Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 437)

Di halaman lain, si Bungsu membaca tulisan Mossman sebagai berikut: “Sejak hari-hari pertama perang saudara itu, Mossman mempunyai kesan yang pelik. Adapun Simbolon dan pemimpin militer yang lain, pendiri-pendiri sesungguhnya dari gerakan otonomi Sumatera Tengah, tidak pernah mengharapkan akan harus berkelahi sama sekali untuk kepercayaan-kepercayaan mereka. Mereka mengira akhirnya akan berunding di meja konferensi dengan Soekarno. Menurut Mossman pula, pasti Syafruddin tak pernah mengira akan terjadi segalanya itu. Yakni PRRI akan diserang dengan kekuatan tentara oleh Jakarta.
Sampai saat-saat akhir, dia percaya pada bantuan pasukan dan sekutu-sekutunya, prajurit-prajurit, politisi dan dunia barat. Kekalahan tak masuk akal baginya, karena dia percaya perjuangannya adalah benar. Ketika dilihatnya prajurit-prajurit PRRI tak mampu menghadapi serangan udara dan tak punya keinginan untuk menewaskan sesama orang Indonesia, atau dibunuh oleh mereka dalam suatu pertarungan untuk mana mereka tidak begitu aktif perasaan simpati mereka, maka dia jauh lebih terkejut daripada perwira-perwira yang mengangkatnya ke atas jabatan pemberontaknya. Itulah tulisan Mossman tentang Syafruddin Prawiranegara.
Selanjutnya, wartawan Inggeris itu mencerca Syafruddin dengan pedas. Dalam bukunya itu dia menulis: ‘’Syafruddin seorang kerani, bernafsu, picik. Ia adalah kerani bank yang akhirnya lepas lalang dan merampok bank.’’
Tapi Mossman tak pernah menjelaskan kebenaran tuduhan pedasnya, Bank mana saja yang dirampok oleh Syafruddin. Di halaman lain, si Bungsu membaca tentang PRRI itu sebagai berikut: ‘’Tokoh-tokoh PRRI tampaknya sangat mengandalkan bantuan Barat. Sebab PRRI berjuang antara lain untuk menghancurkan komunis di Indonesia. Namun ketika bantuan itu tak kunjung datang, atau kalaupun datang tapi tak menentu dan dalam jumlah yang nyaris tak ada arti untuk mempersenjatai beberapa resimen, sementara tentara APRI telah mendesak terus, mereka tak dapat berbuat lain, kecuali menyumpah dan amat kecewa.”
Dalam suatu wawancara antara Mossman dengan Simbolon di Mess Perwira Padangpanjang pada 15 April 1958 (Saat itu APRI telah maju cukup banyak) dia berkata: ‘’Kami memerlukan pesawat-pesawat pemburu. Hanya dua atau tiga pemburu jet. Satu malah dengan penerbang yang baik. Yang akan menghasilkan tipu muslihat. Kami akan mampu menahan majunya pasukan Nasution. Mengapa Barat tak melihat hal ini? Mengapa mereka tak mempunyai cukup kepercayaan buat mengirimkan beberapa pesawat pemburu, yang buruk sekalipun? Tak lama lagi, jika bantuan itu datang juga, keadaan sudah akan terlalu terlambat’’. Itu ucapan Simbolon.
Dalam buku itu juga Mossman memperjelas siapa yang dimaksud oleh tokoh-tokoh PRRI itu dengan “teman barat” itu. Mossman menunjukan peranan Central Intelligence (CIA) dari Amerika dalam kemelut perang saudara itu. Sebelum pecah perang saudara, beberapa tokoh PRRI bertemu dengan agen-agen CIA di Sumatera, dan di lain-lain tempat.
Hanya dia tak merinci tempat-tempat pertemuan itu. Tak menyebutkan kota dan tempat serta waktunya. Kemudian menurut Mossman, salah satu sebab kenapa PRRI berantakan dari dalam ialah karena diproklamirkannya Republik Persatuan Indonesia (PRRI) di Bonjol tanggal 7 Februari 1960. Republik ini merupakan gabungan antara PRRI dengna pasukan Darul Islam (DI) di Aceh dan Sulawesi Selatan.
Adapun DI yang fanatik Islam amat tak berkenan di hati orang Permesta yang beragama Kristen seperi Vence Sumual, Alex Kawilarang, Simbolon dan Dr. Sumitro Djojohadikusumo. Proklamasi PRRI itu adalah awal dari perpecahan di kubu PRRI dan Permesta. Pemberontakan itu dianggap selesai sejak Presiden Soekarno memberikan amnesti dan abolisi secara umum terhitung 5 Oktober 1961.
Si Bungsu meletakkan buku tebal itu di meja. Menatap pada kedua temannya bekas tentara Baret Hijau itu.
‘’Buku itu tak ada di Indonesia bukan?’’ tanya Fabian.
Si Bungsu menatap buku tersebut. Dia menggeleng.
‘’Saya tak tahu. Saya tak berminat pada masalah-masalah begini di sana. Saya bukan politisi, bukan militer, bukan cerdik pandai.
Saya tak tahu buku …

2 Comments

  1. Makasih atas kumpulan buku tikam samurainya, Terlepas juga kangen ini, Ada gak edisi lengkapnya?


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s