Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 428)

Namun serentetan tembakan mitraliur membunuh seluruh isi jip itu, sementara jip itu sendiri baru berhenti tatkala menabrak tebing batu di kirinya. Beberapa bus dan truk tersandar ke tebing batu dalam usaha mengelak dari tembakan membabi buta. Tak ayal lagi, konvoi APRI itu masuk perangkap PRRI! Para penumpang berhamburan turun dan menjauhi bus dan truk. Menghindar dari daerah terbuka agar tidak menjadi sasaran peluru. Untuk itu jalan satu-satunya adalah masuk ke hutan terdekat. Hutan di wilayah itu hanya tumbuh di dinding tebing batu yang curam.
Apa boleh buat mereka terpaksa, dan harus, mendaki hutan di tebing terjal itu. Selain menghindari celaka dari sasaran peluru, sekaligus menghindar dari celaka bila truk atau bus meledak. Michiko berada di dalam bus yang tersandar ke dinding batu dan penompangnya terdiri rombongan anak SGKP yang bertemperasan turun menyelamatkan diri itu! Namun malang memang tengah mengikuti mereka. Peluru yang ditembakkan oleh PRRI dari puncak-puncak tebing, yang sebenarnya ditujukan kepada tentara pusat benar-benar “tak bermata”.
Tidak bisa membedakan mana yang tentara mana yang sipil. Mana yang lelaki mana perempuan. Akibatnya belasan anak-anak SGKP dan penompang sipil lainnya tersungkur dihantam peluru begitu mereka berhamburan turun dari bus astau truk. Belasan lainnya bernasib sama, meski mereka sudah berada di dalam hutan di tebing terjal dalam upaya menyelamatkan diri. Salah seorang di antara korban yang kena tembak itu adalah Michiko!
Hutan di bukit cadas Lembah Anai itu sudah ditelan malam yang kental ketika seorang anggota PRRI berpangkat letnan dan lima anggotanya “membersihkan” hutan itu. Dengan dua buah senter mereka memeriksa lekuk dan tonjolan batu yang mereka lewati. Mereka lewat di sana karena daerah itu memang sudah dipersiapkan sebagai jebakan yang mematikan bagi konvoi tentara pusat yang akan lewat di sana.
PRRI memerlukan waktu sekitar beberapa minggu untuk mempersiapkan jebakan tersebut. Setiap bukit, tebing dan pohon dengan seksama mereka pelajari situasinya. Termasuk mempelajari kemana saja jalan mengundurkan diri atau jalan lari bila terjadi hal-hal yang di luar perhitungan. Termasuk bila terjadi serangan balik dari pihak APRI.
Letnan dan empat anggotanya itu sedang berada di pinggang salah satu tebing terjal di Lembah Anai, tatkala mereka mendengar suara rintihan. Setelah lelah mencari dengan cahaya senter dalam kegelapan itu, mereka menemukan di puncak sebuah tonjolan batu sesosok tubuh wanita. Nampaknya dia dengan susah payah memanjat batu tersebut agar tidak dimangsa binatang buas.
“Ini orang asing, Let…” ujar salah seorang yang berpangkat sersan.
Mereka menatap wajah perempuan yang tersandar separoh sadar itu.
“Jepang! Ini…Astaghfirullah,…ini pasti gadis Jepang yang mencari si Bungsu..” ujar yang berpangkat letnan.
Ketiga mereka memperhatikan Michiko dengan perasaan tak percaya. Cerita tentang si Bungsu dan gadis Jepang yang mencarinya itu, sampai si Bungsu mengalami luka di Situjuh Ladang Laweh dan dirawat di Rumah Sakit Tentara di Padang atas pertolongan dua perwira RPKAD, sudah bersebar dari mulut ke mulut.
“Kita tidak mungkin meninggalkannya di sini, dia memerlukan pertolongan..” ujar si sersan.
Kelima mereka menyepakati ucapan si sersan. Mereka lalu membuat tandu darurat dan menandu Michiko makin masuk ke belantara, naik turun bukit arah ke Gunung Singgalang. Jalan itu sudah mereka pelajari dua bulan yang lalu, merupakan jalan terdekat untuk tembus ke kampung Balingka. Selain menandu Michiko mereka juga membawa tiga pucuk senjata yang tertinggal oleh pasukan APRI.
Menjelang subuh mereka sampai di barak darurat yang dibuat di pinggang Gunung Singgalang. Barak itu sengaja dibuat di sana, agar tak terjangkau oleh APRI, dan memudahkan droping senjata oleh helikopter Amerika yang terbang menyelusup dari Laut Cina Selatan. Namun celaka menghadang, pada saat bersamaan dengan kedatangan mereka kebetulan sebuah helikopter Amerika sedang menurunkan senjata. Tapi saat itu pula tiba-tiba pasukan APRI menyerang.
Pasukan APRI ternyata tidak hanya melakukan serangan balik atas peristiwa Lembah Anai yang terjadi kemarin pagi, tapi juga melakukan serangan mendadak ke salah satu tempat rahasia PRRI menerima droping senjata dari Amerika melalui udara. Apri menjadi curiga saat tengah malam ada deru helikopter. Setelah beberapa kali hal itu terjadi,  mata-mata yang disebar akhirnya mengetahui maskud kedatangan heli itu, serta di mana lokasi droping senjata dilakukan.
Keadaan benar-benar kacau balau. Di barak darurat di tengah hutan di pinggang Singgalang itu hanya ada satu peleton PRRI. Mereka disiagakan di sana untuk menunggu dan membawa senjata yang didrop secara rahasia itu. Itu sebabnya, ketika APRI belum mengenal bazoka, PRRI sudah menggunakannya. Senjata itu merupakan senjata anti-tank.
Tempat itu dipilih karena letaknya yang tersembunyi, tapi strategis. Ketika serangan datang dengan mudah mereka menyelusup dan lenyap berlindung ke jurang-jurang di sekitarnya.
Dalam peristiwa serangan mendadak menjelang subuh itu, si letnan masih sempat merminta pertolongan kepada pilot helikopter untuk menyelamatkan Michiko yang terluka, dan sat itu tidak sadar diri.
“Tomas, keadaan gadis ini kritis, kalau dibiarkan di sini nyawanya bisa tidak tertolong..” ujar letnan itu.
“Tapi saya harus ke Singapura..” jawab pilot bernama Tomas dalam gebalau yang mencekam itu.
“Justru itu, bawalah dia. Dari sana lebih dekat ke negerinya di Jepang sana..” ujar si letnan.
Pembicaraan mereka terputus oleh ledakan peluru mortir. Saat pilot dan copilot heli itu selesai menurunkan peti-peti berisi senjata, dibantu beberapa orang anggota PRRI, si letnan menyuruh anggotanya menaikkan Michiko yang masih belum sadar ke helikopter. Kemudian mengikatkan tubuhnya dengan kuat. Tembakan pasukan APRI terdengar makin dekat. Dengan berkali-kali mengucapkan “shit…shit..shit” pilot Amerika itu melompat ke helikopternya yang mesinnya tidak pernah dimatikan.
“Di peti itu ada….

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s