BAB VI. MEXICO CITY

Pelayaran ke Vera Cruz berlangsung dengan cepat dan
baik. Setelah berlabuh Sternau dan Unger berkehendak
mengantarkan dua sejoli yang sedang berkasih-kasihan itu
ke Mexico. Kapal pesiar dipercayakan kepada awak kapal.
Bila mereka pergi lebih lama dari dua bulan maka awak
kapal harus melapor kepada Lord Dryden.
Karena tubuh Mariano masih sangat lemah, ia tidak
dapat naik kuda. Maka mereka pergi naik kereta pos yang
merupakan kendaraan penghubung antara pelabuhan dan
ibu kota. Ketiga orang itu melengkapi diri dengan senjata
dan bahan makanan, karena di daerah-daerah itu pada
masa itu orang masih belum mengenal adanya hotel.
Kemudian mereka meninggalkan Vera Cruz.
Perjalanan naik kereta pos Mexico pada zaman itu
bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Kereta itu dapat
dimuati duabelas sampai enambelas orang ditarik oleh
delapan keledai liar. Di sebelah muka berjalan dua ekor
keledai, di tengah empat ekor dan di belakang masih ada
dua ekor lagi. Keledai-keledai itu biasa hidup liar di atas
padang rumput dan setiap kali diadakan perjalanan kereta,
keledai-keledai itu harus ditangkapi lebih dahulu dengan
menggunakan laso. Keledai-keledai liar itu tentu saja
memberontak terus menerus waktu dikenakan kekangnya
dan setelah terpasang kekang tiada tertahan mau pun
terkendalikan lagi, lari sekencang angin puyuh. Daerah
yang ditempuh mereka itu hampir-hampir tiada
berpenghuni. Jalan mereka melalui punggung-punggung
gunung, jurang-jurang yang curam dan hutan rimba.
Jarang sekali dapat dijumpai sebuah pondok Indian sunyi
yang dihuni oleh keturunan tuan tanah kaya raya yang
telah jatuh miskin.
Kerap kali jalan mereka melalui tepi sungai tandus
berbatu-batu. Di musim semi air sungai itu mengalir
dengan sangat derasnya. Ada kalanya jalan mereka itu di
atas tebing-tebing yang terjal, sehingga kesalahan yang
kecil dibuat oleh sang sais akan mengakibatkan kereta itu
jatuh ke dalam jurang, hancur berkeping-keping. Meski
pun demikian kereta pos itu tetap berjalan dengan
kencangnya. Sais duduk di tempatnya memegang
enambelas tali kendali di tangannya. Di sampingnya duduk
pembantunya, penggiring keledai. Orang itu tiada sempat
duduk tenang sedetik pun. Sedang kencang-kencangnya
kereta dilarikan, ia melompat dari atas tempat duduknya
yang tinggi untuk menggiring keledai-keledai atau untuk
menghentikan kereta. Sementara itu ia mengisi semua
sakunya dengan batu-batu, melompat kembali ke atas
kereta yang sedang dilarikan kencang itu lalu
menembakkan batu-batu kepada keledai yang agak malas
berlari atau tidak menurut perintah. Itulah merupakan
ketangkasan baginya untuk dapat diangkat menjadi sais
bila ia lulus.
Seorang sais kereta pos yang tangkas sangat dihormati
orang dan itulah selayaknya. Sais kereta yang
menghubungkan Mexico dengan Vera Cruz mendapat upah
bulanan sebesar seratus duapuluh peseta dan makanan
sehari-hari diberikan dengan cuma-cuma. Bila pada akhir
tahun keretanya belum pernah terbalik, maka ia mendapat
upah tambahan seratus limapuluh peseta. Hal yang paling
susah diatasi ialah keadaan keamanan yang buruk di
perjalanan. Setiap orang Mexico pada zaman itu adalah
seorang petualang, maka dengan sendirinya orang baru
berani mengadakan perjalanan bila dipersenjatai
secukupnya. Namun masih kerap kali terjadi bahwa para
penumpang sampai di tempat tujuannya, barang-barang
bawaannya dirampok habis-habisan atau bahkan ada juga
yang sama sekali tidak sampai di tempat tujuannya karena
dibunuh semuanya.
Menjelang malam para penumpang tiba di suatu tempat
perhentian, tempat mereka dapat bermalam. Di situ hanya
terdapat sebuah gubuk dikelilingi oleh pohon kaktus
berduri. Di dalam pekarangan yang berpagar itu terdapat
beberapa ekor kuda dan keledai bertubuh kurus-kurus
sedang makan rumput. Penghuni gubuk itu seorang
“kepala pos”, seorang Mexico bertubuh kurus yang lebih
menyerupai seorang perampok atau pembunuh daripada
orang baik-baik. Di samping jabatannya sebagai kepala
pos, ia pun mengusahakan sebuah “hotel pulque”. Ini
berarti bahwa ia menampung air sari dari semacam pohon
agave yang dimasukkan ke dalam kendi-kendi kumal
untuk dijadikan semacam arak. Minuman itu dijual
dengan harga mahal kepada para tamu, yang dapat
melepas dahaga dengan meminumnya, meski pun dengan
rasa jijik.
Amy merasa takut kepada orang itu. Lagi pula ia merasa
jijik melihat gubuknya itu, maka disiapkanlah sebuah
tempat tidur di dalam kereta. Ketiga orang laki-laki lebih
suka tidur di kolong langit. Malam itu malam yang cerah.
Bintang-bintang di langit bergemerlapan bagaikan intan
dan bau harum tercium keluar dari tanah. Amy dan
Mariano telah memisahkan diri dari kelompok dan
berjalan-jalan di dalam pekarangan yang berpagar. Mereka
berjalan bergandengan tangan, hati mereka penuh dengan
kebahagiaan, namun mereka tidak dapat menemukan
kata-kata untuk mengutarakannya. Akhirnya kata Amy
perlahan, “Lama benar kunantikan setelah kejadiankejadian
di Rodriganda hingga kini.”
