BAB III. PAHLAWAN CILIK

Tiada lama kemudian keluarlah dua buah kereta dari
pintu gerbang, diikuti oleh kereta beban. Mereka menuju
ke Mainz dan berhenti di muka hotel bernama Englisher
Hof. Para penumpang turun lalu pergi ke kamar-kamar
yang telah disewa Sternau. Dalam kamar yang pertama
mereka menjumpai penjaga puri dengan istrinya.
“Inikah mesyeu Alimpo dengan kesayangannya Elvira?”
tanya kapten demi dilihatnya pasangan itu.
Penjaga puri mendengar nama mereka disebut-sebut,
maka ia tahu bahwa mereka sedang dibicarakan orang. Ia
membungkuk dalam-dalam dan berkata, “Mira! Soy Juan
Alimpo y esa es mi Buena Elvira” … yang berarti, “Aku ini
Juan Alimpo dan dialah Elvira yang kukasihi.”
“Wah!” kata Kapten, “aku sedikit pun tidak pandai
berbahasa Spanyol. Itu di luar perhitunganku.”
“Pandaikah Anda berbahasa Perancis?” tanya Sternau.
“Kalau perlu dapat.”
“Maka Anda dapat berbicara dengan mereka. Mereka
fasih dalam bahasa Perancis. Mari masuk!”
Sternau membuka pintu yang menuju ke kamar
berikutnya. Apa yang dilihat mereka di situ mendatangkan
rasa iba yang sangat.
Di muka sebuah divan terletak sebuah bantal putih.
Roseta sedang berlutut di atasnya. Tangannya dalam
keadaan terlipat sambil ia menengadah ke atas. Bibirnya
yang pucat pasi berkomat-kamit mengucapkan doa.
Wajahnya yang cekung menampakkan kecantikan yang
hampir-hampir dapat dikatakan luar duniawi.
“Betapa sedih melihatnya,” bisik kapten. “Kejam di luar
batas perikemanusiaan perbuatan jahanam-jahanam itu.
Anak yang malang! Baik kita menaikkan doa meminta
pertolongan Tuhan.”
Helene diam saja. Ia pergi ke divan lalu berlutut di sisi
Roseta dan memeluknya dengan penuh belas kasihan. Ia
menangis. Ibunya pun menghampiri si sakit. Kedua wanita
itu mengangkatnya serta membaringkannya ke atas divan,
namun langsung si sakit menggelosor kembali ke atas
bantal di bawah dengan sikap seperti berdoa. Pangeran
Manuel duduk di sebelahnya di atas kursi. Biarpun
tubuhnya tidak lagi sekurus dahulu serta mukanya lebih
berisi berkat perawatan yang lebih baik, namun
pandangan matanya yang hampa tak bermakna itu
menusuk hati mereka yang melihatnya.
“Sudah Anda berikan obat penangkal racunnya?” tanya
Rodenstein.
“Belum,” jawab Sternau. “Di Paris tidak dapat diperoleh
suasana yang cocok maupun perawatan yang diperlukan.”
“Anda kira pasien dapat sembuh?”
“Ada harapan, namun racun itu sudah mendapat
kesempatan untuk menyebar ke seluruh tubuh. Saya akan
segera mulai dengan pengobatan. Mari kita berangkat,
kapten.”
Barang-barang bawaan Sternau dimuat dalam kereta
beban. Kapten membayar rekening lalu mereka
meninggalkan hotel. Ketika mereka melalui jalan raya,
kapten menyuruh saisnya berjalan di sisi kereta Sternau,
agar ia dapat berbicara dengannya.
“Keponakanku,” katanya, “coba lihat ke arah kanan.
Tampak oleh Anda orang yang berbaju warna abu-abu
itu?”
“Yang mengepit payung di bawah tangannya? Siapakah
dia?”
“Komisaris polisi dari kerajaan Hessen. Agaknya ia telah
melihat Anda. Kita dapat mengharapkan kedatangannya
segera di rumah. Tentunya ia sudah menduga bahwa Anda
dokter Sternau yang sudah lama dinanti-nantikannya itu.”
Memang orang itu berdiam diri ketika mereka lewat. Ia
memperbaiki letak kacamatanya dan setelah mereka lewat
ia memutar badannya sambil tersenyum mengejek. Segera
ia masuk ke dalam gedung pengadilan.
Rodenstein dengan para tamunya berjalan terus tanpa
menghiraukan peristiwa itu. Segera mereka tiba di
Rheimswalden. Kamar-kamarnya sudah siap menanti
mereka. Ibu Sternau telah menyuruh nyonya Unger
menyiapkan segalanya.
Sisa hari itu dipakai untuk mengantarkan para tamu ke
tempatnya masing-masing. Pada malam hari mereka
berkumpul berbincang-bincang lebih banyak lagi tentang
kejadian-kejadian yang dialami mereka di Spanyol itu.
Alimpo dan Elvira tiada hadir. Mereka ada di dalam kamar
si sakit dan Kurt yang langsung memikat hati mereka,
hadir di situ juga. Ia pernah mengikuti pelajaran bahasa
Perancis, maka ia sangat gembira dapat
mempraktekkannya dengan Alimpo beserta istrinya,
meskipun dengan agak tersendat-sendat.
Mereka berjaga sampai jauh malam, maka keesokan
harinya bangun siang. Kaptenlah yang pertama tampak
dalam taman. Ia melihat Ludwig sedang memberi makan
anjingnya lalu ia menghampirinya.
“Satu … dua … empat … enam … tujuh … delapan
ekor,” tuan tanah menghitung. “Masih kurang seekor!”
“Dengarlah kapten, eh … begini duduknya perkara …
saya … saya …!”
Ludwig begitu ketakutan, sehingga perkataannya tidak
dapat keluar dari mulutnya.
“Ayo teruskan perkataanmu!” kata Rodenstein tanpa
kasihan.
“Saya … eh … benar, masih kurang satu!”
“Itu sudah kuketahui. Anjing mana yang tidak ada?”
“Waldina. Ia … eh … mati.”
“Mati? Astaga! Sebab apa mati? Anjing itu segar bugar!”
“Ia mati karena … eh …”
“Ia mati karena … eh …”
“Jadi apa sebabnya? Lekas ceritakan! Karena terlalu
banyak makan barangkali?”
“Ya, be … betul, kapten!”
“Masya Allah! Terlalu banyak makan apa?”
“Kena peluru, kapten!”
“Bohong! Masa anjing makan peluru. Itu mustahil.”
“Bukan, kapten, maksudku … tertembak mati olehku.”
“Mengapa sampai begitu? Anjing itu tiba-tiba menjadi
gila barangkali?”
“Tidak,” raung Ludwig, “bukan anjing itu … sayalah
yang gila. Saya telah menembak anjing, bukan rubah.”
“Jadi pemburu yang berpengalaman menembak anjing,
sedangkan anak kecil itu menembak rubahnya.”
“Jadi Anda sudah tahu. Ya, memang saya sangat bodoh,
maka saya selayaknya dipecat saja.”
“Itu memang maksudku semula, namun untung bagimu
Kurt melindungimu. Aku disuruhnya berjanji tidak akan
memarahimu.”
