BAB V. KAPAL BAJAK LAUT MILIK LANDOLA

Di pantai sebelah barat Inggris, di muara Sungai Clyde,
terdapat sebuah teluk. Di teluk itu terletak kota Greenock
yang termasyhur di kalangan bangsa-bangsa yang suka
berlayar. Di galangan-galangan kapal kota itu banyak
kapal dagang serta kapal Jerman dibuat. Banyak di antara
kapal perang perkasa dan kapal dagang besar ataupun
kecil yang lahir di galangan Greenock, kini mengarungi
lautan.
Dokter Sternau dan Mualim Unger menginap di salah
satu hotel besar di kota itu. Mereka datang ke situ, karena
mereka hendak membeli sebuah kapal kecil yang ringan
untuk mengejar Landola. Mereka mencari di pelabuhan
dan di semua galangan kapal, namun tidak menemukan.
Kini mereka duduk di kamar tamu sebuah hotel untuk
membicarakan masalahnya. Berhadapan dengan mereka
duduk seorang orang tua yang telah mendengar
percakapan mereka. Kata orang itu bahwa tidak berapa
jauh dari situ berlabuh sebuah kapal api kecil yang indah
di tepi sungai. Selanjutnya ia berkata bahwa seorang
advokat tinggal tidak jauh dari situ, yang mengurus
tentang penjualannya. Kapal itu berlabuh dekat villa
tempat orang itu tinggal.
Sternau mengucapkan terima kasih atas penjelasan itu
dan setelah makan siang bersama Mualim ia segera pergi
untuk melihat kapal itu. Hingga kini mereka hanya
mencari di muara sungai. Sekarang mereka berjalan di
sepanjang sungai ke arah hulu. Tidak lama kemudian
mereka melihat kapal itu di tepi sungai. Kapal itu indah,
dapat berlayar cepat, panjang empat puluh meter, lebar
enam meter dan tinggi sepuluh meter, bertiang dua dan
diperlengkapi dengan tali-temali serta layar untuk
membantu mesin dengan tenaga angin, sehingga hampir
tidak ada kapal lain yang dapat menandinginya. Sebilah
papan gunanya sebagai tangga untuk naik ke kapal.
Mereka pergi ke geladak. Tingkap-tingkap yang menuju ke
ruang kapal terbuka, kamar pun tidak terkunci. Setelah
Unger yang ahli dalam bidang ini memeriksa kapal dengan
teliti, ia berpendapat bahwa kapal itu dalam keadaan
sangat baik, tiada berkekurangan.
Mereka turun dari kapal dan ketika mereka melihat villa
itu di sebuah taman dan melihat papan di pagar dengan
tulisan: “Emery Millner, Advokat”, mereka masuk. Mereka
berjalan melalui sebuah taman. Seorang pelayan
menghampiri mereka dan mengantarkan mereka ke kamar
Advokat. Mereka menerangkan tujuan mereka datang ke
situ lalu mendengar bahwa villa maupun kapal itu milik
Pangeran Nottingham.
“Milik Pangeran Nottingham?” tanya Sternau terheranheran.
“Tolong beritahukan juga nama Baginda yang
lengkap.”
“Sir Henry Dryden, Pangeran Nottingham,” kata
Advokat.
“Kalau begitu, putrinya beberapa waktu yang lalu, telah
bertamu pada Putri Roseta, kawannya, di puri Rodriganda
di Spanyol”
“Benar,” kata Advokat yang kini di pihaknya
menunjukkan rasa heran. “Anda kenal dia?”
“Bahkan sangat baik. Saya pun ketika itu berada di
Rodriganda dan saya harap Anda mengizinkan saya
menamakan saya sahabat mereka.”
Dengan gembira Advokat itu berseru, “Kalau begitu,
Andalah Dokter Sternau yang telah membedah Pangeran
tua itu.”
“Benar.”
“Kalau begitu, saya menganggap suatu kehormatan
besar menerima Anda. Sir Henry dan Lady Amy sebelum
berangkat ke Mexico singgah padaku lalu Lady itu telah
banyak berceritera tentang Anda padaku. Ia bersahabat
dengan istriku, ia telah menceriterakan segalanya tentang
Rodriganda.”
“Lalu masih ingin saya tambahkan bahwa Putri Roseta
kini sudah menjadi istriku. Ia tinggal di Jerman bersama
ibuku.”
“Agak cepat juga berlangsung!” kata Advokat. “Dari
ceritera Lady Amy kami sudah dapat menduga bahwa hal
itu akan terjadi, namun bahwa hal itu begitu cepat
berlangsung mesti ada sebab-sebabnya. Dan saya ingin
sekali mendengar sisa ceriteranya!”
“Karena Lady Amy telah mempercayakan kepada Anda,
maka tiada alasan bagi saya untuk tidak berbuat
demikian,” jawab Sternau ramah.
“Bolehkah saya pertama-tama memperkenalkan Anda
kepada istriku? Akan saya anggap sebagai kehormatan
besar bila Anda berdua selama berada di Greenock menjadi
tamu kami.”
Meskipun Sternau mengemukakan keberatan, akhirnya
ia harus menerima juga undangan itu. Istri Advokat
gembira ketika mendengar siapa tamunya itu dan
berusaha sedapat-dapatnya untuk membuat tamunya
merasa senang tinggal di rumahnya. Sternau
menceriterakan pengalamannya yang menyebabkan ia
diterima dengan segala senang hati. Ia mendengar bahwa
Lord Dryden hendak menjual kapal pesiarnya, karena ia
tidak akan dapat menggunakannya berhubung dengan
rencananya tinggal lama di Mexico. Sternau dapat membeli
kapal itu dengan harga yang agak murah.
Kemudian diadakan penyusunan awak kapal. Selain
Unger awak itu akan terdiri dari empat belas kelasi dan
beberapa orang masinis dan stokar. Kelasi memanggil
Mualim Unger “nakhoda” dan Sternau setuju dengan
panggilan sebagai pemilik kapal.
Kapal yang hingga kini bernama The Fleeds diberi nama
baru Roseta.
Advokat membantu dalam penyediaan bahan makanan,
senjata dan mesiu. Mengingat tugasnya untuk mencari
seorang perompak maka diperlukan beberapa buah
meriam. Karena itu kapal Roseta diperlengkapi dengan
enam buah meriam dan dua buah senapan yang dapat
berputar, sebuah di geladak dekat haluan dan sebuah
dekat buritan.
Kapal itu mempunyai kecepatan 18 mil per jam dan
memerlukan zat pembakar batu baru seratus kilo sejam.
Maka perlu beberapa kali singgah di pelabuhan untuk
memuat batu bara.
Tak lama kemudian kapal itu berlayar menuju ke muara
sungai Clyde ke lautan dengan tujuan yang tiada tentu.
Satu hal sudah tentu: nakhoda Landola sudah pasti ada di
pantai barat Afrika.
Mereka melewati Teluk Biskaye dengan selamat, arus
laut berbahaya yang oleh para pelaut dinamakan kuburan
kelasi, dan mereka singgah di Kepulauan Azores, Canari,
dan Tanjung Verde untuk memperoleh penyuluhan.
Namun mereka tidak dapat memperolehnya sedikit pun.
Kini Sternau menuju ke Sint Helena. Di situ ia hendak
memuat batu bara. Di situ ia berjumpa dengan jejak
pertama. Nakhoda Pendola telah singgah di situ untuk
mengisi air. Nakhoda itu telah berlayar ke arah selatan.
Maka Sternau berlayar juga ke arah selatan, menuju
Tanjung Harapan.
Kapal Roseta berada beberapa derajat di sebelah utara
Tanjung itu. Pagi-pagi sekali nakhoda Unger masuk ke
kamar Sternau untuk melaporkan bahwa di sebelah barat
terlihat sebuah kapal bertiang tiga. Di antara kelasi kapal
Roseta ada seorang Negro yang pernah bekerja pada
Landola.
Negro yang mempunyai pandangan mata yang tajam itu
sudah melihat kapal itu lebih dahulu daripada Unger yang
memakai
teropong.
“Kapal itu Pendola?” tanya Sternau.
“Masih belum dapat dipastikan,” jawab Unger.
“Tetapi melihat layarnya kapal itu kapal dagang. Akan
kusuruh mendekatinya.”
Mereka pergi ke geladak lalu memegang teropong.
Setelah mengamati beberapa menit lamanya mereka
melihat kapal bertiang tiga itu berhaluan ke selatan seperti
juga kapal Roseta. Hanya kapal Roseta berlayar lebih
cepat, karena mendapat angin baik yang membantu tenaga
uap. Sedang mereka melaju terdengar pekik Negro yang
masih berada di puncak tiang itu.
“Ada apa?” seru Sternau ke atas.
“Ada kapal lain, Tuan,” jawab Negro itu. “Di sebelah
barat. Kurang jelas nampaknya: layarnya hitam.”
“Layar hitam?” tanya Unger gugup. “Tidak ada kapal
lain yang memakainya selain kapal Nakhoda Landola!”
Ia membidikkan teropongnya ke arah tempat yang
ditunjuk oleh Negro lalu melihat sebuah kapal lain yang
menuju dengan kecepatan luar biasa ke arah kapal yang
satunya. Nampaknya kurang jelas karena layarnya yang
hitam.
“Benar, itu kapal yang kita cari,” kata Unger akhirnya
dengan rasa tegang.
“Kau tidak salah?” tanya Sternau.
“Tidak. Landola itu penjahat yang cerdik. Ia
menggunakan dua macam layar. Bila memasuki
pelabuhan, ia menggunakan layar putih, tetapi bila di
tengah laut, biasa ia menukarnya dengan yang hitam.
Pekerjaan menukar itu sebenarnya tidak mudah, tetapi ia
tidak peduli. Yang dipikirkan adalah keselamatannya.