“Itu merupakan masa penuh dengan bencana bagiku,”
bunyi jawabnya.
“Dan bagiku suatu masa penuh kekhawatiran
tentangmu, Alfred.”
Tiba-tiba pemuda itu berhenti lalu berkata, “Janganlah
namakan aku Alfred. Namaku Mariano.”
“Mariano?”
“Benar. Alfred de Lautreville adalah nama samaranku.”
Amy memandang dengan rasa heran kepadanya.
Setelah berdiam sejenak, tanyanya, “Itukah barangkali
yang begitu menekan jiwamu?”
“Benarlah. Mari, kita duduk sebentar. Aku harus jujur
terhadapmu.”
“Dapatkah pengakuanmu itu ditangguhkan?”
“Tidak. Jiwaku begitu tertekan olehnya. Aku ingin bebas
dari tekanan itu.”
“Kau ‘kan masih sakit? Jiwamu akan dibuat tegang
olehnya.”
“Jangan khawatir, Amy. Kekurangjujuranku terasa lebih
berat lagi daripada ingatanku kepada peristiwa-peristiwa
yang berlalu itu.”
Mereka duduk-duduk di atas sebuah batu besar dengan
nyamannya. Setelah Mariano diam sejenak, ia memulai,
“Kurasa, sudah pernah kau dengar sedikit tentang
keturunanku dari Sternau.”
“Benar. Di Rodriganda pernah ia membayangkan dan
kemudian ia menulis surat kepadaku tentang hal itu.”
“Yah. Aku telah jadi korban suatu persekongkolan jahat
dan sudah menjadi tugasku untuk memecahkan soal itu.
Aku telah diculik dari orang tuaku lalu terdampar ke
dalam sarang perampok.”
Amy memekik karena terkejutnya. “Dalam sarang
perampok?
Benarkah itu?”
“Benar. Aku telah dibesarkan di kalangan perampok.”
Itu sekali-kali tidak terduga oleh Amy. Ia menarik nafas
panjang, namun tidak dapat mengucapkan kata-kata.
Sikap diam Amy terasa berat oleh pemuda itu, maka ia
melepaskan diri dari pegangan kekasihnya lalu berkata,
“Kau diam saja. Jadi kau memandang hina aku. Itulah
sesungguhnya yang kutakuti!”
Amy memegang kembali tangan kekasihnya lalu
bertanya, “Tetapi bukankah di luar Kemauanmu bahwa
kau hidup di kalangan orang jahat itu?”
“Benar, karena ketika itu aku masih seorang anak kecil.
Lagi pula meski pun aku hidup di tengah-tengah mereka,
namun aku tidak dibesarkan seperti mereka. Belum
pernah aku melakukan perbuatan menentang hukum.”
“Alhamdulillah. Tetapi aku kurang mengerti, bagaimana
mungkin kau yang hidup bersama perampok kemudian
menjadi orang yang seperti kukenal itu.”
“Karena kepala perampok mempunyai rencana tertentu
denganku. Ia membesarkan sesuai adat kebiasaan yang
terdapat dalam kalangan ningrat. Satu-satunya
perbuatanku yang melanggar hukum ialah memakai nama
palsu. Itu telah aku lakukan di Rodriganda.”
“Namun itu karena terpaksa, bukankah begitu,
Mariano?”
Itulah pertama kali Amy mengucapkan nama itu.
Mariano memegang tangan kekasihnya, menekankannya
kepada hatinya lalu berkata dengan terbata-bata, “Terima
kasih, Amy, terima kasih! Kau begitu baik terhadapku. Kini
aku mempunyai keberanian untuk menceriterakan
segalanya yang sampai sekarang begitu berat menekan
jiwaku.”
Ia mendekatkan gadis itu padanya lalu berceritera:
tentang ingatannya mengenai masa kanak-kanaknya,
tentang hidupnya bersama kaum perampok dan tentang
segala sesuatu yang terjadi kemudian. Lama ia berceritera,
juga tentang kecerdasan Sternau dalam menguraikan
persoalan dan menarik kesimpulan. Setelah ia selesai,
maka Amy memeluk kekasihnya dan berkata, “Terima
kasih untuk keterbukaan hatimu. Kini semuanya sudah
beres, karena aku tahu bahwa kau benar-benar patut aku
menaruh cinta. Tuhan akan memberikan segalanya
menjadi baik bagi kita.”
“Dan bagaimana dengan ayahmu…?” tanya Mariano.
“Jangan khawatir! Ayah selalu adil dan bermurah hati
dan ia sangat menyayangiku. Ia akan selalu berlaku sesuai
dengan hati nuraninya sebagai seorang ayah yang
mencintai putrinya.”
Sepasang asyik masyuk itu masih duduk-duduk
beberapa lamanya lagi di situ tenggelam dalam mimpi
kebahagiaan. Kemudian mereka kembali lagi bergabung
dengan yang lain-lain untuk pergi tidur. Amy tidur dalam
kereta dan kaum pria berbaring di sebelah kereta
tergulung dalam selimut.
Keesokan paginya perjalanan dilanjutkan. Ketegangan
dalam perjalanan itu kurang baik bagi kesehatan Mariano.
Namun Sternau dapat menghibur hati gadis itu dengan
mengatakan bahwa istirahat selama beberapa minggu
akan memadai untuk memulihkan kesehatan kekasihnya.
Amy sebenarnya menginginkan, supaya ketiga orang itu
mau pergi bersamanya ke istana ayahnya, tetapi Sternau
menolak usul itu.