“Kurt? Masya Allah! Baik hati benar anak itu di tempat.
Itu tidak akan kulupakan.”
“Itu sudah sepatutnya. Anak itu diizinkan meminta
apapun, namun ia lebih mengutamakan menyelamatkan
dirimu dari hukuman yang setimpal. Apa yang kauperbuat
dengan Waldina?”
“Telah kumakamkan di tempat yang baik dalam taman,
kapten. Itulah selayaknya, di tempat.”
Rodenstein tiada sempat lagi memberikan jawaban,
karena sebuah kereta masuk ke dalam taman.
Penumpangnya adalah … komisaris polisi beserta tiga
orang pegawai polisi bersenjata seakan-akan mereka sudah
dipersiapkan untuk menangkap seseorang. Tanpa
memperhatikan mereka Rodenstein memutar badannya
lalu masuk ke dalam kamarnya. Tidak lama kemudian
datang Ludwig melaporkan kedatangan komisaris.
“Suruh dia masuk,” geram tuan tanah. “Pegawai
polisinya ada di mana?”
“Mereka menjaga segala tempat keluar.”
“Bagus! Berdirilah di balik pintu!”
Pemburu itu pergi dan menyuruh komisaris masuk.
“Selamat pagi, selamat pagi, tuan tanah yang
terhormat!” salamnya mengejek.
“Selamat pagi,” jawab Rodenstein masam. “Jadi Anda
melihat sendiri betapa besar faedahnya mendapat
pelajaran baik itu. Kini Anda sudah pandai memberi salam
secara sopan. Pertahankanlah senantiasa sikap demikian!”
“Mungkin kini tiba giliran saya untuk memberi
pelajaran kepada Anda! Bolehkah saya tanya lebih dahulu,
apakah Anda masih berniat mengusir saya lagi?”
“Tentu, bila Anda tidak dapat menunjukkan surat-surat
tanda pengenal.”
“Surat-surat demikian sudah saya bawa. Bacalah saja,
inilah!”
Komisaris mengeluarkan surat-surat dan
menyampaikannya kepada kapten masih dalam keadaan
terlipat.
“Anda kira, aku budak Anda? Bukalah sendiri surat itu
sebelum memberikannya kepadaku.”
Komisaris berbuat seperti yang dikehendaki
daripadanya lalu tuan tanah membaca surat.
“Beres,” kata Rodenstein. “Surat dari perwira
pengadilan. Ia minta supaya aku mau memberi informasi
serta bantuan kepada Anda. Baik, apa yang Anda
kehendaki.”
“Dokter Sternau ada di sini?”
“Benar. Kemarin ia tiba. Anda telah melihatnya,
bukan?”
“Apakah ada orang-orang lain bersama dia?”
“Memang ada … seorang bernama Alimpo, seorang
bernama Elvira, seorang bernama don Manuel dan seorang
lagi bernama entah Rosa, Rosita atau Roosje.”
“Wanita itu putrikah?”
“Putri? Elvira seorang putri? Mustahil. Terlalu gemuk
untuk menjadi putri.”
“Anda tentunya sudah tahu.”
“O, maksud Anda Alimpo? Ya, bila dipikirkan masakmasak,
mungkin dialah seorang putri. Bukankah Anda
sendiri menyinggung-nyinggung tentang kawanan
perampok. Mungkin saja dia seorang putri dalam keadaan
menyamar, yang mempunyai rencana menikah denganku
untuk selanjutnya pergi merampok bersamaku. Wah,
alangkah seramnya!”
“Tuan Rodenstein, saya harap tuan jangan
mempermainkan saya,” kata komisaris dengan garangnya.
“Sekali-kali tidak,” jawab Rodenstein. “Sejak Anda
bicara tentang kawanan perampok itu khayalku jadi
menyajikan yang bukan-bukan.”
“Banyakkah barang-barang bawaan mereka?”
“Entahlah! Maaf, aku tidak dapat menjawab segala
pertanyaan yang mengada-ada itu. Aku bukanlah pelayan
mereka.
Lagi pula, bukankah tertulis dalam surat pengantar
bahwa aku diminta untuk memberi bantuan kepada Anda
dan bukan untuk diinterogasi. Tapi begini sajalah,”
katanya lalu berseru, “Ludwig!”
Mendengar namanya dipanggil, pemburu itu masuk lalu
melempar pandangan permusuhan kepada komisaris.
“Minta dokter Sternau datang ke mari! Katakan, ada
seorang polisi ingin bicara dengannya. Cepat!”
Pintu terbuka dan Sternau masuk. Ia menyalami kapten
dengan mengulurkan tangan sedangkan komisaris hanya
dengan mengangguk secara dingin.
“Anda telah minta saya datang,” demikian dimulainya.
“Benar. Tuan ini mau bicara dengan Anda.”
“Siapakah dia?”
Rodenstein hendak menjawab, tetapi komisaris
mendahuluinya. Ia berkata, “Saya komisaris polisi dari
kerajaan Hessen.”
“Baik. Dan apa yang Anda kehendaki dari saya?”
“Anda dokter Sternau?”
“Betul.”
“Anda datang dari Spanyol, tinggal di rumah pangeran
Rodriganda, telah mengenakan belenggu pada Gasparino
Cortejo dan telah melarikan diri dari penjara Barcelona?”
“Betul.”
“Pengakuan ini sudah cukup. Anda saya tahan, Tuan
Sternau.”
“Baik, saya mematuhi kehendak Anda.”
“Apa?” tanya tuan tanah terheran-heran. “Anda
membiarkan diri Anda ditahan?”
“Memang,” kata dokter sambil tersenyum.
“Lebih dahulu saya harus memeriksa barang bawaan
Anda,” ujar komisaris.
“Saya kira, Tuan kapten sebagai pemilik rumah dan
sebagai tuan rumah akan merasa keberatan.”
“Ya tentu, keberatan sekali!” raung kapten.
“Saya tidak menghendaki perlawanan dalam bentuk
apapun!” kata komisaris mengancam.
“Saya pun tidak menghendaki penyelewengan dari
kekuasaan Anda,” jawab Sternau. “Agaknya Anda ini
berprasangka buruk terhadap saya dan janganlah Anda
lupa bahwa saya dapat mengadukan Anda.”
Perkataan itu serta nada mengucapkannya sangatlah
mengesankan pada diri komisaris. Dengan agak
menundukkan kepala ia berkata, “Saya hanya melakukan
kewajiban saya.”
“Baiklah kita selidiki dahulu tentang kewajiban itu!”
jawab Sternau, “Kemarin Anda memberitahukan kepada
kapten di dalam kamar ini juga bahwa Anda telah
menerima perintah dari Spanyol untuk menahan saya.
Dapatkah Anda memperlihatkan surat perintah itu?”
“Saya … surat itu tak ada pada saya,” jawab polisi itu.
“Sudahkah Anda membaca surat itu?”
“Saya … eh … pertanyaan itu tidak perlu saya jawab.”
