Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 430)

“Ya…”
“Yang pernah ke Jepang dan berasal dari Situjuh Ladang Laweh?”
Si Bungsu heran dan menatap tentara itu. Darimana orang ini tahu siapa dirinya? “Bapak tahu nama saya dari mana?”
“Panggil saya Syafrizal saja. Saya tahu banyak tentang Sanak. Saya dengar dari Fauzi, ponakan saya..”
“Fauzi, anggota RPKAD itu..?”
“Ya, dia ponakan saya. Kami semua di Jakarta. Saat baru pulang dari bertugas di daerah ini, dia bercerita banyak tentang situasi di sini. Termasuk tentang Sanak. Apalagi kemudian saya ditugaskan menggantikan peleton yang dia pimpin di daerah ini. Kenalkan, ini Arif, teman saya..” ujar kapten itu memperkenalkan temannya yang sama-sama datang dengan dia, yang berpangkat sersan mayor.
Mereka lalu duduk di ruang tamu rumah sakit itu. Tiba-tiba si Bungsu dikejutkan oleh pertanyaan kapten Syafrizal.
“Sudah dapat kabar tentang Michiko?
“Beb…belum” jawabnya gugup dan berdebar.
Kapten Syafrizal menceritakan bahwa setelah penyergapan di Lembah Anai itu Michiko ditemukan malam hari di atas sebuah batu besar, dalam keadaan terluka dan tak sadar diri. Karena ceita tentang si Bungsu yang “sahabat” PRRI maupun “sahabat” APRI sudah tersebar luas, maka kisah dia dicari gadis Jepang cantik bernama Michiko juga ikut tersebar luas. Itu sebab anggota PRRI yang menemukannya segera mengenali gadis Jepang yang luka itu adalah kekasih si Bungsu, dan mereka merasa berkewajiban menolongnya.
Atas perintah seorang perwira pasukan PRRI Michiko lalu dibawa dengan tandu ke barak rahasia PRRI di pinggang Gunung Singgalang, untuk diselamatkan. Barak rahasia itu dibuat untuk menerima suplay senjata dari Amerika, yang sering mengirim persenjataan dengan helikopter dari salah satu tempat di Laut Cina Selatan, atau mungkin dari Singapura. Bersamaan dengan sampainya mereka di barak tersembunyi tersebut, APRI yang telah mencium keberadaan barak rahasia PRRI itu sebagai salah satu tempat menunggu suplay senjata dari Amerika, menyerang tempat tersebut. Perwira PRRI itu meminta tolong kepada pilot helikopter Amerika bernama Tomas untuk membawa Michiko yang terluka ke Singapura. Pilot itu semula menolak, tapi karena Michiko sudag dinaikkan ke heli, dan serangan APRI makin menjepit, heli itu berangkat dengan membawa Michiko.
Si Bungsu termenung mendengar penuturan Komisaris Polisi Syafrizal tersebut.
“Dari siapa cerita ini Sanak peroleh?” tanya si Bungsu perlahan.
“Kendati PRRI dan tentara Pusat berperang, namun sejak awal APRI memiliki kontak-kontak khusus dengan beberapa perwira PRRI. Perang saudara ini sama-sama tidak dikehendaki. Baik oleh PRRI maupun tentara Pusat. Cuma sudah kadung terlanjur,  kami dengar kabarnya sudah ada usulan kepada Presiden Soekarno untuk secepatnya mengeluarkan amnesti bagi anggota PRRI yang meletakkan senjata. Nah, informasi ini saya peroleh dari sumber-sumber itu. Dari orang-orang yang merasa Sanak adalah sahabat mereka, disampaikan kepada tentara APRI yang juga merasa Sanak adalah sahabat mereka pula..”
“Terimakasih atas informasi yang sanak sampaikan..” ujar si Bungsu perlahan.
“Sanak sahabat kami dan semua pihak, karenanya kami senang bisa membantu..”
“Terimakasih..” ujar si Bungsu, masih dalam nada perlahan dengan tatapan mata menerawang ke hamparan sawah di depan rumah sakit tersebut.
“Saya juga mendapat informasi bahwa Sanak akan ke Bukittinggi, menemui Overste Nurdin yang mertusnya mati tertembak di Bukittinggi..”
Si Bungsu menatap kapten itu. Tak cukup banyak orang yang tahu maksud kepergiannya bersama Michiko ke Bukittinggi, kini kapten ini ternyata telah mengetahuinya.
“Selain sahabat semua orang, Sanak juga orang penting bagi kami maupun PRRI. Karena itu jangan kaget kalau kemanapun Sanak akan ada yang secara diam-diam mengikuti. Mungkin diikuti secara beranting. Samasekali tidak bermaksud mencampuri urusan Sanak, tapi semata-mata menjaga keselamatan Sanak. Baik tentara Pusat maupun orang-orang PRRI amat rugi kalau terjadi malapetaka terhadap Sanak. Kembali ke pokok persoalan, jika akan ke Bukittinggi saya juga akan ke sana. Kami membawa jip. Kabarnya Overste Nurdin dan isterinya sudah akan berangkat kemaren ke Padang untuk kembali ke India melalui Jakarta. Tapi karena pencegatan di Lembah Anai itu mereka mengundurkan keberangkatannya, mungkin dalam sehari dua ini. Saya mendapat tugas mengamankan perjalanan suami isteri Atase Militer Indonesia di India itu sampai ke Jakarta..”
Tidak ada pilihan terbaik bagi si Bungsu, selain menuruti ajakan kapten RPKAD itu ke Bukittinggi bersamanya. Namun tengah dia bersiap-siap, orang yang akan dikunjunginya tersebut justru tiba di rumah sakit itu. Overste Nurdin lalu membawa si Bungsu pindah ke rumah dimana dia menginap, yaitu di Mes Perwira di kota itu. Nurdin juga mengajak Kapten Syafrizal dan Sersan Arif ke mes tersebut. Mereka lalu terlibat pembicaraan penuh keakraban.
“Baru kemarin sore saya mendapat kabar bahwa engkau berada dalam konvoi yang dicegat di Lembah Anai itu. Saya juga mendapat informasi tentang Michiko seperti yang dituturkan Kapten Syafrizal..”  ujar Overste Nurdin.
“Kami doakan Uda segera bertemu dengan Michiko..” ujar Salma yang sejak tadi hanya berdiam diri, menyela pembicaraan perlahan.
“Melalui telegram saya sudah kontak teman di Konsulat Singapura, termasuk teman-temanmu bekas pasukan Green Baret di sana untuk mencari informasi. Mereka mengatakan bahwa helikopter pembawa senjata gelap itu memang dari salah satu tempat di Singapura. Tapi, maaf, pilot yang bernama Thomas veteran Angkatan Udara Amerika itu kembali ke kota tempat tinggalnya, di Dallas Amerika. Dan, sekali lagi maaf, dia membawa Michiko yang sakit untuk diobat di sana..”
Salma memperhatikan lelaki yang pernah amat dia cintai itu. Si Bungsu terdiam. Dia teringat pembicaraannya dengan Michiko di Padang, beberapa hari sebelum berangkat ke Bukittinggi.
“Di negeri kami…

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s