Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 540)

Si Kapten diiringi belasan tentara lainnya se¬gera naik. Mereka memeriksa laci-laci, koper, lemari, merobek tilam dan bantal dengan sangkur dalam usaha mencari dokumen. Karena tak ada apapun yang ditemukan, si kapten menatap din¬ding ruangan atas tersebut. Matanya yang sipit memperhatikan foto lukisan dan asesori lainnya yang bergantungan di dinding. Dia memerintahkan anak buahnya untuk menurunkan semua yang tergantung itu. Ketika lukisan tujuh ekor kuda di belakang sofa diangkat, kelihatan sebuah tombol kecil berwarna merah.
Tentara yang menurunkan lukisan itu memanggil komandannya. Si komandan dan dua perwira bawahannya segera berkerubung ke sana. Mereka mengerutkan kening, memikirkan tombol apa itu gerangan. Si komandan meraba dinding di sekitar tombol kecil itu, hanya sesaat, tiba-tiba wajahnya berubah pucat.
“Bom….!” teriaknya sambil melangkahi sofa untuk lari menghindar.
Namun itulah ucapannya yang terakhir. Sebuah letusan yang amat dahsyat segera terdengar. Gedung berlantai dua yang digunakan selama bertahun-tahun untuk bar itu, berikut sekitar 25-an tentara Vietnam yang ada di dalamnya, hancur le¬bur menjadi serpihan yang tak dikenal! Ami, abangnya serta si Bungsu, yang berada hanya dua meter di bawah lantai bangunan tersebut, merasakan guncangan yang amat keras. Namun lantai di bawah tanah itu nampaknya memang dirancang khusus untuk perlindungan.
Selain guncangan yang cu¬kup keras, tak ada akibat lain bagi ruang bawah tanah tersebut. Sebuah lampu neon yang dihidupkan dengan aki menerangi ruang di mana mereka kini berada.
“Mereka semua, berapa orang pun jumlahnya di atas sana, sudah menjadi serpihan yang tak bisa dikenali….” ujar Ami perlahan.
Mereka saling bertatapan. Si Bungsu menjadi faham, bahaya yang senantiasa mengancam, membuat rumah ini dilengkapi dengan ruang bawah tanah untuk bersembunyi dan sekaligus bom waktu yang juga tersembunyi di balik dinding atau mungkin di bawah tempat tidur, untuk menghancurkan siapa pun yang berniat mencelakai pemi¬lik rumah ini. Si Bungsu juga yakin banyak rumah-rumah di kota ini, mungkin banyak rumah di seluruh kota-kota Vietnam, yang dipersiapkan oleh pemiliknya dengan bom waktu atau ranjau seperti rumah ini.
Perang ganas yang amat panjang membuat orang harus tetap waspada setiap detik akan munculnya bahaya yang bisa merenggut nyawa mereka.
“Kalian menjadi buronan sekarang. Kemana kalian akan pergi? Seluruh pelosok negeri ini dipenuhi oleh tentara. Dalam waktu singkat foto kalian tentu sudah akan disebarkan….” ujar si Bungsu sambil menatap Ami Florence.
Gadis itu menarik nafas. Menatap pada abangnya. Kemudian menatap pada si Bungsu.
“Kemungkinan buruk seperti ini sudah dikaji akan terjadi. Karenanya, apa yang akan kami perbuat dan kemana kami akan pergi juga sudah diprogram….” ujar Ami perlahan.
“Sebaliknya kita ke ruang kuning….” ujar abang Ami Florence.
“Ya, saya rasa tak ada yang harus kita tunggu di sini. Mari pergi….” ujar Ami sambil menyandang ranselnya.
Abang Ami bernama Le Duan, yang di atas tadi memperkenalkan dirinya kepada si Bungsu, segera melangkah duluan. Ruangan di mana kini mereka berada hanya ruangan kecil ukuran dua kali dua meter. Ada beberapa senter, tali temali, sekop, linggis, bedil, kotak-kotak peluru dan beberapa granat tangan. Le Duan mengambil sebuah senter, kemudian mulai melangkah. Di hadapan mereka ada dinding tanpa pintu. Ada beberapa paku tempat menggantungkan tali temali dan mantel. Le Duan mengambil tali nilon, kemudian menarik pakunya.
Dia berjalan ke sisi dinding yang di kanan. Di dinding itu ada beberapa lobang bekas paku yang sudah dicabut. Le Duan memasukan paku itu ke salah satu lobang tersebut. Tiba-tiba terdengar suara getaran lemah, lalu dinding di depan mereka, dimana tadi Le Duan mencabut paku, bergerak ke kiri. Dalam beberapa detik, pertemuan dua din¬ding di kanan mereka terlihat menjarak. Lalu din¬ding itu berhenti setelah bergeser sekitar satu meter. Persis untuk orang lewat. Le Duan menghidupkan senter, lalu melangkah ke ruang di balik kamar di mana kini mereka berada.
Ami menyuruh si Bungsu berjalan duluan. Begitu mereka sampai di kamar sebelah, Ami menekan sebuah tombol di dinding. Pintu rahasia itu kembali tertutup. Suasana tiba-tiba menjadi gelap gulita. Ami menghidupkan senter, sementara abangnya sudah berjalan duluan di depan, menyelusuri lorong sempit bawah tanah itu. Kini Ami berjalan di depan, si Bungsu mengikuti dari belakang. Ada dua tikungan yang mereka lewati, kemudian si Bungsu melihat Le Duan kembali mencabut sebuah paku di dinding. Dinding di kanan mereka terkuak. Ada ruangan di baliknya.
Mereka masuk satu demi satu. Ami menekan sebuah tombol. Ruangan itu tiba-tiba diterangi lampu berkekuatan sepuluh watt. Si Bungsu segera tahu, kamar inilah yang tadi disebut Le Duan sebagai ruang kuning. Ruangan itu berukuran sekitar tiga kali dua meter. Ada meja kecil, ada tumpukan barang-barang militer, ada peta di dinding.
“Saya akan memeriksa radio. Mengirim pesan, sekalian memeriksa speed boat….” ujar Le Duan.
Tanpa menunggu jawaban adiknya, lelaki itu mulai menghidupkan senter saat dia melangkah keluar dari ruang tersebut.
Begitu dia…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s