“Baik. Kini Anda sudah nampak belangnya. Anda telah
berdusta kepada kapten. Tidak mungkin ada perintah
untuk menahan. Di Rodriganda mereka tahu bahwa saya
berasal dari Mainz. Mereka minta diadakan informasi
tentang saya. Bagaimana itu dapat menjelma menjadi
penangkapan dan penggeledahan, tidak dapat saya
mengerti. Mengenai diri saya sendiri, saya tidak
berkeberatan ikut Anda, meskipun dengan syarat bahwa
Anda sendiri yang akan bertanggungjawab penuh terhadap
perbuatan Anda. Selanjutnya: mengenai penggeledahan
dalam bentuk apapun saya berkeberatan. Rumah ini
didiami oleh dua orang pasien jiwa. Mereka sekali-kali
tidak boleh diganggu. Saya sebagai dokter tahu benar akan
hal itu. Bukan Anda, melainkan perwira pengadilan yang
berhak untuk mengadakan pemeriksaan, bila itu dianggap
perlu. Dan saya bermaksud pergi bertemu dengan dia,
orang lain tidak perlu ikut.”
“Dan aku,” tambah kapten, “memperingatkan kepada
setiap orang, termasuk juga komisaris polisi, janganlah
berusaha memasuki kamar tanpa izin dariku.”
Komisaris melihat bahwa ia tidak dapat mengatasi dua
orang lawan yang begitu tangguhnya, sehingga ia
mengalah sedikit. Ia berkata, “Jadi Anda rela pergi
bersama saya menemui perwira pengadilan? Maka saya
minta Anda ikut saya naik kereta saya.”
“Tiada terpikir sedikit pun olehku naik kereta Anda,”
jawab Sternau. “Saya bukanlah seorang pembunuh yang
perlu dikawal ketat. Saya yakin, kapten mau memberikan
salah sebuah keretanya. Anda dapat mengikuti saya
bersama pengawal-pengawal Anda, supaya saya jangan
sampai lari.”
“Tentu keponakan, segera akan kusuruh menyiapkan
sebuah kereta,” kata Tuan tanah. “Dan aku sendiri pun
turut juga. Perwira yang menandatangani surat kuasa itu
kenalan baikku. Ingin juga kulihat, bagaimana ia
memperlakukan kita.”
Sebuah kereta disiapkan lalu kedua kereta itu berjalan
beriring ke Mainz. Tiba di gedung pengadilan kereta
mereka berhenti lalu komisaris melaporkan kedatangan
Sternau kepada perwira pengadilan. Kapten turut
melangkah masuk ke dalam tanpa meminta izin.
Ketika ketiga orang itu masuk, perwira bangkit berdiri.
“Inilah Sternau,” kata komisaris dengan nada resmi.
“Bagus,” jawab perwira pengadilan. “Aha Kapten, apa
yang mendorong Anda melangkahkan kaki ke mari?”
“Saya datang dengan tujuan memperkenalkan
keponakan saya lebih ramah kepada Anda daripada hanya
dengan perkataan: inilah Sternau.”
Perwira pengadilan hampir-hampir tiada berhasil
menyembunyikan senyum malunya. Dengan agak
menundukkan kepala di hadapan Sternau ia berkata
ramah, “Sebenarnya saya lebih suka berkenalan dengan
Anda di tempat dan suasana lain daripada di sini, namun
saya harap semuanya ini akibat dari salah paham yang
mudah diselesaikan.”
“Itu adalah keyakinan saya, Tuan perwira pengadilan,”
jawab Sternau. “Pertama-tama bolehkah saya minta Anda
meneliti surat-surat ini?”
Dengan berkata demikian ia mengulurkan sebuah map
dan meletakkan seberkas surat di hadapan pejabat itu.
Pejabat itu menyilakan kedua orang itu duduk lalu ia
mulai mempelajari surat-surat itu. Air mukanya semakin
tegang tiap menit. Kadang-kadang ia melemparkan
pandangannya ke arah Sternau secara menyelidik.
Akhirnya ia berseru, “Bagus, dokter! Anda memiliki suratsurat
yang cukup kuat, sehingga membuat musuh-musuh
Anda, betapa besarnya pun, harus menyerah. Bolehkah
saya menjabat tangan Anda. Baik kita mengikat tali
persahabatan dan saya berjanji akan membantu Anda
sebanyak mungkin.” Sternau berjabat tangan dengan
perwira itu lalu menjawab, “Setuju, baik kita hidup
bersahabat dan janganlah segan-segan memberi nasehat,
bila saya perlukan!”
Komisaris menjadi bingung. Perwira itu menegurnya
dengan keras, “Anda telah membuat kesalahan besar.
Seorang polisi yang memperoleh data-datanya dari dunia
khayal yang liar, orang demikian tidak diperlukan di sini.”
Seolah-olah mendapat guyuran air dingin, Komisaris
berlalu dari tempatnya sambil memberi hormat kemalumaluan.
Dalam pada itu di Rheinswalden, Kurt sedang menuju
ke puri untuk bertemu dengan Kapten. Di taman ia
tertabrak pada Ludwig.
“Selamat pagi, Ludwig. Kapten sudah ada di kamarnya?”
“Tidak,” jawab Ludwig pendek serta marah-marah.
“Ada di mana ia?”
“Ia ditangkap.”
“Oleh siapa?”
“Oleh Komisaris Polisi. Ia dengan Dokter Sternau.”
“Apa tuduhan terhadap mereka?”
“Entahlah. Tahukah kamu bahwa kadang-kadang orang
tak bersalah pun dapat dikenakan hukuman penjara
selama bertahun-tahun?”
“Tetapi di mana mereka sekarang, Ludwig?”
“Setahu saya bersama perwira pengadilan, di Mainz.
Dalam gedung pengadilan.”
“Aku akan mengeluarkan mereka dari kurungan.”
“Ada-ada saja, di tempat! Perwira pengadilan tentu akan
melihat kau datang.”
“Tidak apa, aku akan membawa senapanku.”
“Kau tidak akan diizinkan masuk. Lagi pula ibumu tak
akan mengizinkanmu pergi jauh-jauh.”
“Tapi aku tak mau Kapten ditangkap, Dokter Sternau
pun tidak. Apakah tidak ada orang yang sanggup
membebaskan mereka?”
“Tidak ada. Tak ada jalan lain bagi kita daripada
menunggu. Kau harus berjanji, tak akan melakukan
sesuatu yang bodoh berhubung dengan ini.”
“Baik, aku berjanji tak akan melakukan suatu
kebodohan.”
“Bagus, Nak. Maka hatiku akan tenang kembali di
tempat. Aku tidak perlu mengawasimu lagi.”
Kurt pulang ke rumahnya. Di tengah jalan ia berkata
pada dirinya, “Aku tidak akan melanggar janjiku, karena
apa yang hendak kulakukan itu bukanlah kebodohan.
Akan kusiapkan kudaku lalu berangkat ke Mainz. Gedung
yang penuh dengan terali itu tentu tidak sukar
menemukannya. Mula-mula ia masuk ke dalam rumahnya
untuk mengintip, kalau-kalau ibunya melihatnya. Untung
ibu sedang sibuk di dapur. Ia mengenakan topinya yang
berwarna hijau lalu pergi menuju kandang kuda. Di
dalamnya terdapat seekor kuda kerdil berasal dari
Skotlandia yang diperolehnya sebagai hadiah dari Kapten.
