Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 431)

Di negeri kami ini, yang melamar seorang gadis adalah pihak ibu dan keluarga perempuan pihak lelaki. Tapi saya tak lagi punya keluarga. Kita sama-sama sebatang kara. Kalau nanti kita di Bukittinggi, saya akan meminta Salma dan Nurdin melamarmu. Engkau tempat aku mengabarkan sakit dan senang, aku tempat engkau mengabarkan sakit dan senang pula. Maukah engkau menjadi isteriku, Michiko-san? “
Michiko menatapnya, kemudian berdiri. Lalu mengham bur ke dalam pelukkannya. Gadis itu menangis terisak-isak, tenggelam oleh rasa haru dan bahagia yang tak bertepi. Lalu berkata di antara tangisnya.
“Hati dan jiwaku milikmu, kekasihku. Milikmu, selamanya-lamanya….!”
Kini, bagaimana dia akan meminta Nurdin dan Salma melamar gadis itu untuknya? Dia seperti menelan sesuatu yang teramat pahit di hatinya. Namun dia berharap gadis itu sembuh dari luka yang dia derita, diselamatkan Tuhan nyawanya. Paling tidak itulah harapannya yang tersisa. Untuk bertemu, masih adakah harapannya? Dallas, Amerika, entah di ujung dunia mana letak negeri itu. Namun, diam-diam jauh di lubuk hatinya dia menanam niat untuk datang ke negeri di ujung dunia itu. Diam-diam niat itu dia tanam jauh di lubuk hatinya. Dallas, akau akan datang, bisiknya!
—o0o—
Pesawat yang ditompangi si Bungsu baru saja mendarat di lapangan Paya Lebar, Singapura. Dia berjalan kaki ke bagian Douane. Tak banyak yang dia bawa. Hanya sebuah tas berisi empat atau lima stel pakaian, kemudian sebuah tongkat kayu. Tas tangan itu dia jinjing, jadi dia tak usah menunggu lama untuk bisa keluar. Dalam perjalanan menuju tempat keluar, sebuah pesawat LKM milik Belanda dia lihat mendarat pula di ujung landasan.
Melihat pesawat dari Belanda itu dia segera teringat pada situasi Indonesia yang baru saja dia tinggalkan. Presiden Soekarno sedang gencar-gencarnya atas nama rakyat Indonesia menuntut dikembalikannya Irian Barat ke tangan Indonesia. Beberapa benturan kecil telah terjadi di sekitar Irian  antara pasukan Indonesia dengan pasukan Belanda. Belanda tetap bersikeras mempertahankan Irian di bawah kekuasaannya.
Tak lama setelah pesawat itu berhenti, kelihatan turis-turis Belanda turun. Pakaian mereka beraneka warna. Lelaki perempuan. Ada firasat aneh yang tiba-tiba saja menyelusup di hati si Bungsu, melihat turis-turis tersebut turun dari pesawat KLM. Dia tak segera keluar dari tempat pemeriksaan. Ada beberapa saat dia menanti. Sampai akhirnya turis-turis itu juga masuk keruangannya. Ketika itulah seorang lelaki menepuk bahunya. Dia menoleh, dan…….
“Fabian…!” serunya sambil bangkit dan segera saja kedua lelaki itu berangkulan.
“Hai, kau kelihatan kurus, Letnan..” ujar mantan kapten Baret Hijau itu sambil mengucek-ngucek rambut di kepala si Bungsu.
“Masih kau ingat dia…?” berkata begitu si Kapten menunjuk seorang Negro bertubuh atletis.
“Tongky…!!” seru si Bungsu begitu mengenali lelaki itu.
“Letnan Bungsu..!” seru tongky si negro. Mereka segera saling peluk. Si Bungsu terharu, mendengar kedua bekas pasukan Baret Hijau dari Inggeris ini masih memanggilnya dengan sebutan letnan. Pangkat itu memang pernah “diberikan” padanya, ketika mereka akan berperang melawan sindikat penjualan wanita di Singapura ini beberapa tahun yang lalu. Semacam pangkat tituler, sebab kemahirannya ternyata melebihi kemahiran rata-rata anggota baret hijau itu dalam hal bela diri.
“ Mana teman-teman yang lain?”
“ Mereka mempersiapkan perjalan kita.
“Nanti kita akan berkumpul di rumahku. Hei… Sejak tadi engkau memperhatikan turis-turis itu..” bisik kapten Fabian ketika menyebut kalimat terakhir ini.
Si Bungsu kagum juga, ternyata kawannya ini mengetahui apa yang dia perhatikan.
“Saya ingin tahu dimana mereka menginap, Kapten…” Katanya pelan
“Itu mudah diatur…”
“Juga hal-hal lain yang dirasa perlu tentang identitas mereka..”
“Mudah diatur, Tongki akan menyelesaikannya…”
Si Bungsu segera ingat pada teman negronya yang bernama Tongki itu. Seorang ahli menyamar dan menyusup yang nyaris tak ada duanya. Tongki mengerdipkan mata. Kemudian si Bungsu meninggalkan lapangan udara Paya Lebar itu bersama Fabian. Meninggalkan Tongki disana. Mencari informasi tentang turis-turis tersebut. Mereka nenuju sebuah mobil Cadilac besar berwarna hitam metalik.
“Mobilmu Kapten?”
“Yap.”
“Kau kaya sekarang”
“Bukan aku, tapi ayahku. Dua tahun yang lalu ayahku meninggal di Inggris. Dia tak punya ahliwaris selain aku dan ibuku. Kini ibuku ada disini. Kau bisa bertemu nanti. Ayahku meninggalkan harta tak tanggung-tanggung. Barang kali dia dulu korupsi…”
Si Bungsu menatap heran.
“Ah tidak, ayahku seorang bangsawan”.
Kapten itu tersenyum, menjalankan mobilnya keluar areal pelabuhan. Mereka meluncur di jalan raya.
“Turis yang kau curigai tadi, apakah mereka dari Belanda?” Fabian bertanya sambil menyetir mobil.
“Ya. Nampaknya mereka dari Belanda. Saya mendengar bahasa yang mereka gunakan..”
“Kau hawatir bahwa mereka sebenarnya akan menuju Irian Barat?”
Si Bungsu menoleh pada kawannya itu. Dia hanya menduga semulanya. Apakah kapten ini mengetahui lebih jauh?
“Saya mengikuti berita-berita yang terjadi di negerimu, Bungsu. Saya punya bisnis di Singapura ini. Dan salah satu negeri terdekat, salah satu negeri dimana ekonomi Singapura terkait, adalah negerimu. Saya mengikuti setiap yang terjadi di sana. Dan kami bukannya tak tahu, saat ini banyak sukarelawan Indonesai yang telah diterjunkan di daratan Irian. Sukarelawan yang tak lain daripada pasukan-pasukan komando. Saya tak bersimpati dengan pemimpin negaramu, Bungsu. Terlalu dekat dengan komunis. Saya hanya simpati denganmu. Saya juga pernah mendengar bahwa ada pasukan-pasukan organik Belanda yang telah diselusupkan ke Irian. Dan.. mana tahu, karena tak dapat mengirim pasukan secara terang-terangan, mereka justru memakai jalur turis, bukan?”
Si Bungsu tak…

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s