BAB IV. PERNIKAHAN

Empat Belas hari sudah berlalu. Don Manuel sudah
sehat kembali. Dengan senang hati ia mengizinkan
pernikahan putrinya dengan Karl Sternau. Satu-satunya
yang masih mengganggu pikirannya ialah nasib putranya
yang masih tiada tentu itu. Mereka masih belum mencapai
kesepakatan tentang tindakan apa yang harus diambil
untuk menyelamatkannya.
Di puri Rheinswalden terjadilah kesibukan menjelang
pesta pernikahan yang akan diadakan pada malam Natal.
Sesuai dengan permintaan Roseta pernikahan itu
dirayakan dengan cara sederhana saja, demikian pula
keinginan Sternau.
Sehari sebelum Natal tibalah mualim Unger yang sudah
lama dinanti-nantikan oleh keluarganya itu. Setelah
menyantap makanannya ia duduk-duduk bersama istrinya
di rumah untuk mendengar ceritera tentang kejadiankejadian
dalam minggu akhir-akhir ini. Nyonya Unger telah
mendengar segalanya yang berhubungan dengan puri
Rodriganda dan ia suka sekali berceritera tentang itu.
Mualim mendengarkan dengan penuh perhatian.
Setelah mendengar beberapa lamanya ia memotong,
“Jadi Dokter Sternau itu harus melarikan diri dari
Rodriganda? Mengapa? Tentu bukan karena ada orang
hilang di Rodriganda?”
“Tidak … tetapi, aku heran … kau tahu juga? Memang
di Rodriganda ada seseorang yang hilang. Seorang letnan
dari pasukan berkuda. Nyonya Sternau telah
menceritakannya.”
“Apakah mereka tahu, di mana ia berada sekarang?”
“Tidak. Atau …tunggu, aku teringat sesuatu: kata
Dokter Sternau, mungkin ia dibawa naik sebuah kapal.”
“Astaga, aku makin merasa tertarik kepada ceritera ini.
Apa nama kapal itu? Pendolakah? Coba ingat baik-baik!”
“Aku tahu pasti Nyonya Sternau tidak menyebutkan
nama.”
“Apalagi yang dikatakannya?”
Nyonya Mualim harus mengingat-ingat sejenak,
kemudian ia berseru penuh semangat, “Ya, aku ingat
sekarang: ada seorang ahli hukum yang tersangkut dalam
hal ini. Namanya aku tidak ingat lagi, kedengarannya asing
dan sukar mengucapkannya.”
“Bukankah namanya Gasparino Cortejo?”
“Itu dia, namanya! Tetapi, aneh juga, bagaimana kau
dapat mengetahuinya?”
“Kemudian akan kaudengar tentang hal itu. Sekarang
aku harus segera pergi ke Dokter Sternau. Aku membawa
khabar yang amat penting baginya.”
Ia mengenakan topinya lalu pergi. Di taman ia berjumpa
dengan Sternau yang hendak pergi berjalan-jalan ke
hutan. Mualim memberi salam dengan mengangkat
topinya. Sternau berhenti, ketika dilihatnya orang itu
hendak bicara dengannya.
“Maaf, tuankah Dokter Sternau?” Tanya Unger.
“Benar,” jawabnya.
“Boleh saya mengganggu sebentar, saya ada khabar
penting bagi Anda.”
“Tentu saja. Anda pasti mualim Unger, ayah anak yang
bernama Kurt itu.”
“Tepatlah dugaan Anda, Dokter. Saya baru sampai hari
ini.”
“Khabar penting itu mengenai bidang kedokterankah?”
“Bukan. Tentang pengalaman Anda ketika berada di
Spanyol.”
“Sungguh?” tanya Sternau terheran-heran. “Anda ketika
itu ada di Spanyol?”
“Tidak, tetapi dalam pelayaran pulang saya telah
mendengar sesuatu yang mungkin sangat penting bagi
Anda.”
“Saya jadi ingin sekali tahu! Maksud saya hendak
berjalan-jalan makan angin, tetapi di sini pun sudah
cukup angin sejuk. Mari kita duduk saja di atas bangku
itu.”