“Kami akan bermalam di suatu hotel,” katanya. “Ayah
Anda masih belum mengenal kami. Apa yang Anda
ceriterakan kepadanya tentang diri kami masih belum
cukup alasan baginya untuk menerima kami sebagai
tamunya.”
“Tetapi Anda telah berbuat banyak kebaikan bagi saya
dan mengantarkan saya kembali ke Mexico.”
Sternau tertawa. “My Lady, apakah kehendak Anda
serta merta memperkenalkan kawan kita Mariano sebagai
tunangan Anda tanpa persiapan sedikit pun?”
Gadis itu menjawab sambil menjadi merah mukanya,
“Benar juga Anda. Untuk sementara Anda menginap saja
dalam sebuah hotel, tetapi Anda harus berjanji selalu
bersedia datang, bila ayah menghendakinya.”
“Saya suka berjanji demikian. Tujuan saya ke Mexico
juga untuk mengenal Pablo Cortejo dan hal itu akan
menjadi lebih mudah bagi saya, bila saya tinggal bersama
Anda. Siapa tahu, di sini kita dapat menemukan kunci dari
segala rahasia yang harus kita pecahkan.”
Kereta pos mula-mula mengantarkan ketiga pria itu ke
sebuah hotel. Kemudian ia pergi ke rumah Amy. Ayahnya
yang sekali-kali tidak menyangka bahwa putrinya begitu
cepat dapat kembali lagi, tercengang melihat putrinya
masuk ke rumah.
“Amy,” serunya serta melangkah dari balik meja
tulisnya. “Mustahil, kau sudah ….”
“Benar yah, ini sungguh aku!” kata gadis itu sambil
tertawa. “Atau ayah menganggap aku ini roh atau hantu?”
“Tetapi mustahil benar kau sudah sampai Jamaica.”
“Namun aku sudah ke situ. Ayah tidak percaya? Lihat
saja buktinya! Ini kubawa, surat jawaban dari gubernur.”
Ia menyampaikan surat-surat itu kepada ayahnya.
“Benar juga!” kata Lord Dryden. “Tetapi mana
mungkin?”
“Itu berkat bantuan dari orang-orang yang
mengantarkan aku, terutama jasa Dokter Sternau.”
“Dokter Sternau!” seru ayahnya terheran-heran. “Bless
me! Tentu bukan Dokter Sternau dari Rodriganda?”
“Memang dialah orangnya!”
“Dia yang mengantarmu ke Mexico?”
“Mula-mula ke Jamaica, kemudian ke Mexico. Ia ada
bersama dua orang temannya. Akan kuceriterakan
semuanya setelah ayah membaca surat jawaban dari
gubernur. Sementara itu aku hendak berganti pakaian.”
Tidak lama kemudian Amy kembali lagi ke ayahnya. Ia
duduk di sisi ayahnya lalu mulai berceritera. Dengan
wajah sungguh-sungguh ayahnya mendengarkan ceritera
yang lebih aneh kedengarannya daripada ceritera khayal,
maka hatinya menjadi cemas. Amy itu putrinya yang
tunggal. Ia mempunyai rencana yang hebat-hebat
berhubung dengan putrinya dan kini putrinya itu mengaku
… jatuh cinta kepada seorang perampok bangsa Spanyol.
Setelah Amy selesai berceritera ia tidak mendapat
jawaban. Ayahnya bangkit berdiri dan berjalan mondarmandir
dalam kamar. Akhirnya ia berdiri di hadapan
putrinya lalu berkata perlahan-lahan, “Amy, putriku,
hingga kini perbuatanmu selalu menyenangkan hatiku,
namun kini kau benar-benar membuat hatiku sedih.”
Gadis itu melompat memeluk ayahnya serta memohon,
“Janganlah marah, ayah, bukanlah maksudku untuk
melukai hati ayah, namun Tuhan telah meletakkan cinta
itu di hatiku, maka aku tidak dapat berbuat lain.”
Dryden perlahan-lahan melepaskan dirinya dari
pelukan putrinya. “Kau percaya akan segala hal yang
diceriterakan oleh Mariano itu?”
“Benar aku percaya semuanya itu.”
“Lalu kau sungguh mencintai … eh … anak angkat
perampok itu?”
“Benar, aku mencintainya,” jawab Amy sambil
memandang ayahnya dengan pandangan yang tulus,
“begitu besar cintaku, sehingga aku tidak dapat hidup
dengan bahagia tanpanya.”
“Dan aku, ayahmu, sudah tiada perlu lagi mendapat
perhatianmu,” kata ayahnya sedih.
“Itu tidak benar, yah. Kau tetap kucintai.”
“Kalau begitu, janganlah mencari seorang petualang
sebagai kawan hidup.”
Gadis itu mendekati ayahnya lalu bertanya, “Ayah ingin
aku menjadi bahagia?”
“Tentu saja! Justru itu aku merasa sedih kau menaruh
hati pada orang semacam itu.”
“Ayah boleh menguji Mariano, silahkan mengujinya! Bila
sesudah itu ayah masih berpendapat, ia kurang pantas,
aku akan mematuhi ayah dan tidak mau bertemu lagi
dengan dia.”
Perkataan itu diucapkan dengan nada menyerah
daripada seorang anak terhadap orang tuanya. Lord
Dryden mengerti hal itu dan menjawab dengan hati lega,
“Terima kasih atas perkataanmu itu, Amy! Ayah tidak akan
mengecewakanmu. Sekarang sebaiknya kau istirahat
sehabis menempuh perjalanan. Sementara itu akan
kupertimbangkan masak-masak, apa yang hendak
kulakukan untuk dapat membahagiakanmu.”
