Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 439)

Lemah dalam pengertian terlalu ikut memberi hati.
Padahal mereka, Komunis itu, telah menikam Angkatan Darat di Madiun pada Tahun 50. Banyak perwira TNI AD yang mereka bunuh. Seyogyanya, Angkatan Darat harus memerangi mereka habis-habisan. Namun negerimu adalah negeri yang aneh. Partai yang demikian jelas-jelas memerangi dan membunuhi sebuah angkatan, bisa hidup dan jadi besar bersama angatan itu. Nah, kawan, itulah isi buku Brian Crozier ini. Apakah benar atau tidak, terserah engkau untuk menilainya. Kalau saja buku ini boleh beredar di Indonesia, barangkali akan besar manfaatnya sebagai kaca pembanding bagi pemimpin negerimu. Mungkin tak semua yang ditulis ini benar tapi bukankah orang luar bisa menilai lebih objektif, karena penulis buku ini tak terlibat langsung dalam sengketa dikedua pihak?’’
Si Bungsu tak memberikan komentar. Dia samasekali memang tak mengerti masalah politik. Segala yang dia dengar dan dia ketahui tentang negerinya lewat buku atau lewat ucapan Fabian di Singapura ini, hanya akan jadi sekedar pengetahuan saja. Lagipula dia tak tahu kapan dia akan kembali ke Indonesia. Entah akan kembali entah tidak.
Negeri yang akan dia turut amatlah jauhnya. Dallas, ibukota negara bahagian Texas di Amerika Serikat sana. Dia tak tahu dimana negeri itu. Asing dan jauh. Dia harus kesana. Dia harus menemukan Michiko.
—o0o—
Mereka menyelusup di antara pepohonan. Samar-samar, di seberang sana kelihatan kapal selam itu berada di bawah naungan pohon beringin. Kapal itu muncul di permukaan laut, geladaknya sama rata dengan air. Dua orang marinir kelihatan mondar mandir di atas geladak itu.
Menara komando kapal itu kelihatan mencuat ke atas. Fabian berjongkok. Sekurang-kurangnya ada sebuah keuntungan bagi mereka kini. Tongky yang ahli menyamar dan menyelusup itu berhasil mendapat informasi, bahwa seluruh awak kapal saat ini berada di Konsulat Belanda. Yang tinggal di kapal hanya lima orang. Yaitu seorang melayani radio, seorang di kamar mesin, seorang perwira jaga dan dua orang marinir yang kelihatan mondar mandir di geladak dengan senapan mesin di tangan.
Si Bungsu menyelusup cepat dari balik-balik pohon, dan ikut berjongkok dekat Fabian. Demikian pula Tongky. Mereka hanya bertiga di pantai ini. Hal itu disengaja, sebab jumlah yang banyak bisa menimbulkan risiko yang lebih besar. Dengan personil yang sedikit, kebebasan bergerak lebih terjamin. Dalam keseluruhan operasi ini, mereka hanya berempat orang. Seorang lagi, yaitu Miquel Sancos, keturunan Spanyol – Amerika Latin, bertugas mengawasi rumah diplomat Belanda dimana tengah dilangsungkan resepsi dengan awak kapal selam itu.
Miquel bertugas mengawasi dan melaporkan kalau-kalau ada diantara mereka yang tiba-tiba saja meninggalkan ruangan resepsi menuju ke daerah kapal. Hal mendadak begitu bisa saja terjadi. Sebab antara kapal selam dengan rumah diplomat itu dihubungkan dengan radio. Kalau orang di kapal merasa ada yang tak beres, ada bahaya mengancam, maka mereka bisa mengirim isyarat ke rumah sang diplomat. Dan orang-orang kapal itu akan segera meninggalkan rumah itu menuju kapal.
Bila itu terjadi, Miquel bertugas sendirian dengan cara apapun jua, mencegah orang-orang tersebut sampai ke kapal. Kalau tak bisa mencegah secara total, maka harus diusahakan sebuah ‘kecelakaan’ atau insiden untuk memperlambat mereka. Dan untuk keseluruhan operasi itu, baik yang di rumah si diplomat, maupun yang di kapal, telah disepakati untuk tak akan mengambil korban jiwa.
Persyaratan itu ditetapkan oleh Fabian pada si Bungsu. Sebab betapapun jua, Fabian tak punya permusuhan dengan Belanda atau Indonesia. Secara etis, Fabian sebenarnya tak suka ikut campur. Namun rasa persahabatan, rasa saling setia kawan melebihi segalanya. Itulah yang menyebabkan Fabian dan kawan-kawannya membantu si Bungsu.