Mereka duduk sebelah menyebelah lalu mualim
memulai ceriteranya. “Kami baru berlabuh di pelabuhan
Nantes di Perancis. Di sebelah kami berlabuh sebuah
Kapal Spanyol La Pendola. Nakhodanya bernama Landola.
Ia menyebut dirinya seorang saudagar, namun sebenarnya
ia seorang perompak dalam penyamaran. Dalam sebuah
kedai minuman kebetulan saya dapat menyaksikan
percakapan antara dua pelaut mereka. Yang seorang
berceritera kepada yang lain bahwa mereka menahan
seseorang atas suruhan orang yang bernama Gasparino
Cortejo. Orang tahanan itu kini berada di kapal mereka.”
Makin banyak mualim itu berceritera, makin besar
perhatian Sternau terhadap ceriteranya. Akhirnya Sternau
melompat dari tempat duduknya lalu berseru penuh
semangat, “Tidak dapat Anda bayangkan, betapa penting
keterangan Anda itu bagi saya. Jadi nakhoda kapal itu
bernama Henrico Pendola?”
“Benar, dan kapalnya bernama La Pendola yang berarti
“Bulu”. Tetapi saya rasa nama itu palsu. Saya berani
bertaruh bahwa Pendola itu sebenarnya kapal perompak
Lion yang membuat lautan Afrika dan Amerika Timur
menjadi tidak aman.”
“Kalau begitu, nakhoda Henrico Landola itu tak lain dan
tak bukan adalah nakhoda Grandprise.”
“Mungkin. Namun ceriteraku masih belum selesai.
Salah seorang pelaut menanyakan kepada nakhoda, apa
yang harus diperbuat dengan tahanannya, lalu nakhoda
menjawab bahwa ia akan mengalami nasib sama dengan
tahanannya yang lainnya, yang mereka bawa dari Mexico
tiga bulan yang lalu.”
Sternau bertanya terkejut, “Dari Mexico? Apakah Anda
masih mendengar hal-hal lain lagi tentang tahanan itu?”
“Tidak, tetapi pelaut mengatakan sesuatu. Ia sangat
menyayangkan tahanan yang berpangkat tinggi itu.
Mungkin pangkatnya seorang pangeran.”
“Namanya tidak disebut?”
“Disebut juga. Pelaut itu menamakannya “si tua
Fernando”. Ketika itu mereka berlayar membelok di
Tanjung Harapan, menyusuri pantai Afrika sampai Zeila.
Di situ tahanan itu dinaikkan ke darat untuk dijual ke
Harrar. Ceritera yang ganjil ini saya ceriterakan kepada
Anda, karena kedua peristiwa itu mengandung persamaan
yang mencolok. Kedua-duanya dilakukan oleh pelaku yang
sama, yaitu oleh orang yang bernama Cortejo.”
Ketika Sternau mendengar ini, ia mulia mengerti.
Terkilat olehnya kata-kata Jacques Tardot, seorang kawan
tahanan dalam penjara di Barcelona, yang dicurahkan
pada saat menjelang meninggalnya. Orang itu menyebut
nama “Fernando” yang telah meninggal di Mexico. Agaknya
Fernando itu saudara don Manuel. Karena ia tahu bahwa
nakhoda kapal Pendola sama orangnya dengan nakhoda
kapal Lion, maka ia menduga bahwa don Fernando
tidaklah meninggal, melainkan diculik dan dibawa berlayar
oleh Landola. Dan dugaan itu diperkuat lagi oleh
keterangan mualim tentang penculikan yang lainnya.
Penculiknya pun bernama Cortejo. Mungkin di sini bukan
dimaksudkan notaris Cortejo. Sternau tahu juga bahwa
bendahara yang bekerja pada pangeran Mexico itu
bernama Cortejo juga. Cortejo ini saudara dari Cortejo
bendahara Pangeran Spanyol. Dengan sekuat tenaga ia
menghalau segala pikiran yang bertubi-tubi menyerangnya
lalu ia bertanya, “Apakah Anda masih ada keterangan lain
tentang orang itu?”
“Tidak.”
“Juga tidak tahu ke mana Pendola berlayar setelah
meninggalkan Nantes?”
