Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 456)

Tiba-tiba Direktur CIA itu berseri wajahnya.
‘’Terima kasih, Tuan mengingatkan kami. Benar dalam paket bantuan untuk pasukan tuan ada peluru itu. Tapi paket khusus yang didatangkan setahun lalu’’
Yang hadir di tower itu seperti mendapat nafas baru.
‘’Anda sebutkan saja kode peti senjata dan peluru yang dimaksudkan..’’ ujar Kepala Staf Angkatan Perang itu.
Direktur CIA itu segera menyebutkan kodenya. Kepala Staf Angkatan Perang Mexico mencatat dan memberi instruksi lewat telepon pada anak buahnya.
‘’Apakah tempat penyimpanan amunisi Anda jauh dari sini?’’ tanya Menteri Luar Negeri Amerika.
‘’Itu rahasia, tapi kami akan mendatangkannya dalam waktu singkat..’’
Mexico memang dikenal sebagai negeri yang punya hubungan dekat dengan Amerika. Amerika memerlukan negara di selatan ini untuk membendung komunis. Dalam waktu singkat dari gudang amunisi yang letaknya memang di sekitar lapangan udara, peluru yang diminta datang, berikut bedilnya sekalian.
Senapan mirip M16 yang belum banyak beredar saat itu. Namun loopnya agak khusus, agak besar. Loop yang agak besar ini adalah untuk tempat peluru kimia tersebut. Pelurunya berbentuk cerutu sebesar kelingking. Pangkalnya agak besar untuk tempat bertumpu pada bedil. Jika ditembakkan, cerutu sebesar kelingking itulah yang terbang. Menancap di tempat yang dikehendaki. Kemudian peluru itu akan pecah dan menyebarkan kimianya secara diam-diam. Tanpa suara, tanpa bunyi dan tanpa warna.
‘’Berapa kekuatan peluru ini dan berapa lama dia mulai bereaksi?’’ tanya Menteri Luar Negeri AS.
‘’Peluru ini segera bereaksi begitu dia mencapai sasaran. Untuk pesawat sebesar yang di lapangan sana, dengan penumpang sekitar enam puluh orang, kita hanya membutuhkan waktu satu menit dengan jenis peluru yang ini..’’ ujar Kepala CIA itu sambil memilih peluru berkepala hijau.
’Kini beri isyarat ke sana, kita siap untuk melaksanakannya. Siapa yang akan menembak hingga persis masuk ke jendela yang pecah itu?’’
‘’Ada empat atau lima orang yang yang bisa menembak ke sana, termasuk kolonel ini..’’ ujar Kepala CIA itu.
Mereka segera bersiap. Kolonel itu mempersiapkan bedilnya. Membidik lewat teleskop dengan sinar infra merah ke lobang jendela yang pecah itu. Kemudian memberi isarat bahwa dia sudah siap.
‘’Beri isyarat ke pesawat itu…’’ ujar Menteri Luar Negeri.
Kepala CIA itu segera memencet tombol lentera listrik sekali. Lalu menanti. Tongky yang memang telah menanti isyarat itu segera memencet senternya. Orang-orang di menara membaca pesannya kembali:
‘’Tunggu isyarat berikutnya untuk menembak..’’
Mereka yang di Tower menanti. Si Bungsu yang dibisiki oleh Tongky tentang rencananya, diberi tahu pula bahwa orang di tower telah siap. Dan si Bungsu harus memulai rencana yang mereka rancang. Dia harus berpura-pura pergi ke WC di belakang. Kemudian dengan segela usaha harus bisa membuat pembajak yang di sebelah kananya beranjak dari sana. Sebab tempat di belakang pembajak itu tegak adalah tempat dimana peluru bius itu akan bersarang, jika ditembakan dari tower.
Jika pembajak itu masih tegak di sana, maka peluru bius itu akan menghantam kepala atau lehernya. Jika itu terjadi, maka kawan-kawannya yang lain pasti akan meledakkan granat mereka, karena menyangka bahwa pihak keamanan mulai menyerang. Jika pembajak itu berhasil tegak, maka peluru itu akan menghantam bahagian yang lembut di belakang tempat tegaknya, ditambah dengan suara batuk yang diatur Tongky, maka terkaman peluru itu tak bakal diketahui. Selanjutnya mereka boleh tidur bersama. Si Bungsu mulai angkat bicara:
‘’Boleh saya ke WC di belakang?’’
Pembajak yang harus menghindar itu tak menyahut, hanya memberi isyarat dengan mengayun ujung pistolnya ke arah belakang. Artinya dia mengizinkan si Bungsu ke belakang. Si Bungsu menanti beberapa saat, kemudian tegak. Ketika lewat dekat orang itu dia tersenyum. Namun pembajak itu seperti patung yang beku. Tak bereaksi sedikitpun. Si Bungsu terus ke belakang. Di dalam toilet dia hanya mencuci muka, dan bersisir.
Ketika dia keluar, Tongky sudah menanti dengan tegang. Namun pembajak itu masih di tempatnya, tak bergeser sedikitpun. Si Bungsu lewat lagi ke depan. Ketika akan melewati tempat pembajak yang harus dia pindahkan itu, Yuanita muncul di depan sana.
‘’Nona, saya ingin ke tempatmu..’’ katanya sambil bergegas ke depan.
Gadis cantik itu tentu saja terganga heran. Tapi pembajak yang lain jadi berang. Yang tegak di sisi kanan tempatnya lewat berusaha menjangkaunya, namun tak berhasil. Karena itu pembajak tersebut memburu pula ke depan. Dan saat itu Tongky yang sudah siap dengan senter mininya memberi isyarat.
‘’Itu isyaratnya…!’’ seru Direktur CIA yang ada di tower.
Seruan itu sekaligus berupa perintah pada kolonel yang sejak tadi tetap membidik. Pelatuk dia tarik. Peluru bius itu meluncur dan masuk persis di lobang kaca jendela yang pecah itu. Menghujam di sandaran tempat duduk dimana pembajak tadi berada.
‘’Hei, bajingan, kau kembali atau kutembak..’’ seru pembajak itu pada si Bungsu.
Si Bungsu terhenti. Lalu menatap pada Yuanita di depan sana. Gadis itu tersenyum manis.
‘’Jangan nervus, Love. Duduklah di tempatmu kembali. Atau kalau kau ingin duduk di depan ini agar lebih dekat denganku, mari.. silahkan…’’
Si Bungsu tersenyum dan melangkah. Namun dia terhuyung. Pembajak itu, pramugari itu juga terhuyung. Semuanya rubuh pada waktu hampir bersamaan!
Peluru kimia buatan Amerika itu bekerja amat cepat dan amat tepat waktunya. Peluru yang ditembakan itu ternyata ada tiga buah, beruntun dalam waktu setengah detik. Dan begitu menghantam sasarannya di sandaran tempat duduk, bius yang amat tinggi dosisnya itu segera bekerja.
Mesin pendingin udara yang ada dalam pesawat itu justru mempercepat menyebarnya pengaruh bius itu ke segala pelosok pesawat. Dalam waktu hanya setengah menit, tak seorangpun dalam kabin penumpang yang sadar, kecuali Tongky yang memang telah waspada benar.
Dia veteran perang Vietnam. Karenanya dia mengenal dengan baik cara kerja senjata buatan Amerika itu. Karena itu, begitu dia menekan senter kecilnya untuk memberi isyarat, dia telah menyiapkan diri. Sehelai sapu tangan dia pergunakan menutup mulut dan hidungnya.
Kini ketika…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s