Nampaknya ia hendak menyerang kapal dagang itu, begitu
cepat ia bergerak ke arah kapal itu.”
“Mari kita menolong mereka!” usul Sternau, “akhirnya
saya dapat menemukan Landola. Mudah-mudahan ia tidak
akan lolos lagi!”
Nakhoda menggelengkan kepalanya. “Kita tidak boleh
melupakan bahwa kapal kita itu agak kecil. Hanya dalam
keadaan darurat baru kita dapat melawan para bajak laut
itu. Kita harus berusaha menaklukkannya di atas
kapalnya. Dalam pertempuran di lautan lepas, meskipun
kita dapat mengakibatkan kerugian besar bagi mereka,
namun kita tidak dapat menaklukkannya. Harapan kita
semoga kapal dagang itu sanggup mengadakan
perlawanan. Maka keadaannya menjadi dua lawan satu.
Akan kusuruh menurunkan layar. Kita hanya memakai
tenaga uap, supaya mereka tidak cepat melihat kita.”
Segala persiapan diadakan layar yang mudah terlihat
dari jauh harus diturunkan dan senjata-senjata disiapkan.
Dengan tiada kentara kapal kecil itu melaju ke arah
pertempuran yang tidak lama lagi pasti akan terjadi.
Para perompak sementara itu sudah mendekati kapal
dagang. Bendera perompak berwarna merah dinaikkan.
Dentuman meriam merupakan tanda bagi kapal dagang
untuk memutar haluan. Kapal itu berupaya sedapatdapatnya
untuk meloloskan diri. Sekali berputar dengan
cepat membuat kapal itu lepas dari jangkauan tembak
perompak. Namun Pendola melakukan siasat yang serupa.
Si penyerang bergerak lebih laju dan segera terkejar
olehnya kapal itu.
Tembakan yang kedua menggelegar di atas laut. Sekali
ini digunakan peluru yang sesungguhnya, maka tampak
peluru itu menembusi dinding kayu dari kapal dagang,
sehingga berkeping-keping kayu berpelantingan. Di kapal
bajak laut terdengar sorak sorai yang dibalas oleh kapal
dagang dengan teriak orang yang marah. Kapal yang
diserang itu tiba-tiba menurunkan layar dan memutar
haluan, sehingga kapal perompak melewatinya. Pada saat
itu juga membubung dua gumpalan asap dari atas geladak
kapal dagang, dua tembakan terdengar serentak dengan
itu tampak di kapal perompak terjadi suatu kekacauan.
Tembakan-tembakan itu ternyata mengenai sasaran.
“Bagus!” puji Unger. “Kapal itu kapal dagang Inggris
diperlengkapi dengan dua buah meriam. Mereka
bermaksud mengadakan perlawanan. Anak buahnya
pandai juga menembak. Mari, kita serang bajak laut itu
dari jurusan lain.”
Kedua kapal itu kini berhadap-hadapan. Terjadi saling
tembak menembak. Meskipun nyata bahwa kapal
perompak itu lebih unggul, namun mereka tidak ingin
tembak menembak itu berlangsung lama. Layar yang
diturunkan itu kini dikembangkan lagi untuk dapat
menampung lebih banyak angin lalu mereka berdampingan
dengan kapal dagang itu.
“Ia ingin menyeret kapal itu!” seru Sternau.
“Benar,” jawab Unger. “Tetapi lihatlah, orang Inggris
itupun tidak bodoh. Ia pun mengembangkan layarnya. Ia
menghadapkan haluannya kepada lawannya, seperti
seekor rubah yang mengunjukkan giginya terhadap anjing.
Ayo maju cepat! Dalam lima menit kita ada di situ untuk
turut menentukan nasib.”
Kapal Roseta itu hingga kini tidak mengeluarkan asap,
maka tidak tampak oleh kedua kapal itu. Kini tampak
membubung keluar dari cerobong asapnya segumpal asap.
Serentak terdengar pekik gembira dari kapal Inggris. Bajak
laut pun melihat lawannya yang baru itu namun agak
meremehkan lawannya yang kecil itu. Ia meneruskan
penyerangannya.
Kapal Roseta meluncur di sisi kapal Inggris.
Nakhodanya yang berdiri di atas geladak berseru ke
bawah, “Ahoi! Kawan
atau bukan?”
“Kawan,” jawab Sternau. “Jangan menyerah!”
“Tentu tidak!” seru nakhoda kapal Inggris.
Untuk mempertegas perkataannya nakhoda itu memberi
aba-aba untuk menyerang lagi. Hiruk Pikuk serta sumpah
serapah yang terdengar dari kapal bajak laut menandakan
bahwa tembakan itu tepat mengena. Tiba-tiba terdengar
suara orang memerintah dengan berang, “Rapatkan kapal.
Bersiaplah untuk menyeret kapal itu!”
“Itulah dia, Landola!” kata Unger. “Namun kita tidak
akan membiarkan dia menyeret kapal.”
Kapal pesiar itu berpaling haluan ke arah buritan kapal
bajak laut, begitu dekatnya sehingga meriam-meriam kapal
perompak itu tidak dapat mengenainya.
“Bagus sekali!” puji Unger. “Hantam dia!”
Sedangkan kedua meriamnya berusaha membocorkan
kapal musuh dengan menembakinya di bawah garis batas
air, maka senapan-senapannya yang dapat berputar
menembaki geladak kapal musuh. Baru sekarang
perompak sadar bahwa sang Kancil itu harus mendapat
perhatiannya juga. Tetapi meriam-meriamnya tidak dapat
mengenainya. Untuk menangkis peluru senapan pun
Unger sudah ada persiapannya, yaitu dengan
menggantungkan tirai-tirai di sepanjang lambung.
Kapal perompak itu kini diapit oleh kapal Inggris
dengan kapal pesiar. Keduanya memberi perlawanan
dengan gigihnya. Akhirnya Landola insaf bahwa ia berada
dalam keadaan gawat. Ia tidak dapat lebih mendekati kapal
Inggris lagi sebelum dapat mengibaskan kapal pesiar.
“Seret tempurung kelapa terkutuk itu!” teriak Landola.
Dalam sekejap mata dua buah sampan diturunkan ke
air dan dimuati orang untuk dapat menyerang kapal
pesiar.
“Bagus!” kata Unger, “mereka langsung akan jungkir
balik.”
Lalu ia memberi aba-aba untuk mundur, supaya dapat
menembak lebih baik. Kemudian ia sendiri melayani
senapannya. Mula-mula sampan yang terbesar mendekati
mereka. Unger membidik dengan cermat lalu menembak.
Peluru masuk ke dalam haluan, menembusi sampan lalu
keluar lagi dari belakang sampan. Beberapa orang
pendayung terluka, kemudinya telah hancur. Sampan
kemasukan air lalu tenggelam. Awak kapalnya terjun ke
dalam laut. Sampan kedua bergegas menyelamatkan
mereka. Namun sampan ini pun diserang, menjadi bocor,
lalu tenggelam.
Kini Landola makin sadar bahwa kapal kecil ini lebih
berbahaya daripada kapal Inggris yang besar itu. Ia
gemetar karena marahnya. Mereka melihat nakhoda itu
berada jauh di atas sedang melayani kemudi dan suaranya
terdengar dengan jelas.
“Lemparkan granat ke bawah,” bunyi aba-abanya. “Kita
akan meledakkan kapal kerdil itu.”
Pada saat itu Sternau menampakkan diri dari balik tirai
pelindung lalu berseru ke atas, “Terimalah salam dari
Cortejo di Rodriganda, Henrico Landola!”
Perampok itu menjadi pucat. Ia sadar kedoknya sudah
terbuka lalu membentak, “Lempar granat! Ayo cepat!
Mampuskan bedebah ini!”
Namun Unger menghidupkan mesin dan menghindar,
sehingga tidak terjangkau oleh granat. Tetapi kini mereka
diancam oleh meriam-meriam kapal perompak. Unger
mengarahkan kapal ke arah kemudi musuh dan berusaha
menghancurkannya dengan tembakan. Bila itu berhasil,
maka bajak laut akan dapat dipatahkan perlawanannya.
Henrico Landola dapat menduga siasat itu lalu
mengembangkan layar dan berusaha menenggelamkan
kapal pesiar itu, namun kapal pesiar itu mengelak dengan
lincahnya.
Sementara itu kapal Inggris pun tiada tinggal diam.
Meskipun kapal itu menderita kerusakan parah, tetapi
peluru-pelurunya telah mengakibatkan kerusakan pada
kapal lawannya. Bajak laut kini harus membagi-bagi
perhatiannya kepada dua tempat, sehingga kedudukannya
menjadi lemah. Lenyaplah kemungkinan baginya
mengalahkan kapal dagang itu dan ketika kapal pesiar itu
tetap menembaki kemudinya ia menyadari bahwa
lawannya berusaha untuk mematahkan perlawanannya.
Maka ia mengembangkan semua layarnya, melepaskan
tembakan sekali lagi ke arah kapal Inggris, lalu berkat
dorongan angin, cepat-cepat berlayar menghindar.
Di atas geladak kapal Inggris terdengar sorak sorai
orang. Ketika kapal pesiar itu mendekati kapal Inggris
untuk merapat, kapal itu diterima dengan sorak gembira.
Sternau dan Unger menaiki kapal yang diselamatkan
itu.
“Anda datang tepat waktunya untuk menyelamatkan
kami,” kata nakhodanya sambil mengulurkan tangannya.
“Kapal pesiar Anda itu kecil-kecil cabai rawit!”
“Anda sendiri pun tidak kurang perkasanya,” jawab
Sternau.
“Ah, saya hanya melakukan apa yang harus dikerjakan!
Masih adakah kemungkinan, bajak laut itu menyerang
kami lagi?”