“Saya mendengar bahwa mereka hendak menuju
Tanjung Harapan, tetapi ucapan seorang perompak seperti
itu tidak dapat dipercaya penuh. Anda tahu bahwa kapalkapal
demikian tidak mempunyai haluan yang tetap.
Seorang perompak hanya menuju tempat yang ada
mangsanya.”
“Dapatkah diusahakan, supaya kita mengetahui di
mana saja Pendola telah berlabuh atau dilihat orang?”
“Dapat, tetapi penyelidikan demikian memerlukan biaya
yang besar. Anda harus pergi ke Berlin dan minta bantuan
dari kedutaan untuk menyelidikinya. Anda tentu akan
mendapat jawaban, meskipun agak lama.”
“Bagaimana bila saya minta, supaya keterangan itu
dikirim dengan kawat?”
“Tentu akan tiba lebih cepat lagi, tetapi biayanya akan
bertambah besar pula. Andaikata Anda dapat mengetahui
di lautan mana Pendola berada, apa yang dapat
dilakukan?”
“Saya akan pergi ke kapal perompak itu untuk
membebaskan tahanan.”
“Pekerjaan membebaskan itu begitu pentingnya bagi
Anda?”
“Bukan main pentingnya. Lain kali anda akan
mendengar lebih banyak tentang hal itu. Yang ingin saya
ketahui sekarang ialah: pada ketika ini Anda bebas, tanpa
pekerjaan?”
“Ya.”
“Dapat, asal saya dapat bantuan dari seorang ahli mesin
yang dapat dipercaya di ruang kapal. Ijazah nakhoda
untuk mengadakan pelayaran besar saya miliki.”
“Dapatkah kapal sedemikian di lautan lepas menandingi
Pendola?”
“Yah … sukar menjawab pertanyaan itu. Setidaktidaknya
kapal itu harus dilengkapi dengan beberapa buah
meriam yang tangguh, mempunyai bangun yang kuat serta
dilayani oleh kelasi yang gagah perkasa.”
“Dapatkah Anda mengemudikan kapal ? Kapal uap kecil
misalnya ?”
“Jadi menurut Anda, mungkin juga.”
“Mungkin, kalau syarat-syarat tadi dipenuhi.”
“Berapa harga kapal sedemikian agaknya?”
“Seratus dua puluh ribu mark tanpa perlengkapan.”
“Adakah yang menjual kapal demikian, bekas pakai?”
“Wah, … itu agak susah dicari. Kapal-kapal sedemikian
hanya dibuat untuk keperluan pribadi. Merupakan kapal
pesiar mewah yang dimiliki oleh kaum jutawan. Mereka
akan merasa sayang menjual kapalnya. Lagi pula kapal
bekas pakai kurang sesuai dengan keperluan Anda. Anda
seharusnya menyuruh buat sendiri sebuah kapal yang
tangguh serta sesuai dengan keinginan Anda.
Perlengkapannya pun harus diadakan atas pilihan Anda.”
“Tahukah Anda, di mana terdapat galangan kapal yang
terbaik?”
“Sepengetahuan saya galangan termasyhur di Greenock
di tepi sungai Clyde.”
“Di Skotlandia?”
“Benar, dan sebaiknya Anda sendiri pergi ke situ.”
“Tetapi saya tidak mempunyai keahlian dalam bidang
itu. Maukah Anda ikut dengan saya, bila saya hendak
melaksanakan nasehat Anda?”
“Dengan senang hati, Dokter.”
“Baik, akan saya pikirkan hal itu. Adikku yang sangat
rapat dengan istri Anda, mengusulkan untuk menyisihkan
sejumlah uang guna keperluan Anda, agar Anda sebagai
nakhoda dapat hidup bebas, tiada perlu bergantung pada
orang lain. Bila saya membeli sebuah kapal, maka kapal
itu bukan milik Anda, namun Anda menjadi nakhoda di
kapal itu. Bila pekerjaan kita itu membuahkan hasil, maka
saya suka membantu Anda lebih banyak lagi. Kini saya
akan pergi ke hutan dahulu. Keterangan Anda itu penting
sekali bagiku, sehingga saya memerlukan waktu dalam
ketenangan untuk mengolahnya lebih lanjut. Selamat
malam, Mualim.”
“Selamat malam, Dokter.”
