Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 451)

Cuma waktunya barangkali tak bisa persis dua jam sejak Anda menuntut tadi, kiranya Anda bisa mengerti, kami harapkan perpanjangan waktu. Dan.. kami harapkan Anda membolehkan petugas lapangan Mexico untuk menjemput tiga mayat penumpang yang ada dalam pesawat, demi perikemanusiaan..’’
Sepi. Tak ada jawaban. Mereka yang ada di tower itu, yang umumnya pejabat tinggi Amerika dan Mexico, pada bertukar pandangan. Menteri Luar Negeri Amerika itu sudah berniat untuk bicara lagi, ketika tiba-tiba terdengar suara perempuan:
‘’Saya harap Anda tak omong kosong, Tuan Menteri. Untuk membuktikannya, mulai detik ini, kami akan memonitor pesawat yang bertolak menuju Mexico. Kami akan hubungi pesawat itu langsung dari pesawat ini. Dan tak seorangpun yang boleh kemari mengambil mayat atau urusan apapun, sebelum kami meninggalkan pesawat ini..’’
Kembali sepi. Kali ini Menteri Luar Negeri Amerika itu benar-benar berpeluh dingin. Itulah sesuatu yang tak terpikirkan olehnya. Bahwa setiap pesawat yang terbang di udara bisa saling mengadakan kontak dengan pesawat manapun jua, baik yang di udara maupun yang di darat, dalam radius ratusan kilometer.
Artinya, mereka yang di pesawat JAL itu akan segera mengetahui, apakah Menteri Luar Negeri itu berbohong atau tidak! Mereka jadi tegang. Perlahan rasa putus asa untuk menyelamatkan isi pesawat itu mulai muncul. Memang takkan ada sebuah pesawatpun yang akan menerbangkan tahanan dari Alcatras! Tak ada sama sekali!
Dan sebentar lagi, jika tak sebuahpun pesawat yang … pikiran mereka tentang itu segera terputus, ketika dari pesawat JAL itu terdengar suara pilot, suara dalam aksen Jepang, memanggil seluruh pesawat yang melintasi daratan Amerika Serikat yang tengah terbang menuju Mexico, meminta konfirmasi nomor penerbangan, jenis pesawat, muatan dan identitas lainnya.
Sepi! Tak ada yang menjawab panggilan pesawat yang dibajak itu. Tapi akhirnya pesawat JAL itu mendapat kontak dengan tiga buah pesawat yang menuju Mexico. Mereka melihatnya lewat layar radar, dan ketiga pesawat itu muncul di layar radar yang ada di tower dimana para pembesar itu berada. Dua di antaranya adalah pesawat Mexico sendiri. Yang satu lagi pesawat penumpang biasa. Kemudian yang satu lagi adalah pesawat Angkatan Udara Uruguay yang mengadakan patroli.
Sepi!   
Ternyata gadis yang memimpin pembajakan ini memang seorang yang telah terlatih benar. Dipilih dari deretan pramugari senior. Yang mengetahui tidak hanya soal menggunakan senjata, tetapi juga soal navigasi. Masalah penerbangan lengkap dengan hubungan radionya. Para pembajak ini bukan pembajak kelas teri!
Kali ini ketegangan benar-benar mencekam dalam tower itu. Dari radio yang terbuka salurannya mereka tahu bahwa pembajak di pesawat JAL itu mengadakan kontak terus menerus dengan tiap pesawat yang terlihat dalam radar mereka. Menteri Luar Negeri Amerika itu benar-benar mati kutu. Para pembajak pasti segera mengetahui bahwa tak sebuahpun pesawat yang diterbangkan dari New York, atau dari manapun di Amerika sana ke arah Mexico ini membawa tahanan yang minta dibebaskan itu.  Ketegangan itu terganggu seketika, saat ada sahutan di radio. Ada percakapan.
