Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 438)

Saya tak tahu buku mana yang boleh beredar dan mana yang tidak di negeri saya itu. Lagipula, saya bukan ortang terdidik yang menyukai buku,’’ ujarnya jujur tentang dirinya.
‘’Buku itu memang dilarang di negerimu, Bungsu. Sebab, meskipun sebahagian besar bicara tentang kelemahan PRRI, dia juga bicara tentang kelemahan dan kesalahan yang dibuat oleh Presidenmu, oleh para menteri dan pemimpin negeri kalian yang goblok, serakah dan pengecut!’’
Si Bungsu menatap wajah temannya itu. Mukanya jadi merah. Betapapun juga, rasa nasionalismenya jadi tersinggung. Dia tahu, tak semua pimpinan di negerinya sejelek yang diucapkan Fabian. Tapi bekas kapten tentara Baret Hijau ini memaki mereka sama rata. Fabian segera menyadari jalan pikiran temannya itu.
‘’Sorry, kawan. Saya memang agak emosi. Soalnya negerimu itu amat condong ke komunis. Sebahagian besar rakyat kalian kini menjerit kelaparan. Sementara segelintir orang-orang berkuasa, atau yang dekat dengan penguasa, hidup mewah’’
Si Bungsu masih tetap diam dan masih menatap Fabian. Fabian bicara lagi.
‘’Negerimu itu sesungguhnya negeri yang amat kaya, kawan. Di sana, matahari bersinar sepanjang zaman. Negerimu negeri yang amat sangat dilimpahi Rahmat Tuhan. Apapun yang kalian tanam di sana hidup dan tumbuh dengan subur. Untuk kemudian menghasilkan panen yang melimpah. Di sana tak ada musim gugur, tak ada musim salju yang memunahkan seluruh jenis tetumbuhan. Tidak, negerimu panen bisa berlangsung sepanjang zaman. Tapi kenapa rakyatmu melarat? Kenapa kelaparan? Apa yang tak ada di sana? Sebutlah: emas, perak, minyak, batubara, timah, tembaga, lada, pala, beras, pisang dan seribu macam sayur mayur. Apalagi yang kalian butuhkan? Tapi rakyat kalian tak bisa turun ke sawah, ke ladang dengan aman, sebab banyak teror dan intimidasi politik. Mereka tak dapat turun ke laut menangkap ikan yang melimpah, karena bajak laut sepertinya ada di mana-mana. Tidak hanya bajak laut dalam arti harafiah, tetapi pembajak dalam segala hal! Segelintir pemimpin kalian terlalu sewenang-wenang. Cobalah renungkan, di negeri yang kaya raya dan subur seperti itu, orang harus membeli beras dengan kupon, membeli minyak dan garam dengan kupon. Bukankah di kampungmu, di Minangkabau ada istilah ayam di lumbung mati kelaparan? Nah, itulah yang terjadi dengan rakyat Indonesia, kawan’’.
Tidak dapat tidak si Bungsu kagum atas ucapan Fabian. Begitu banyak yang dia ketahui tentang Indonesia. Sesuatu yang dia sendiri tak begitu memahaminya.
‘’Banyak yang kau ketahui tentang negeriku, kawan..’’ katanya pelan sambil melempar pandangan keluar.
‘’Saya mengetahuinya lewat koran.’’
‘’Apakah menurut dugaanmu semua yang ditulis koran itu benar?’’
‘’Koran di negeri ini berbeda dengan koran di negerimu, sobat. Wartawan di negeri ini, dan di negeri kami, berbeda dengan wartawan di negerimu. Wartawan di negeri kami menulis fakta. Dan mereka tak takut sedikitpun pada resiko yang ditimbulkan oleh fakta yang mereka ungkapkan. Itulah sebabnya kenapa kami menaruh kepercayaan kepada wartawan-wartawan kami. Percaya pada apa yang mereka tulis. Tidak seperti wartawan di negerimu. Yang menulis hanya demi periuk nasi. Memang ada wartawan jempolan di negerimu, yang tak mau kompromi dengan penguasa yang tak benar. Saya mengenal nama beberapa orang di antaranya, Mochtar Lubis dan Rosihan Anwar. Tapi mereka telah disikat penguasamu, masuk bui dan korannya dibredel. Selebihnya, wartawan-wartawan di sana kebanyakan adalah pelacur, atau tukang peras. Barangkali tak semua, masih cukup banyak yang baik. Namun lebih banyak yang tak baik. Mereka menulis apa yang menyenangkan hati para pimpinan saja. Bukankah di negerimu ada istilah ABS-isme? Asal Bapak Senang? Nah, kami memang mempercayai wartawan kami. Karena umumnya mereka bukan pelacur jurnalistik’’.
Si Bungsu terdiam. Tentang jurnalistik, dunia kewartawanan, dia benar-benar tak mahfum seujung kukupun. Fabian lalu bangkit, menuju ruang dalam. Dari lemari buku dia memilih beberapa saat. Kemudian membawa keluar sebuah buku. Duduk dan meletakan buku itu di depan si Bungsu. Dia melihat dan membaca judul buku tersebut, “THE REBELS”. Di tulis oleh Brian Crozier. Nampaknya penulis ini juga orang Inggeris.