Mereka berjabatan tangan lalu berpisah.
Tengah hari sebuah kereta memasuki puri
Rheinswalden. Di dalamnya duduk Perwira pengadilan.
Mula-mula ia pergi ke rumah penjaga puri, yaitu rumah
keluarga Unger, untuk menyampaikan sebuah bingkisan.
Bingkisan itu merupakan hadiah Natal bagi Kurt, anak
kecil yang sudah menawan hati perwira itu. Seperempat
jam kemudian ia mengunjungi Sternau,yang menerimanya
dengan suka hati.
“Anda membawa khabar apa?” tanya Dokter.
“Saya merasa gembira dapat membawa khabar baik
menjelang Natal ini.” Setelah membakar cerutunya ia
melanjutkan perkataannya, “Saya telah menyelidiki
berbagai hal yang berhubungan dengan keluarga
Rodriganda. Tuan putri sudah diketahui segalanya. Kita
dapat meminta bantuan di kedutaan Spanyol.
Tuan Putri dapat menerima penuh bagiannya dalam
warisan. Lagi pula saya telah mengirim seorang reserse
yang sangat cerdas ke Barcelona.”
“Itu perbuatan yang sangat bijaksana. Biayanya tentu
atas tanggungan saya.”
“Itu kemudian dapat kita bicarakan lagi. Reserse itu
pun diberi tugas menjaga puri Rodriganda.”
“Bagus sekali. Segala itu tentu akan besar manfaatnya,
karena don Manuel sementara ini berniat menetap di
Jerman untuk menanti hasil dari pencaharian putranya.”
“Apa? Calon mertua Anda tidak mau bertindak langsung
terhadap ahli waris palsu itu?”
“Tidak. Lagi pula itu tidak mungkin seandainya ia mau
juga.”
“Itu tidak dapat saya pahami.”
“Segala itu ada sangkut pautnya dengan hukum
pemilikan di Rodriganda.”
“Masih belum jelas juga bagiku. Mengapa don Manuel
tidak berdaya dalam hal ini?”
“Anda akan mengerti bila saya terangkan bahwa puri
serta tanah Rodriganda bukan merupakan milik pribadi,
melainkan milik keluarga, diwariskan kepada putra sulung
bila sudah mencapai usia 21 tahun. Hal itu berarti bahwa
setelah syarat mengenai usia itu terpenuhi, ayah dan putra
keduanya mempunyai hak yang sama.”
“Dan siapakah ahli waris Pangeran itu?”
“Tak lain dan tak bukan don Alfonso yang
sesungguhnya, oleh kaum perampok diberi nama Mariano.
Ia pun pergi ke puri Rodriganda dengan menyamar sebagai
Alfred de Lautreville. Baik untuk sementara kita namakan
don Alfonso yang sesungguhnya tetap Mariano, karena
untuk yang palsunya kita masih belum mempunyai nama
lain.”
“Itu pendapat Anda, tetapi apa buktinya? Lagi pula kita
harus menemukan Mariano lebih dahulu, supaya ia dapat
mengemukakan tuntutannya. Kesulitannya ialah karena
Alfonso di mata hukum adalah pemilik yang sah atau
dengan kata lain dia dengan Pangeran sama-sama memiliki
harta keluarga. Kesimpulannya ialah: secara yuridis dapat
dikatakan bahwa don Manuel untuk melancarkan
pengaduan terhadap Alfonso ia harus juga … meminta izin
… dari Alfonso sebagai rekan pemilik.”
“Celaka dua belas dengan peraturan semacam itu!”
“Memang. Peraturan-peraturan yang dibuat mengenai
keluarga Rodriganda mempunyai suatu kekurangan.
Kemungkinan bahwa ayahnya mempunyai alasan untuk
mengadukan anaknya, telah terlupakan. Memang betul,
don Manuel mempunyai hak untuk tinggal dan
memerintah di Rodriganda bersama putranya. Namun …
apakah bijaksana mengingat keadaan sekarang, Pangeran
tinggal di daerah yang penuh dengan bahaya maut itu.
Jadi jelaskah sekarang bagi Anda, mengapa Pangeran
merasa tidak berdaya dan mengapa terpaksa menunggu
sampai Mariano ditemukan orang?”
