Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 538)

“Terimakasih penjelasan Anda. Sebenarnya saya masih ingin mendengar tentang Kota Ha Tinh di Teluk Tonkin itu, namun saya sudah mengantuk. Saya berharap besok Anda bersedia melanjutkan cerita….”
“Siapa yang menyurah Anda mengontak saya?” potong Ami.
Si Bungsu terdiam beberapa saat, menatap gadis itu nanap-nanap.
“Seorang yang bernama McKinlay….” ujarnya mem buka rahasia.
“Jhon McKinlay. Dua kali terjun ke medan pe¬rang Vietnam. Kali pertama tahun 1965 bertugas di Da Nang, semasa masih berpangkat kapten. Tahun 1967 ditarik karena cedera berat setelah kom¬pi yang dia pimpin remuk redam digasak Vietkong di pegunungan perbatasan Laos. Namun dia juga berhasil menggasak batalyon Vietkong yang menye-rangnya. Pangkatnya naik menjadi mayor. Tahun ’70 diterjunkan lagi ke Saigon, dengan pengalaman perangnya dia memenangkan berbagai pertempuran melawan Vietkong. Dia kehilangan kaki kanannya dalam pertempuran di Hamburger Hill. Tahun 1972 dia ditarik ke Pentagon, menjadi perwira pe¬rencanaan taktik dan strategi pertempuran hutan di Mabes Angkatan Bersenjata Amerika itu. Pangkatnya naik menjadi kolonel….”
“Otak Anda seperti kamus….” ujar si Bungsu.
“Terimakasih, itu pujian kesekian ribu yang pernah saya dengar diucapkan orang untuk otak saya. Tapi apa hu bungannya McKinlay dengan Rogers?”
“Tidak tercatat dalam kamus Anda?” tanya si Bungsu.
Ami tersenyum, menatap si Bungsu dan menggeleng.
“Jika kasusnya tidak terjadi di sini, tak kan masuk dalam memori saya….”
“Anda sedikit salah. Hubungan antara Mc¬Kinlay dengan Rogers justru terjadi di sini….”
“Maksudmu, McKinlay berpacaran dengan Roxy Rogers?” potong Ami Florence.
“Bukan McKinlay, melainkan anaknya, Mc¬Kinlay Junior. Dia dosen matematika di Universitas Los Angeles. Mereka bertunangan di sini, saat sama-sama bertugas ke Vietnam ini….”
Itu hal baru bagi Ami. Bahwa Roxy Ro¬gers ada¬lah tunangan McKinlay Jr.
“Hei, saya mengenal negerimu, saya sudah dua kali ke sana, tepatnya ke Bali. Kedatangan saya yang pertama sepuluh tahun yang lalu. Dua hari saya di Bali, Partai Komunis melakukan kudeta di Jakarta. Saya hampir tak bisa pulang. Kedatangan saya yang kedua tahun 1970, Bali itu sungguh indah,engkau berasal dari sana?”
“Dari Indonesia, bukan Bali. Tepatnya dari Sumatera Barat….”
“Wow! Saya pernah ke sana. Sungguh, saya pernah. Ibukotanya Bukittinggi yang ada grand ca¬nyon bukan? Wow, itu negeri yang indah, terletak di pegunungan. Saya ke sana tahun 70, dari Jakarta naik pesawat terbang ke Padang….”
“Ibukota provinsi adalah Padang, bukan Bukittinggi….”
“Oh ya? Tak apalah. Tapi saya terpikat dengan kota mungil itu. Saya menginap semalam di sana. Esoknya kembali ke Padang, naik pesawat ke Me¬dan, terus ke Singapura dan kembali kemari lewat Taiwan. Malamnya saya sempat makan jagung bakar yang dijual dekat jam besar tinggi dengan huruf-huruf Romawi itu….”
Si Bungsu menatap gadis itu bercerita dengan diam.
“Di sana Anda lahir, Bungsu?” tanya Ami se¬telah beberapa saat mereka sama-sama terdiam.
“Tidak, tapi di sebuah dusun kecil sekitar 70 kilometer dari kota tersebut….”
“Lalu Anda datang untuk mencari Roxy Ro¬gers. Ke mana gadis itu akan dicari?”
“Barangkali Anda punya saran?”
Ami menggeleng.
“Jika dia benar-benar diculik, maka harapan untuk mengetahui dimana tempat dia disekap amat sulit. Ada ratusan tentara Amerika yang dinyatakan hilang dalam bertugas. Seharusnya, dengan jumlah tawanan sebanyak itu, akan mudah dideteksi. Tetapi kenyataannya jejak mereka seperti le¬nyap ditelan kegelapan. Tak berbekas sama sekali…”
“Apakah mereka dibunuh?”
“Sebahagian, ya. Sebahagian dipelihara agar tetap hidup. Sebab suatu saat kelak para tahanan itu akan menjadi barang yang amat berharga untuk menekan Amerika dalam perundingan….”
“Bagaimana kalau…” si Bungsu tak melanjutkan ucapan nya.
“Maksud Anda, kalau dua atau tiga orang tentara Vietkong ditangkap, lalu disiksa agar mau membuka suara?”
Si Bungsu kembali terpana pada ketajaman fikiran gadis di depannya ini, yang bisa membaca jalan pikirannya. Dia mengangguk.
“Cara itu sudah…

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s