“Saya kira tidak ada. Ia tahu bila ia berniat demikian ia
akan menghadapi kita berdua.”
“Maksud Anda, Anda hendak mendampingi kami terus?”
“Bukan Anda, melainkan bajak laut itu. Sejak beberapa
pekan yang lalu saya mencari laknat itu.”
“Wah,” kata nakhoda terheran-heran. “Mungkinkah
Anda harus membuat perhitungan dengannya?”
Benarlah. Maukah Anda menolong saya?”
“Dengan suka hati.”
“Tolong buatkan laporan bahwa Anda telah bertempur
melawan kapal Lion dengan nakhoda Grandeprise, dan
bahwa nama itu nama palsu. Kapal itu sebenarnya
bernama La Pendola dan nakhodanya seorang Spanyol
bernama Henrico Landola. Dengan demikian ia dapat
ditangkap. Saya berpura-pura mengikuti Anda berlayar ke
Tanjung Harapan. Dengan demikian ia akan merasa aman
dan tidak akan menyangka bahwa saya mengikutinya.”
“Tetapi ada perhitungan apa sebenarnya Anda
dengannya?”
Sternau menceritakan kepada nakhoda sebanyak yang
perlu diketahui lalu kembali lagi ke kapal pesiarnya, yang
berlayar ke arah selatan, sedangkan kaum perompak
berlayar ke arah barat daya. Setelah perompak itu
sedemikian menjauh sehingga tidak teramati dengan
teropong terbaik pun, maka Unger mengambil haluan yang
sama.
Landola telah mendapatkan pelajaran yang sangat
pahit. Ia sadar bahwa ia tidak dapat mengalahkan kapal
Inggris maupun kapal pesiar, maka ia melarikan diri.
“Salam dari Rodriganda” itu merupakan teka-teki
baginya. Bahwa orang yang menyampaikan salam itu
seorang musuh, itu sudah pasti, tetapi siapakah musuh
itu, tidak dapat diterkanya. Setidak-tidaknya ia tahu
bahwa kapal pesiar itu menuju Tanjung Harapan, maka ia
harus mengambil tindakan seperlunya. Ia pun harus ke
Tanjung Harapan untuk memperoleh penyuluhan tentang
hal-hal yang beberapa hari yang lalu masih belum dapat
diketahui, namun ia tidak berani menampakkan diri di
situ, karena ia tahu bahwa kapal pesiar itu tentu akan
lebih dahulu tiba. Maka ia tetap berlayar ke arah barat
daya untuk menghindari kapal-kapal lain, kemudian
mengubah haluan ke selatan. Dekat Tanjung Harapan ia
hendak membelok ke arah timur. Pada ketika itu hari
sudah malam, maka ia dapat mendekati pantai tanpa
menarik perhatian. Menjelang pagi ia mencari sebuah teluk
yang sunyi lalu berlabuh tanpa diketahui orang. Kemudian
ia menulis surat kepada orang kepercayaannya di Tanjung
Harapan yang mendapat tugas menyimpan surat-surat
yang masuk. Surat itu dipercayakan kepada dua orang
menggunakan sampan berlayar ke Tanjung Harapan.
Mereka tiba di kota tanpa diketahui orang. Salah seorang
di antara mereka tinggal di sampan sedangkan yang
lainnya pergi menemui orang kepercayaan itu yang
membaca surat itu.
“Untung kalian mendapat tempat berlabuh yang
tersembunyi,” kata orang itu setelah membaca surat.
“Semalam tiba sebuah kapal pesiar yang membawa laporan
bahwa nakhoda Landola itu sama orangnya dengan
perompak Grandeprise.”
“Masih adakah ia di sini?”
“Masih. Ia sedang memuat batu bara.”
“Siapakah namanya?”
“Sternau. Dan nakhoda kapal pesiar itu bernama Unger.
Gubernur telah memanggil semua perwakilan dan
melarang mereka berhubungan dengan Landola. Itu
berlaku juga untuk surat-surat yang tertulis. Semua surat
yang dialamatkan kepadanya harus segera diserahkan
kepada pemerintah. Maka aku harus berhati-hati. Surat
yang kuterima kemarin akan kuserahkan kepadamu tetapi
untuk sementara aku tidak berani mengambil risiko.”
Orang kepercayaan itu menyerahkan kepada kelasi itu
sebuah sampul dalam keadaan terbuka; isinya ditulis
dengan kode.
Kelasi yang mendapat tugas dari Landola untuk
mengumpulkan keterangan tentang kapal pesiar itu, pergi
ke bagian pelabuhan tempat kapal itu sedang berlabuh. Ia
masih belum sampai di tempat tujuannya ketika ia
berjumpa dengan seseorang. Orang itu terdiam sejenak
sambil berpikir, demi dilihatnya kelasi itu. Ia berpaling lalu
menahan kelasi itu. Orang tak dikenal itu berpakaian
sebagai seorang pelaut yang sejahtera. Ia menegur, “Hai
kawan baik, kau bekerja di kapal mana?”
“Di kapal Amerika itu,” kata perompak itu sambil
menunjuk ke arah kapal Amerika yang baru dilaluinya
ketika ia masuk ke pelabuhan.
“O, begitu…”, jawab orang itu kurang percaya. “Kukira
pernah melihatmu di kapal lain. Kau kenal Funchal?”
“Ya.”
“Bilamana kau mengenalnya?”
“Sudah bertahun-tahun yang lalu. Ketika itu aku
bekerja di sebuah kapal Perancis.”
“Kalau begitu, tentu kau kenal juga ibu Dry yang tinggi
kurus tubuhnya itu.”
“Tidak. Aku tak dapat mengingatnya kembali. Sudah
lampau begitu lamanya.”
“Wah, kukira baru-baru ini aku melihatmu di situ.
Tentunya kau pernah mendengar tentang “Nona Mietje”?”
“Belum pernah.”
“Mungkin aku salah. Kukira baru-baru ini kau bekerja
di kapal Pendola, nakhodanya bernama Landola.”
“Sekali-kali tidak kukenal orang itu. Lagi pula aku tidak
ada waktu. Permisi!”
Perompak itu melanjutkan perjalanannya, namun pada
kelokan yang berikutnya ia berhenti dan mengintip ke
belakang. Orang tak dikenal itu mengikutinya. Perompak
itu menyadari bahwa sangatlah berbahaya baginya tinggal
lama-lama di situ, maka ia bergegas kembali ke
sampannya dan meninggalkan kota.
Orang yang tidak dikenal yang menegur perompak itu
tak lain tak bukan nakhoda Unger yang sedang pergi
menemui kepala pelabuhan untuk mengurus suratsuratnya,
karena kapal Roseta sudah selesai memuat batu
bara dan bersiap-siap hendak bertolak lagi. Unger masih
dapat mengingat dengan baik muka orang itu. Ia merasa
curiga. Ia mengikuti orang itu. Setelah orang itu
meninggalkan pelabuhan, Unger kembali lagi ke kapal
untuk menjumpai Sternau.
“Dokter, Anda lihat sampan itu?” tanyanya. “Muatannya
dua orang, yang seorang adalah kelasi kapal Pendola. Ia
mengelabui mata saya dengan mengatakan bahwa ia
bekerja di kapal Amerika. Ia berbohong, sebab sampannya
sudah nyata bukan buatan Amerika. Mungkin itu
merupakan petunjuk ke arah yang kita cari. Baik kita
turunkan sebuah sampan yang akan dimuati dua orang
untuk memata-matai mereka. Sebenarnya saya sendiri
ingin ikut, tetapi saya harus ke kantor pelabuhan.”
Sternau melaksanakan nasihat Unger lalu Unger pergi
ke darat. Ia segera melihat bahwa sampan itu tidak
berlabuh dekat kapal Amerika melainkan berlayar terus.
Sternau menyuruh siapkan sebuah perahu dimuati empat
orang pendayung berikut seorang jurumudi untuk
memata-matai sampan perompak. Meskipun keadaan laut
belum boleh disebut buruk, namun ombak-ombaknya
demikian tinggi, sehingga merupakan perlindungan baik
bagi perahu yang tidak berlayar itu, sedangkan layar putih
dari sampan nampak berkilat-kilat dengan jelasnya dari
kejauhan.
Kedua orang bajak laut itu duduk dengan santai,
mereka tidak perlu mendayung. Mereka mendapat angin
buritan sehingga berlayar dengan lajunya. Segera mereka
sampai dekat kapal Pendola. Nakhoda Landola mendengar
laporan mereka dengan tenang lalu masuk ke kamarnya
untuk memecahkan berita kode. Bunyi berita itu: “Dokter
Sternau yang kita penjarakan di Barcelona, mengikuti
Kalian. Ia tahu segalanya, Cortejo.”
Ahli hukum itu telah menyuruh mata-matanya di
Rheinswalden mencari informasi lalu menganggap perlu
menyampaikan informasi itu kepada nakhoda dengan
segera. Khabar ini dikirimkan ke berbagai tempat yang
mungkin disinggahi Landola. Kode itu telah disusun
mereka sendiri. Sudah beberapa kali mereka menggunakan
kode demikian. Nakhoda Landola kembali lagi ke geladak
untuk memberi perintah kepada perwira pertamanya.
“Kita membongkar sauh,” katanya.
“Sekarang juga?” tanya orang itu terheran-heran.
“Bukankah berbahaya untuk menampakkan diri pada
siang hari?”
“ Benar. Namun lebih berbahaya lagi untuk tinggal tetap
di sini. Kita segera pergi ke Hindia Barat.”