“Apakah tidak dapat diusahakan supaya Alfonso
dihukum?”
“Tidak dapat. Apa bukti yang dapat kita kemukakan?
Alfonso kini berdiri di atas angin dan tanpa Mariano kita
tidak berdaya.”
“Ya, bila Anda mempunyai pandangan demikian, saya
tidak dapat berbuat apa-apa. Dan apakah maksud Anda
dengan don Manuel? Apakah Anda bermaksud
merahasiakan penyembuhannya?”
“Itu tidak mungkin, sekiranya saya mau juga. Mana
mungkin Pangeran dikurung terus-menerus dalam puri.
Puri Rodriganda dengan komplotan penjahat di dalamnya
diam-diam harus diawasi oleh orang-orang yang dapat
dipercaya. Namun kita terpaksa membiarkan sementara
kaum penjahat itu masih menikmati barang rampasannya.
Paling-paling dapat kita usahakan supaya bagian warisan
Roseta dapat dikeluarkan.”
Berhubung dengan hal itu saya ada khabar baik. Orang
saya di Rodriganda mengkhabarkan bahwa mereka tidak
ada niat untuk menyangkal wanita tamu kita itu sebagai
Putri Roseta de Rodriganda.”
“Jadi itu berarti bahwa mereka tidak akan mencegah
Putri menuntut haknya mendapat sebagian dari warisan.”
“Benar. Mengenai itu saya pun sudah berkirim surat
dengan duta di Berlin. Ia sudi membantu dengan segenap
tenaga.”
“Saya harus mengucapkan banyak terima kasih.”
“Tadi saya dengar dari Unger bahwa Anda hendak pergi
untuk membeli sebuah kapal.”
“Benar, itulah kehendakku.”
“Ceritera yang saya dengar dari Mualim itu sangat aneh
kedengarannya. Bolehkah saya memperhatikan
kepentingan Anda selagi Anda bepergian?”
“Boleh, asal jangan sampai mengganggu pekerjaan
Anda, sebagai orang awam saya tidak tahu tentang hal
itu.”
“Janganlah khawatir! Anda orang Jerman, Anda sedang
dipersulit orang. Saya dapat menyelidiki mereka tanpa
diketahui mereka. Segera akan dapat saya ketahui di mana
dan bila mana kapal Pendola terlihat orang.” Perwira
pengadilan bangkit berdiri. “Kini saya mengucapkan
selamat atas keberhasilan Anda, Dokter! Bolehkah saya
bertemu dengan pasien-pasien Anda untuk menyampaikan
salam saya? Saya telah melihat mereka ketika mereka sakit
dan kini saya ingin sekali memuatnya dalam laporan
tertulis saya.”
“Saya akan mengajak mereka ke mari.”
Setelah ia kembali lagi bersama Pangeran dan Putri,
Perwira itu tercengang melihat perubahan yang terjadi atas
diri mereka. Ia telah menyaksikan Roseta pucat seperti
patung marmar berlutut sambil berdoa. Kini ia melihat
Putri seperti sediakala: berwibawa seperti layaknya seorang
bangsawan serta diliputi daya tarik yang merupakan
rahasia dari seorang wanita sejati. Pangeran pun dengan
sikapnya yang agung serta berwibawa menimbulkan kesan
yang jauh berlainan dengan ketika ia masih sakit. Kini
Perwira berjanji pada dirinya untuk menggunakan segala
pengaruh yang ada padanya untuk menolong mereka.
Dalam bangsal besar di puri diadakan persiapanpersiapan
untuk hari esok. Pada suatu sisi didirikan
sebuah meja sembahyang dikelilingi oleh pagar pohonpohon
cemara. Lagi pula Tuan Tanah telah menyeret
sebuah pohon cemara berukuran raksasa dengan tangan
sendiri ke dalam bangsal. Pohon itu didirikan di tengahtengah
bangsal. Pada saat ini Kapten sedang menghiasi
pohon itu, dibantu oleh Ludwig. Pintu bangsal terkunci,
Karena Tuan tanah tidak mau diganggu. Bangsal tempat
pesta harus dirahasiakan bagi para tamu. Tiada seorang
pun yang diizinkan masuk, siapa pun juga.
