Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 460)

Direktur CIA itu saling pandang dengan petugas keamanan.
‘’Jangan khawatir. Dia bukan bahagian dari kami. Dia benar-benar seorang penumpang biasa. Seorang lelaki. Saya harap Anda bisa mengerti..’’
Dan tiba-tiba saja Direktur CIA itu menjadi maklum. Dia punya seorang anak gadis yang sebaya dengan pramugari cantik ini. Gadisnya itu seorang yang manja.
‘’Baik, Anda bisa sebutkan namanya. Tapi kami hanya bisa memberi waktu lima menit. Tak lebih’’
‘’Terimakasih. Saya justru hanya butuh waktu setengah menit..’’
‘’Nona, bisa sebutkan namanya, agar kami bawa dia kemari..’’
‘’Saya tak tahu namanya..’’
Direktur CIA itu tertegun heran.
‘’Ya saya tak tahu namanya. Namun saya bisa sebutkan ciri-cirinya’’.
‘’Baiklah. Anda sebutkan ciri-cirinya..’’
Yuanita menyebutkan ciri lelaki yang ingin dia temui itu. Di ruang khusus di salah satu tempat dekat lapangan itu, para bekas sandera masih ada yang menunggu pesawat. Sebahagian besar diantara mereka telah diterbangkan ke kota masing-masing. Seorang petugas bergegas ke sana. Menyeruak diantara petugas keamanan yang menjaga dengan ketat. Berbisik dan mencari-cari. Kemudian mendekati seorang lelaki.
‘’Tuan, Anda diminta datang ke ruang itu..’’ petugas tersebut bicara pada si lelaki. Lelaki itu, yang tak lain daripada si Bungsu, jadi kaget.
‘’Saya..?’’
‘’Ya, Tuan..!’’
Si Bungsu memandang pada Tongky yang tengah duduk bersandar di kursi sambil menaikkan kaki ke meja. Di meja ada dua botol bir yang telah kosong. Sebuah piring yang penuh tulang ayam.
‘’Saya dengan teman saya ini?’’
‘’Tidak, Anda sendirian..’’
Tongky mengedipkan mata. Dan si Bungsu mengikuti petugas itu. Dia segera dibawa ke luar ruangan. Ke sebuah jalan di depan ruang tunggu. Naik ke sebuah jip, kemudian jip itu dipacu ke sudut lapangan yang lain. Lalu berhenti di dekat sebuah pesawat jet kecil yang dijaga dengan ketat. Di dekat tangga, ada tiga orang tegak. Satu diantaranya adalah perempuan. Yang segera dikenali oleh si Bungsu sebagai Yuanita.
‘’Dia yang Anda maksud..?’’ tanya Direktur CIA itu begitu jip tersebut berhenti.
Gadis itu mengangguk. Matanya tak lepas menatap si Bungsu yang termangu-mangu di atas jip. Si Bungsu benar-benar tak tahu akan mengapa. Dia turun dari jip itu. Kemudian melangkah mendekati gadis yang tetap saja memandangnya tak berkedip. Petugas-petugas, termasuk Direktur CIA, menatap setiap gerak kedua orang itu dengan diam. Sebenarnya adalah tak sopan berlaku demikian. Menatap sepasang anak muda yang barangkali entah akan mengapa. Tapi yang mereka hadapi ini bukan sembarang anak muda. Yang perempuan adalah gembong pembajak komunis yang amat militan.
Siapa tahu, kesempatan seperti ini dia pergunakan untuk bunuh diri, atau melakukan penyanderaan lagi, misalnya. Jika gerakan mencurigakan seperti itu mereka lihat, mereka sudah siap sedia. Gadis ini merupakan salah satu tertuduh utama, dan merupakan mata rantai amat penting dalam menggulung sindikat terorisme internasional. Makanya dia tak boleh diabaikan.
Itu pula sebabnya, meski dalam keadaan bagaimanapun, dia harus diawasi dengan ketat, walaupun terasa agak kurang sopan. Namun si Bungsu sama sekali tak tahu untuk apa dia datang ke sana. Kalaupun benar seperti yang diucapkan Direktur CIA, maka dia juga tak tahu kenapa gadis itu memintanya untuk datang. Dia mendekati gadis itu. Yang rambutnya tergerai ditiup angin di lapangan udara Mexico City itu. Kemudian tegak tiga langkah di depanya. Dia masih menatap sejenak. Menatap gadis yang sejak tadi memang telah menantinya.
‘’Anda meminta saya untuk kemari, Nona?’’ tanya si Bungsu pelan.
Gadis itu tak menjawab, melainkan mendekat padanya. Menglurkan tangan untuk bersalaman. Si Bungsu ragu-ragu, namun  akhirnya menyambut uluran tangan itu. Gadis itu menjabatnya dengan erat, dan tanpa diduga —dan tak dapat dielakkan si Bungsu— Yuanita menarik tangannya mendekat. Menyebabkan tubuh mereka saling merapat dan tubuhnya langsung dipeluk gadis itu. Tidak berhenti sampai di sana, gadis itu mencium bibirnya.
Si Bungsu…

8 Comments

  1. lanjut bang….terima kasih

  2. Wah banyak koleksi Uda Cunop ko mah..
    Terima kasih atas postingannya…
    Masih adakah koleksi Tikam Samurai yang lain…?
    Dari blog Uda ko banyak yang putus ceritanyo…

  3. Lanjutin dong… dan kalau bisa jangan melompat2 nomernya dong….
    Lihat tuh banyak no yg gak ada. contohnya no. 457 dan no. 459

    • mohon maaf atas ketidaknyamanannya. no nya lompat, karena keterbatasan sumber.

      • yaa.. ko ga lengkap gan.. di singgalang udah sampai ke vietnam gan.. tapi saya ketinggalan episode terakhir di dalas, tolong diposting dong..

  4. Tambah bang. Sedap betul baca nih cerita.

  5. Siang Mas,

    Saya salah satu penggemar karya-karya Makmur hendrik. Saya mempunyai beberapa buku cerita hasil karya beliau, antara lain tikam Samurai, giring-giring Perak, terjebak diperut bumi.

    Untuk tikam samurai saya sudah melihat di blog anda, ternyata anda mempunyai buku tersebut sampai tamat. Saya sudah mencari dibeberapa tempat untuk melengkapkan koleksi buku ini tapi tidak saya dapatkan. Jadi dimana saya bisa mendapatkan komplit buku cerita ini?? Koleksi yang saya punya itu asli keluaran tahun perdana pengeluaran sampai Jilid IV (tidak komplit) V, dan VI.

    Thanks untuk infonya…

  6. saya seng sekali baca tikam samurai,,,sayang tidak lengkap,,,


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s