Ia mencium putrinya dengan kasih sayang seorang ayah
lalu melanjutkan pekerjaannya, namun usahanya itu tiada
berhasil. Setelah Amy keluar dari ruangan, ia bangkit lagi
lalu berjalan mondar-mandir. Akhirnya ia dapat mengambil
keputusan.
“Dalam persoalan sepenting ini hanyalah ada seorang
yang dapat memberi pandangan yang berarti,” katanya
dalam hati. “Dan orang itu adalah Sternau. Apa yang
kudengar tentang dia sudah cukup untuk menaruh
kepercayaan penuh padanya.”
Ia membunyikan lonceng dan abdi yang datang
membantunya mengenakan bajunya. Ia tidak pergi naik
kereta, meski pun di Mexico orang biasa menganggap hina
mereka yang berjalan kaki di jalan besar. Namun Lord
Dryden lebih suka berjalan kaki ke hotel tempat ketiga pria
itu bermalam. Pada pemilik hotel ia menyatakan
keinginannya, bertemu dengan Tuan Sternau.
“Ia ada di kamarnya,” jawab orang itu. “Anda ingin
bertemu dengannya? Bolehkah saya tahu, siapakah Anda
ini?”
“Seseorang yang ingin mengadakan pembicaraan empat
mata dengan Tuan Sternau.”
Meski pun Sternau merasa heran bahwa seseorang yang
tidak dikenal ingin bicara dengannya, namun ia
mengabulkan permintaan itu. Setelah Lord Dryden masuk
ke dalam kedua pria itu saling berpandangan sejenak
secara menyelidik. Sternau langsung menyadari bahwa ia
tidak berhadapan dengan sembarang orang dan sebaliknya
Lord Dryden agaknya merasa puas melihat tubuh Sternau
yang tinggi semampai dan berwajah jujur itu.
“Anda ingin bicara dengan saya?” tanya Sternau dalam
bahasa Spanyol.
“Benar, itulah keinginanku,” jawab tamunya. “Dan bila
Anda lebih suka berbahasa Jerman saja, silahkan …”
“O, jadi Anda ini orang Jerman?”
“Bukan, orang Inggris. Namaku Dryden.”
Sternau agak terkejut. “Dryden? Mungkinkah Anda Lord
Dryden, ayahanda …?”
“Memang itu saya, Tuan.”
“Silahkan duduk, my Lord. Saya sedikit pun tidak
menyangka sekonyong-konyong mendapat Anda sebagai
tamu.”
“Memang kedatanganku itu tiba-tiba,” kata Dryden
sambil duduk. “Namun mungkin Anda sudah dapat
menerka maksudnya.”
“Ya, mungkin …” jawab Sternau sambil mengangguk
sungguh-sungguh.
“Tetapi sebaiknya saya mengucapkan terima kasih
dahulu kepada Anda atas segala jerih payah Anda demi
kepentingan putri saya, Dokter.”
“Tidak usah mengucapkan terima kasih. Saya hanya
melakukan kewajiban saya. Setiap pria yang terhormat
akan berbuat seperti itu.”
“Kemudian saya ingin bicara dengan Anda tentang
suatu perkara yang penting.”
Sternau kini membantu Lord Dryden dengan
mengatakan, “Apakah masalah itu menyangkut kawan
putri Anda, yang tinggal bersama saya?”
“Benarlah … pertanyaanku itu bertalian dengan
hubungan antara pemuda itu dengan putriku.”
“Jadi Lady Amy telah langsung memberitahukan Anda
tentang …”
“Ya, langsung! Itu pun sudah saya duga. Putriku tidak
menyimpan rahasia terhadap ayahnya. Anda tentunya
mengenal kawannya itu, dan juga riwayat hidupnya di
masa lampau.”
“Benarlah demikian.”
“Menurut Amy, situasi pemuda itu sekarang masih
memungkinkan perkembangan ke arah yang
menghebohkan!”
“Saya harap, Anda tidak salah mengerti,” kata Sternau.
“Anda ingin tahu, apakah saya mengetahui situasinya.
Saya menjawab, saya tahu, maksud saya situasinya
sekarang. Pengetahuanku itu ringkasnya, demikian
bunyinya: pemuda itu putra seorang perampok yang
melarikan diri dari gerombolannya. Harta benda sedikit
pun tidak ada padanya. Itulah kenyataannya yang pahit
dirinya.”
Lord Dryden memandanginya dengan ragu-ragu. “Tetapi
masih adakah hari depan bagi anak perampok itu?”
“Mungkin sekali ada.”
“Bagaimana kiranya hari depannya itu?”
Sternau mengangkat bahunya. Ia masih belum
mengenal Lord Dryden dan ia tidak mengetahui itikad
tamunya itu, maka ia bermaksud hendak berhati-hati.
“Anda nampaknya segan berbicara banyak-banyak,
Dokter,” kata Dryden. “Namun Anda boleh mengetahui
bahwa saya ingin sekali membahagiakan putriku. Anda
tentunya paham juga bahwa seorang ayah yang mengasihi
putrinya tidak akan merasa senang melihat putrinya jatuh
cinta pada seseorang yang hanya mengetahui tentang
dirinya bahwa ia seorang perampok.”
“Maaf, my Lord! Mariano bukanlah seorang perampok!”
“Baik, saya percaya akan hal itu. Namun Anda tentu
akan paham juga bahwa saya ingin mengetahui lebih
banyak lagi tentang Mariano itu. Dan karena menurut
ceritera orang-orang, Anda itu orang yang terhormat serta
jujur, maka saya mengambil keputusan merundingkannya
dengan Anda. Namun mungkin saya tidak berhasil
mengetuk pintu hati Anda.”
Perkataan itu diutarakan secara jujur dan simpatik,
sehingga hati Sternau menjadi cair. Ia menjawab, “My
Lord, segala sesuatu yang saya ketahui akan saya
ceriterakan kepada Anda. Tanya saja apa pun, akan saya
jawab.”