Perwira yang tahu bahwa maksudnya mula-mula
hendak berlayar ke Lautan Hindia, merasa heran. Landola
menerangkan, “Kita sedang dimata-matai, maka kita harus
mengelabui mata mereka. Orang sudah mengetahui juga
bahwa kapal Pendola itu sama dengan kapal Lion. Maka
kita harus mengubah bentuk kapal serta tali temalinya lalu
kita harus memperoleh surat-surat kapal yang baru. Maka
cepatlah bertolak!”
Ketika kapal itu keluar dari teluk, perahu Sternau yang
berjarak kurang dari setengah mil itu, berada dekat tepi.
Kelima orang awak kapal mengamati Pendola selama masih
belum hilang dari pandangannya. Kemudian mereka
berlayar kembali ke Tanjung Harapan. Mereka mendapat
angin haluan, sehingga baru siang tiba di tempat kapal
pesiar.
Kapal Roseta menanti dengan mesin dalam keadaan
berjalan. Setelah Sternau dan Unger mendengar laporan
dan mengetahui bahwa Pendola sudah bertolak, kata
Unger, “Ia menyimpang, ia tidak berlayar mengitari
Tanjung.”
“Kalau begitu kemana gerangan tujuannya?”
“Itu sulit diterka. Kita harus mengikutinya. Saya
mempunyai dugaan, mungkin benar, mungkin juga tidak.”
Unger berjalan hilir mudik di geladak. Kemudian ia
melanjutkan,”Landola tahu bahwa kedoknya sudah
terbuka. Demi keselamatan, ia harus mengubah bentuk
maupun nama kapal. Di mana ia dapat melakukan
pekerjaan itu? Tentu bukan di galangan umum. Ia harus
mencari tempat tersembunyi dan tempat semacam itu
banyak terdapat di Hindia Barat, di balik Kepulauan
Antila, di pulau kecil-kecil yang beratus-ratus banyaknya
bertebaran di situ. Saya rasa, dugaan saya itu tidak jauh
menyimpang dari kebenaran.”
“Kalau begitu kemanakah gerangan tujuannya?”
“Itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Sudah tentu ia
akan menjauhi segala rute air yang ramai. Dengan
demikian tidaklah mudah mencari dia. Namun arus laut
dekat khatulistiwa harus dilaluinya dan bila kita
mendahuluinya ke arus itu, kita tentu akan
menjumpainya.”
“Saya kurang mengerti.”
“Karena Anda bukanlah pelaut, Dokter. Namun bagi
kami para pelaut terdapat jalan-jalan di laut seperti juga
jalan-jalan di darat bagi seorang penunggang kuda.
Percayakan saja kepada saya … Landola tidak akan dapat
lolos. Untuk menenteramkan hati Anda mula-mula saya
akan menempuh arah barat, kemudian berlayar bolakbalik
antara utara dan selatan, maka di situ pasti kita
akan menjumpainya. Saat itu kita akan dapat memastikan
juga tujuan perompak itu ke mana.”
“Langsung kita akan menyerangnya.”
“Jangan! Kita hanya dapat menimbulkan sedikit
kerusakan padanya, sedangkan ia dapat menghancurkan
kita. Ia memiliki perahu-perahu penyelamat, seandainya
kita dapat berhasil membocorkan kapalnya dengan
tembakan. Tetapi bila nasib kita buruk, terkena oleh
tembakan meriamnya, maka tamatlah sudah riwayat kita.
Perahu penyelamat kita yang hanya dua buah itu bahkan
tidak layak untuk dimuati separuh awak kapal. Lagi pula
perahu-perahu itu hanya diperhitungkan untuk
menempuh jarak yang dekat, bukan untuk menempuh
samudera.”
Sternau harus membenarkan pelaut yang
berpengalaman itu. Tiada lama lagi kapal Roseta
meninggalkan pelabuhan Tanjung Harapan dan
menempuh lautan lepas.
Empat belas hari kemudian di suatu tempat di ibu kota
Mexico sedang berbaring seorang gadis di atas tikar
ayunan. Gadis itu memegang dua pucuk surat dalam
tangannya. Surat yang satu sudah dibacanya dan yang lain
sedang dibacanya, berbunyi:
Greenock, 28-1-1849 “Lady Amy Dryden, Mexico City
Lady Amy yang tercinta,
Anda telah meninggalkan Rodriganda dalam keadaan
yang diliputi keganjilan dan karena saya yakin bahwa
Anda ingin mendengarkan kelanjutan dari peristiwaperistiwa
itu, saya memberanikan diri untuk bertindak
sebagai pembawa berita Anda.
Dari isi surat-surat lampiran, Anda dapat memaklumi
bahwa saya telah berusaha untuk menceriterakan segala
peristiwa hingga pada hari ini selengkap-lengkapnya
kepada Anda dan dari baris-baris terakhir Anda dapat
mengetahui bahwa pada saat ini saya berada di salah satu
daerah milik Anda, kini sebagai tamu Advokat Millner.
Esok hari saya bermaksud pergi dan insya Allah saya
dapat menemukan jejak yang akan membawa saya kepada
Tuan Lautreville yang berada di kapal Pendola sebagai
orang tahanan. Saya yakin Roseta pun telah menulis surat
kepada Anda yang mudah-mudahan akan mendapat
balasan yang mesra dari Anda pula.
Bila usaha saya itu dikaruniai dengan hasil, maka hasil
yang sekecilnya pun akan langsung Anda dengar dari :
sahabat Anda Karl Sternau
Itu surat pengantarnya dan kini ia mulai membaca
surat-surat lampirannya. Dalam surat-surat itu ia
membaca tentang segala peristiwa yang telah terjadi sejak
keberangkatannya dari Rodriganda. Ia membaca juga
bahwa sahabat wanitanya telah menikah dengan Sternau.
Berita itu menimbulkan rasa sedih pada dirinya, karena
peristiwa itu disangkutkannya pada rahasia menghilang–
nya kekasihnya. Acap kali ia teringat padanya … dan kini
ia harus mendengar bahwa kekasihnya telah diculik,
ditahan … dan dibawa mengembara di atas kapal …
mengelilingi dunia … mengarungi lautan luas! Mengapa?
Apa kesalahannya? Mengapa ia sampai dimusuhi orangorang
sekejam itu? Dan Sternau, pemuda yang kuat, gagah
perkasa itu. Akan berhasilkah ia menyelamatkan
kekasihnya? Amy yang sedang melamun itu tiada berasa
air matanya menitik silih berganti dari matanya yang
cantik itu.
Suasana sedih itu tiba-tiba terganggu oleh seorang
pembantu rumah tangga yang datang untuk
memberitahukan kedatangan senorita Josefa Cortejo.
Cepat-cepat ia menghapus air matanya dan sebelum ia
sempat menyimpan surat-suratnya, tamunya sudah
masuk.
Kedua wanita itu berkenalan pada kesempatan ketika di
adakan tertullia, yang berarti di Mexico suatu pertemuan
ramah tamah antara beberapa orang pria dan wanita. Pada
kesempatan itu Josefa Cortejo diperkenalkan padanya dan
sejak itu Josefa tidak pernah lepas dari sisinya.
Amy Dryden serta merta merasa antipati terhadap
Josefa dengan matanya yang seperti burung hantu itu.
Maka gadis Inggris itu tidaklah ramah terhadapnya.
Namun pada kesempatan-kesempatan seperti ini senorita
Josefa terus menerus melekat pada dirinya. Kemarin
sampai-sampai ia berani meminta izin kepada Lady Amy
untuk mengunjunginya. Amy tidak dapat menolak tanpa
menjadi kasar, sehingga mengakibatkan Josefa kini masuk
ke dalam.
Ketika Lady Amy melihat tamunya, ia bangkit berdiri
sambil memperlihatkan senyum secara sopan tetapi tidak
ramah. Josefa itu baginya terlalu suka menonjolkan
keinginannya untuk menjadi akrab dengannya, meskipun
tak pernah Lady Amy menerangkan kepadanya tentang
pangkat dan keturunannya.
“Maafkan saya telah mengganggu, Lady Dryden.’ kata
Josefa sambil menunduk sedikit. Tubuhnya yang kaku itu
membuat gerakan ini nampak canggung.
“Suka hati kami menerima Anda,” bunyi jawabnya
secara dingin.
Setelah duduk di atas kursi, Josefa melanjutkan,
“Sebenarnya saya tidak akan secepat ini dapat
memenuhi undangan Anda kemarin, seandainya ayah saya
tidak datang berkunjung. Saat ini ayah menjadi tamu Lord
Dryden.”
“Masya Allah! Ayah Anda mengunjungi ayahku?” tanya
Amy terheran-heran.
“Benar. Untuk membicarakan suatu perkara yang ada
sangkut pautnya dengan kedudukan ayah Anda sebagai
wakil negara Inggris. Saya ikut ayah karena saya
bergembira dapat berkenalan dengan Anda, seorang wanita
dari kalangan tinggi. Di Mexico jarang kita dapati orang
yang layak dijadikan kawan.”
Amy memandang dengan rasa heran kepada tamunya
yang tidak nampak mempunyai keturunan yang tinggi itu
lalu berkata, “Saya kira di Mexico pun terdapat banyak
keluarga kalangan tinggi.”
“Mungkin benar pendapat Anda,” jawab Josefa sambil
menarik hidung. Mungkin dari kalangan tinggi namun
tidak megah. Sebagai tunangan salah seorang Tuan tanah
yang kaya raya di Mexico, kita tidak dapat lebih berhatihati
dalam memilih kawan.”
Pembantu datang menghidangkan coklat, sesuai dengan
kebiasaan yang berlaku di Mexico. Sesudah pembantu itu
pergi, Amy melanjutkan pertanyaannya, “Anda sudah
bertunangan?”
“Masih belum resmi. Itu masih perlu dirahasiakan
secara diplomatis.”
“Jadi tunangan Anda itu seorang diplomat?”
