Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 442)

Gadis itu luar biasa cantiknya. Tak pelak lagi, dia pastilah orang Italia.
Kulitnya tak dapat dikatakan putih. Lebih tepat dikatakan coklat terang. Berhidung mancung dengan mata yang biru dan rambut hitam kelam. Gadis itu tersenyum ke kiri dan ke kanan. Sikapnya yang ramah sebagai pramugari tak bisa dia lepaskan, meski kini lagi tidak bertugas di pesawatnya.
Gadis itu duduk berseberangan dengan si Bungsu. Antara mereka berdua dibatasi oleh jalan di tengah pesawat. Tongky yang duduk di sebelah si Bungsu menyikut lengah di Bungsu sebagai isyarat. Si Bungsu menoleh dan tersenyum melihat kenakalan temannya itu.
Harus dia akui, gadis di seberang jalan kecil itu memang alangkah cantiknya. Namun dia hanya sekilas memandang gadis itu, ketika si gadis akan duduk.
Gadis itu sendiri sempat menoleh padanya, melemparkan sebuah senyum yang meninggalkan lesung pipit di pipinya yang montok. Kemudian dia kelihatan sibuk dengan tas tangan yang dia bawa. Dari dalamnya dia mengeluarkan sebuah majalah, lalu tenggelam dalam bacaan begitu pesawat mulai bergerak.
Tapi lima belas menit kemudian, ketika pramugrasi Japan Air Lines itu mulai membagi-bagikan makanan, gadis itu meletakkan majalahnya. Membuka sabuk pinggang, kemudian berjalan ke depan. Di depan, dimana pramugari JAL itu tengah menyiapkan makanan, gadis itu nampaknya menawarkan jasa baiknya. Dan meski ditolak oleh pramugari pesawat, gadis itu tetap berkukuh. Dia mengambil nampan, kemudian menuju cokpit, dimana pilot dan copilot bertugas.
Cukup lama di dalam ruangan itu. Dan ketika muncul lagi di kabin, wajahnya tetap bersinar cerah. Dia membantu ketiga pramugari pesawat itu membagikan makanan dan minuman pada para penumpang. Kehadirannya demikian memikat. Betisnya yang indah berisi tak dibalut oleh kaus tipis seperti pramugradi JAL itu.
Dia membagikan makanan dan minuman dengan senyum dan lesung pipitnya. Setelah itu, dia kembali duduk di tempatnya. Sibuk lagi membaca majalah yang tadi dia keluarkan dari tas tangannya. Nampaknya tak ada komunikasi sedikitpun antara dia dengan lelaki separoh baya yang duduk di sebelahnya. Lelaki separoh baya itu, barangkali seorang yang berasal dari negeri Amerika Latin, tak acuh sedikitpun atas kehadiran gadis cantik di sebelahnya. Dia tenggelam dalam keasyikannya sendiri, mendengar nyanyian lewat pesawat kecil yang dilekatkannya ke telinganya dan disambungkan pada mik ke langit-langit pesawat.
Di Hongkong, tiga jam kemudian, sebahagian dari penumpang turun. Kemudian sebagai gantinya masuk sekitar dua puluhan penumpang menuju Amerika. Dalam perjalanan menuju Honolulu di Lautan Teduh, dimana pesawat itu harus berhenti mengisi bahan bakar dan menurunkan/menaikan beberapa penumpang, gadis Itali yang pramugari itu kembali sibuk menolong pramugari JAL menghidangkan makanan dan minuman. Kali ini bantuan itu nampaknya memang diperlukan karena penumpang hampir penuh.
Si Bungsu tengah tertidur ketika bahunya disentuh dengan lembut. Ketika dia membuka mata, dia lihat gadis itu tegak di sisinya sambil mendorong makanan di kereta kecil. Gadis itu tersenyum, dengan lesung pipit yang indah dan gigi yang putih bersih, menyapanya:
‘’Tuan mau apa?’’
‘’Oh, kopi saja..’’
Gadis itu meletakan kopi dalam gelas plastik di meja kecil di depan si Bungsu. Kemudian melatakkan makan malam yang terdiri dari bistik dengan goreng ayam yang harum. Lalu segelas lagi air putih.
‘’Silahkan menikmati makan malam Tuan..’’
‘’Terima kasih…’’
Gadis itu kemudian berlalu. Tongky kembali menyikut si Bungsu.
‘’Ramah benar dia padamu, kawan..’’ kelakar Tongky sambil melahap ayam goreng dan meminum kopinya.