“Benarkah ada kemungkinan bahwa Mariano itu putra
Pangeran Manuel de Rodriganda yang telah diculik?”
“Benar, my Lord. Dan saya adalah orang pertama yang
mempunyai dugaan itu,” kata Sternau bersungguhsungguh.
“Bolehkah saya tanya, bagaimana Anda sampai pada
kesimpulan itu.”
“Tentu boleh. Bila Anda ada waktu, saya bersedia
menceriterakan segala pengalaman saya.”
“Ingin sekali saya dengar ceritera itu. Putriku pernah
berceritera juga, tetapi ceriteranya itu sama sekali tidak
lengkap, sehingga saya ingin mendengar dari Anda juga.”
“Dengarlah saya.”
Sternau berceritera panjang lebar tentang
pengalamannya serta pemikirannya sejak ia tiba di Spanyol
hingga saat kini. Dryden mendengar dengan perhatian
yang kian memuncak. Perkataan Sternau itu mengandung
ketulusan serta kejujuran dan kesimpulan-kesimpulan
yang diambilnya berdasarkan fakta-fakta yang begitu
nyata, sehingga dapat meyakinkan Dryden.
“Bukan main!” serunya akhirnya. “Cara Anda menarik
kesimpulan membuat saya yakin. Jadi ringkasnya perkara
itu demikian: putra Pangeran Manuel de Rodriganda yang
tinggal satu-satunya itu telah diculik. Penculikan
dikerjakan oleh para perampok yang menyembunyikan
anak itu di dalam sarang mereka, namun pelakunya yang
sesungguhnya adalah Gasparino Cortejo.”
“Itu adalah keyakinku.”
“Namun apa tujuan mereka dengan melakukan
penculikan itu? Pertanyaan itu saya kira penting juga.”
“Untuk membuat putra Gasparino menjadi Pangeran
Rodriganda.”
“Benar. Namun rahasia itu dibongkar oleh pengemis
Tirto Sertano dengan menceriterakannya kepada anak itu.
Maka anak itu mulai menjadi sadar akan asal usulnya
yang sesungguhnya. Ia pergi ke Rodriganda. Di situ ia
dikenali oleh Cortejo. Cortejo menyerahkannya kepada
nakhoda bajak laut yang disuruh menyingkirkannya ke
Mexico. Begitulah jalanya peristiwa, bukan?”
“Benarlah.”
“Adakah maksud-maksud tertentu, mengapa Anda
sampai melakukan perjalanan sampai ke Mexico ini?”
“Pertama saya ingin tahu masih hidupkah Maria
Hermoyes yang telah membawa anak yang tertukar itu ke
Mexico. Demikian juga seorang bernama Pedro Arbellez,
penyewa tanah Pangeran Fernando. Lagi pula, my Lord,
Anda harus tahu bahwa menurut hemat saya Pangeran
Fernando itu belum meninggal. Nakhodaku, dahulunya
seorang Mualim, bernama Unger, menceriterakan bahwa
seorang bernama Fernando telah ditawan serta dijual di
Harrar.”
“Jadi menurut pendapat Anda tawanan itu Pangeran
Fernando?”
“Begitulah! Dugaan itu mungkin aneh kedengarannya,
namun janganlah kita lupa bahwa Cortejo itu biasa, tanpa
segan-segan menggunakan cara sekeji-kejinya. Maka
segalanya menjadi mungkin. Saya bermaksud hendak
menyuruh buka makam keluarga Rodriganda di Mexico ini
untuk mengetahui ada tidaknya jenazah Pangeran itu.”
“Saya akan membantu meminta izin kepada
pemerintah.”
Sternau menggelengkan kepalanya serta berkata,
“Terima kasih, my Lord, namun saya kurang suka
mendapat bantuan dari pemerintah.”
“Kalau begitu, usaha Anda akan menjadi berbahaya
sekali, Dokter!”
“Bahaya itu tidak berarti apa-apa bagiku. Namun saya
masih ingin meminta sesuatu kepada Anda. Dapatkah
Anda memperkenalkan saya secara biasa saja dengan
Pablo Cortejo?”
“Tentu saja. Jadi Anda ingin berkenalan dengannya?”
“Ya, saya harus.”
“Baik. Ia kadang-kadang diizinkan juga masuk dalam
lingkungan masyarakat tempat saya bergerak. Padahal
saya sebenarnya yakin bahwa ia bukanlah orang baik-baik.
Baru-baru ini ia hendak … o, tunggu sebentar, saya
teringat akan sesuatu … bukankah Anda ingin tahu
tempat tinggal Arbellez?”
“Benar, itulah yang ingin saya ketahui.”
“Itu dapat saya terangkan. Ia adalah pemilik baru
hacienda del Erina yang letaknya sebelah utara. Cortejo
berusaha menipuku. Saya disuruh membeli hacienda itu,
meskipun sudah milik Arbellez.”
“Kalau begitu, saya harus pergi ke hacienda itu.”
“Tetapi Dokter, untuk apa segala susah itu?”
“Janganlah Anda lupakan bahwa Condesa Roseta de
Rodriganda itu Istriku. Mariano itu kakaknya, jadi iparku.”
“Tahukah ia tentang itu?”
“Ia sudah menduganya. Saya masih belum
memberitahukan kepadanya. Saya pun berpesan pada
Lady Amy dan kawan seperjalananku, nakhoda Unger,
untuk tidak berbicara tentang hal itu. Ia baru diberi tahu,
bila fakta-faktanya sudah nyata. Bagaimana jalannya
untuk mengetahui letak makam Pangeran Fernando
dengan cara yang tiada menarik perhatian?”
“Saya akan mencari keterangan tentang hal itu. Bila
saya yang menanyakan, tidak akan terasa ganjil.”