Kuda itu hampir-hampir sama besarnya dengan seekor
domba jantan dan mengikuti anak itu seperti seekor
anjing. Pembantu rumah tangga sedang bekerja di
kandang.
“Tolong siapkan Hans bagiku, Pauline,” katanya. “Aku
mau pergi naik kuda sebentar.”
Pauline menyiapkan kuda dan membawanya ke depan
pintu. Kurt menaiki kudanya, memegang kekangnya lalu
melarikannya.
Penunggang kuda yang masih kecil itu menarik
perhatian orang. Orang-orang di jalan besar terdiam
sejenak tertarik oleh pemandangan itu. Lebih-lebih di kota.
Lebih banyak lagi mata orang mengiringi penunggang kuda
cilik itu. Kurt semakin bangga melihat begitu banyak mata
tertuju kepadanya. Di muka gedung pengadilan ia
berhenti, turun dari kudanya dan menambatkannya pada
besi pintu gerbang. Kemudian ia masuk.
Di ruang muka ia menjumpai orang berseragam. Orang
itu pegawai polisi.
“Di mana perwira pengadilan?” tanya anak itu tenang.
“Ada keperluan apa, Nak?”
“Saya ingin bicara dengannya.”
“Mau melaporkan sesuatu, barangkali? Naik saja ke
atas lalu melapor dahulu.”
Kurt naik ke atas dan membuka pintu. Di kamar tunggu
banyak orang sedang menunggu gilirannya. Di belakang
sebuah loket duduk seorang pegawai. Ia melihat anak itu
masuk.
“Mau apa kau?” tanyanya.
“Saya mau bertemu dengan perwira pengadilan. Saya
harus menyampaikan sebuah pesan.”
Pegawai itu mengira bahwa ini mengenai soal keluarga,
maka ia pergi melaporkan kedatangan anak itu. Suasana
kamar yang agak gelap itu membuat hati Kurt agak kecut,
namun ia memberani-beranikan diri. Bukankah ini demi
kepentingan Kapten dan Dokter, dua orang yang sangat
dicintainya itu. Pegawai polisi tadi kembali lagi dan
berkata, “Masuklah Nak, ke dalam kamar itu!”
Kurt masuk ke dalam kamar perwira pengadilan.
Perwira itu kebetulan keluar dari kamar sebelah.
Pembantunya duduk di belakang meja tulisnya sedang
menulis.
“Ada keperluan apa kau ke mari, Nak?” tanya perwira
pengadilan ramah.
Pandangan matanya yang tajam serta menyelidik, yang
agaknya sudah merupakan kebiasaan baginya bila
memandang kepada seseorang, membuat hati anak itu
menjadi kecut.
Namun tiba-tiba teringat olehnya kata-kata yang sudah
dipersiapkannya lalu ia menjawab, “Andakah perwira
pengadilan itu?”
“Benar.”
“Anda sebenarnya jahat sekali!”
Ucapan itu membuat keberanian anak itu pulih
kembali. Pejabat pemerintah itu bertanya terheran-heran,
“Mengapa?”
“Karena Anda mengurung orang dalam penjara.”
“Itu bukan urusanmu.”
“Itu urusanku, karena Anda memenjarakan dua orang
sahabatku. Kapten dan Paman Sternau yang kusayangi.”
“O, begitu!” kata perwira pengadilan dengan merentang
panjang ucapannya. “Lalu siapakah kau sebenarnya?”
“Aku Kurt Unger dari Rheimswalden. Aku tidak
membiarkan Anda mengurung mereka.”
“O, jadi kau datang kemari untuk melawanku?”
“Ya. Tetapi mula-mula saya ingin meminta dengan
hormat kepada Anda supaya mau melepaskan kedua orang
itu. Mereka tidak bersalah sedikit pun.”
“Dan bila saya tidak membebaskan mereka?”
“Maka saya akan memaksa Anda. Bila Anda tidak
segera membebaskan mereka, Anda akan saya tembak
mati.”
“Tetapi bila kau menembak saya, kau pun akan turut
dipenjarakan.”
“O, itu tidak menjadi soal. Pendeknya Anda sudah
mendapat ganjarannya sedangkan aku duduk bersama
mereka dalam penjara.”
“Dan kau tidak akan mengapa-apakan saya, bila saya
membebaskan mereka?”
“Benar. Aku tidak akan menembak Anda. Malah aku
akan berterima kasih kepada Anda.”
“Baik, berkat sifat ksatriamu, hendak membela matimatian
kawan-kawanmu, saya akan memenuhi
keinginanmu.”
“Dan harus dengan segera pula! Dapatkah Anda
menjamin?”
“Tentu saja.”
“Aku tahu bahwa Anda akan menjadi takut. Masa,
Ludwig telah melarangku pergi ke kota untuk mengancam
perwira pengadilan. Ia menamakan itu perbuatan bodoh.
Sendirinya yang bodoh.”
“Tetapi Kapten maupun Paman Sternau tidak mengeluh
sedikitpun. Mereka rela ditahan. Maukah kau diantarkan
ke tempat mereka?”
“Tentu mau.”
“Mari ikut saya.”
Perwira pengadilan membawa Kurt ke kamar kerjanya.
Rodenstein dan Sternau terheran-heran melihat anak itu.
Kurt pun tidak tahu lagi apa yang harus dipikirkan ketika
melihat mereka sedang enaknya menikmati sebatang
cerutu.
“Astaga Kurt! Mengapa kau ke mari?”
“Membebaskan Anda!” jawab anak itu pendek. “Aku
telah memaksa perwira pengadilan untuk segera
membebaskan Anda dari tahanan.”
“Nak, kukira tanpa sepengetahuan kami kau telah
melakukan kebodohan yang besar.”
“Apakah kehendak untuk menembak mati perwira
pengadilan bila ia tidak mau menurut, dapat dinamakan
kebodohan?”
“Masya Allah, Nak. Kau mengoceh! Kami tidak pernah
dipenjarakan. Aku harus menjagamu lebih ketat lagi.
Peristiwa ini tidak boleh berulang lagi!”
“Sudah, jangan marahi dia, Kapten!” demikian perwira
pengadilan menengahi. “Sesungguhnya peristiwa ini agak
mengganggu, namun” … tambahnya dengan tertawa, “anak
itu mempunyai jiwa yang mulia. Tinggal terserah Anda
bagaimana mendidiknya selanjutnya: anak itu dapat
berkembang menjadi penjahat atau orang berjiwa besar
yang menghendaki kebaikan. Jangan meremehkan
tanggung jawab Anda, maka Anda akan mendapat banyak
kesenangan di kemudian hari.”
Tuan tanah mengangguk.
“Anda mengatakan hal-hal yang sudah lama menjadi
bahan pertimbanganku. Saya tidak mempunyai anak dan
saya akan senantiasa berdaya upaya untuk kebaikan anak
itu. Percakapan kita berakhir karena peristiwa kecil ini.
Kita harus berpisah karena saya rasa, Dokter pun sudah
berkeinginan untuk melanjutkan pengobatannya.”
