Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 539)

“Cara itu sudah kuno dan tak ada hasil. Sudah puluhan, mungkin ratusan kali dilaksanakan oleh tentara Amerika ketika masih berkuasa di sini. Tapi tak seorang pun di antara Vietkong yang disiksa yang dapat menunjukkan dimana tempat tawanan perang itu disekap. Bukannya mereka tak mau buka suara, siapa yang tahan pada siksaan? Tetapi, begitu tempat yang ditunjukkannya dilacak, tempat itu sudah kosong. Bangsa kami sudah ke¬nyang dengan perang melawan Barat. Seratus tahun melawan Pe¬rancis, belasan tahun melawan Amerika. Tempat penyekapan tentara Amerika selalu dipindah-pindahkan untuk menghindari sergapan….”
Buat sesaat mereka kembali sama-sama terdiam.
“Maaf, saya mengantuk…” ujar si Bungsu akhirnya, sambil mengangguk hormat pada gadis tersebut. Kemudian berdiri dan berniat masuk ke kamarnya.
Namun dia baru berjalan dua langkah ke arah kamarnya, ketika tiba-tiba dia menghentikan langkah. Tegak diam dengan mata mengecil.
“Ada yang datang….” ujarnya perlahan sembari membalikkan badan dan menatap Ami Florence. Gadis itu juga menatapnya.
“Maksudmu…?”
“Paling tidak ada tiga puluhan tentara di luar sana, kini berada sekitar lima puluh meter dari sini. Mereka akan mendatangi tempatmu ini, Nona….”
“Anda yakin…?”
Ucapannya belum berakhir, ketika abangnya muncul dari lantai bawah. Di bahunya tergantung sebuah handbag, mungkin berisi pakaian dan uang sekedarnya. Di tangannya ada sebuah bedil otomatis dan di pinggangnya tiga granat. Semua alat pe¬rang itu buatan Amerika.
“Dragon menelepon, malam ini seregu tentara akan menggeledah bar ini dan akan menangkap kita….” ujar abang Ami.
Ami Florence menatap pada si Bungsu.
“Anda mampu mendengar langkah mereka kendati mereka masih jauh?” tanya gadis itu, nyaris tak percaya.
“Saya tak mendengar apapun….”
“Tetapi…”
“Naluri saya merasakan ada bahaya yang amat besar yang mengancam kita di rumah ini….”
“Bagaimana….”
“Tidak perlu kita bahas sekarang bagaimana saya dapat merasakan datangnya bahaya, Nona. Nampaknya kita harus menyingkir segera…”
Gadis itu menatap si Bungsu dengan tatapan separoh takjub.
“Ya Tuhan, bencana itu ternyata datang lebih cepat….” itulah akhirnya yang bisa diucapkan gadis tersebut sambil bergegas menuju ke kamarnya.
Ketika dia kemudian muncul kembali, pa¬kaiannya sudah bertukar dengan jeans dan kaos serta sebuah pistol. Saat itu serentetan tembakan terdengar di luar, di bahagian depan bar.
“Mereka sudah mulai. Ambil barang Anda, Tuan….” ujar abang Ami Florence kepada si Bungsu.
Si Bungsu bergegas ke kamarnya, memakai sepatu, menyambar ransel. Kemudian bergabung di ruang tengah di lantai atas bar itu. Ami menuju ke dinding di belakang sofa. Di sana ada sebuah lukisan cat minyak, lukisan enam ekor kuda hitam dan seekor kuda putih di bahagian depan, tengah berlari di sungai yang dangkal. Air sungai tersibak tinggi ke kiri dan ke kanan akibat rancahan kaki kuda yang berlari kencang itu. Sebuah lukisan yang indah. Di balik lukisan itu ternyata ada sebuah tombol. Ami menekan tombol tersebut. Sebuah lampu merah sebesar ujung korek api menyala.
Lukisan dikembalikan ke posisi semula. Tombol dengan lampu merah itu tertutup kembali. Di bawah, sebuah ledakan granat membuat pintu bar hancur berkeping. Beberapa detik kemudian belasan tentara Vietnam menghambur masuk sembari memuntahkan peluru dari senapan otomatis merek Kalasinkov buatan Rusia.
“Kita berangkat….” ujar Ami.
Didahului abang Ami Florence, mereka menuruni tangga. Ami di tengah dan si Bungsu paling belakang. Hanya beberapa detik, mereka sudah sampai di lantai bawah. Menjelang sampai di lantai bawah, abang Ami mencabut sebuah paku di din¬ding. Lantai di depan tangga paling bawah keli¬hatan bergeser secara otomatis. Ada tangga menuju ruang bawah tanah. Mereka segera turun, dan lantai beton setebal lebih kurang setengah meter dengan ukuran satu meter persegi itu segera merapat kembali hanya dua detik setelah si Bungsu masuk.
Hanya dalam hitungan detik setelah lantai itu merapat, dua tentara Vietnam yang selesai mengobrak-abrik isi bar itu sampai pula di tangga tersebut. Namun mereka tak melihat sesuatu yang ganjil di lantai. Lantai itu terbuat dari ubin yang nampaknya dibuat berpetak-petak besar sebagai kamuflase. Kalaupun orang melihat dengan cermat, takkan kentara bahwa salah satu dari petak-petak yang sama besar itu adalah pintu rahasia yang bisa dibuka dan ditutup. Kini pintu rahasia itu sudah mustahil dibuka, kecuali dengan bom. Sebab alatnya sudah dirusak.
Alat itu adalah paku yang tadi dicabut abang Ami saat akan turun. Seorang kapten, pimpinan peleton yang melakukan penyergapan itu, segera memerintahkan tiga anak buahnya untuk naik ke lantai atas. Ketiga prajurit itu segera menghambur. Sesampai di atas, mereka menembaki kamar, tempat tidur dan sofa tamu.
“Mereka tak ada disini….” lapor salah seorang dari yang naik bertiga tadi.
Si Kapten diiringi……

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s