Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 533)

Apalagi terhadap penduduk Vietnam blasteran Eropah seperti mereka. Tetapi akhirnya, karena kelakuan perwira itu semakin tak beradab, dan adiknya semakin diperlakukan amat tidak senonoh, abang yang tertua tak bisa lagi berdiam diri. Dia mendekat, maksudnya sekedar mencegah agar perlakuan biadab dan brutal terhadap adiknya itu dihentikan.
Namun itulah langkahnya yang terakhir. Dua langkah menjelang sampai ke tempat si perwira yang duduk sembari meremas dan menciumi bagian-bagian tertentu tubuh adiknya, perwira yang seorang lagi menarik pistol di pinggangnya. Me¬nembak. Dor! Pemuda indo Vietnam-Perancis itu terjungkal dengan kening berlobang. Hanya sedikit darah yang meleleh dari lobang di jidatnya. Namun dari bahagian belakang kepalanya, cairan merah bercampur putih kelihatan merembes ke lantai, makin lama makin banyak. Dua pela¬yan wanita, keduanya orang Vietnam, yang berada di balik bar, menjerit-jerit. Abang si gadis yang seorang lagi, tertegak kaku. Si gadis yang berada dalam pelukan si perwira menjerit-jerit.
Tapi kelima tentara Vietkong yang sedang menikmati minuman dan tontonan merangsang itu malah pada bertepuk tangan dan tertawa ce¬ngengesan. Peristiwa ini terjadi di Kota Da Nang, kota terbesar kedua di Vietnam Selatan setelah Saigon. Saat itu tak ada lagi Vietnam Utara dan Selatan. Seluruh Vietnam Selatan baru saja sebulan jatuh ke tangan Vietnam Utara. Vietnam kini hanya ada satu, Vietnam Raya. Suara tembakan si perwira yang membunuh abang si gadis pemi¬lik bar tersebut tak terdengar ke luar. Kendati di jalan di depan bar itu ratusan manusia hilir mudik. Pintu dan jendela besar-besar berkaca hitam yang tertutup rapat karena bar itu full AC, membuat suara letusan pistol hanya terdengar di luar se¬perti suara gelas jatuh.
Gadis di pangkuan si perwira sudah setengah telanjang. Saat itu tiba-tiba pintu bar terbuka. Di pintu, dalam sikap ragu-ragu, terlihat berdiri seorang lelaki yang posturnya agak semampai. Namun wajahnya terlihat asing. Kendati masih kentara wajah Asianya, namun dipastikan dia bukan dari ras Cina seperti Vietnam, Kamboja, Laos atau Taiwan. Tak ada yang memperhatikan, kecuali abang si gadis yang masih hidup, dan dua pela¬yan yang tegak menggigil di belakang meja kasir. Mereka heran kenapa lelaki asing itu muncul lagi. Padahal tadi, beberapa saat sebelum keenam ten¬tara Vietnam ini masuk, lelaki yang tegak di pintu itu sudah mereka usir.
Lelaki asing itu berhenti sesaat di depan pintu. Melihat ke mayat yang terbujur, lalu menatap ke arah enam tentara yang tengah melanjutkan minum mereka. Keenam tentara itu bersikap seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu yang penting sedikit pun. Di berbagai kota bekas Vietnam Selatan yang baru saja ditaklukkan, seseorang yang ditembak mati tentara nampaknya sudah merupakan sesuatu yang lumrah. Tak perlu diusut apa sebab atau apa salahnya. Lelaki asing yang baru masuk itu menatap kepada si perwira yang mendekap gadis pemilik bar itu, yang mulutnya semakin ganas saja menjalar hilir mudik di bahagian depan tubuh si gadis, yang tak berdaya sedikit pun untuk membebaskan diri.
“Lepaskanlah gadis itu…!”
Tiba-tiba gelak tawa kelima tentara Vietnam itu dan suara desah nafas si perwira yang tengah menjahanami gadis pemilik bar tersebut dipecah oleh suara lelaki asing di depan pintu itu. Suara¬nya terdengar perlahan namun dingin. Permintaan yang diucapkan dalam bahasa Inggeris itu memaksa semua tentara Vietnam di dalam bar tersebut meno-lehkan kepala. Mereka menyangka yang mengucapkan kata-kata itu adalah orang Eropah atau Amerika. Tetapi ketika mereka menoleh, mereka hampir tak percaya dengan yang mereka lihat.
“Lepaskan dia, dan keluarlah dari sini baik-baik….”
Kembali terdengar suara lelaki di depan pintu itu. Suaranya sedingin subuh berkabut, setajam pisau cukur. Si perwira yang baru saja menembak kepala pemilik bar itu, berdiri dengan pistol yang masih tergenggam di tangannya. Lalu dia mengarahkan moncong pistolnya kepada lelaki asing tersebut. Lelaki itu usahkan berbedil, sepotong kayu yang paling kecil pun tak ada di tangannya untuk membela diri. Benar-benar sebuah sikap bunuh diri, berani-beraninya mengancam tentara Vietkong.
“Sebutkan namamu! Sebelum kutanamkan timah panas ini di antara kedua matamu….” desis si perwira sambil mulai menekankan jarinya di pe¬latuk pistol.
“Nama saya… Si Bungsu….”
Dorr!!
Pistol di tangan si perwira menyalak. Asap tipis mengepul dari ujung laras pistolnya. Namun peluru yang muntah dari pistol si perwira itu ter¬nyata menghantam loteng. Perwira itu masih tegak beberapa detik. Kemudin tubuhnya jatuh tergelantung ke atas meja yang dikelilingi lima rekan-rekannya. Menghantam dan memberantakkan gelas serta botol di meja tersebut. Kelima temannya dengan terkejut melihat sebuah pisau berbentuk samurai sebesar telunjuk, yang panjangnya mung¬kin hanya sejengkal, terbenam hampir ke hulunya. Merancap persis di antara kedua mata si perwira.