‘’Buku ini, kawan, adalah sebuah buku study tentang pemberontakan-pemberontakan yang terjadi setelah Perang Dunia II. Tidak hanya memuat tentang pemberontakan PRRI/Permesta di Indonesia, tetapi juga memuat dan menelaah pemberontakan Fidel Castro terhadap Batista di Cuba, Ho Chi Minh di Vietnam dan Ben Bella di Afrika, dua yang terakhir memberontak melawan Perancis. Lalu Uskup Besar Makarios di Pulau Kreta yang memberontak terhadap Inggeris. Agar engkau tak lelah, saya akan uraikan secara singkat isi buku ini, yaitu jika engkau berminat. Jadi engkau tak perlu membaca keseluruhan isinya…’’
Fabian menatap di Bungsu. Menanti jawabannya. Si Bungsu memang berminat, dia mengangguk. Memang lebih baik mendengar saja resume buku itu secara garis besar, daripada harus membacanya, yang menilik tebalnya mungkin harus dibaca selama sepekan. Barangkali banyak istilah dan bahasa yang tak dia ketahui. Dia hanya faham baha Inggeris untuk sehari-hari. Meski lancar tapi tak mendalam, sekadar “cukup untuk makan”.
Fabian kemudian membalik-balik buku The Rebels itu, seperti mencoba mengingat garis besar isinya. Sementara di Bungsu dan Sony menanti dengan diam. Kemudian Fabian memulai:
‘’Menurut Brian Crozier, pola pemberontakkan bersifat konsisten, melalui tiga tahap. Pertama, teror, kedua perang gerilya, ketiga perang besar-besaran. Tentu tidak semua pemberontakan diakhiri, tidak semuanya mencapai tahap kedua dan malah sedikit sekali yang sampai pada tahap ketiga. Hanya pemberontakan PRRI/Permesta yang sungguh luar biasa, karena dia tak memenuhi ketiga pola tadi. PRRI dimulai dimana pemberontakan harus diakhiri dan itupun kalau dia sudah berhasil yakin dengan proklamasi suatu pemerintah, dalam hal ini pemerintah yang diproklamasikan di Padang dalam bulan Februari 1958 oleh Syafruddin Prawiranegara. Ini dengan cepat disusul dengan taraf ketiga, yaitu perang besar-besaran, yaitu tatkala pemerintah pusat melancarkan offensifnya di Sumatera dan Sulawesi pada April dan Mei 1958. Kekalahan kaum PRRI/Permesta di taraf ketiga, mendesak mereka ke taraf kedua, yakni perang gerilya di hutan dan di gunung, melawan pasukan pemerintah Pusat. Tak lama kemudian tindakan meraka memasuki taraf pertama dalam bentuk yang lebih lunak berupa pembakaran kebun-kebun dan gudang-gudang karet. Barangkali karena urutannya yang terbalik itulah, maka pemberontakan anti-Sukarno dan anti-Komunis yang dilancarkan PRRI/Permesta menjadi gagal. Kemudian menurut Brian, sebab lain kegagalan PRRI itu adalah:
1. Tidak adanya persiapan yang cukup dalam bidang militer.
2. Tidak dilakukannya persiapan untuk kemungkinan kudeta di Jawa sebagai pusat kekuasaan.
3. Tidak adanya leadership, dalam arti tak adanya seorang tokoh yang merupakan tokoh nomor satu.
4. Tak adanya perahasiaan mutlak di pihak pemberontak tentang apa yang hendak mereka lakukan, dan mereka malah mencari publisitas seluas-luasya tentang apa yang bakal mereka kerjakan. Demikian sebab-sebab kegagalan pemberontakan kaum kolonel dan kaum ekonom ini menurut Brian Crozier yang ditambahkannya pula, mereka kekurangan kekuatan dan dukungan rakyat, istimewa di Jawa, yang akan menjamin keberhasilan. Dan adalah perbuatan edan saat mereka memproklamirkan sebuah pemerintahan di bulan Februari 1958 di Padang. Dalam pada itu, menurut buku The Rebels ini, Presiden Soekarno tak bisa bebas dari tanggungjawabnya terhadap bangsa dan negara. Sesungguhnya pemberontakan PRRI/Permesta tak bakal terjadi jika ia berlaku sebagai negarawan yang mempunyai pandangan yang luas. Tapi ternyata dia tak mempunyainya dan tak mempunyai kemauan dan kemampuan untuk menghindarkan pemberontakan itu. Soekarno bertanggungjawab pula atas memberi kesempatan amat luas bagi berkembangnya dengan pesat partai PKI.’’
Fabian berhenti bicara. Menatap pada si Bungsu. Kemudian melanjutkan perlahan:
‘’Soekarno, Presidenmu itu, terlalu memberi hati pada Komunis. Itu kesalahan utamanya. Sebaliknya dia justru amat curiga pada Angkatan Perangnya, terutama Angkatan Darat. Itu kesalahannya kedua. Padahal, Angkatan Darat yang setia padanya, dapat dia gunakan menjadi alat stabilisator.
Tapi sebaliknya, Angkatan Darat di negerimu, di bawah pimpinan Jenderal Nasution, terlalu lemah dalam menghadapi komunis.
Lemah dalam….

1 Comment

  1. dilanjut da ceritanya…..


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s