Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 462)

Di bahagian tengah, disebut sebagai Centrum City. Pusat kota tidak hanya disebut Centrum karena berada di tengah. Pengertian Centrum diartikan sebagai ‘pusat’nya segala kegiatan. Kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan yang mengatur dunia! Sekali lagi, “yang mengatur dunia”! Di bahagian inilah para bandit Mafia mengatur cabang dan kegiatannya hampir di seluruh penjuru dunia.
Di bahagian ini pula terdapat sebuah kantor Caltex, yang kelihatannya tak begitu besar, namun dari situlah seluruh kebijaksanaan perusahaan minya raksasa itu dikomandokan. Dan.. di bahagian ini pula pusat perjudian, pelacuran serta kegiatan politik disutradarai! Jadi bedanya amat menyolok antara kota bahagian utara dimana Gubernur berkantor dengan bahagian Centrum dimana para bandit bermarkas.
Bahagian Utara dengan gubernurnya dianggap tidak sebagai pusat kekuasan. Tidak sebagai pusat pengambil keputusan. Keputusan dan kekuasaan justru ditentukan oleh orang-orang yang bukan duduk di pemerintahan, tak berpangkat dan tak jelas identitasnya. Mereka bermarkas di Centrum City! Itulah selintas gambaran tentang Dallas. Dan ke sanalah si Bungsu menuju. Ke belantara yang tak berbelas kasihan itu.
Dia dan Tongky menginap di Dallas Hotel. Hotelnya terbilang sederhana. Bertingkat dua belas dengan gedung model Abad ke 19. Begitu masuk loby hotel, seorang gadis cantik berpakaian seperti perwira Spanyol zaman Napoleon membukakan pintu mobil. Membawanya masuk dan mengantarkan ke bahagian front office. Di sana, dua orang gadis yang hanya mengenakan kutang, memperlihatkan sebahagian besar dari dadanya yang ranum, menerima mereka. Mulai dari mencatatkan nama, menentukan kamar, lalu mengantarkan mereka ke kamar.
Yang mengantarkan seorang gadis dengan pakaian Ceong Sam yang lazim dipakai di negeri Cina. Belahan samping baju itu seperti dirobek. Mulai dari mata kaki, sampai ke atas pinggul. Belahan itu menampakan betis, paha, pinggul yang tak bertutup. Mereka menaiki lif yang modelnya kuno sekali. Sebuah kotak empat segi dengan tutup seperti jerajak besi di penjara. Ketika tombol bernomor dipencet, yaitu tingkat dimana mereka akan ditempatkan, lif itu memperdengarkan bunyi berdenyit. Persis seperti membuka pintu di rumah-rumah kuno.
Gadis yang memakai baju “robek lebar” di paha, dan model dada terkelayak separuhnya itu tersenyum manis. Tongky mengerdipkan mata pada gadis itu. Mereka menempati kamar 707. Gadis itu mengantarkan mereka sampai ke dalam kamar. Menunjukan letak kamar mandi, tempat sabun, lemari pakaian, handuk dan lain-lain.
‘’Jika Anda butuh apa saja, tekan bel itu… dan ngomong lah, mintalah. Apa saja, akan kami layani…’’ ujar gadis itu.
‘’Kalau kami minta Anda, Nona..?’’ ujar Tongky memulai kedegilannya.
‘’Tuan hanya tinggal menekan aiphone itu, dan katakan pada bos saya, bahwa saya demam dan harus berada di kamar ini untuk jangka waktu yang ditentukan..’’ gadis itu menjawab penuh sikap profesional. Tongky bersiul.
‘’Terimakasih, kami akan pikir tombol mana yang akan kami tekan setelah kami mandi nanti..’’ ujar bekas pasukan Baret Hijau itu sambil meletakan uang sepuluh dollar ke belahan dada gadis itu, yang terbuka dua pertiga bahagiannya. Gadis itu tersenyum dan meninggalkan kamar.
‘’Wow, inilah Dallas Bungsu. Sambutan untuk kita di hotel ini ternyata cukup lumayan’’.
Si Bungsu yang sejak tadi sudah merebahkan diri di pembaringan menatap isi kamar itu. Kamar itu luar biasa mewahnya. Seluruh lantainya di alas permadani biru. Dindingnya juga berwarna biru. Alas kasur dan selimut tebalnya juga berwarna biru dan mewah. Tiba-tiba ada suara di aiphone dalam kamar itu.
‘’Tuan, jika tuan ingin dipijat, kami akan mengirimkan dua orang pemijat ke sana..’’
‘’Apakah tukang pijatnya lelaki atau perempuan?’’ tanya Tongky dari pembaringannya.
‘’Tuan boleh pilih..’’ jawab aiphone itu.
Tongkay tertawa bergumam dan mengucapkan terimakasih. Buat sementara mereka hanya memesan minuman. Tongky memesan gin yang tal ada dalam kulkas kecil di kamar dan si Bungsu memesan teh panas. Hari sudah malam ketika mereka sampai di hotel itu. Karenanya tak seorangpun diantara keduanya yang berminat untuk meninggalkan hotel. Mereka memilih untuk tidur dan istirahat. Sehabis memesan minuman mereka memesan makan malam. Berupa ayam goreng dan nasi putih.
‘’Apakah tuan…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s