“Yah, sebenarnya juga tidak,” jawab Josefa agak
kemalu-maluan, “namun ia boleh memakai gelar itu; pria
pilihanku itu mempunyai harapan menjadi orang besar
kelak.”
“Kalau begitu saya harus mengucapkan selamat kepada
Anda.”
“Terima kasih Lady Dryden. Pernahkah Anda
mendengar tentang pangeran Rodriganda?”
“Tentang Pangeran Rodriganda?” tanya Amy terheranheran.
“Nama itu kiranya Anda sudah kenal juga.”
Amy yang cepat dapat menguasai dirinya, menjawab,
“Saya mempunyai seorang kawan wanita yang bernama
demikian juga.”
“Ia berbangsa Spanyol?”
“Benar. Roseta de Rodriganda y Sevilla. Ayahnya adalah
Pangeran Manuel de Rodriganda.”
Josefa memicingkan matanya seperti seekor binatang
buas layaknya lalu bertanya, “Di mana Anda telah
berkenalan dengan Roseta itu?”
“Di Madrid. Kemudian saya mengunjunginya di
Rodriganda.”
“Kapan?”
Kata “kapan” itu terdengar begitu kasar, sehingga Amy
merasa tersinggung lalu tanpa disengaja ia tidak menyebut
tanggalnya yang tepat. Ia hanya berkata, “Beberapa waktu
sesudah kami berkenalan.”
“Tetapi kapan tepatnya, my Lady?”
Pertanyaan itu diajukan dengan nada garang. Meskipun
Amy tidak berbakat menanggapi hal-hal secara diplomatis,
namun ia telah membaca surat Sternau yang
mengungkapkan segala kejadian, maka ia agak waspada.
Ia menjawab, tidak sesuai dengan kebenaran, “Kira-kira
setahun yang lalu.”
“Ah, masa! Bukankah lebih dahulu?” desak Josefa.
Muka Amy menjadi merah padam, bukan disebabkan
oleh rasa malu karena menceriterakan kebohongan,
melainkan karena nada kurang ajar yang digunakan oleh
tamunya itu.
“Dari mana Anda mendapat kesimpulan itu?” tanya Amy
pendek.
“Karena Anda sudah mengatakan lebih dahulu bahwa
ayah Roseta itu Pangeran Manuel.”
“Memang setahun yang lalu Pangeran pun masih ada di
situ. Baru kemudian saya mendengar bahwa ia hilang.” Ia
berlaku bijaksana untuk tidak menyinggung-nyinggung
berita tentang penyelamatan don Manuel.
“Kapan Anda mendengar?”
“Hari ini.”
“Hari ini? Siapa yang membawa berita itu?”
“Seorang kawan.”
“Dan siapakah kawan itu?”
Itu sudah keterlaluan bagi Amy. Ia bangkit berdiri lalu
berkata dengan tinggi hati, “Senorita, apakah sesuai
dengan tata krama untuk eh … menanyai orang secara
demikian, seperti seorang polisi terhadap tawanannya,
tentang kehidupan pribadi seseorang?
Namun gadis dengan mata burung hantu itu tetap
tenang saja lalu menjawab, “Itu karena saya menaruh
perhatian.”
“Saya pun menaruh perhatian, bila saya bertanya
siapakah Anda sebenarnya?”
“Bukankah saya sudah memperkenalkan diri kepada
Anda, my Lady?”
“Ya, hanya sebagai Senorita Josefa, tanpa keterangan
lebih lanjut.”
“Nama keluargaku Cortejo.”
“Ya, itu pun sudah saya dengar. Tetapi siapakah Senor
Cortejo itu?”
“Ia pernah menjabat sekretaris Pangeran Fernando dan
kini menduduki jabatan sama pada Pangeran Alfonso.”
“Sekretaris! Jadi hanya seorang pelayan kantor!” jawab
Amy sambil mundur selangkah. “Sanggupkah Anda
menyadari keagungan seorang Lord bangsa Inggris?”
“Sanggup benar.”
Mata Amy yang cantik itu berapi-api. Ia melangkah ke
arah tamunya lalu bertanya dengan berang, “Dan Anda
pun tahu juga bahwa ayahku itu seorang Lord?”
“Tahu, Lady Amy.”
“Dan Anda, sebagai seorang pelayan kantor, begitu
kurang ajar memberanikan diri berkenalan denganku serta
mengunjungiku? Sebenarnya dapat juga saya izinkan,
seorang gadis yang hina pun, asal saya menyukainya.
Tetapi Anda tiada tahu diri, berani menanyaiku sedemikian
rupa seperti seorang polisi Spanyol saja. Anda … seorang
gelandangan. Anda kira Anda siapa? Sekarang lekas enyah
dari rumahku!”
Josefa menjadi pucat pasi. Ia mengambil mantel yang
telah ditanggalkannya lalu bertanya, “Bersungguhsungguhkah
Anda, my Lady?”
“Memang saya bersungguh-sungguh. Apakah ayah Anda
masih keluarga Gasparino Cortejo di Rodriganda?”
“Benar, mereka kakak beradik.”
“Sekarang saya baru mengerti mengapa saya merasa
benci kepada Anda. Saya selalu jijik melihat Anda. Paman
Anda yang bernama Gasparino itu seorang penjahat yang
harus mendapat ganjarannya. Keahliannya membuat para
pangeran dan putri sakit jiwa; ia suka menculik orang, ia e
… sudahlah enyah saja dari sini! Saya tidak mau melihat
Anda lagi!”
Amy berpaling lalu meninggalkan ruangan,
meninggalkan Josefa seorang diri, yang karena marahnya
berdiri seolah-olah terpaku. Akhirnya ia dapat mengatasi
keadaan kakunya. Ia mengacungkan tinjunya ke arah
pintu yang baru saja dilalui oleh Amy lalu berkata dengan
menggertakkan gigi, “Kau akan menyesali perbuatanmu
itu, wanita sombong, tak lama lagi!”
Setelah Josefa pergi, Amy kembali lagi. Percakapan
dengan wanita Mexico itu membuat hatinya panas, namun
akhirnya ketenangannya pulih kembali ketika ia berayunayun
di atas tikar ayunan. Pikirannya melayang-layang ke
kawannya Roseta, yang telah menikah dengan bahagia.
Tidak lama kemudian kembali pelayan tadi masuk
untuk melaporkan kedatangan orang. Orang itu Lord
Dryden, yang telah membiasakan diri harus melapor lebih
dahulu, meskipun putrinya sendiri yang hendak
dikunjunginya. Gadis itu menghampirinya dan
menciumnya.
“Aku gembira sekali, ayah datang ,” katanya.
“Kau mengharapkan kedatanganku?” tanya ayahnya.
“Tidak, tetapi kedatangan ayah menghibur hatiku. Baru
saja aku dibuat marah sekali.”
“Kau?” tanya ayahnya sambil tertawa. “Siapa yang
menyebabkan kemarahan itu?”
“Josefa Cortejo.”
“Ayahnya datang padaku. Katanya, putrinya datang
padamu. Apakah ia kawanmu?”
“Bukan. Itu memang kehendaknya, tetapi aku benci
kepadanya, anak eh … pelayan kantor itu.”
Lord Dryden pura-pura terkejut. “Mengapa tiba-tiba
putri kesayanganku itu menjadi begitu angkuh?”
“Angkuh? Itu bukan sifatku, kebencianku terhadapnya
membuat aku seperti ini. Sejak beberapa waktu yang lalu
ia selalu membayangiku, akhirnya ia sampai berani
berkunjung padaku. Ia begitu kurangajar untuk menanyai
aku tentang perkara-perkara yang paling bersifat pribadi.
Akhirnya aku mengusirnya.”
“Tepat sama benar sikap yang kuambil terhadap
ayahnya,” kata Lord Dryden.
“Ayah telah mengusirnya juga? Mengapa?”
“Cortejo hendak menipuku. Ia telah mendengar tentang
rencanaku hendak menetap di Mexico. Kemudian ia datang
menawarkan sebidang tanah luas serta bangunanbangunannya,
suatu hacienda di sebelah utara yang
bernama del Erina. Penyewanya bernama Pedro Arbellez.
Tadi ia kembali untuk mendengar putusanku.”
“Langsung ayah mengusirnya?”
“Benar, karena sementara itu aku mendengar bahwa
hacienda itu sesungguhnya milik Arbellez. Cortejo sekalikali
tidak berhak menjual tanah itu atas perintah Pangeran
Rodriganda.”
“Dahulu tanah itu milik Pangeran Rodriganda?”
“Memang. Tanah itu sesuai dengan isi surat wasiat
sudah dihibahkan kepada Arbellez. Tetapi aku datang
untuk keperluan lain. Kau kan suka sekali bepergian?”
Amy memandang ayahnya. “Benar, bukankah Anda
sudah tahu.”
“Kau telah berkali-kali mengadakan perjalanan seorang
diri saja. Biasanya aku tidak perlu menaruh khawatir,
namun kali ini … aku bimbang juga …”
“Jadi ayah menghendaki aku mengadakan perjalanan?”
“Benar. Aku harus menyampaikan surat-surat penting
kepada gubernur Jamaica. Demikian pentingnya suratsurat
itu, sehingga aku tidak dapat mempercayakannya
kepada orang lain. Di pelabuhan Vera Cruz berlabuh
sebuah kapal perang yang dapat membawanya, tetapi aku
tidak dapat mempercayakannya kepada nakhodanya,
karena ia bukanlah seorang diplomat. Tak ada jalan lain
bagiku daripada mengutusmu. Sebenarnya seorang wanita
di larang berada dalam kapal perang, namun bila aku yang
menghendaki harus dapat diadakan perkecualian.”
Amy bangkit melompat. “Ayah, aku terima tugas itu!
Serahkan saja padaku!”
