangan lupa mengundang kami, awas kalau lupa..” ujar Fauzi saat akan mening galkan ruangan itu. Dan para sahabat itupun berpisah dalam suasana penuh haru.
Beberapa hari setelah keluar dari rumah sakit si Bungsu sangat terkejut ketika mendengar kabar bahwa ayah Salma yang bernama Kari Basa mati tertembak di Bukttinggi. Dia ditembak malam hari, saat akan masuk ke rumahnya. Sampai sekarang tidak diketahui pihak mana yang menembaknya. Overste Nurdin dan Salma isterinya telah sampai di Bukittinggi dua hari yang lalu. Mereka terbang langsung dari New Delhi dimana Nurdin bertugas ke Jakarta, kemudian ke Padang dan diantar pakai jip yang dikawal dua truk tentara ke Bukittinggi. Si Bungsu, termasuk Michiko, memutuskan untuk datang ke Bukittinggi menemui kedua sahabatnya itu.
Sementara Michikp kembali teringat ucapan Salma di Airport Changi, saat akan berangkat ke Jakarta, untuk seterusnya mencari si Bungsu ke kampungnya. Saat itu Salma berkata: “Sebagai sesama perempuan, Michiko, saya ingin mengatakan padamu. Engkau punya kesempatan untuk bertemu dengan lelaki yang sama-sama kita cintai. Engkau yang memiliki kesempatan paling besar untuk mendapatkan dirinya. Jangan engkau sampai dikuasai oleh dendam keparat itu. Itu nonsens sama sekali. Berfikirlah dengan akal sehat. Dia takkan mau melawanmu, aku tahu itu bukan sifatnya. Bila dia engkau bunuh Michiko, sama artinya engkau membunuh harapanmu sendiri. Kau akan menyesal seumur hidupmu. Kalian kini sama-sama sebatangkara. Yang kalian butuhkan adalah kasih sayang. Bukan perkelahian dan saling bunuh. Sebagai seorang yang lebih tua darimu, Michiko san, saya ingin engkau bahagia. Saya ingin si Bungsu bahagia. Dan saya yakin, kebahagiaan itu takkan kalian peroleh kalau kalian tidak bersama. Saya ingin mendengar kabar bahwa kalian menikah. Saya akan menanti kalian di sini. Datanglah sebagai suami isteri. Saya selalu berdoa untuk itu, Michiko, Adikku!”
Michiko termenung mengingat kata-kata: “Datanglah sebagai suami isteri. Saya selalu berdoa untuk itu, Michiko, Adikku!” Oo, alangkah inginnya dia hal itu terujud. Alangkah inginnya. Tengah dia menghayalkan hal tersebut tiba-tiba dia dikejutkan suara si Bungsu:
“Michiko-san…”
“Ya…?”
“Kita akan ke Bukittinggi, kan?
“Ya..”
“Secepatnya, kan?”
“Ya..”
“Michiko-san..”
“Ya..?”
Si Bungsu menatapnya. Sepi, Michiko menunggu apa yang akan disampaikan si Bungsu lebih lanjut.
“Di negeri kami ini, yang melamar seorang gadis adalah pihak ibu dan keluarga perempuan pihak lelaki. Tapi saya tidak lagi punya keluarga. Kita sama-sama sebatang kara. Kalau nanti kita sudah di Bukittinggi, saya akan meminta Salma dan Nurdin melamarmu. Engkau akan menjadi tempat aku mengabarkan sakit dan senang, aku tempat engkau mengabarkan sakit dan senang pula. Maukah engkau menjadi isteriku, Michiko-san? “
Michiko menatap si Bungsu, kemudian berdiri. Lalu menghambur ke dalam memeluk lelaki itu. Dia menangis terisak-isak, tenggelam oleh rasa haru dan bahagia yang tak bertepi.
“Hati dan jiwaku milikmu, kekasihku. Milikmu, selamanya-lamanya….!”
—o0o—
Mereka menompang konvoi tentara pusat yang akan berangkat ke Bukittinggi. Di dalam konvoi yang berjumlah belasan truk dan bus itu, selain penompang kalangan sipil terdapat puluhan anak-anak SGKP. Semula ada kekhawatiran diantara penompang akan adanya pencegatan. Tetapi untuk menghilangkan rasa takut dan ketegangan, tentara yang ada di setiap truk menyuruh anak-anak sekolah itu bernyanyi.
Namun lewat Nagari Sicincin mereka pada lelah. Malah ada yang mengantuk. Konvoi itu melaju terus, dengan di depan sekali sebuah jip tentara kemudian dua truk berisi pasukan, ketiganya dibekali dengan senapan mesin, diselang seling bus dan truk berisi anak sekolah dan sipil dan di belakang sekali tiga truk penuh tentara. Sebahagian besar penompang dan tentara masih saling berbicara perlahan tanpa melupakan kewaspadaan.
Lepas dari Kayu Tanam konvoi memperlambat perjalanan karena mulai memasuki areal hutan berbukit di Bukit Tambun Tulang. Tak lama kemduian mereka memasuki kawasan Lembah Anai dengan air terjun yang indah. Sebenarnya saat masih berada di kawasan Bukit Tambun Tulang tiba-tiba saja ada perasaan tak sedap menyelusup ke hati si Bungsu. Matanya menatap ke bukit-bukit batu terjal tatakala memasuki Lembah Anai.
Lalu…tiba-tiba terjadilah tragedi berdarah itu! Dari hutan di bukit-bukit batu curam di kiri kanan lembah itu tiba-tiba saja konvoi disiram tembakan mitraliur. Tidak itu saja, tembakan bazoka melemparkan sebuah truk dan sebuah bus penuh penompang dan tentara ke dalam sungai berbatu. Si Bungsu dan beberapa penompang sipil dan belasan tentara berada di truk yang terlempar itu! Sebagian dari konvoi itu berhenti mendadak. Jip yang berada di depan sekali, yang berada di tempat terbuka mempercepat larinya mencoba berlindung di tikungan.
Namun serentetan…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s