“Baik, my Lord dan bila mungkin secepatnya, sebab …”
Sternau memutuskan percakapannya karena pintu
terbuka lalu Mariano masuk ke dalam. Ketika ia melihat
tamu itu ia hendak pergi lagi, tetapi Sternau bangkit
berdiri dan menahannya.
“Masuklah kawan,” katanya. “Anda tidak mengganggu.”
Ia menghadap lagi pada Lord Dryden lalu melanjutkan
dalam Bahasa Spanyol, “Inilah Senor Mariano.” Kepada
pemuda itu ia berkata, “Dan ini Lord Dryden, ayah gadis
yang kita antarkan.”
Ketika Mariano mendengar nama ayah kekasihnya itu
mukanya menjadi merah. Namun ia dapat menguasai diri
lalu membungkuk secara terhormat di hadapan Lord.
“Kami telah membicarakan Anda,” kata Lord itu dengan
jujur. “Saya ingin bertemu Anda. Kedatangan Anda
membuat saya tidak perlu pergi berkunjung pada Anda.
Anda telah melindungi putri saya dalam perjalanannya
pulang. Untuk itu saya harus mengucapkan terima kasih.”
Ia mengulurkan tangannya kepada pemuda itu yang
menjawab, “Maaf my Lord, ketika itu tidak memungkinkan
saya memberi perlindungan secukupnya kepada putri
Anda, karena ketika itu saya sakit.”
Pipinya yang pucat itu menjadi agak kemerah-merahan
dan matanya yang letih lesu itu sedikit menampakkan
hidup. Meskipun gambaran Sternau sudah dapat
melunakkan hati Dryden, namun wajah Mariano yang
menghibakan itu menambah lagi lunaknya. Dryden
memagang tangan pemuda yang tinggal kulit pembalut
tulang itu lalu berkata dengan ramahnya, “Anda sangat
membutuhkan istirahat dan perawatan. Dapatkah Anda
memperolehnya di tempat ini?”
“Saya harap dapat, my Lord.”
“Anda dapat berharap, namun itu tidak mungkin.
Penginapan di Mexico itu kurang sesuai bagi orang sakit.
Maka terimalah undangan saya untuk tinggal di rumah
saya.”
Mariano menengadah, di matanya nampak percik
kegirangan. “My Lord,” jawabnya, “saya ini seorang
pengembara yang hina yang tidak pantas mengharapkan
kebaikan dari Anda.”
“Namun, terimalah saja ajakan saya, kawan! Dokter
Sternau telah menceriterakan sedikit tentang nasib Anda
dan ceritera itu telah membuat saya yakin bahwa Anda
bukanlah seorang pengembara, sungguhpun anda tidak
berharta. Silahkan!”
Mariano memandang kepada Sternau seolah hendak
menanyakan sesuatu. Kemudian ia berkata, “Saya tidak
ingin berpisah dengan kawanku, my Lord.”
Sambil tersenyum orang Inggris itu berkata, “Tentang
itu sudah beres, tentu saja Dokter Sternau turut datang
bersama Anda. Tuan Unger pun yang tinggal bersama
Anda mungkin tidak berkeberatan turut pindah ke rumah
saya. Setujukah?”
Pertanyaan yang terakhir ditujukannya kepada Sternau
yang berjalan menghampirinya dengan tangan terulur.
Dengan mata yang memancarkan kegembiraan ia
menjawab, “My Lord, kami sangat berterima kasih atas
kemuliaan hati Anda. Semoga Tuhan melimpahkan
berkahnya kepada Anda. Kami terima undangan Anda.”
“Dan lebih cepat lebih baik, Tuan-tuan! Kini saya pergi
dan mengirim sebuah kereta. Sampai bertemu lagi!”
Lord Dryden berangkat dan Sternau mengantarkannya
hingga ke pintu gerbang. Sekembalinya dalam kamarnya ia
melihat Mariano duduk di atas divan, matanya bergelimang
dengan air mata.
“Ada apa?” tana Sternau cemas.
“Tidak apa-apa,” jawab orang Spanyol itu. ‘Saya
menangis karena gembira. Tadinya saya benar-benar
merasa khawatir akan tanggapan ayah Amy.”
“Nah, Anda sudah melihat sendiri, ayahnya sedikit pun
tidak marah kepada Anda.”
“Ya, dan itu berkat perantaraan Anda. Sudah saya
duga, ia kemari untuk menanyakan tentang diriku.
Maafkan saya karena saya harus menangis. Orang sakit
tiada kuasa menahan perasaannya bila ia sedang dalam
bahagia ataupun dirundung malang. Saya merasa bahagia
setelah mengetahui bahwa orang itu tidak merasa dendam
terhadapku, bahkan ia mau berbicara denganku.”
Tidak lama kemudian sebuah kereta datang untuk
menjemput Sternau, Mariano dan Unger pergi ke rumah
Lord Dryden. Rumah itu merupakan sebuah istana yang
indah dengan banyak kamarnya yang indah-indah. Ketiga
tamu itu mendapat kamar yang layak untuk disediakan
bagi seorang raja pun.
Mariano masih belum dapat naik kuda karena
tubuhnya masih lemah dan Unger tidak bisa naik kuda.
Dalam hidupnya ia naik kuda tidak lebih dari sepuluh kali.
Akan tetapi Dokter Sternau esok harinya sudah diminta
Lord Dryden menemaninya naik kuda sepanjang Alameda
(jalan raya di Mexico). Setiap orang memandang dengan
penuh kekaguman kepada penunggang kuda tangkas dan
bertubuh besar.