“Baik!” kata ayahnya. “Aku percaya padamu, tetapi
sebenarnya aku tidak mau mengganggumu. Aku gembira
mengetahui kamu berjiwa sebagai seorang Inggris sejati
yang tidak ragu-ragu memegang tugas berbahaya seperti
itu. Bilamana dapat kau pergi, perkara itu penting.”
“Esok pagi.”
“Maka mulailah berkemas. Aku ikut kamu sampai Vera
Cruz untuk mengantarkanmu ke kapal. Gubernur Jamaica
itu seorang kawan baikku. Akan kusiapkan sepucuk surat
pengantar bagimu. Ia akan menjemputmu.”
Keesokan harinya datang dua puluh orang penunggang
kuda yang akan mendampingi kereta yang membawa
Dryden bersama putrinya ke Vera Cruz. Komandan kapal
perang itu menerima gadis itu dengan suka hati. Ia
menyiapkan kamarnya sendiri untuk ditempati oleh Amy.
Setelah ayah dengan putri berpamitan dan surat-surat
penting diserahkan ke dalam tangan gadis itu, maka kapal
itu bertolak.
Cuaca cerah dan pelayaran terasa lancar serta
menyenangkan. Pada siang hari Amy duduk dilindungi
oleh sebuah layar terhadap teriknya matahari. Pada malam
hari ia menikmati keindahan pemandangan laut Hindia
Barat, yang terkenal karena bahayanya tetapi juga karena
keindahannya.
Air laut memantulkan cahaya dengan sangat indahnya.
Pengunjung seolah-olah pandangannya menembusi kristal
cair sampai ke dasar laut. Tampak dengan indahnya
bayangan dari tumbuh-tumbuhan serta hewan. Di muka
haluan kapal buih berpercikan ke atas seolah-olah mutiara
yang gemerlapan, sedangkan di belakang buritan terjadi
alur berbuih yang tiap saat berubah bentuk.
Pelayaran melalui teluk Campeche ke terusan Yucatan
untuk kemudian mengarungi laut Karabi. Teluk Honduras
terdapat di sebelah kanan mereka serta pulau Kuba di
sebelah kiri. Kepulauan Grand dan Little Cayman mereka
lalui dan kemudian mereka sampai dekat Jamaica. Untuk
mencapai ibu kota Kingston kita harus melalui dangkalan
Pedro yang berbahaya karena dasarnya yang berbatu
karang itu. Beratus-ratus kapal sudah dibuat kandas di
daerah perairan itu.
Pada suatu pagi, matahari masih rendah, namun bila
kita memandang kepada permukaan air, mata kita akan
terasa sakit. Hal demikian biasa kita dapati pada daerahdaerah
berhawa panas seperti ini.
Tiba-tiba seorang jaga yang sedang bertugas memberi
tahu bahwa di kejauhan tampak sebuah layar kapal.
Ketika kapal itu mendekat ternyata bahwa kapal itu
merupakan kapal pesiar kecil yang di samping tenaga uap
memasang juga layar supaya dapat bergerak lebih cepat
lagi.
Amy duduk di bawah layar tendanya dan nakhoda
berdiri di sisinya.
“Kapal kecil tetapi baik,” katanya. “Ia melaju dengan
kecepatan luar biasa, yang tadinya saya sangka tidak
mungkin. Coba lihatlah, my Lady.”
Gadis itu berdiri di sebelah nakhoda di tepi geladak
supaya dapat melihat kapal pesiar lebih baik. Kapal perang
itu melepas
kan tembakan untuk mengajak kapal pesiar mendekat.
“Kapal apa?” tanya komandan jaga.
“Kapal pesiar pribadi Roseta,” jawabnya.
“Siapa pemiliknya?”
“Karl Sternau dari Jerman!”
Demi mendengar nama itu, Amy bersorak gembira. Ia
mengerahkan segenap tenaganya untuk dapat melihat
lebih baik. Benar juga, kini tampak olehnya tubuh yang
kukuh tegap dari Sternau yang sedang melayani kemudi.
“Anda kenal akan orang itu, my Lady?” tanya nakhoda
yang telah mendengar pekiknya itu.
“Benar, Tuan. Ia salah seorang sahabat karibku.
Bolehkah ia naik ke kapal kita?”
“Tentu, bila Anda inginkan.” Nakhoda meneropongkan
tangannya di depan mulutnya lalu berseru ke arah kapal
pesiar, “Apakah Tuan Sternau sendiri ada di kapal?”
“Ada,” bunyi jawabnya menggema kembali.
“Naiklah ke kapal kami!”
“Saya tidak ada waktu,” bunyi jawabnya, meskipun
Sternau tahu bahwa perintah kapal perang sebenarnya
harus ditaati.
“Lady Dryden ada di sini!” seru nakhoda.
“Kalau begitu aku datang!”
Kapal pesiar itu menurunkan sebuah perahu kecil.
Makin mendekati kapal perang makin saling mengenal
mereka. Amy melambai dengan sehelai saputangan
sedangkan Sternau dengan topinya. Akhirnya ia menaiki
tangga dan sampai ke atas geladak. Pertama-tama ia
menyalami nakhoda, kemudian ia menghampiri Amy yang
mengucapkan selamat datang kepadanya.
“Saya kira Anda ada di Afrika,” katanya setelah ia
mengulurkan kedua belah tangannya.
“Saya telah mengiring kapal Lion hingga kemari,” jawab
Sternau menerangkan.
“Kapal Lion? Maksud Anda kapal bajak laut itu?” tanya
nakhoda.
“Memang itu,” jawab Sternau. Saya tidak ada waktu
karena saya tetap harus mengamatinya. Maukah Anda
membantu saya menangkap nakhoda Grandeprise?”
“Tentu saja mau, sekarang juga!” seru orang Inggris itu
dengan bersemangat. “Itu merupakan kesempatan baik
yang tidak boleh dilewatkan. Di manakah dia?”
“Di balik dangkalan Pedro. Bila Anda mendekat dari
sebelah kiri dan saya dari sebelah kanan, maka ia akan
terjepit di antara kita.”
“Berani betul Anda dengan kapal sekecil itu melawan
Grandeprise.”
“Anda tidak ada waktu untuk mendengarkan
keterangan itu. Tetapi Lady Amy dapat menceriterakan
segalanya kepada Anda. Kita harus bertindak cepat supaya
dapat menjumpai perompak itu di balik dangkalan Pedro.”
Sternau yang sudah hendak menuruni tangga itu masih
ditahan oleh nakhoda.
“Seandainya bajak laut itu menjauhi pertempuran,”
katanya, “maka kita akan menggiringnya ke dangkalan
Serranilla atau Rosalind, maka dia akan kandas di atas
batu karang. Mari kita pergi!”
Sternau kembali lagi ke kapal pesiarnya, yang melaju
dengan kecepatan tinggi ke dangkalan Pedro. Setengah jam
kemudian ia melihat kapal Pendola. Unger yang sedang
tertawa dalam hati, memeriksa peta laut itu lalu berkata,
“Dalam waktu sepuluh menit ia akan lari balik ke
dangkalan. Baik kita tembak kemudinya, maka ia akan
tidak berdaya lagi.”
“Baik, tetapi jangan menembak di bawah garis air,
karena di situ terdapat tawanannya. Kapal itu sekali-kali
tidak boleh tenggelam.”
“Itu harus diberitahu juga kepada orang-orang Inggris
itu.”
Kapal pesiar itu berpura-pura tidak menghiraukan
kapal perompak dan karena mereka menempuh jalan air
yang agak sempit, maka tiadalah mereka sadari ketika
kapal pesiar itu berlayar tepat di sebelahnya. Ketika
sampai di laut lepas kapal pesiar itu tiba-tiba membelok
dengan lincahnya menuju ke buritan kapal perompak
sambil menembaki kemudi. Tembakan itu tepat mengena,
sehingga kemudi kapal perompak patah.
Gerakan yang dilakukan dengan tiba-tiba serta berani
itu menimbulkan kekacauan di atas kapal Pendola.
Segenap anak buah berlarian ke atas geladak. Landola pun
kini tampak.
“Bangsat itu lagi. Terkutuklah dia!” serunya. “Hantam
saja mereka!”
Namun kapal Pendola belum siap untuk bertempur.
Mengingat di daerah ini terdapat banyak pelabuhan, maka
mereka sudah menutupi lubang-lubang tempat
menembakkan meriam. Beberapa pucuk bedil yang cepat
dapat dipegang mereka tidak dapat mengenai kapal pesiar.
Sternau berdiri di atas geladak. “Salam dari Rodriganda!”
serunya. Ia mengambil bedilnya yang berlaras dua dan
dapat menjangkau sasaran yang jauh itu lalu membidik.
Tembakan meletup dan nakhoda Landola rebah.
“Peluru telah mengenai bahunya dan telah
menghancurkan tulang. Orang itu masih dapat berbicara,”
kata Unger. Sekali lagi terdengar letupan bedil Sternau dan
perwira pertama yang dapati dikenali dengan picinya,
rebah.
Sternau menyuruh matikan mesin sehingga kapal
pesiar itu berayun-ayun perlahan, lalu mengisi lagi
bedilnya. Tembakannya yang kemudian mengenai
jurumudi dan tembakan yang keempat melukai perwira
kedua.
“Bagus. Kini mereka tanpa pimpinan!” seru Unger.
“Lihat, kapal Inggris datang juga!”
Kapal perang itu muncul dari balik dangkalan dan
berhenti dekat kapal perompak.
“Hallo!” seru nakhoda ke bawah kepada Sternau, “Anda
telah melumpuhkannya! Bagus!”
“Lalu mematahkan perlawanan keempat perwira,”
tambah Sternau. “Ingat bahwa ada seorang tahanan di
dalam ruang kapal.”
“Beres!”