Rodenstein sedang berhati murung ketika ia bersama
pembantunya melakukan pekerjaan menghias itu. Lilinlilin
sudah dipasang, kini giliran buah kenari untuk
direkati kertas emas. Buah-buah itu tertumpuk di atas
meja di samping botol lem dan beberapa lembar kertas
emas.
“Ludwig, apa yang kau kerjakan dari tadi? Kau harus
mewarnai buah kenari, bukan cakar ayammu!”
“Maaf Kapten, saya tidak kuasa mencegah sedikit kertas
emas melekat pada jariku.”
“Kaunamakan itu sedikit?” ejek Tuan tanah. Kertas
yang melekat pada jarimu itu cukup untuk dipakai
merekati semua buah kenari yang dapat dikumpulkan
dalam seluruh kerajaan.”
“Itu tidak benar, Kapten.”
“Tutup mulut!” hardik Tuan tanah kepada Ludwig yang
tidak dapat bekerja menyenangkan hati majikannya.
“Kurang ajar benar, berani kau membantah aku!”
“Saya tidak mau kurang ajar, Kapten. Hanya saya mau
mengatakan di tempat, bahwa Anda tidaklah adil. Sebab
tangan Anda sendiri penuh berlepotan dengan lem dan
kertas emas.”
Seperti disambar petir Tuan tanah memandang kepada
pembantunya. Kemudian ia perlahan-lahan melihat
tangannya yang benar-benar penuh dengan lem dan kertas
emas itu. Demi dilihatnya, amarahnya menjadi-jadi.
“Diam, dungu!” hardiknya. “Coba katakan, kertas emas
itu siapa punya? Engkaukah yang membelinya atau aku?
Bukankah aku sebagai pemiliknya berhak untuk
menghiasi tanganku dengan kertas emas sepuas hatiku?”
“Kalau begitu, biar Tuan Kapten seorang diri saja
melakukan pekerjaan merekat ini.”
Sejenak Tuan tanah terdiam, tiada sanggup
mengatakan apa-apa lagi, tetapi kemudian ia menghardik,
“Apa-apaan ini. Kau sudah menjadi gila, berani membuka
mulut terhadapku. Ingat, untuk siapa sebenarnya kau
disuruh bekerja, untuk aku atau untuk nona manis yang
patut mendapat emas lebih banyak lagi daripada emas
yang ada di seluruh dunia ini? Dan kalau kau tidak lekaslekas
…”
Ia memutuskan kalimatnya. Pintu diketuk orang lalu
terdengar suara Kurt, “Tolong bukakan pintu, Kapten!”
Amarah Kapten kini beralih ke tempat lain.
“Jangan masuk!” hardiknya. “Aku tidak
memerlukanmu.”
“Tetapi aku ingin memperlihatkan sesuatu kepada
Anda!”
“Aku tak ada waktu.” Teriak Rodenstein.
“Bukakan pintunya sedikit saja, nanti Anda melihat
sesuatu.”
“Tak mungkin!” teriak Rodenstein. “Lekas pergi!”
“Ya sudah, aku akan menembaknya sendiri saja.”
Tuan tanah menjadi agak bingung.
“Menembak? Siapa yang kau tembak?”
“Harimau!”
“A … pa? Gila kau, barangkali.”
“Selamat tinggal, Kapten.”
“Tunggu, Nak! Aku datang.”
Ia melemparkan kuas yang penuh lem serta buah kenari
yang hampir rampung direkati kertas emas itu ke arah
kepala penjaga hutan lalu ia melompat keluar dari pintu.
Di luar berdiri Kurt berpakaian pemburu lengkap. Di bahu
sebelah kiri ia menyandang bedil dan di bahu sebelah
kanan ia memikul sebuah benda. Ternyata setelah diamati
benda itu merupakan semacam bulan-bulan untuk melatih
orang menembak, serta sebuah harimau dari kaleng yang
dapat digerak-gerakkan. Ketika dilihatnya benda itu, ia
menanya dengan terheran-heran, “Itukah yang kau
maksud dengan harimau itu?”
“Benar,” tawa Kurt dengan memandang secara nakal.
“Dari mana kauperoleh binatang buas itu?”
“Dari Perwira pengadilan sebagai hadiah Natal.”