“Anda hendak memberikan obat itu sekarang juga?”
“Ya, saya tidak boleh menundanya lama-lama.”
“Saya sebenarnya ingin menyaksikannya.”
“Anda tidak akan sempat menunggu sampai diperoleh
hasilnya.”
“Tetapi saya dapat menyaksikan pengobatannya hari ini
dan kemudian saya lebih sanggup menghargai hasilnya.”
“Ya, bila Anda ingin ikut dengan kami, saya akan sangat
gembira memperoleh saksi sepenting Anda.”
“Benar Tuan Perwira, saya pun mengundang Tuan,
datang ke rumah saya,” kata Kapten. “Anda tahu bahwa
Anda selalu kami terima dengan senang hati.”
“Baik, saya ikut,” kata Perwira itu. “Mungkin kemudian
Anda mendapat keuntungan, bila saya harus membuat
laporan tentang tindakan-tindakan yang telah Anda ambil
dalam perkara ini.”
Perwira pengadilan memberi beberapa petunjuk kepada
penggantinya lalu berangkat. Mereka pergi berkereta, tetapi
Kurt pulang ke rumah naik kudanya sambil merenungkan
pengalamannya dalam perjalanan. Anak itu masih belum
dapat memastikan perbuatannya yang lalu itu termasuk
perbuatan bodoh atau cerdik. Setelah dipikirkan dalamdalam
ia berkesimpulan bahwa perbuatannya itu bodoh. Ia
merasa malu serta menyesal. Setelah sampai di rumah ia
turun dari kudanya. Ibunya datang menghampirinya.
“Kurt, kemari!” perintahnya. “Kau pergi ke mana?”
“Ke Perwira pengadilan. Aku hendak menembaknya, bila
ia tidak mau membebaskan Kapten dan Paman Sternau.”
“Astaga! Akan menjadi apa kau? Kau akan membuat
kami semuanya menderita, anak nakal! Bagaimana bunyi
jawaban Perwira pengadilan? Untung kau sendiri tidak
langsung dimasukkan ke dalam penjara!”
“Ia tidak marah kepadaku, Bu. Bahkan ia tertawa
sedikit dan mengatakan bahwa ia akan membebaskan
kedua tahanannya. Kemudian aku dibawa ke sebuah
kamar. Di situ aku lihat keduanya sedang enaknya
mengisap cerutu.”
“Jadi mereka itu sekali-kali tidak ditahan?”
“Tidak. Ibu, aku sebenarnya sangat malu! Mengapa aku
sampai begitu bodoh!”
Air matanya bercucuran melalui pipinya. Pengakuan
yang tulus ikhlas keluar dari hatinya itu membuat ibunya
tiada berdaya, sehingga ia hanya menenangkan hati
putranya. “Sudahlah, Nak! Jangan menangis lagi. Aku
akan pergi menemui mereka untuk memintakan maaf
bagimu. Mereka, tadi kulihat, sudah pulang.”
“Saya ikut juga, Bu,” kata anak itu tanpa ragu. “Bukan
Anda yang harus meminta maaf, aku sendiri. Sampai
sekarang aku masih belum melakukannya.”
Wanita itu membungkuk untuk memeluk anaknya serta
menciumnya. Hatinya penuh dengan kegembiraan. Ia
seorang wanita sederhana, namun ia berasa mempunyai
anak yang sangat berharga. Bagi jiwa anak kecil ini
kekhilafan itu berguna untuk mengarahkan jiwa dalam
pertumbuhannya.
“Ya, kau boleh ikut. Kau berjanji tak akan berbuat lagi?”
“Sekarang kau boleh mendengar khabar yang bagus.
Ibu telah menerima surat. Coba terka, dari siapa?”
“Dari Ayah?”
“Benar. Terka, apa yang ditulisnya.”
“Ayah akan pulang hari Natal … pasti benar terkaanku
ya, Bu?”
“Benar, Nak, Ayah akan datang,” sorak Nyonya Unger.
Muka wanita itu berseri-seri karena girangnya.
“Oree, Ayah pulang, oree!”
Anak itu menari-nari dan bersorak-sorak dalam taman.
Ia tidak dapat tenang kembali sebelum ibunya
mengajaknya pergi ke puri untuk meminta maaf.
Ketika Kurt bersama ibunya masuk ke dalam puri,
sayang sekali mereka tidak dapat diterima, karena
rombongan dokter itu sedang berada di kamar-kamar si
sakit dan mereka tidak mau diganggu. Si sakit itu boleh
menempati dua kamar yang terindah dan terbesar. Kedua
kamar itu letaknya bersebelahan. Selain si sakit dengan
dokternya hadir juga Kapten, Perwira pengadilan, Nyonya
serta Nona Sternau dan Alimpo dengan istrinya di dalam
kamar. Perwira pengadilan yang perasaannya sudah agak
kebal disebabkan oleh jabatannya itu merasa sangat iba
demi melihat kedua pasien itu. Lalu ia duduk di belakang
meja dan menulis laporannya di atas kertas. Setelah
selesai ia membacakan laporannya serta
menandatanganinya lalu menyerahkannya kepada
Sternau. Dokter itu kemudian mengeluarkan sebuah botol
kecil dari dalam sakunya lalu membayangkannya di sinar
matahari untuk meneliti isinya.
“Itu obat penangkal racunnya?” tanya perwira
pengadilan.
“Benar. Saya mendapat pertolongan dari dua orang ahli
kimia dalam meramunya.”
“Semoga Anda berhasil dengan baik, Dokter. Saya
merasa seakan-akan saya sendiri duduk di tempat Anda.”
“Aku pun demikian,” kata Tuan tanah. “Jangan
memandang kepadaku, karena aku benar-benar merasa
malu. Tua Bangka seperti aku masih mengucurkan air
mata seperti seorang anak sekolah yang baru kena dera.
Bila Tuan putri tidak dapat sembuh, maka segera aku
akan terbang ke Spanyol untuk meledakkan seluruh puri
Rodriganda.”
“Mari kita mulai,” kata Sternau. Nyatalah bahwa ia
dapat menguasai dirinya secara sempurna, karena ketika
ia mengisi senduk porselen kecil dengan air, tangannya
tiada gemetar sedikitpun. Kemudian ia menambah
beberapa tetes isi dari sebuah botol kecil. Air itu tetap
tidak berwarna dan tidak berbau.
“Mula-mula harus diberikan kepada condesa,” kata
Sternau.
Ibu dan adiknya berlutut sebelah menyebelah si sakit
untuk menyangga kepalanya. Sternau mendekatkan
sendoknya ke mulut Roseta, namun langsung menariknya
kembali lalu ia menutupi mukanya dengan tangannya.
Sebuah sedu yang pendek dan kering terdengar membuat
seluruh tubuhnya yang tegap itu gemetar.
“Ya Tuhan,” keluhnya. “Ini hampir-hampir tidak
tertahan olehku. Berilah hambamu kekuatan, kekuatan!”