Si Bungsu menyetujui persaratan tersebut. Sebab kehadiran kapal selam di perairan Indonesia bisa membahayakan angkatan laut Indonesia. Maka dia ingin memperkecil bahaya itu.
‘’Salah seorang diantara kita harus tetap menjaga di darat. Dua orang menyelam melekatkan dinamit ke dinding kapal. Yang di darat menunggu isyarat dari Miquel. Kau berada di darat, Bungsu..’’
‘’Tidak, Kapten. Ini adalah perangku, aku yang harus menyelam. Kau di darat..’’
Fabian menatapnya.
‘’Baik. Saya di darat. Kau dan Tongky menyelam. Beri mereka kesempatan untuk bisa meninggalkan kapal itu. Nah, selamat..’’
Si Bungsu dan Tongky segera mengangkat skuba, peralatan mereka untuk menyelam. Menyelusup ke pantai. Lalu memakai alat tersebut. Pihak Angkatan Laut Belanda memang tak memasang pengawalan di pantai. Mereka demikian yakinnya, bahwa tempat ini amatlah amannya. Singapura memang negeri yang netral, dan malangnya mereka tak memiliki intelijen yang baik, sehingga tak mengetahui, kalau kenetralannya disalah-gunakan Belanda.
Tongky mengacungkan jempolnya pada si Bungsu setelah mereka memakai skuba tersebut. Si Bungsu mengacungkan pula jempolnya. Dan perlahan mereka menyelam, lenyap ke dalam air. Namun ada satu hal yang di luar dugaan Fabian dan teman-temannya. Yaitu masalah radar. Sebagai seorang perwira baret hijau dari perang dunia kedua. Fabian tahu, bahwa tiap kapal selam dilengkapi dengan radar.
Tapi radar itu hanya berfungsi untuk kapal laut atau kapal selam dan benda-benda mekanis lainnya. Yang tak diketahui Fabian adalah, kapal selam jenis buru sergap yang kini dimiliki Belanda, dilengkapi dengan radar anti dinamit yang amat peka. Fabian tak mengetahui karena radar model itu memang baru diketemukan lima tahun terakhir.
Belum disiarkan dalam buletin Angkatan Laut manapun. Belanda yang menemukannya memang merahasiakan penemuan itu. Mereka takut kalau-kalau tercium oleh Uni Sovyet. Dan begitu Tongky dan si Bungsu menyelam membawa masing-masing satu tas kecil dinamit, penjaga radio yang merangkap penjaga radar dalam kapal selam itu segera mengetahui ada bahaya yang mengancam.
Dia melihat di layar radar dua buah titik yang mendekati amat perlahan dari garis pantai ke kapal. Petugas radar dan radio ini segera menekan tombol isyarat. Begitu tombol ditekan, kedua marinir yang ada di geladak kapal jadi tahu lewat transmiter kecil dalam kantong mereka yang mengeluarkan bunyi ‘’tuut…tuuut…tuut’’.
Mereka segera mengokang bedil dan waspada. Radio gelombang tinggi di rumah diplomat Belanda di kawasan Petaling Jaya juga menerima isyarat itu. Penjaga radio tersebut segera mengadakan hubungan, dan melakukan pembicaraan singkat. Kemudian dia bergegas menemui konsulnya di ruang resepsi. Membisikkan berita yang dia terima lewat radio. Konsul itu tersenyum, kemudian mendekati seseorang. Membisikan pula sesuatu pada seseorang, yang tak lain dari komandan kapal selam itu. Si komandan memberi isyarat. Dalam waktu singkat, sepuluh orang telah berkumpul di ruang belakang. Sementara yang lain tetap di ruang resepsi.
Kesepuluh orang itu segera menuju garasi di belakang. Membuka jas resepsi mereka, dan di balik jas dan dasi itu, segera kelihatan pakaian marinir. Dan dari dalam garasi itu mereka keluar dengan dua sedan limusin berwana hitam. Di dalam mobil itu telah tersedia senjata otomatis. Di ruang resepsi, awak kapal yang lain masih tetap melantai dengan tamu-tamu, dengan gadis-gadis pangggilan yang cantik dan menggiurkan yang sengaja didatangkan oleh sang diplomat untuk mereka.
Di kapal …….

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s