Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 534)

Tentara Utara, yang sudah belasan tahun bertempur dan berhasil mengalahkan tenta¬ra Selatan dan sekaligus mengusir tentara Amerika, berhak menembak mati siapa saja yang dicu¬rigai sebagai musuh dan mata-mata. Selama sebulan sejak Selatan jatuh ke tangan Utara, di Kota Da¬ Nang ini saja sudah susah mengitung korban yang ditembak tentara.
Mereka menembak orang yang dicurigai di sembarang tempat. Di jalan, di toko, di rumah, di pasar. Tidak ada ukuran yang pasti, siapa yang bisa dikategorikan sebagai ‘orang yang dicurigai’. Yang jelas, siapa saja yang tak disenangi tentara bisa dianggap sebagai ‘orang yang dicurigai’. Karenanya nyawa mereka boleh dicabut dimana saja dan kapan pun diinginkan. Tak peduli di pasar, di restoran, di bus, di kereta api, termasuk di rumah mereka sendiri. Usai menyisipkan samurai-samurai kecilnya, si Bungsu melangkah ke pintu. Saat itulah si gadis pemilik bar menyadari bahwa dia harus berbuat sesuatu, atau paling tidak mengucapkan sesuatu kepada lelaki asing yang telah menyelamatkan kehormatan dan nyawanya.
“Tunggu….”
Si Bungsu berhenti. Gadis itu memberi isyarat kepada abangnya. Si abang berjalan ke pintu, membalikkan papan kecil yang tergantung di kaca pintu, yang ada tulisan dalam bahasa Chu Nom, yaitu bahasa Nasional Vietnam berdasarkan sistem tulisan Cina. Dia membalikkan papan kecil putih itu. Jika tadi tulisan ‘Buka’ menghadap ke luar, setelah papan dibalikkan, maka kini yang mengarah keluar adalah tulisan ‘Tutup’. Setelah itu dia berjalan ke luar. Dari luar, dengan pura-pura tak terjadi apa-apa, ditutupkan pula lapisan papan yang menjadi pelindung kaca-kaca pintu dan jendela. Kaca-kaca reben hitam dan lebar. Setelah mengunci pintu papan dari dalam, dia masuk.
Gadis indo Vietnam-Perancis pemilik bar itu memberi isyarat kepada abangnya, kemudian kepada dua gadis pelayan lainnya.
“Taruh dahulu mayat-mayat ini di ruang pen¬dingin di belakang….” ujarnya pada si abang.
“Kalian segera bersihkan bekas darah….” ujar¬nya pada kedua gadis pelayan.
Setelah itu dia menatap pada si Bungsu , sementara kedua tangannya masih berusaha memegangi sobekan blus dan roknya untuk menutupi beberapa bagian tubuhnya.
“Janganlah meninggalkan kami saat ini, saya mohon….” ujarnya perlahan dengan air mata mulai menggenang, tatkala dia lihat lelaki asing itu masih tegak berdiam diri.
“Saya mohon maaf atas pengusiran Anda dari bar ini tadi….” ujarnya lagi.
“Bersedialah ikut saya ke atas….” mohonnya sembari melangkah perlahan ka arah tangga.
Dia berhenti dan menatap ke arah si Bungsu, karena si Bungsu masih saja belum bergerak setapak pun dari tegaknya.
“Please….” ujarnya memohon.
Si Bungsu yang baru saja tiba di Kota Da Nang ini akhirnya melangkah mengikuti gadis itu.