Jeritannya terdengar sebagai doa yang sesujudsujudnya
dinaikkan ke langit. Agaknya Tuhan mendengar
jeritan itu dan menaruh kasihan, karena orang bertubuh
besar itu pulih kembali tenaganya. Kedua kalinya ia
mendekati si sakit. Baru saja sendok itu menyentuh
mulutnya, putri membuka mulutnya dan meminum cairan
itu sampai tetes terakhir. Sternau mundur selangkah; ia
menarik nafas panjang, meletakkan sendok di atas
meja lalu melipat tangannya.
“Bagaimana kerjanya obat itu?” tanya Perwira
pengadilan.
“Sebentar lagi dapat kita lihat obat itu bekerja atau
tidak,” jawab Sternau. “Dalam waktu sepuluh menit si
sakit harus tertidur. Tidurnya lama sekali, mungkin empat
puluh delapan jam. Waktu itu diperlukan untuk
menyelesaikan segala sesuatu. Tidurnya itu sekali-kali
tidak boleh terganggu. Bila si sakit bangun sebelum
waktunya, maka dosisnya terlalu kecil; saya harus
menambah sedikit lagi. Bila tidurnya menjadi gelisah,
bahkan sampai si sakit mendapat demam maka dosis
obatnya terlalu besar. Si sakit akan meninggal, bila tidak
lekas diberi penangkal. Kita tidak dapat meramalkan
perkembangannya, maka saya tidak boleh meninggalkan
tempat tidurnya semenitpun. Saya harap Kapten mau
menyediakan kuda yang siap pakai sepanjang siang dan
malam hari, supaya saya dapat mengirim orang ke kota,
bila sewaktu-waktu diperlukan obat yang tak dapat
diperhitungkan lebih dahulu.”
“Perintahkan saja, Keponakan.”
Sepuluh menit penuh ketakutan berlalu. Si sakit masih
tetap dalam sikap berdoa sambil berlutut di muka divan.
Tiba-tiba kepalanya jatuh terkulai, gerak bibirnya
berkomat-kamit semakin perlahan. Akhirnya matanya
terkatup lalu tubuhnya dengan lemas rebah ke atas lantai.
“Terpujilah Allah,” kata orang-orang.
“Sudah berhasil separuh pekerjaan kita,” sorak Sternau.
“Ibu, baringkan putri ke atas tempat tidurnya! Sementara
itu kami akan pergi ke don Manuel untuk mencoba
peruntungan kita dengannya.”
Sedang kaum wanita sibuk mengurusi putri, maka
Sternau, Kapten dan Perwira pengadilan pergi ke tempat
Pangeran, yang sedang diganti pakaiannya oleh Alimpo dan
dibaringkan di atas tempat tidur.
“Dapatkah kita mengharapkan hasil yang sama dengan
pada putrinya?” tanya Perwira pengadilan.
“Ya, hanya tidurnya – kalau segalanya berjalan beres –
lebih lama dari putri, berhubung dengan usianya yang
lebih lanjut.”
Keberhasilannya dengan putri membuat Sternau pulih
kembali kepercayaan kepada dirinya, sehingga tanpa
mengalami goncangan emosi, ia dapat memberikan obat
tetes itu kepada Pangeran. Setelah sepuluh menit lampau
Pangeran pun tertidur nyenyak lalu rombongan dokter
meninggalkan ruangan. Jiwa Sternau dipenuhi oleh rasa
bahagia yang tiada terperikan dalam menghadapi masa
yang akan datang. Alimpo tetap tinggal menjaga Pangeran.
Sejak saat ini Rheinswalden diliputi oleh suasana sunyi
sepi selama satu setengah hari. Setiap orang berjalan
berjingkat dan hanya berbicara dengan berbisik. Seorang
pekerja yang lupa memanggil kawannya dengan suara
keras, kena tampar oleh Tuan tanah dan hampir-hampir
dipecat karena kelalaiannya itu. Setiap jam berita terakhir
tentang si sakit disampaikan dari mulut ke mulut.
Suasana mencekam, diliputi oleh kekhawatiran dan
ketakutan, seperti pada saat-saat menjelang suatu
putusan pengadilan.
Hari yang kedua pada jam yang sama Sternau masih
duduk di sisi tempat tidur Putri. Selain dokter hanyalah
hadir ibunya dalam kamar. Wanita itu duduk tersembunyi
di balik kain tirai yang tebal sedang menjahit. Roseta sejak
saat yang mula-mula hingga kini tidur dengan
nyenyaknya. Laksana sebuah patung marmar yang luar
biasa cantiknya ia terbaring di atas tempat tidurnya, tak
selembar pun bulu mata yang bergerak dan tak sedikit pun
terdengar bunyi nafasnya. Pangeran pun hingga saat ini
tetap tidur nyenyak.
“Ibu,” bisik seseorang.
“Ya, Nak,” jawabnya berbisik pula.
“Kemarilah!”
Nyonya Sternau bangkit lalu berjalan perlahan-lahan
menghampiri putranya. Ia memandang dengan pandangan
harap-harap cemas kepada putranya yang nampaknya
membesarkan harapan itu.
“Coba pegang tangan Putri,” katanya.
Wanita itu memegang tangan pasien yang sedang tidur
itu lalu mengangguk dengan gembira.
“Ibu dapat merasakan denyut nadinya? Dan lihatlah
bibirnya yang berangsur-angsur menjadi merah. Warna
pucat pada pipinya pun sudah lenyap. Tolong beritahukan
Kapten bahwa Putri sejam kemudian akan sadar kembali.”
“Karl, sungguh benarkah itu?”
“Ya.”
Wanita itu memegang serta menarik kepala putranya ke
arahnya, membelai pipinya dengan mesra lalu bertanya
berbisik, “Apakah semuanya ini akan berkesudahan baik?”
“Hanyalah Tuhan yang mengetahuinya, Bu! Belum
pernah dalam hidupku saya berdoa sesujud ini.”
“Semoga Tuhan mengabulkan doamu itu!”
Nyonya Sternau perlahan-lahan pergi ke luar. Sesaat
kemudian ia kembali lagi dan duduk di tempatnya. Namun
pekerjaan menjahit tidak dapat diteruskan olehnya … ia
pun turut berdoa dengan menyerahkan segenap jiwanya
untuk memperoleh karunia Allah, agar pekerjaan putranya
berhasil.
Setelah menunggu setengah jam lamanya, nafas si sakit
mulai terdengar dengan lemahnya. Pipinya bertambah
merah, kemudian … ia menggerakkan tangannya …
lengannya, lalu bergetarlah kelopak matanya. Sesaat
kemudian pasien membalikkan kepalanya. Sternau
mengalami saat-saat yang sangat genting, namun secara
lahiriah ia tetap tenang dan tetap memegang tangan si
sakit.
Kini Roseta menghadapkan mukanya padanya. Kerdip
matanya memberi petunjuk kepada Sternau bahwa
pasiennya berada di ambang pintu kesadaran. Tidak lama
kemudian si sakit membuka matanya dengan perlahan
sekali. Mula-mula matanya menatap ke muka tanpa
bergerak.
“Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, tolonglah saya.
Kini tiba saat yang paling gawat,” demikian Sternau
memohon dalam hati.
Mata Roseta memandang dengan melamun, suatu
keadaan yang mendahului keadaan sadar. Akhirnya
matanya itu diarahkan secara sadar ke sekitarnya.