“O, begitu,” kata Tuan tanah dengan rasa heran.
“Dan apa sebabnya Perwira itu memberimu bingkisan
itu?”
“Entahlah. Mungkin karena aku tidak jadi
menembaknya.”
“Dan kini mau apa kau dengan benda itu?”
“Pergi ke hutan dan berlatih menembak. Anda harus
hadir untuk mengajarku menembak.”
“Tetapi sekarang aku tidak ada waktu.”
“Baik, kalau begitu. Aku akan pergi sendiri. Kukira aku
dapat juga tanpa bantuan. Dokter Sternau telah berkalikali
berburu binatang buas. Aku harus menjadi pemburu
besar seperti dia.”
“Ya, tetapi kau dapat juga belajar lain kali.”
“Tidak, harus sekarang juga. Ayo, Pak Kapten, mari ikut
aku.”
Tuan tanah tiada tahan mendengar rayuan itu. Ia
menyerah. Mereka berdua pergi ke hutan, anak yang besar
dan yang kecil. Perwira itu tidak dapat memberi hadiah
yang lebih tepat lagi daripada mainan itu. Mula-mula ia
meminta nasihat Sternau, hadiah Natal apa yang paling
baik bagi anak itu dan Sternau menganjurkan mainan itu,
meskipun mainan demikian tidak biasa diberikan kepada
anak-anak.
Hari itu hari menjelang Natal, hari cerah dalam musim
dingin. Seluruh alam seakan-akan berhias untuk
memuliakan pasangan pengantin. Menjelang pukul
sepuluh penghuni rumah berkumpul di bangsal besar puri
yang perhiasannya yang berwarna hijau itu
mempesonakan para pengunjung. Tuan tanah berseri-seri
mendengar puji-pujian orang yang dialamatkan padanya.
Lewat pukul sepuluh tibalah pendeta umat
Rheinswalden dan selesai pidato yang mengharukan
diadakan upacara pernikahan. Setelah selesai
pemberkatan diadakan makan bersama yang sederhana
oleh keluarga pengantin dengan beberapa orang tamu.
Itulah sesuai dengan permintaan pasangan pengantin yang
disetujui oleh setiap orang.
Pada malam hari penghuni puri berkumpul lagi dalam
bangsal, namun kini pohon natal menjadi terang oleh lilinlilin
kecil yang menyala dalamnya. Semuanya itu
merupakan pemandangan yang mempesonakan bagi para
tamu bangsa Spanyol itu. Di tanah air mereka sendiri
mereka tidak mengenal hal seperti itu.
Putri yang masih muda itu berdiri dekat suaminya dan
berseru penuh kekaguman., “Alangkah indahnya!” Elvira
bertepuk tangan dengan gembira dan bersorak,
“Pemandangan seindah ini belum pernah kita saksikan di
Spanyol, bukankah begitu, Alimpo?”
Kini tiba giliran hadiah-hadiah untuk dibagikan.
Hadian-hadiah itu memenuhi sebuah meja panjang di
bawah pohon terang. Helena Sternau memperoleh sebuah
benda perhiasan yang mahal harganya dari Roseta,
sedangkan Roseta mendapat sebagai balasan dari Helena
sebuah topi hasil rajutan sendiri yang indah. Pasangan
pengantin muda itu tidak saling memberi hadiah. Hadiah
natal yang paling berharga bagi mereka ialah
mengucapkan harapan semoga mereka dapat hidup
dengan bahagia. Kurt mendapat tugas bersama orang
tuanya untuk membagi-bagikan hadiah. Ia sendiri dapat
dari Tuan tanah sehelai baju musim dingin yang indah
berikut topi. Baju dan topi itu berlapiskan kulit rubah yang
ditembak oleh Kurt sendiri. Anak itu bukan main
bahagianya dengan hadiah itu. Berkali-kali ia
mengucapkan terima kasihnya dengan memeluk dan
mencium Tuan tanah. Tentu saja Kapten pun berlimpahlimpah
menerima hadiah dari don Manuel, dari putrinya
dan dari Sternau. Alimpo dan istrinya pun merasa gembira
sekali dengan pemberiannya. Sehingga penjaga puri itu
pada akhir malam berkata, “Senor Sternau, pesta Natal
seperti ini belum pernah kami alami dalam hidup kami.
