Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 435)

’Oke..oke, Kapten. Tapi jelaskan dulu, apa yang akan kita kerjakan..’’ ujar Sony.
‘’Si Bungsu akan menceritakannya padamu…’’
Sony menatap si Bungsu. Si Bungsu membawa temannya itu ke luar. Mereka berjalan di pekarangan yang dipenuhi pepohonan. Si Bungsu menceritakan tentang kemelut Irian Barat. Termasuk terbunuhnya Komodor Yos Sudarso di Laut Arafuru. Kemudian tentang kapal selam yang ada di teluk itu. Sony mengangguk mengerti.
‘’Kau ingin kita berbuat sesuatu degan kapal selam itu, bukan?’’
Si Bungsu mengangguk. Sony tersenyum, lalu masuk ke rumah. Di dalam, Fabian dan Tongky sudah mulai ‘meramu’ beberapa buah dinamit.
‘’Kapan kita ke teluk itu?’’ tanya Sony.
‘’Secepatnya. Kini Tongky harus ke sana. Teliti beberapa buah kapal selam di sana, berapa orang awaknya, berapa jauh dari tepi pantai, berada di atas air atau di dalam airkah, berapa orang yang menjaga di pantai dan tempat-tempat penjagaanya’’ ujar Fabian kepada Tongky.
Negro yang setia itu segera bangkit dan tanpa banyak bicara berjalan ke luar. Tak lama kemudian terdengar suara mobil meninggalkan pekarangan rumah itu. Fabian dan Sony meneruskan membuat persiapan. Si Bungsu yang tak mengerti sama sekali pada bahan-bahan peledak hanya menatap saja dengan diam kedua sahabatnya itu bekerja.
Hampir sejam pekerjaan itu. Selesai merakit dinamit, Sony mengeluarkan makanan dari lemari es. Ada daging dan telur serta beberapa jenis makanan kaleng. Sony memanggang daging itu di pemanggang di atas bara kayu. Kemudian membuat telur mata sapi. Lalu memotong roti. Dan mereka makan dengan lezat.
Selesai makan siang, mereka bertiga mempersiapkan peralatan untuk menyelam. Mulai dari skuba, yaitu tabung zat asam yang terbuat dari besi, masker kepala yang juga dari besi sampai pada pistol. Tak seorangpun yang bicara selama mempersiapkan peralatan itu. Kemudian ketika alat-alat itu selesai mereka siapkan, mereka duduk di ruangan depan.
Fabian mengambil sebuah buku dari lemari kemudian membawanya ke ruang depan dimana si Bungsu dan Sony tengah membaca koran-koran lama.
‘’Pernah membaca buku ini?’’
Si Bungsu menoleh. Melihat kulitnya saja dia tahu tak pernah mengenal buku itu sebelumnya. Dia menggeleng. Fabian mengambil tempat duduk di sisi si Bungsu.
‘’Buku ini pantas kau baca. Bahkan bukan hanya Anda saja, tetapi barangkali juga pantas dibaca oleh semua pimpinan negaramu..’’ dia meletakan buku itu di meja.
Sebuah buku cukup tebal. Si Bungsu masih belum meraihnya. Namun dapat membaca judul dan pengarang buku tersebut. Buku itu karangan James Mossman, penulis asal Inggeris. Judul bukunya REBELS IN PARADISE (Indonesia’s Civil War).
‘’Buku itu bercerita banyak sekali tentang negerimu, Bungsu. Tentang Indonesia, dan lebih khusus lagi tentang Minangkabau. Yaitu cerita tentang PRRI. Cerita tentang kenapa mereka memberontak dan kenapa mereka kalah..’’
Fabian menceritakan isi buku itu sambil meneguk minuman kaleng yang diambil dari lemari es. Tak dapat tidak, si Bungsu jadi tertarik  jadinya. Dia memang tak mengerti sama sekali tentang politik. Dan dia tak mau ikut campur masalah itu. Dia seorang awam. Sekolahnya hanya sampai SMP. Kemudian terbengkalai.
Nasib telah menyeretnya ke dalam badai dan gelombang kehidupan yang tak kunjung menghempas ke pantai yang tentram. Nasib dan penderitaan jua yang telah menyeretnya sampai ke Jepang, ke Singapura dan Australia. Dan nasib serta kebetulan otaknya sedikit encer saja, makanya dia dapat belajar bahsa Jepang dan Inggeris. Barangkali kedua bahasa itu tak dia kuasai sebagaimana tamatan perguruan tinggi, namun sekedar untuk hidup, dia memahami kedua bahasa tersebut.
‘’Buku ini tak boleh masuk ke negerimu, Bungsu. Saya tahu beberapa orang pimpinan politik dan wartawan yang menyelusup kemari. Mereka kasak kusuk mencari buku-buku atau majalah yang menulis tentang negerimu, tentang pimpinan-pimpinan negaramu. Aneh juga bukan, orang terpaksa pergi jauh-jauh dari rumahnya, bertanya kepada orang lain tentang segala sesuatu yang terjadi di dalam rumahnya sendiri.
Itu pertanda, di dalam rumahnya dilarang berbicara tentang kebenaran. Begitulah negerimu kini, sobat. Kau bisa baca buku ini. Barangkali tak semuanya benar, namun kau dapat menjadikannya sebagai pembanding. Kau tahu tentang rumahmu, kemudian kau dengar orang bercerita tentang rumahmu itu, maka kau akan ketahui mana yang benar mana yang tak benar…”
Si Bungsu meraih buku itu. Buku itu dicetak buat pertama kali di tahun 1961. kulitnya berwarna merah putih dan hitam. Sudah cetakkan kedua. Di kulit luar itu ada gambar sepotong tangan yang seperti menggapai, ada bercak-bercak darah dan lingkaran yang tak mengetri dia apa maksudnya. Nampaknya kulit buku itu dirancang dengan selera setengah pop.
Warna hitam dan merah, selain ingin menggambarkan keseraman, juga ingin menimbulkan suasana misteri. Namun kesan tak menarik tak bisa disembunyikan dari ilustrasi itu. Kalau ada yang menarik barangkali adalah judulnya itu. Tentang pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di Indonesia.
Lebih eksplisit, buku…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s