Hanya sesaat, empat prajurit yang duduk me¬ngitari meja itu segera bangkit dari kursinya, meraih bedil yang mereka sangkutkan di sandaran kursi masing-masing. Lalu berbalik menghadap ke lelaki yang baru saja menyebutkan namanya “si Bungsu” itu. Nama yang amat asing di telinga mereka. Mereka mengokang bedil, namun itulah gerakan terakhir yang dapat mereka lakukan. Sebab tangan lelaki asing itu kembali bergerak. Dari tangannya meluncur kilatan yang amat sulit diikuti pandangan mata. Keempat tentara itu se¬gera rubuh malang melintang. Sebilah samurai kecil menghujam di salah satu bahagian yang mematikan di tubuh mereka.
Ada yang terhujam di jantung, ada yang di an¬tara dua mata, ada yang di leher. Satu-satunya yang masih hidup adalah si perwira yang masih memeluk gadis pemilik bar yang sudah setengah telanjang itu. Sadar bahwa yang baru datang ini bukan sembarang orang, perwira itu bersikap amat hati-hati. Masih dalam posisi duduk dia segera mencabut pistol, kemudian dengan cepat menempelkan ujungnya ke pelipis si gadis. Setelah itu de¬ngan cepat pula dia bangkit. Menghadap kepada orang asing itu dengan si gadis menjadi tameng di depan tubuhnya.
“Buang senjatamu, datang kemari dengan merangkak….” desisnya dalam bahasa Inggeris yang kelam kabut.
Lelaki di pintu itu, yang memang tak lain dari si Bungsu, tak bergerak seinci pun dari tempatnya. Kedua tangannya tergantung di sisi tubuhnya. Dia menatap dengan tatapan yang menegakkan bulu roma.
“Lepaskan gadis itu….”desisnya lagi.
Melihat lelaki di pintu tak memegang senjata apapun, perwira Vietnam itu melepaskan ujung pistolnya dari pelipis si gadis, kemudian dengan cepat menembak orang yang telah membunuh rekannya itu. Namun pelurunya juga menghajar loteng. Dia meringis. Tanpa dapat dia tahan pistolnya terlepas dari genggaman, jatuh ke lantai. Tangan kanannya lumpuh total, akibat nadi utamanya yang terletak di lipatan sikunya putus dihantam samurai kecil lelaki tersebut. Kini samurai kecil itu masih tertancap di lengannya! Si gadis yang masih berada dalam pelukan si perwira meronta, dan lepas. Dengan susah payah dia berusaha menutupi bahagian atas badannya yang sudah tak bertutup apapun, dengan sobekan bajunya yang tergantung-gantung.
Gadis itu terkejut setelah melihat lebih teliti ke arah lelaki yang telah menyelamatkan kehor¬matannya, yang telah membalaskan kemarahannya. Lelaki itu ternyata lelaki yang tadi dia usir keluar dari barnya ini. Bukan apa-apa, bar ini sebagaimana umumnya bar-bar yang agak baik sampai bar kelas atas, dilarang melayani orang asing. Hanya boleh melayani tentara Vietnam atau orang Vietnam asli. Bagi tentara, polisi dan aparat harus diberikan korting 50 persen. Kini, lelaki yang dia usir itu ternyata telah menyelamatkan nyawanya.
“Kalian akan digantung semua….”
Terdengar si perwira yang lumpuh tangan kananya itu mengancam. Melihat tak seorang pun yang bereaksi, dengan cepat dia meraih pistol yang berada dalam genggaman temannya yang mati terlentang di meja.
Karena si Bungsu terlindung oleh sebuah tiang, maka pistol itu diarahkan kepada si gadis pemilik bar. Namun pelurunya menghantam botol-botol di belakang kasir, setelah menyerempet pelipis si gadis. Dan setelah itu perwira tersebut tersungkur, hidungnya remuk menghantam jubin. Di tengkuk¬nya tertancap sebuah samurai kecil.
Sepi!
Gadis pemilik bar itu, sembari menghapus darah yang mengalir di pelipisnya yang diserempet peluru, kembali menatap orang yang untuk ke¬dua kalinya menyelamatkan nyawanya.
“Maaf, saya terpaksa kembali kemari untuk menjemput ransel saya yang tertinggal,” ujar si Bungsu perlahan, sembari melangkah ke arah kursi di mana tadi dia duduk.
Diambilnya ransel yang tertinggal di bawah meja. Sembari menyandang ransel di bahu, si Bungsu mendekati keenam mayat tentara Vietkong yang bergelimpangan malang melintang di dalam bar itu. Dicabutinya satu deni satu sanurai kecil yang tertancap di tubuh mayat tentara tersebut. Setelah menghapus darah dari tiap samurai kecil itu kepakaian si tentara yang menjadi korban, dia lalu menyelipkan bilah-bilah samurai itu ke sabuk di balik le¬ngan baju panjangnya. Sampai detik itu, gadis pemilik bar yang nyaris diperkosa dan abangnya yang masih hidup, berikut dua pelayan bar dekat meja kasir, tak seorang pun yang mampu bicara.
Mereka hanya menatap dengan diam kepada lelaki asing bernama si Bungsu itu. Tentara Vietkong yang sejak sebulan terakhir menjadi penguasa baru di wilayah selatan ini, teramat sangat berkuasa. Sebagai negeri yang baru saja usai diamuk perang, wilayah ini diperintah dengan hukum darurat perang.
Tentara Utara, yang…

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s