Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 453)

Kecerobohan begitu bukannya hal yang aneh terjadi di FBI ataupun CIA. Pada dasarnya mereka memang mengaku badan intelijen yang rapi dan berkuasa. Namun dibanding dengan KGB, badan intelijen Rusia, maka kerapian dan ketelitian CIA atau FBI jauh tercecer. Apalagi jika ingin dibandingkan dengan GRU, badan intelijen Angkatan Darat Rusia, yang lebih berkuasa daripada KGB, maka FBI dan CIA terbirit-birit di belakang.
Kini Maxmillan tiba-tiba mengingat lagi masa kecilnya. Masa kecil yang pahit. Teringat saat-saat kakaknya diperkosa oleh pasukan Batista yang baru bangkit. Teringat betapa ayahnya, Maxmillan Sr dikenakan wajib militer, dan dijebloskan ke penjara tatkala menolak wajib militer itu. Teringat Pulau Samun yang subur tapi miskin. Dialah yang bicara, memakai bahasa Cuba, yang sudah berbilang tahun tak dia ucapkan.
Tiba-tiba di radio kembali terdengar suara pramugari yang memimpin pembajakan itu, di Washington serta di tower Bandara Mexico, pembicaraan itu segera diterjemahkan, sehingga semua orang di dua tempat itu segera mengerti.
‘’Saya ingin penjelasan tentang diri Anda..’’ kata gadis itu di radio, ‘’pangkat, kesatuan, nomor register di pasukan dan kedudukan terakhir Anda sebelum dikirim ke Alcatras’’
Kennedy menelan ludah yang tiba-tiba serasa menyumbat tenggorokannya. Demikian pula Direktur CIA yang ada di tower Bandara Mexico. Apa yang akan dijawab orang di pesawat itu?
‘’Sekali lagi, Nona, saya tak tahu siapa Anda. Saya tak tahu maksud Anda, dan saya tak tahu latar belakang politik Anda..’’ pilot itu menjawab dalam bahasa Cuba.
Pramugari yang memimpin pembajakan itu jadi kesal. Dengan menahan marah, dia coba juga menjelaskan situasi saat itu. Bahwa mereka tengah membajak sebuah pesawat JAL yang berisi Menteri Muda bidang Pertahanan Amerika untuk membebaskan si perwira, berikut teman-temannya di Alcatras!
Dijelaskan pula, bahwa waktu tersedia satu setengah jam lagi untuk saling tukar menukar tawanan. Dijelaskannya bahwa di pesawat JAL itu ada tujuh anggotanya, dan kini berada di lapangan udara Mexico.
‘’Nah, Kamerad, jelaskan identitasmu..’’ perintah gadis itu.
Namun dari pesawat kembali terdengar jawaban yang menjengkelkan:
‘’Saya berpangkat kolonel. Dan saya tak suka diperintah oleh perempuan ingusan seperti Kau, Nona! Jangan panggil saya kamerad, saya tak tahu bagaimana kesetiaanmu pada partai, pada Komunis!’’
Gadis itu terdengar memaki dan menyumpah.
‘’Kamerad, saya tak peduli pangkatmu kolonel atau jenderal sekalipun. Nyawamu berada di tangan kami. Soalnya engkau ingin bebas atau tidak. Jika kau tak mau menuruti instruksi saya, kau boleh kembali ke Alcatras atau ke neraka sekalipun. Nah, kini jangan banyak cincong, kau turuti apa yang kukatakan. Jawab apa yang kutanya. Atau kami memutuskan hubungan denganmu! Mulailah dengan menjelaskan asal pasukan dan nomor registermu!’’
Sepi.
Kennedy saling pandang dengan para menterinya. Menteri Luar Negeri Amerika yang ada di Mexico bertukar pandang dengan Direktur CIA.
‘’Baiklah kalau itu yang kau kehendaki Nona. Hanya harap ingat, jika nanti saya bertemu denganmu, maka kau akan saya tuntut. Kau menghina seorang kolonel lapangan! Kau dengar atau kau catat baik-baik, agar otak udangmu itu tidak lupa. Nama saya Yoseph Maxmillan. Saya ulangi Yoseph Maxmillan. Pakai PH di akhir Yoseph, bukan pakai F sebagaimana kebanyakan orang Cuba yang kebarat-baratan. Kesatuan saya adalah pasukan keempat dari Batalyon Amphibi di Pulau Samun. Tujuh derajat lintas utara Havana. Register saya, jika yang kau maksud nomor partai saya, maka jangan kaget kalau nomor saya adalah C82, artinya pimpinanmu sendiripun belum tentu punya jabatan dan kode setinggi itu dalam partai komunis’’.
Sepi sesaat. Kemudian “orang Cuba” itu berkata lagi:
‘’Dan jika engkau bertemu dengan pimpinanmu, Nona, sampaikan ucapanku ini: Pisang merah ternyata terlalu kuning ditimpa panas! Nah, saya tak suka mendengar segala omong kosongmu lagi!’’
Lalu sepi. Yang bicara justru adalah Kennedy.
‘’Ya Tuhan, apakah benar dalam pesawat Maxmillan ada perwira Cuba sebagaimana yang kita dengar itu?’’
Pertanyaan ini secara langsung ditujukan kepada Wakil Kepala CIA dan Direktur FBI yang ada dalam ruangan oval di Gedung Putih itu. Kedua orang ini seperti berlomba untuk mendapatkan informasi tentang orang yang bernama Yoseph Maxmillan yang berpangkat kolonel dalam pasukan Amphibi Cuba itu.
‘’Yoseph Maxmillan memang pernah ada,’’ jawab Direktur FBI mendahului Wakil Direktur CIA, ‘’dia adalah Komandan Pasukan Amphibi di Pulau Samun sepuluh tahun lalu. Kemudian namanya lenyap tiba-tiba. Ada yang mengatakan dia mati bersama tank amphibinya yang tenggelam dalam latihan perang di Teluk Babi, ada pula yang mengatakan bahwa dia sengaja dilenyapkan, untuk kemudian dialihtugaskan ke Eropa sebagai mata-mata komunis, kemudian pindah lagi ke kota lain.  New York, Dallas, Washington, atau siapa tahu ke California dengan nama lain dan wajah yang sudah dioperasi’’.
Kennedy….

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s