“Berhasil!” sorak hati Dokter.
Pandangan Roseta pindah dari satu benda ke benda lain
lalu tampak rasa keheranan yang sangat pada air
mukanya. Ketika ia merasa tangannya dipegang orang,
matanya mencari orang yang berani memegangnya itu dan
ketika ia melihat Sternau dan mengenalinya, ia bangkit
duduk tegak lalu berseru, “Carlos! Kaukah ini?”
“Benar,” jawabnya dengan suara gemetar.
“Aku di mana? Berapa lamanya aku tertidur?”
“Tenang sajalah, aku tetap ada di sisimu!” kata Sternau
serta memeluknya.
“Baik, aku merasa tenang karena kau ada bersamaku,”
kata Roseta dengan lemah lembut. “Tetapi agaknya telah
lama aku
tidur.”
“Benar, lama sekali. Kau telah sakit.”
“Sakit?” ulangnya dengan termenung. “Mana mungkin!
Kemarin saya pergi dengan Amy ke Pons dan ketika itu …
kau tidak ada. Kemudian badanku berasa sakit lalu aku
tertidur. Di mana saja kau ketika itu, Carlos?”
“Aku ada di Barcelona,” jawab Sternau.
“Tanpa memberitahu aku?”
Dari balik kain tirai yang tebal terdengar sedu tertahan.
Roseta mendengarnya.
“Siapakah yang menangis itu? Ada orang di sini,”
katanya. “Mungkinkah ia Elvira yang baik itu?”
“Bukan, sayang. Ia seorang wanita baik hati yang sangat
menyayangimu.”
“Seorang wanita asing? Siapakah dia?”
“Wanita itu … ibuku.”
Mula-mula Roseta seperti kurang mengerti, tetapi
kemudian ia bersorak kegirangan, “Benarkah, ibumu? Aku
senang sekali mendengarnya. Tolong panggilkan ibumu …
lekas!”
“Tetapi ibu tidak pandai Bahasa Spanyol. Kau harus
berbicara Bahasa Perancis dengannya.”
“Baik. Panggilkan ibumu!”
“Bu, ke marilah!” kata Sternau. “Roseta ingin melihat
Ibu.”
“Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan, hanya
mengerti bahwa Putri sudah sadar kembali, bukankah
begitu, Nak?”
“Benar. Tuhan telah mendengar doa kita.”
Perlahan nyonya Sternau mendekat. Roseta
mengulurkan tangannya dengan wajah berseri-seri ke arah
wanita itu dan berkata, “Jadi Anda itu Ibunda Carlosku?
Selamat bertemu. Alangkah bahagianya mempunyai
seorang Ibu. Izinkan saya menjadi anak Anda.”
Mata Nyonya Sternau berlinang-linang. Ia meletakkan
tangannya di atas kepala Condesa lalu berkata dengan
suara gemetar, “Anakku, semoga Tuhan melimpahkan
berkatNya kepadamu. Aku rela memberikan nyawaku demi
kebahagiaanmu.”
Mereka berpelukan tanpa mengucapkan sepatah kata.
Kini Roseta mengulurkan tangannya ke arah tunangannya.
“Carlosku, terima kasih atas pemberianmu itu. O, sekarang
sudah aku mencintainya! Benarkah bahwa aku ini baru
sembuh dari sakit?”
“Benar, sayang. Lama sekali.”
“Bukankah apa yang kuceritakan tadi baru kemarin
terjadi?”
“Tidak. Tiga bulan telah berlalu.”
“Tiga bulan!” bisiknya terheran-heran. “Kalau begitu,
aku telah kehilangan kesadaran selama itu. Dan kau yang
menyembuhkanku, kaukah?”
“Tuhanlah yang memberi jalan kepadaku sehingga aku
dapat menemukan obatnya yang tepat.”
“Dan dimanakah Alfonso, Cortejo, Alimpo dan Elvira
yang berbudi itu?”
“Alimpo dan Elvira ada di sini. Mengenai yang lain akan
kau dengar kemudian. Kau masih belum boleh bicara
banyak-banyak, kau harus berhati-hati.”
“Baik, aku akan mematuhi perkataanmu. Hanya ingin
aku tahu, di mana aku sekarang berada.”
“Pada seorang teman kita yang baik.”
“Bukan di Rodriganda?”
“Bukan, tetapi tentang segala hal itu masih akan
kaudengar hari ini juga.”
“Lalu … ayahku?” tanyanya dengan suara terputusputus.
“Benarkah, tubuhnya telah hancur terdampar?”
“Tidak, ia masih hidup. Tetapi baik kau jangan bicara
banyakbanyak, sayang, nanti kau akan sakit kembali.”
“Carlos, aku sebenarnya mau minta sesuatu, tetapi
agak segan.”
“Mintalah apa saja.”
“Bukan sebagai kekasih, tetapi sebagai dokter kau
harus menjawab …” ia memulainya malu-malu. “Bila aku
telah sakit selama itu, tentu aku … tidak pernah eh …
makan?”
Sternau girang mendengar itu.
“Itu tidak perlu kausembunyikan kepada kekasihmu.
Permintaanmu untuk mendapat makan ialah suatu tanda
bahwa kau segera akan sembuh benar-benar. Ibu akan
mengambil makanan yang aku pesan. Atau kau ingin
Elvira yang membawanya?”
“Ya, aku ingin melihatnya kembali, tetapi Ibu harus
datang juga.”
Sternau menulis sesuatu di atas kertas yang dibawa
ibunya ke dapur. Di lorong ia bertemu dengan Tuan tanah.
Tuan itu memegang tangannya dan bertanya, “Benarkah
Putri sudah sembuh?”
“Alhamdulillah, benarlah demikian.”
“Hore, hore, bagus! Berhasil! Haleluya! Boleh aku pergi
ke situ untuk … untuk melihatnya …? Tidak? Aduh! Itu
sangat kejam! Itu melanggar segala norma kemanusiaan!
Apa dayaku sekarang? Bagaimana aku dapat
mencurahkan rasa gembiraku? Coba katakan, Nyonya
yang baik, bagaimana?”
“Menyesal, tidak dapat saya katakan, Kapten. Lagi pula
saya tidak sempat, saya harus pergi ke dapur. Putraku
telah menulis di atas kertas ini makanan apa yang boleh
dimakan si sakit.”
“Apa? Coba berikan surat itu!”
Tuan tanah merebutnya dari tangan wanita itu lalu
membaca, “Apa? Kaldu encer campur sedikit tepung?
Sedikit rebusan buah! Aduh, sudah gila dia barangkali!
Makanan macam itu untuk menyegarkan orang sakit?
Berikan saja daging rusa, daun selada, macaroni, daging
ham mentah, ketimun berbumbu lada dan ikan haring
berbumbu. Makanan demikian sehat, dapat menambah
selera dan menguatkan saraf dan otak. Dokter itu pandai
sekali dalam bidang pengobatan, namun dalam bidang
makanan masih sangat diragukan kepandaiannya.”
Kaldu encer untuk Roseta dapat disiapkan dalam waktu
singkat dan Elvira membawa secangkir kaldu ke kamar si
sakit. Ketika ia masuk, putri sedang duduk tegak dan
Sternau ada di sisinya.