Si Bungsu memperhatikan gadis Itali itu. Dan tiba-tiba saja, ada sesuatu perasaan ganjil menyelinap di hatinya.
‘’Di mana kita kini….?’’ tanyanya pelan, sambil menghirup kopi.
‘’Di atas Lautan Pacific’’
‘’Kita akan singgah di Honolulu?’’
‘’Ya, semua kita. Kalau tidak pesawat ini akan kecemplung di tengah laut kehabisan bahan bakar..’’
‘’Berapa lama lagi kita akan sampai di sana?’’
‘’Pagi lewat sedikit’’
Si Bungsu menoleh, heran.
‘’Pagi? Begitu jauh, dan pesawat ini sanggup terbang sepanjang malam tanpa mengisi bahan bakar?’’
‘’Begitu teorinya. Tapi tak usah khawatir. Sebentar lagi, kita   akan melewati batas malam dan pagi. Waktu di Indonesia, termasuk Singapura, berbeda nyaris 24 jam dari Amerika. Bila di negeri Anda jam sembilan pagi, itu artinya di Amerika sekitar jam sembilan malam. Nah, sebelum Honolulu, kita akan melewati batas malam itu. Jadi sebenarnya kita terbang melintasi jarak antara malam dengan siang. Kalau berada di tempat malam lamanya 12 jam, maka dalam penerbangan melintas jarak ini, malam hanya kita alami sekitar empat atau lima jam. Anda begitu khawatir nampaknya. Ada apa?’’
Si Bungsu tak segera menjawab. Dari gadis Itali yang tengah membagi-bagikan makanan itu matanya beralih pandang ke depan, lalu ke belakang. Kemudian tangannya meraih ayam goreng, sebelum mengunyah dia berkata pelan:
‘’Saya tak tahu dengan pasti, tapi saya merasa ada sesuatu yang ganjil…’’
“Yang ganjil adalah jantungmu, kawan. Kau sedang jatuh hati pada gadis itu, bukan? Kau harus berperang dengan empat puluh lelaki dalam pesawat ini untuk mendapatkannya. Kau lihat mata para lelaki itu memandang gadis tersebut? Seperti akan menelannya habis-habisan. Gadis itu memang luar biasa cantiknya. Lihat pinggulnya yang bulat, dadanya yang bukan main..’’
Tongky lalu tertawa bergumam sambil mengunyah makanannya. Si Bungsu menarik nafas. Matanya kembali menatap gadis bertubuh menggiurkan itu. Gadis itu memang amat cantik, amat menggiurkan. Namun ada firasat aneh menyelusup di hatinya. Dia tak tahu apa, tapi dia merasa bakal ada sesuatu yang hebat yang bakal terjadi.
Ah, kalau saja dia di rimba, barangkali dia cepat bisa membaca bahaya yang mengancam. Dia memang hidup dan dibesarkan di rimba, karenanya dia hafal benar akan hal-hal yang bakal terjadi. Dia seperti memiliki indra keenam. Tapi kini dia berada di pesawat udara, kecemasan apa yang menyelusup di hatinya?
‘’Saya rasa gadis itu bukan orang Itali, mungkin orang Mexico atau Cuba..’’ ujar Tongky lewat mulutnya yang penuh berisi. Karena si Bungsu tak mengomentari, dia bicara lagi.
‘’Orang Itali, Mexico dan Cuba, banyak persamaannya. Sama-sama berdarah panas. Lebih-lebih perempuannya. Gadis ini kalau di tempat tidur, saya yakin akan seperti kuda gila, mengamuk dan panas menggelora seperti air yang mendidih. Beda orang Mexico dan Cuba dengan orang Italia hanya pada kulitnya. Orang Italia agak putih, tapi kalau mereka banyak berjemur matahari, maka warna kulit mereka akan susah dibedakan..’’
Si Bungsu masih diam. Memakan penganan di depannya. Kemudian dengan firasat tak enak tetap bersarang di hati, dia akhirnya tertidur. Dia terbangun ketika dibangunkan Tongky.
‘’Hei, kita sudah berada di sebuah pagi’’  ujar kawannya itu.
Lewat jendela si Bungsu melihat sinar matahari yang terang benderang menyeruak masuk. Tak ada apapun yang terlihat di luar jendela sana, kecuali kekosongan. Kemudian sebuah pengumuman dari pramugari.
‘’Tuan-tuan……

1 Comment

  1. Terima kasih bang…30 tahun saya menunggu kelanjutan kisah si Bungsu ini…sekali lagi terima kasih….lanjut bang


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s