‘’Jelaskan kembali identitas Anda dan muatan yang Anda bawa. Ganti!’’ suara itu adalah suara si gadis pramugari, pimpinan pembajak!
Semua mata memandang ke radar di tower itu. Sebuah radar besar buatan Jerman Barat. Dari arah utara, diantara beberapa titik, kelihatan sebuah titik menuju ke selatan. Nampaknya dengan pesawat itulah pembajak tadi mengadakan kontak. Pesawat yang dalam penerbangan itu menjawab dengan menjelaskan identitasnya, kemudian menyambung:
‘’Kami dari New York. Membawa sejumlah tahanan politik Cuba ke Mexico. Harap bersiap menanti kami, ganti!’’
Penjelasan itu diulangi sampai dua kali. Sepi. Duta Besar Amerika di Tower itu saling bertukar pandang dengan Direktur CIA. Mereka sama-sama bingung, benarkah pesawat itu membawa para tawanan? Dia memberi isyarat pada operator untuk memastikan hubungan. Operator menekan sebuah tombol. Dan memberi isyarat bahwa hubungan telah putus dengan pesawat itu.
‘’Ada perubahan?’’ tanya Menteri Luar Negeri itu kepada Direktur CIA.
Orang yang ditanya menggeleng kepala.
‘’Tak ada perubahan, Tuan Menteri. Semua masih tetap seperti yang digariskan Presiden. Saya kira ini suatu kesalahan..’’
‘’Apakah saat kita berada di sini Presiden merubah keputusan untu memenuhi tuntutan para pembajak?’’
‘’Tidak, Tuan Menteri. Telpon itu..’’ dia menunjuk ke sebuah telepon hitam di sudut ruangan, “adalah telepon yang telah diblokir hanya untuk pembicaraan antara tempat ini dengan Gedung Putih di Washington. Artinya, kalau ada perubahan, Presiden tentu akan memberi tahu kemari lewat pembantunya. Begitu aturan permainan yang telah sama-sama kita sepakati.”
Menteri Luar Negeri itu nengangguk. Ya, semua yang dijelaskan oleh Direktur CIA barusan memang seperti apa yang dia ketahui. Lalu pesawat mana yang mengaku membawa para tahanan itu?
‘’Coba hubungi Washington. Cek penerbangan dengan pesawat yang mengaku membawa tawanan itu..’’
Dan seperti diingatkan pada sesuatu, direktur CIA itu menyokong pendapat menteri tersebut. Ya, kenapa mereka tak ingat untuk mencek identitas pesawat itu? Direktur CIA itu segera mengangkat telepon dan segera pula mendapat hubungan dengan Presiden Kennedy.
‘’Ya, kami juga mengikuti percakapan dari pesawat itu..’’ jawab Presiden.
Panglima Angkatan Darat Mexico bertubuh gemuk dan masih tetap menggigit-gigit ujung cerutunya itu mau tak mau mengakui betapa cepatnya orang Amerika ini bertindak. Dari telepon seberang sana kembali terdengar suara Presiden Kennedy:
‘’Untuk Anda ketahui, pesawat yang mengaku sebagai pembawa tahanan itu adalah pesawat penumpang biasa. Segala identitas yang dia sebutkan kepada para pembajak, adalah benar. Penerbangnya adalah bekas pilot angkatan laut di Pacific. Bernama Maxmillan, terakhir berpangkal kolonel. Nampaknya dia mendengar panggilan yang dilakukan para pembajak. Dan memutuskan sendiri untuk mengikuti panggilan itu. Mengakui dirinya sebagai pesawat yang membawa para pembajak. Pesawat yang dia bawa adalah Boeing dan mengangkut enam puluh wisatawan menuju Tahiti. Dia tiba-tiba merubah arah, menuju ke Mexico dan membawa serta para penumpangnya. Kami belum mengetahui rencananya lebih lanjut..’’
Direktur CIA…..

1 Comment

  1. thanks bang…..ditunggu kelanjutannya


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s