“Selamat datang, Elvira,” kata Roseta. “Sudah lama aku
tidak berbicara denganmu.”
Dengan air mata bercucuran Elvira berkata tersedusedu,
“Condesa yang kusayangi. Terpujilah Allah bahwa
Anda dapat mengenali saya kembali! Ketika Anda sedang
sakit, kami semuanya bersusah hati!”
“Tapi sekarang aku sudah sehat kembali. Kau dapat
bergembira lagi.”
Roseta meminum kaldu secangkir itu. Pipinya
berangsur-angsur menjadi merah dan dokter beranggapan
bahwa tak lama lagi ia sudah boleh berceritera tentang
kejadian-kejadian yang mengakibatkan sehingga Roseta
harus diungsikan dari Spanyol ke Jerman.
Sesudah makan Roseta tertidur lagi. Itu sesuai dengan
keinginan Sternau, karena si sakit masih banyak
memerlukan waktu istirahat. Nyonya Sternau dan Elvira
tetap tinggal di dalam kamar, sedangkan Sternau pergi
untuk menengok Pangeran.
Lebih dari satu jam lewat sebelum ia kembali. Ia
menjumpai Roseta masih di tempat tidurnya, namun air
matanya bercucuran di pipinya dan Elvira pun yang duduk
di sisinya turut menangis. Ibunya kembali menduduki
tempatnya dekat jendela. Ketika putranya datang, wanita
itu cepat menghampirinya. Tentu ada sesuatu yang terjadi.
“Untung kau datang, Karl,” kata wanita itu. “Aku tidak
paham Bahasa Spanyol, namun kurasa Elvira telah bicara
terlalu banyak. Mereka telah bercakap lama dan aku tak
dapat menghentikan percakapan mereka!”
Sternau memandang dengan cemas kepada Roseta.
Roseta memohon dengan iba, “Jangan marah, Carlos!
Elvira yang baik hati itu telah berceritera sedikit dan aku
tiada tahan lagi. Aku suruh dia berceritera lebih banyak
lagi.”
“Ya, Tuhan, itu dapat memperburuk keadaan
kesehatanmu,” kata Sternau dengan hati kesal.
“Tidak,” jawab Putri. “Kepastian itu lebih
menenteramkan hatiku daripada kekhawatiran yang
hingga kini menghantui diriku. Setelah Elvira
menceriterakan semuanya kepadaku aku berhenti menjadi
gelisah. Dan kini aku mohon sesuatu yang harus
kaupenuhi juga, Carlos, karena aku merasa diriku cukup
kuat. Sebagai seorang putri ayahku tempatku adalah di
sisi ayahku yang sedang sakit. Maka aku mohon dengan
sangat izinkanlah aku menjenguknya!”
Sternau hendak mengemukakan keberatan, tetapi
Roseta tidak mau mendengar. Maka akhirnya ia
mengizinkan juga, lagi pula ia melihat bahwa Roseta sudah
cukup kuat untuk pergi melihat ayahnya. Ia menyuruh
orang menyiapkan sebuah kursi malas yang diberi bertilam
di atasnya di sebelah tempat tidur Pangeran. Kemudian ia
mengangkat Roseta dan membawanya ke kamar
sebelahnya. Demi melihat ayahnya yang sudah lama tidak
dilihatnya dan yang telah dipisahkan secara kejam darinya
itu, Roseta menangis tersedu-sedu. Setelah Sternau
mendudukkannya di atas kursi malas, maka Roseta
memegang tangan ayahnya dan menciuminya terus
menerus. Baru sekarang ia melihat Alimpo yang sedang
memandanginya dengan terharu. Roseta menyapu air
matanya dan mengulurkan tangannya kepada penjaga
puri, yang menyambut serta menciuminya.
“Condesa yang tercinta! Puji syukur kepada Tuhan yang
Maha Kuasa bahwa Anda dapat diselamatkan!”
“Aku pun harus mengucap syukur kepada Tuhan,
karena aku dapat bicara lagi dengan kalian,” jawab Putri.
“Dokter Sternaulah yang berjasa dalam memulihkan
kesehatan Anda.”
“Memang, tetapi aku tahu juga bahwa kaupun
memegang peranan penting. Kau telah banyak berkurban
untuk kepentinganku. Maka kuucapkan banyak terima
kasih atas segala perbuatanmu itu, sahabatku yang setia.”
“O, itu sudah merupakan tugasku,” kata Alimpo. “Kami
rela mengikuti Anda sampai ke ujung dunia pun. Demikian
pun pendapat Elvira.”
“Aku belum tahu, bagaimana aku dapat membalas budi
Anda itu. Tunggu saja sampai ayahku sembuh.”
Keesokan harinya akan diperoleh kepastian, pengobatan
pada Pangeran itu berhasil seperti pada Putri atau tidak.
Roseta duduk di sisi tempat tidur ayahnya dan setiap saat
mengawasi ayahnya. Si sakit telah tidur selama tiga hari.
Setiap saat ia dapat bangun. Sternau masuk ke dalam dan
memegang tangan Putri.
“Roseta!”
“Carlos! Ayah akan sembuhkah?”
“Ada harapan, tidak lama lagi.”
Ia melepaskan tangan Putri dan memegang tangan si
sakit. Setelah sesaat memegangnya ia melepasnya lagi
dengan tiba-tiba lalu berdiri di bagian kepala tempat tidur.
Pangeran bergerak lalu membuka matanya dan
melayangkan pandangannya ke seluruh penjuru dalam
kamar seperti biasa dilakukan orang bila ia baru
terbangun dari tidurnya. Pandangan matanya berhenti
pada Roseta. Lama ia mengamati dan menelitinya,
kemudian ia bertanya perlahan, “Ya Tuhan, di manakah
aku? Apa yang kumimpikan? Roseta, anakku, benarkah
kau yang kulihat? Di manakah senor Sternau yang telah
menyelamatkanku?”
Roseta menjadi pucat pasi. Ia terdiam sejenak,
kemudian ia bangkit dan dengan tersedu berkata, “Ayah,
ayahku yang tercinta. Kaukenali aku? Kau mengenali
aku?”
Wajah ayahnya berseri-seri gembira.
“Ya, aku mengenalimu. Kau Roseta, putriku. Jangan
suruh Cortejo, Clarissa dan Alfonso datang padaku.
Sternau harus mencegahnya! Aku merasa lelah, aku harus
tidur. Mari, beri aku ciuman tidur, Nak, dan esok pagi
datanglah kembali padaku!”
Roseta berusaha keras mengekang perasaan harunya,
namun tiada berhasil. Ia mengerang dan air matanya
bercucuran melalui pipinya. Berkali-kali ia menciumi
ayahnya hingga ayahnya tertidur. Kemudian ia bangkit. Ia
melihat Sternau dan memeluknya sambil menangis
terisak-isak.

sumber: DISALIN OLEH
Johannes Sulistio, Lidia Chang, Mai Damai Ria
Hans Wuysang, & Mackylafry Darwin
UNTUK
PAGUYUBAN KARL MAY INDONESIA

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s