Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 536)

“Nona, Anda belum mengenal saya. Anda sudah melihat di bawah tadi. Betapa saya memiliki keahlian yang nyaris tak tertandingi dalam membunuh orang. Dengan mudah Anda dan saudara lelaki Anda bisa saya habisi dan harta kalian saya rampok….”
“Anda takkan kembali ke bar setelah saya usir, jika Anda benar-benar tidak ingin menolong saya….”
Si Bungsu menatap gadis itu.
“Maksudmu….?”
“Saya tahu, ransel Anda tidak tertinggal. Tetapi Anda tinggalkan dengan sengaja. Agar Anda mempunyai alasan untuk kembali….”
Si Bungsu terdiam
“Saya sarjana psikologi, dan saya mata-mata Amerika. Saya sudah terlatih untuk mengetahui mana yang wajar dan mana yang tidak….”
Mereka bertatapan. Si Bungsu heran dan menyimpan kejut di dalam hati nya mendengar gadis itu menebak dengan tepat apa yang ada dalam ha¬tinya. Terkejut mendengar gadis itu mengaku te¬rus terang bahwa dia mata-mata yang bekerja untuk tentara Amerika.
“Maksudmu, saya sengaja meninggalkan ransel itu agar bisa kembali untuk bertemu denganmu? Konkritnya, saya sengaja meninggalkan ransel itu karena saya tertarik dengan kecantikan wajahmu, dengan tubuhmu yang menggiurkan?” tanya si Bungsu.
“Semula saya menyangka begitu. Saya sudah sering bertemu lelaki yang dalam pertemuan pertama sudah tergila-gila pada saya. Tuhan menganugerahkan saya wajah indo yang cantik dengan tubuh hampir sempurna karena perkawinan silang Eropa-Asia. Namun dugaan saya salah, setelah melihat Anda menghabisi nyawa keenam tentara itu dengan pisau kecil dari balik lengan baju Anda. Saya segera tahu, Anda tinggalkan ransel karena Anda mempunyai indera keenam yang amat tajam. Yang mampu mencium bahaya yang bakal menimpa kami. Jika uraian saya tadi, yang didasarkan analisa keilmuan yang saya kuasai benar adanya, saya harap Anda menginap disini….” ujar Ami Florence.
Mereka kembali bertatapan. Lama dan saling berdiam diri.
“Bagaimana jika analisa Anda ternyata salah, Nona?”
“Saya yakin apa yang saya simpulkan benar….” ujar Ami.
Mau tak mau si Bungsu kagum pada ketajaman analisis gadis di depannya ini. Ketika diusir tadi, dia memang merasa ada yang aneh menjalari pembuluh darahnya. Perasan itu biasanya datang jika ada bahaya mendekat. Dia tatap orang-orang di dalam bar itu. Tak satu pun yang mengirimkan isyarat bahaya pada dirinya. Dia jadi maklum, bahaya justru akan menimpa orang-orang di ha¬dapannya ini. Oleh karena itu dia langsung tegak dan sengaja meninggalkan ranselnya. Dia tak pergi jauh, hanya di seberang jalan. Tak lama dia tegak di sana, pembenaran firasatnya muncul saat enam tentara Vietkong dia lihat masuk ke bar itu. Dan terjadilah peristiwa itu.
Kini ditatapnya gadis itu, memikirkan ta¬waran menginap di sana. Dia baru dan asing di kota ini, tak tahu di mana hotel terdekat.
“Sebaiknya Nona tunjukkan saja pada saya hotel terdekat dari sini….”
Ami Florence menatapnya.
“Beri saya kesempatan membalas budimu de¬ngan menyediakan tempat menginap bagimu di sini, please….”
Akhirnya si Bungsu mengalah. Capek dan tak tahu harus kemana, membuat dia menerima ta¬waran gadis itu. Dia mengangguk. Ami tersenyum, ada lesung pipit di pipinya. Si Bungsu akhirnya juga tersenyum.
“Saya tunjukkan kamarmu….” ujar gadis itu, sembari membawa si Bungsu melintasi lantai beralas permadani.
Ada tiga kamar yang tersusun secara amat artistik. Ami membuka pintu salah satu kamar tersebut. Mengantarkan si Bungsu masuk ke dalam. Masing-masing kamar ditata dengan isi yang mewah,seperti layaknya kamar hotel kelas mene¬ngah. Ada kamar mandi dengan bathup, ada telepon dan televisi.
“Untuk saat ini, di seluruh Kota Da Nang Anda takkan mendapatkan tempat menginap sebaik ini. Semua hotel dan penginapan sudah diambil alih tentara. Saya akan ke bawah, Anda istirahatlah. Kita bertemu saat makan malam….” ujar Ami sambil melangkah ke pintu.
Di pintu gadis itu berhenti, memutar badan dan menatap ke arah si Bungsu.
“Saya tahu Anda terkejut ketika tadi saya me¬nga¬takan terus terang, bahwa saya adalah anggota spionase di pihak Amerika. Kenapa saya memilih bekerja untuk Amerika, lain kali bisa kita bica¬rakan. Namun saya punya alasan mengapa saya berani terus terang mengatakan bahwa saya be¬kerja untuk Amerika. Tak lain karena saya yakin Anda juga berada di pihak Amerika. Paling tidak Anda bersahabat dengan orang Amerika, khususnya dengan tentaranya….”
Si Bungsu kembali merasa kaget atas apa yang diketahui gadis itu tentang dirinya. Namun dia kembali menyimpan saja rasa kagetnya dalam hati.
“Tidak ingin bertanya dari mana saya tahu Anda berada di pihak Amerika, atau berteman de¬ngan tentara Amerika?”
Si Bungsu tidak mengangguk, tidak pula menggeleng. Dia masih tetap tegak denga ransel di bahu.
“Ransel di bahu Anda itu. Bagi orang lain, bahkan bagi sebahagian besar orang Amerika sendiri, mungkin tak melihat perbedaan antara ransel yang Anda bawa dengan puluhan ribu ransel lainnya, yang dipakai tentara Amerika. Ribuan ransel kini bisa dibeli di pasar loak. Baik bekas tentara Perancis, Inggris, Amerika, Cina maupun Rusia.
Namun ransel yang…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s