Josefa Coretejo sedang berbaring-baring dalam
kamarnya. Ia sedang menghisap rokok. Itu merupakan
kebiasaan dari kebanyakan wanita Mexico. Ia memegang
buku di tangannya. Matanya yang seperti burung hantu
itu tidak tertuju pada huruf-hurufnya, melainkan
memandang kosong ke arah jauh. Ia teringat akan
Pangeran Alfonso, kekasihnya yang sebelum ia pergi
meninggalkannya telah berjanji untuk mengawininya,
meski pun pria itu tidak mencintainya. Ia teringat akan
gadis-gadis Mexico yang sangat cantik serta
menggairahkan. Alangkah mudahnya mereka memikat dan
memasang jerat. Dapatkah kekasihnya itu lama bertahan
terhadap rayuan mereka.
Ayahnya masuk ke dalam memegang surat di
tangannya. Dengan dahi berkerut ia berkata, “Tadi datang
tukang pos membawa surat-surat untuk kita. Di antaranya
ada surat kakak.”
Josefa langsung bangkit melompat serta meminta surat
itu. “Mari saya baca! Khabar apa mereka bawa untuk
kita?”
“Yah … khabar buruk dan baik! Alfonso telah pergi ke
Jerman juga.”
“Apa yang dikendakinya di situ?”
“Itu gara-gara si cerdik Dokter Jerman itu.
Kedatangannya di Spanyol ketika itu merupakan bencana
bagi kita. Dia adalah musuh kita yang utama. ”
Josefa menarik keningnya secara mengejek. “Baru
seorang Dokter. Apa yang harus ditakuti?” katanya dengan
congkaknya.
“Banyaklah alasan mengapa kita harus merasa takut
padanya,” jawab Cortejo sungguh-sungguh. “Sejak hari
pertama ia hadir di Rodriganda ia sudah mencium rencana
kita. Orang itu bukan main cerdasnya dan nasib selalu ada
di pihaknya seakan ia kekasih iblis sendiri.”
“Benar juga pendapat ayah, maka pada suatu hari iblis
itu akan datang menjemputnya. Baru saja saya
memikirkan tentang dia. Apakah ayah sudah mendengar
tentang seorang Jerman yang sedang merusak lingkungan
kita? Namanya Senor Sternau. Ia seorang tamu dari Duta
Inggris. Ia diperkenalkan kepada kalangan ningrat yang
tinggi, bahkan kemarin ia sampai mendapat undangan dari
Presiden sendiri. Ia seorang dokter, hanya seorang dokter,
cih, memalukan benar!”
“Sternau, katamu? Caramba! Mungkin orang itu juga!”
“Itupun sudah terpikir olehku meski pun nama dan
jabatan mungkin merupakan kebetulan saja. Orang
bernama Karl Sternau yang ayah takuti itu masih berada
di Jerman, jadi tidaklah mungkin ia ada di sini.”
Wajah Cortejo menjadi suram. “Itukah keyakinanmu?”
tanyanya.
“Bukankah dalam surat paman sebelum suratnya yang
terakhir disebut tentang hal itu?”
“Benar, namun surat itu sudah lama kita terima.”
“Jadi ayah berpendapat bahwa …” kata Josefa
kehilangan sabarnya.
“Silahkan kau baca surat ini saja,” kata ayahnya
memotong perkataan gadis itu. Ia memberikan surat itu
kepada putrinya lalu gadis itu membaca,
Manresa, 25-1-1849
Pablo yang baik,
Sekali ini aku ada berita penting untukmu.
Sebagaimana kau ketahui, Dokter Sternau telah lolos. Aku
telah menulis surat padamu bahwa Alfonso tidak berhasil
mengejarya ke Paris. Sternau sudah meneruskan
perjalanan ke Jerman. Alfonso tetap mengejarnya, tetapi
hanya berhasil mengetahui rumah tempat ia tinggal. Ia
terpaksa belum dapat melakukan tindakan apa-apa.
Sternau menikah dengan Roseta. Pernikahan itu
dilangsungkan di sebuah gedung yang bernama
Rheimswalden di Jerman. Setelah pernikahan itu Sternau
mengadakan perjalanan. Tahukah kamu apa yang menjadi
tujuannya? Untuk mencari nakhoda Landola, untuk
merebut Mariano dari tangannya, Mariano yang di
Rodriganda memakai nama “Alfred de Lautreville” itu.
Orang itu cerdik dan berbahaya. Semoga rencana
liciknya semuanya gagal.
Semua pelabuhan yang dapat disinggahi Landola sudah
aku kirimi berita-berita rahasia. Bukanlah tidak mungkin
bahwa ia pergi ke Mexico, maka perlu juga aku
mengingatkanmu akan kemungkinan itu. Sternau harus
kita binasakan, kalau tidak, kita sendiri akan binasa.
Kini berita yang lebih menyenangkan! Alfonso telah
menjadi tuan rumah di puri Rodriganda. Tugasnya
mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan puri
itu. Masih ada satu tugasnya yang belum terselesaikan,
yaitu menjaga kesinambungan keturunan. Dengan kata
lain ia harus menikah.
Mengingat kepentingan itu maka aku langsung mencari
ke sana ke mari dan akhirnya alhamdulillah aku berhasil
juga menghubungkannya dengan seorang wanita dari
keturunan ningrat Spanyol kelas satu, yang memenuhi
segala persyaratan untuk mengantarkan nama Rodriganda
kepada keharuman tiada taranya.
Semoga saya mempunyai pengaruh cukup besar untuk
dapat memungkinkan terselenggaranya pernikahan yang
diidam-idamkan itu. Demi semua perkara itu menjadi
beres, akan kau dengar lagi berita dariku.