Kapal Inggris itu menembak. Pelurunya menyusuri
geladak. Tembakan dimaksudkan supaya kapal itu
menaikkan bendera. Maka bendera Spanyol dinaikkan.
“Apa nama kapal dan nakhodanya,” tanya kapal Inggris.
“La Pendola, nakhoda Landola.”
“Berapa besar jumlah penumpang?”
“Dua puluh empat orang, bunyi jawabnya.
“Bohong kamu! Semua orang harus naik ke kapalku.
Cepat!”
Kapal Pendola sudah tidak berdaya dengan kemudinya
yang hancur. Bagi awak kapal hanya ada satu pilihan
untuk menyelamatkan diri yaitu melarikan diri. Mereka
pura-pura mau mentaati perintah kapal perang. Perahuperahu
penyelamat diturunkan ke air, namun mereka
bukannya pergi ke kapal perang melainkan secepatnya
mendayung ke darat. Mereka tidak sempat membawa harta
bendanya, hanya tubuhnya yang dapat diselamatkan.
Dalam sekejap mata Sternau mengejar mereka dengan
kapal pesiarnya. Setelah dilihatnya bahwa orang
tahanannya tidak ada di antara mereka, maka ia berlayar
kembali ke kapal perompak. Kapal perang itu menembaki
para pelarian.
Kapal perang itu menurunkan juga beberapa sampan ke
air yang didayung menuju ke kapal perompak. Nakhoda
yang terluka itu tidak ada di atas kapal. Ia dibawa lari
dalam salah satu sampan yang menjadi sasaran tembakan
oleh kapal perang itu.
Pertama-tama yang harus dikerjakan ialah menggeledah
kapal perompak. Dari segala yang dilihat tampak dengan
nyata bahwa kapal itu kapal perompak, tetapi Sternau
tidak ada perhatian mengenai hal itu. Ia menyalakan salah
sebuah lentera kapal itu lalu turun ke dalam ruang. Negro
yang dahulu pernah bekerja di kapal perompak itu kini
menjadi penunjuk jalan.
Kapal layar yang berlayar tanpa muatan barang, diberi
beban batu-batu atau pasir di bagian bawah dari ruang,
supaya kapal itu cukup dalam masuk ke air. Bagi kapal
Pendola beban itu semata-mata terdiri dari pasir. Dan
karena setiap kapal selalu kemasukan air, maka pasir itu
basah. Di atas pasir yang basah itu digali sebuah lubang
yang ditutupi dengan papan rapat-rapat. Lubang yang
menyerupai kandang babi yang kotor dan berbau busuk
itu dihuni oleh seorang kerangka hidup yang dirantai.
Ketika tahanan itu mendengar kedatangan kedua orang
itu ia mengguncang-guncangkan rantainya serta bertanya,
“Siapa di situ?”
Bunyi kosong dari suaranya itu sangat mengibakan.
Sternau menghampirinya lalu berkata, “Kami adalah
kawan, Letnan!”
“Suara itu pernah saya dengar! Apakah ini nyata atau
mimpi?”
Dengan sekuat tenaga tahanan itu bangkit untuk
menatap orang-orang itu.
Sternau mengangkat lenteranya supaya wajahnya kena
cahaya.
“Ya Tuhan!” seru tahanan itu. “Senor Sternau!” karena
gembiranya ia tidak dapat berkata-kata lagi lalu rebah tak
berdaya dalam lubangnya.
Sternau memeriksa rantainya lalu melihat bahwa rantai
itu dapat diputuskan dengan sebuah tang. Orang negro itu
telah lari naik ke atas dan kembali lagi membawa anak
kunci itu. Ia tahu bahwa anak kunci itu disimpan di kamar
nakhoda. Letnan itu lalu dilepaskan dari belenggunya dan
dibawa ke atas dalam keadaan tiada sadarkan diri. Ia tidak
dibawa ke geladak melainkan ke kamar nakhoda, supaya
matanya yang masih belum terbiasa dengan cahaya
matahari tidak kesilauan. Langsung disuruh Sternau
menurunkan sampan ke air untuk menjemput Lady
Dryden.
Dalam pada itu Letnan atau Mariano (nama yang
diberikan para perampok di pegunungan kepadanya)
sudah siuman.
“Senor Sternau, Anda ini bagaikan malaikat yang turun
dari langit. Nyatakah segala ini atau hanya mimpi?”
tanyanya.
“Semua ini nyata,” jawab Dokter. “Namun jangan tanya
apa-apa lagi. Anda masih akan mendengar semuanya.
Pakaian Anda kotor, Anda tidak boleh lebih lama lagi
dalam keadaan seperti ini. Dalam kopor nakhoda Landola
tentu ada seperangkat pakaian. Kita berada dekat Jamaica.
Tetapi tentang hal itu kemudian saja. Inilah sebuah celana,
baju, kaos kaki, sepatu dan sebuah topi. Segala keperluan
Anda terpenuhi. Ada juga air untuk mandi. Cepatlah
mandi dan berganti pakaian!”
“Siapa yang hendak mengunjungiku?”
“Seorang wanita. Lebih dari itu tak dapat saya katakan.
Ketuklah bila Anda selesai.”
Sternau meninggalkan kamar dan Mariano mandi serta
berganti pakaian. Sedang ia sibuk berpakaian ia
mendengar seseorang berbisik di luar. Ia masih dalam
keadaan lemah, tetapi ia berhasil tanpa pertolongan
mengenakan pakaian. Ketika ia melihat di cermin ia
merasa puas melihat pakaiannya sekarang sudah bersih,
lalu ia pergi ke pintu dan mengetuk.
“Silakan masuk, Lady Amy! Saya harap, ia tidak akan
mati kegirangan,” bunyi suara Sternau di luar. Mariano
mengangkat pandangannya lalu … nampak kekasihnya
yang dirindukannya selama berbulan-bulan ketika ia
berada dalam tahanan para perompak yang buas itu.
Limbung jalannya, namun ia dapat menguasai dirinya
kembali. Dengan mengulurkan tangan ia berjalan
menghampiri gadis yang karena gembiranya itu makin
bertambah cantiknya.
“Amy, Lady Amy, alangkah bahagiaku!” soraknya.
Tubuhnya yang kurus kering, pipinya yang pucat
cekung, semuanya itu tidak tampak oleh gadis itu. Ia
hanya melihat pandangan matanya yang berseri-seri lalu ia
mengulurkan tangannya kepada kekasihnya dan
menjawab. “Alfred, akhirnya, akhirnya kau bebas lagi!”
Mereka berpelukan dan berciuman tanpa mengeluarkan
kata-kata. Kegembiraannya karena pertemuan kembali itu
membuat mereka lupa akan segala peristiwa yang terjadi
pada waktu antara perpisahannya di Rodriganda dengan
hari itu. Tiba-tiba Mariano merasa dirinya lemas,
kekasihnya terlepas dari pegangannya. Wajahnya menjadi
pucat seperti mayat, ia mengejapkan mata dan berjalan
limbung.
“Alfred!” seru Amy yang tetap memegangnya. “Ada apa
dengan kamu?”
“Kebahagiaan itu … terlalu … banyak … bagiku,”
erangnya dengan suara lemah. Tangannya menggapaigapai
di udara mencari tempat berpegang. Gadis itu tidak
dapat menahannya lagi dan membiarkannya rebah di atas
kursi.
“Duduklah saja dan beristirahatlah,” ia memohon. “Kau
telah banyak menderita, kau masih lemah.”
Gadis Inggris itu berlutut dekatnya dan memandang
dengan rasa cemas kepada kekasihnya. Baru kini tampak
olehnya betapa pengaruh masa tahanan, rasa lapar, haus
dan penderitaan rohani telah mengubah wajah dan tubuh
kekasihnya. Hati gadis itu menjadi kecut. Ia ingin
menangis keras-keras untuk mencurahkan rasa sedih dan
kasihan yang menyerang jiwanya, namun ia menahan diri.
Hanya getar suaranya menandakan bahwa hatinya hancur
luluh karena rasa iba.
“Kau menderita. Kau sedang sakit, kekasihku!”
Sesaat kemudian keadaan Mariano pulih kembali. Ia
mengangkat pandangannya dan pandangan itu bertemu
kembali dengan wajah gadis itu. Pipi Mariano kini tampak
lebih segar. Ia berkata, “Aku telah mengalami masa penuh
pencobaan dan derita, namun kini … alhamdullillah
semuanya sudah lalu!”
Amy membelai pipi kekasihnya yang cekung itu dengan
lemah lembut. “Tapi aku yakin Alfred, tenagamu akan
pulih kembali, sekuat dahulu ketika kau masih tinggal di
Spanyol. Aku bersedia, senantiasa merawatmu, agar setiap
bekas derita hilang lenyap dari hidupmu dan kemudian …”
Gadis itu terhenti berbicara sambil menjadi merah
mukanya. “Dan kemudian …?” tanya kekasihnya sambil
memandang dengan penuh kasih sayang kepada gadis itu.
Gadis itu memeluk kekasihnya dengan penuh
kemesraan, namun Mariano menggeleng kepalanya seraya
berkata, “Aku kurang yakin kebahagiaan itu akan menjadi
milikku.”
“Mengapa berpendapat demikian?”
“Kamu masih belum mengenalku. Pengetahuanmu
tentang diriku itu sedikit sekali dan yang sedikit itu …
salah pula.”
Tampak dengan nyata bahwa perkataan yang terakhir
itu sukar keluar dari mulutnya. Amy terperanjat. Ia ingin
membaca dalam mata Mariano tetapi hanyalah rasa cinta
dan setia dapat dibacanya. Ia memegang tangannya lalu
berkata, “Penderitaanmu itu telah membuatmu putus asa.
Namun aku yakin, semangatmu akan pulih kembali.