—o0o—

SEBENARNYA, apa asal muasal makanya dia terlibat dalam kasus di bar itu? Kenapa tadi dia sampai diusir? Si Bungsu masuk ke bar tersebut karena bar itulah yang terdekat saat dia turun dari taksi, yang membawanya dari la¬pangan udara. Dia ingin mencari pengi-napan. Namun rasa haus membuat dia memasuki bar pertama yang nampak oleh matanya di pusat Kota Da Nang ini. Setelah duduk, seorang pelayan, nampaknya gadis asal Vietnam, mendekatinya. Gadis itu bicara padanya. Dia tak mengerti bahasa yang diucapkan gadis cantik tersebut. Tapi dari nada ucapannya dan telunjuknya yang mengarah ke pintu, dia mengerti bahwa gadis pelayan itu menyuruhnya keluar.
“Saya hanya minta Cola Cola….” ujarnya perlahan.
Ucapan dalam bahasa Inggeris yang baik itu sudah untuk kali ketiga dia ucapkan. Pelayan itu akhirnya bosan, mungkin juga muak dan marah. Dia berjalan ke arah bar, bicara dengan seorang gadis yang sejak tadi asyik mencatat-catat sesuatu di mejanya. Gadis itu, nampaknya pemilik bar, menoleh ke arah lelaki yang tak mau disuruh keluar itu. Dia menyelipkan ballpoin di tangan kirinya ke daun telinga kanan. Kemudian bersiul. Siulan pendek yang keluar dari sela bibirnya yang merah, menyebabkan dua lelaki kekar yang sedang membersihkan meja meninggalkan pekerjaan mereka. Lalu melangkah mengikuti si bos ke meja si lelaki yang masih saja duduk dan menatap ke manusia yang lalu-lalang di jalan, di luar restoran.
Vietnam saat itu masih berada dalam suasana mabuk kemenangan. Tak satu negara pun di dunia yang percaya Amerika yang memiliki ribuan pesawat tempur super moderen dan senjata tercanggih di dunia, akan mengalami kekalahan dalam pe¬perangan melawan Vietnam Utara yang hanya bermodal nekat. Tapi, beberapa bulan yang lalu ketidak percayaan itu menjadi kenyataan. Amerika harus menelan kekalahan teramat pahit dan amat memalukan. Kabur dari negeri itu setelah puluhan ribu tentaranya terbunuh. Belasan ribu lainnya dinyatakan hilang tak tahu rimbanya. Kekalahan yang benar-benar tak terbayangkan akan terjadi dalam sejarah negara super kuat itu.
Vietnam yang sebelumnya satu negara, kemudian terpecah menjadi dua. Utara yang berada di bawah pengaruh Cina komunis dan Selatan yang berada di bawah perlindungan Amerika. Kini, se¬telah Amerika berhasil diusir, dua Vietnam itu kembali menjadi satu negara berdaulat di bawah kekuasaan Partai Komunis.
Lelaki yang disuruh keluar dari bar itu baru sadar, kalau sebuah tim yang “siap tempur” sudah mengepungnya, yaitu tatkala si pemilik restoran berdiri persis di hadapannya. Menghalangi tatapan matanya yang sejak tadi memandang ke luar.
Dia tak tahu bahwa gadis yang tegak di depannya itu adalah pemilik bar. Dia menyangka gadis itu hanya pelayan yang lain. Bedanya pelayan ini cantiknya melebihi kecantikan rata-rata gadis yang pernah dia temui di lobi hotel maupun di jalan-jalan Kota Da Nang yang penuh sesak oleh manusia. Mata si gadis tak begitu sipit, sebagaimana jamak¬nya mata gadis-gadis asli Vietnam. Matanya juga tidak hitam sebagaimana mata orang Asia, melainkan kebiru-biruan. Dengan mata seperti itu, ditam¬bah hidung mancung, sekali lihat orang dengan mudah mengetahui bahwa dia lahir dari sebuah per¬kawinan campuran.
Mungkin gadis ini blasteran Perancis. Hal itu kentara dari tubuhnya yang mungil dan bahasa¬nya yang rada sengau. Negeri ini dahulu memang menjadi jajahan Perancis. Wajar saja kalau kemudian di negeri ini banyak lahir anak-anak blasteran Perancis.
Melihat gadis itu tegak di depannya, si lelaki kembali berkata dengan sopan.
“Boleh saya pesan Coca Cola dengan es….?”
“Tuan sudah diminta untuk keluar dari restoran ini….” ujar gadis itu dengan suara datar, dalam bahasa Inggeris dengan aksen Perancis tapi berlogat bahasa Vietnam dari rumpun An Nam Tinggi.
Si lelaki merasa heran bercampur terkejut. Dia ingin bertanya, namun tatapan si gadis membuat dia menoleh ke belakangnya. Dua lelaki kekar, keduanya punya wajah yang mirip dengan gadis yang di depannya, kelihatan tegak hanya beberapa jari dari tengkuknya. Menatap ke arahnya de¬ngan tatapan setajam pisau cukur.
“Bar ini hanya melayani orang Vietnam, tidak melayani orang asing….” ujar si gadis dengan suara datar.
Lelaki asing itu terdiam mendengar suara yang demikian dingin dan tak bersahabat. Untuk sesaat dia masih duduk berdiam diri.
“Tuan keluar baik-baik atau….”
Lelaki itu memutus kalimat si pemilik restoran dengan mengangkat tangan kanannya.
“Maaf saya salah masuk….” ujarnya sambil berdiri dan melangkah ke pintu, lalu meninggalkan tempat yang tak bersahabat itu.
Hanya belasan detik setelah dia meninggalkan kursinya, enam serdadu Vietkong, dua di antara¬nya berpangkat perwira, masuk dengan suara gaduh. Mereka nampaknya mencari minuman, kendati sebahagian sudah sempoyongan karena mabuk.
“Ha… kita senang bisa minum lagi di restoran Madam… mmmm… siapa namanya? Mm… Amigo… mm.. Amiflo rence… oh ya Ami… Ami…!” ujar salah seorang perwira sambil menarik kursi.
Jelas ucapan sindiran. Nampaknya orang-orang utara yang kini menguasai seluruh tanah Vietnam amat men curigai, sekaligus membenci segala sesuatu yang berbau Eropah. Gadis pemilik bar ini, yang dia sebut bernama Amigo, amat ‘berbau’ Eropah. Baik bahasa apalagi wajahnya. Kedua lelaki bertubuh kekar yang tadi berdiri di belakang si lelaki asing yang keluar itu, buru-buru menarikkan kursi untuk keenam tentara tersebut. Akan halnya gadis pemilik bar yang baru disindir dengan sebutan madam, amigo dan amiflorence oleh si perwira, untuk sesaat memerah mukanya. Namun demi keselamatan dia harus bisa menyesuaikan situasi. Dia tersenyum dan berjalan ke bar.
“Kemari…! Kemari… Madam. Biarkan orang lain yang mengambilkan minuman untuk kami. Madam harus duduk di sini bersama kami, kecuali madam merasa tak sederajat dengan kami….”
Gadis itu berhenti melangkah. Kemudian memberi isyarat kepada dua gadis asli Vietnam yang bertugas sebagai pelayan, agar menyediakan minuman.
“Tuan mau….

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s