Kakakmu, Gasparino Cortejo
Ketika membaca bagian kedua dari surat itu, Josefa
nampak menjadi makin pucat dan setelah seluruh surat
dibacanya, ia meremas-remas surat itu serta
melemparkannya ke atas tanah. Dengan menggertakkan
gigi ia berseru, “Awas, kau Alfonso! Bila kau berani
melanggar janji, kau akan mengalami nasib serupa dengan
surat ini, dicampakkan dan diinjak-injak!”
Amarahnya yang meluap-luap itu membuat wajah gadis
itu bertambah buruk. Ayahnya meletakkan tangannya ke
atas bahu gadis itu untuk menenangkan hatinya, “Tenangtenang
saja, Nak. Masih belum terlambat,” katanya.
“Memang masih belum terlambat,” kata Josefa dengan
congkaknya, “karena rencana mereka itu tidak akan
mungkin dilaksanakan! Namun rencana itu sendiri sudah
berarti pengkhianatan bagiku!”
“Itu tidak benar”
“Apa? Ayah mau membela mereka?”
“Kakakku yang mau kubela bukan Alfonso. Gasparino
tidak tahu bahwa Alfonso sudah mengikrarkan sumpah
itu, maka kita tidak boleh marah padanya.”
“Maka harus lebih berat lagi hukuman yang ditimpakan
pada pria yang kurang teguh pendirian itu. Aku tidak akan
melepaskannya. Ia aku punya, ia milikku, tidak boleh
dimiliki oleh orang lain, siapa pun. Aku mau jadi Putri
Rodriganda dan kemauanku selalu akan tercapai …
dengan cara bagaimana pun. Habis perkara.”
Demikian ia mengamuk di hadapan ayahnya. Namun
ayahnya menjawab dengan tenang, “Aku akan menulis
surat kepada Gasparino.”
“Benar, ayah, dan minta jawaban selekasnya!”
“Dan bila jawabannya berbunyi “tidak”?”
“Maka ia akan binasa. Itu kunyatakan dengan sumpah.”
“Namun Gasparino itu kakakku.”
“Justru karena itu ia harus pandai-pandai
menyesuaikan diri dengan kepentingan kita. Maka makin
beratlah kesalahannya bila ia tidak dapat. Ayah masih
ingat, surat wasiat itu ada di tanganku, bukan?”
“Kau mau menggunakannya untuk melawan dia?”
Josefa tertawa mengejek. Secara menantang ia
menghampiri ayahnya. “Coba, Ayah pikirkan baik-baik.
Kakak ayah mempunyai seorang putra dan ayah
mempunyai seorang putri. Kita ini terus terang saja tidak
lain daripada pencuri, penipu, ya bahkan pembunuh
untuk memperoleh Rodriganda. Apakah adil, bila hanya
putranya mendapat seluruh harta, sedangkan putri ayah
tidak mendapat apa-apa? Tidak, harta ini kepunyaan dia
bersama aku. Bila ia menjadi pangeran, aku akan menjadi
putri, itu satu-satunya pemecahannya yang wajar dan adil,
maka bagaimana pun aku tidak dapat dibujuk untuk
melepaskan pendirian itu.”
Cortejo merasa sebaiknya harus mengalah sedikit.
“Pada dasarnya aku setuju denganmu,” katanya, “tetapi
sebaiknya engkau jangan terlalu berhati panas. Sekarang
lebih baik kita mencurahkan perhatian kepada perkaraperkara
yang kini ada di hadapan mata kita.”
“Perkara apakah itu kiranya?” tanya gadis itu dengan
tiada sabar.
“Maksudku Dokter Sternau.”
“Jadi dialah orangnya!” seru Josefa yang baru sekarang
teringat akan isi bagian pertama surat itu. “Ada-ada saja!
Jadi orang itu telah meninggalkan Jerman untuk mencari
nakhoda Landola. Dan ayah berpendapat bahwa Sternau
yang di sini itu sama dengan Sternau dalam surat itu?”
“Besar kemungkinannya.”
“Itu harus kita selidiki.”
“Tetapi bagaimana? Kita tidak dapat pergi ke Lord
Dryden.”
“Tidak,” kata gadis itu sambil tersenyum. “Serahkan
saja perkara itu kepadaku! Aku akan mengusahakan
supaya kita mendapat undangan. Kita akan bertemu
dengannya di situ.”
“Kau tahu, bagaimana ciri-ciri tubuhnya?”
“Tubuhnya tinggi besar dan tegap kuat, seorang raksasa
dibandingkan dengan orang-orang lain.”
“Itu sesuai benar dengan gambaran yang diberikan
dalam surat itu. Gasparino menyebut tentang seorang
raksasa seperti Goliath.”
“Itu belum merupakan suatu bukti. Ada kemungkinan
mereka itu kakak beradik atau saudara. Aku pernah
mendengar bahwa banyak orang dari daerah utara dapat
digolongkan kepada raksasa. Baiklah, jadi aku akan
mengusahakan undangan, maka yang selebihnya akan
menjadi beres dengan sendirinya.”
Kebetulan Sternau pun sangat menghendaki pertemuan
itu. Ia menduga bahwa Cortejo sudah akan mengenal
namanya. Ia pun tahu bahwa ia sudah menjadi pokok
pembicaraan. Tentunya Gasparino Cortejo telah
mendengar tentang dia. Jadi dapat kita pahami bila
Sternau ingin berkenalan dengan Cortejo. Setiap kali ia
datang berkunjung pada orang, ia mengharapkan bertemu
dengannya. Dari beberapa penyelidikan ia dapat
mengetahui bahwa Cortejo dapat masuk ke kalangan yang
tinggi sebagai wakil Pangeran Rodriganda.
Bersambung ke jilid II

sumber: DISALIN OLEH
Johannes Sulistio, Lidia Chang, Mai Damai Ria
Hans Wuysang, & Mackylafry Darwin
UNTUK
PAGUYUBAN KARL MAY INDONESIA

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s