Memang, sedikit saja yang kuketahui tentangmu, tetapi
aku tahu bahwa kau cinta padaku dan itu sudah cukup.
Bagi hatiku segala yang lain tidak menjadi soal!”
“Tetapi kau harus mendengarnya juga. Dengarlah! Aku
bukan orang seperti yang kaukenal dahulu …”
Tetapi Amy menutup mulutnya dengan tangannya serta
memotong perkataannya. “Jangan sekarang Alfred! Aku
tahu bahwa kau adalah jujur dan baik. Lain dari itu aku
tidak perlu tahu. Bila kau sudah cukup kuat, boleh kau
curahkan segala isi hatimu kepadaku. Kini baik kita
mengucap syukur kepada Tuhan yang telah
melepaskanmu dari derita dan yang mengembalikanmu
kepadaku!”
Mariano tersenyum bahagia dan ia menurut. Tangannya
memegang kekasihnya dan matanya menatap wajahnya
yang cantik.
Mereka hanya ingat akan dirinya, suara gaduh di atas
geladak tidak dihiraukannya. Di atas geladak orang sedang
sibuk memindahkan barang-barang dan senjata dari kapal
bajak laut ke atas kapal perang.
Akhirnya terdengar bunyi orang mengetuk pintu
perlahan-lahan. Setelah dijawab oleh Amy, masuklah
Sternau.
“Maafkan aku,” katanya, “kekhawatiranku akan
kawanku memaksaku mengganggu kalian. Aku datang
sebagai dokter untuk mengajak Letnan ikut aku ke
geladak. Orang yang berbulan-bulan telah disembunyikan
dalam ruang kapal, perlu mendapat perawatan yang baik.”
Mereka mengikutinya ke geladak.
Di atas geladak keadaannya kacau balau. Peti-peti
berserakan di mana-mana. Demikian pun senjata, mesiu
dan bahan makanan. Mereka sedang sibuk memindahkan
barang-barang itu dari kapal perompak yang terletak di sisi
kapal perang. Di sisi yang lain terletak kapal pesiar. Anak
kapal mereka membantu nakhoda kapal Inggris dalam
pekerjaannya.
Setelah orang Spanyol itu berdiri di suatu tempat penuh
mendapat sinar matahari, baru sekarang tampak dengan
nyata betapa buruk pengaruh dari masa tahanannya yang
tidak berperikemanusiaan itu. Tampaknya seolah-olah
hidupnya tidak bertahan lebih lama lagi. Kulitnya
berwarna kehijau-hijauan, matanya cekung, pipinya kurus
dengan tulang pipi yang menonjol. Ia telah berjumpa
dengan maut, jasmaniah maupun rohaniah.
Sternau memeriksa dengan teliti. Amy memandang
dengan rasa cemas kepada wajahnya yang sungguhsungguh.
“Kita harus bersyukur kepada Tuhan.” Kata
Sternau akhirnya, “bahwa Anda sudah ditemukan, Letnan.
Karena bila terlambat beberapa minggu saja, Anda tidak
akan berada dalam keadaan hidup.”
Amy sangat terkejut lalu berseru, “Masya Allah, sudah
demikian burukkah keadaannya, Dokter?”
“Bukan begitu, my Lady,” jawab Sternau. “Saya hanya
dapat mengatakan bahwa ia masih sangat lemah, namun
dengan perawatan yang baik kita dapat mengubah
keadaan itu. Udara segar, gerak badan, dan makanan yang
bergizi akan membuatnya pulih kembali seperti sediakala.”
“Saya merasa terhibur, terima kasih Dokter,” kata Amy
sambil mengulurkan tangan kepadanya. “Saya akan
merawatnya dengan baik, mengerjakan segalanya yang
perlu dikerjakan.”
Sternau memandang gadis cantik itu dengan
tersenyum, “Apakah Anda mempunyai waktu untuk segala
hal itu, Lady Amy?”
“Tentu. Saya tidak akan meninggalkannya.”
“Saya sebenarnya merasa heran, mengapa Anda sampai
terdampar di kapal perang ini di perairan dekat Jamaica.”
“Saya bertugas menyampaikan beberapa surat kepada
gubernur di pulau ini.”
“Kalau begitu, maka pertemuan kita ini bersifat
kebetulan saja …”
“Tidak,” jawabnya memotong. “Pasti lebih dari itu: suatu
pemberian dari Tuhan yang Maha Kuasa, maka puji
syukur harus kita ucapkan kepada Tuhan.”
“Memang saya pun sepaham dengan Anda. Berapa
lamanya Anda hendak tinggal di Jamaica?”
“Sampai saya menerima jawaban. Atau barangkali Anda
menganggap perlu tinggal lebih lama lagi, mengingat
keadaan kawan kita?”
“Sebenarnya saya ingin menganjurkan waktu istirahat
yang lama untuk memulihkan keadaan jasmani maupun
rohani, namun iklim kota Kingston kurang sehat. Udara di
sini membangkitkan demam, maka kurang sesuai sebagai
tempat istirahat orang sakit. Apakah Anda hendak kembali
lagi ke Mexico?”
“Benar. Kapal perang mendapat perintah untuk
membawaku kembali ke Vera Cruz.”
“Setelah berpikir sejenak, Sternau menjawab, “Kapal
perang masih tinggal semalam di sini untuk memindahkan
muatan dari kapal bajak laut. Saya dapat membawa Anda
dengan kapal pesiar saya ke Kingston. Anda dapat
meminta kepada gubernur untuk menyelesaikan suratsurat
dengan cepat. Kemudian saya antarkan Anda ke Vera
Cruz; Anda dapat mempercayai kapal pesiar saya. Ia dapat
berlayar lebih cepat daripada kapal perang, lagi pula
persenjataannya pun lengkap, maka kita tidak perlu
khawatir akan terjadi apa-apa. Makin cepat kita dapat
memindahkan Letnan ke dataran tinggi Mexico, makin
baiklah untuk kesehatannya.”
Amy setuju dengan pendapat Sternau. Mereka
memberitahukan keputusannya kepada nakhoda kapal
perang Inggris. Nakhoda mengatakan bahwa wanita itu
telah dipercayakan kepadanya, namun ia tidak dapat
memaksanya tinggal di kapal perang. Secara adil menurut
pendapatnya, Sternau harus memperoleh sebagian dari
hasil barang rampasan milik kapal bajak laut, karena ia
telah mengambil bagian dalam menaklukkan kapal itu.
Namun Sternau menampik pemberian itu. Ia menyuruh
pindahkan barang-barang bawaan Lady Amy ke kapal
pesiarnya lalu bertolak, berlayar menuju Kingston.
Setelah tiba di situ, Amy menyelesaikan beberapa
formalitas yang diperlukan lalu mendarat. Sternau
mengantarkannya ke gubernur. Gubernur ingin
memperkenalkan gadis itu kepada keluarganya serta
mengajaknya tinggal beberapa waktu sebagai tamunya.
Tetapi Amy menjelaskan kepadanya bahwa ia harus segera
kembali ke Mexico dan meminta supaya surat-surat dapat
diselesaikan dalam waktu yang singkat. Gubernur kini
menyadari bahwa tawarannya kepada Lady Amy untuk
tinggal di rumahnya, tidak akan membuahkan hasil. Maka
ia berjanji akan menyelesaikan surat-surat secepatnya. Ia
menepati janjinya, maka keesokan harinya kapal Roseta
sudah dapat bertolak.
Mereka berlayar kembali ke kapal perang, yang
dijumpainya dekat dangkalan Pedro. Kapal perang itu
masih berlabuh di sisi kapal bajak laut. Mereka masih
memindahkan barang-barang dari kapal Pendola. Setelah
selesai pekerjaan itu maka kapal bajak laut akan
ditenggelamkan.
“Tidak banyak perompak dapat lolos,” kata Amy.
“Ketika kalian pergi kemarin,” kata nakhoda Inggeris.
“Saya telah menyelidiki pantai Jamaica dengan teropong.
Kalau tidak salah, saya melihat beberapa orang laki-laki
berpakaian seragam pelaut sedang mengusung seseorang
yang sedang luka atau sakit. Daerah pantai itu tidak
berpenghuni, maka saya merasa heran, melihat orangorang
itu. Saya langsung mengirim sampan ke situ. Anak
buah saya hanya menemukan jejak-jejak kaki orang.”
“Mungkinkah nakhoda itu berhasil naik ke darat? Itu
harus kita selidiki.”
Kata Mariano dengan hati kesal, “Jiwa Landola itu
sebenarnya tidak berharga sedikit pun, namun saya ingin
sekali bertemu dengannya untuk membuat perhitungan. Ia
telah berlaku sangat kejam terhadap saya, menyiksa saya.
Maka inginlah saya mengadakan pembalasan.”
“Baik, biarlah kita mendapat kepastian,” kata Sternau.
“Penyelidikan itu paling lama memakan waktu satu jam,
sudah itu kita akan mendapat kepastian.”
Kapal pesiar berlayar menuju pantai tempat yang
ditunjuk oleh nakhoda. Dalam seperempat jam mereka
sampai di situ. Sternau khawatir kalau-kalau jejak para
perompak akan terhapus, maka ia seorang diri naik ke
darat untuk menyelidiki daerah sekitar. Tetapi tanah di
situ merupakan batu karang yang keras.
Lagi pula kemarin ketika pertempuran itu terjadi, air
laut sedang surut. Ketika pasang datang, semua jejak
terhapus oleh air laut. Akhirnya Sternau harus kembali ke
kapal lagi tanpa membawa hasil apa pun.

sumber: DISALIN OLEH
Johannes Sulistio, Lidia Chang, Mai Damai Ria
Hans Wuysang, & Mackylafry Darwin
UNTUK
PAGUYUBAN KARL MAY INDONESIA

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s