Demikian juga pendapat Elviraku.”
Pesta pernikahan sudah lampau. Kini Dokter harus
menyibukkan diri dengan pemecahan rahasia yang masih
meliputi keluarga Rodriganda itu. Ia hanya memberi waktu
empat pekan kepada dirinya untuk menikmati
pernikahannya sekaligus untuk mengadakan persiapan
untuk berlayar.
Perwira pengadilan sementara itu tidak tinggal diam. Ia
mempunyai kawan-kawan berpengaruh di London maupun
di Berlin. Kawan-kawan itu dapat memberikan pertolongan
besar dalam penyelidikan mereka terhadap La Pendola.
Dari Berlin dan London oleh kedutaan diadakan
penyelidikan yang menghasilkan berita bahwa Pendola
beberapa waktu yang lalu telah berlabuh di Sint Helena
untuk mengisi air. Kemudian kapal itu berlayar ke arah
Tanjung Harapan. Setidak-tidaknya mereka sudah tahu di
mana kaum perompak itu berada.
Akhir Januari Sternau bersama Mualim meninggalkan
Rheinswalden. Miliknya yang paling dicintainya
dipercayakannya kepada Tuan tanah. Selain sejumlah
uang yang besar ia membawa surat-surat wesel untuk
bank-bank di Inggris. Kapten mengantarkannya ke Mainz.
Di situ ia naik kapal api yang membawanya ke hilir sungai
Rijn.
Perpisahan dengan istrinya terasa berat. Roseta yang
tidak dapat berpisah dengannya menangis terus menerus
serta memeluk suaminya. Ayahnya, Alimpo dan Elvira
tetap menyertainya. Tanpa mengucapkan kata-kata
Pangeran menciumi anaknya.
“Janganlah menangis, Putri yang kusayangi,” kata
Elvira. Tuan kita yang perkasa itu pasti segera kembali
lagi. Alimpo pun berkata demikian.”
“Benar,” tambah suaminya. “Tuan Dokter itu tepat
orangnya yang dapat menangkap Kapten Landola. Pasti ia
akan menemukan perompak itu.”
Agak ke belakang berdiri Ludwig dan Kurt. Anak itu pun
menangis dan mata penjaga hutan berlinang-linang. Ia
merasa malu serta menegur anak itu, “Janganlah
menangis, Nak. Kau tidak boleh menjadi seorang yang
berhati lembek di tempat.”
“Bukankah Anda juga menangis,” kata Kurt.
“Aku? Menangis? Yang bukan-bukan! Itu tetes-tetes
peluhku. Hari ini panas sekali. Delapan hari yang lalu
dinginnya seperti di Siberia dan sekarang kapal api dapat
berlayar lagi. Iklim sudah berubah-ubah saja.”
Di atas jembatan berdiri Perwira pengadilan. Ia ingin
bicara sekali lagi dengan Sternau. Ia berusaha
menenteramkan hati Sternau. Selama dalam bepergian ia
akan tetap mengurus persoalannya dan mengawasi don
Manuel serta putrinya.
Kapten menemaninya sampai kota Keulen. Kemudian
mereka berpisah. “Berapa lamanya Anda meninggalkan
kami?” tanya Rodenstein.
“Tidak dapat saya katakan. Hari depan saya ada di
tangan Tuhan.
“Baik saya berharap semoga Tuhan lekas
mengembalikan Anda kepada kami.”
“Tolong sampaikan sekali lagi salamku kepada Roseta
dan yang lainnya.”
“Baik, Dokter! Janganlah kita menyiksa diri lebih lama
lagi. Setiap perpisahan akan diikuti oleh pertemuan
kembali. Pergilah bersama Tuhan!”
“Sama-sama dengan Anda!”
Mereka berjabat tangan. Bagi Sternau dan Mualim
terbuka suatu masa baru yang tiada berketentuan serta
penuh dengan petualangan.

sumber: DISALIN OLEH
Johannes Sulistio, Lidia Chang, Mai Damai Ria
Hans Wuysang, & Mackylafry Darwin
UNTUK
PAGUYUBAN KARL MAY INDONESIA

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s