Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 541)

Begitu dia tiba di luar, pintu kamar itu tertutup kembali. Ada celah kecil di bahagian atas kamar. Nampaknya berfungsi sebagai sirkulasi udara. Ketika Ami mulai membuka beberapa kantong parasut, si Bungsu memperhatikan peta di dinding. Dia segera tahu peta itu ada¬lah peta untuk kepentingan militer. Ada tiga peta di dinding. Peta Vietnam Utara yang digabung de¬ngan Selatan, peta Kota Da Nang dan peta Kota Saigon.
Pada dua kota terakhir terlihat tanda-tanda di mana markas tentara Amerika sebelum diusir tentara Utara.
“Well, malam ini kita tidur di sini dulu. Kita harus menunggu jawaban dari salah satu kapal pe¬rang Amerika yang berada di sekitar Kepuluan Natuna….” ujar Ami.
Ucapan gadis itu mengejutkan si Bungsu yang tengah memelototi peta di dinding. Dia menga¬lihkan tatapannya dari gadis itu ke lantai. Di lantai sudah terbentang kasur tipis tentara yang dialas de¬ngan terpal. Ada juga selimut pembagian tentara, dan bantal karet yang untuk menggelembungkannya harus ditiup dulu lewat sebuah pentin di sudutnya.
“Anda tidak keberatan kita tidur berdekatan di sini, bukan?” ujar Ami.
Si Bungsu tiba-tiba merasa kampungan sekali mendengar pertanyaan gadis itu. Biasanya prialah yang harus bertanya seperti itu kepada wanita. Dia menatap Ami Florence, tapi tadis itu dengan cuek tengah bersalin pakaian, memasang baju tidur yang nampaknya dia bawa di dalam ranselnya. Si Bungsu terpaksa kembali menatap ke peta di dinding.
“Kita akan tidur bertiga besama Le Duan di sini, bukan?” ujarnya.
Usai mengucapkan kata-kata itu dia menyumpahi dirinya sendiri.
“Tidak. Dia tidur di kamar radio. Tapi jangan khawatir, saya tidak akan memperkosamu….” ujar Ami.
Tumbung, eh tumbuang! Gadis ini benar-benar tumbuang, rutuk si Bungsu di dalam hati. Dia meletakkan ranselnya. Kemudian membuka sepatu. Matanya memang sudah sangat mengantuk. Ketika dia akan berbaring, satu-satunya tempat berba¬ring di kamar kecil itu hanya ada di sebelah tubuh Ami. Gadis itu sudah duluan bergolek dan menu¬tupi badannya dengan selimut tentara yang bergaris-garis seperti belang zebra. Akhirnya dia memang harus bergolek di sisi gadis itu, sembari ikut-ikutan menyuruk ke bawah selimut.
“Tidak takut kuperkosa?” bisik gadis itu.
“Tumbuang, kalera!” rutuk si Bungsu dalam hati.
“Hei… Upik, hati-hati kalau ngomong. Saya ini durian, engkau mentimun. Cabik-cabik dirimu nanti. Jangan terlalu banyak siginyang…” ujarnya de¬ngan suara mendesis.
Ami Florence mengerutkan kening mendengar ucapan yang tak dimengertinya itu. Dia memi¬ringkan tubuh menghadap pada si Bungsu. Tapi lelaki itu ternyata tidur miring membelakangi dirinya. Sekali rengkuh, tubuh si Bungsu dibuatnya tertelentang.
“Hei, mengapa ini. Kau….”
Ucapannya belum selesai, tangan gadis itu kembali merengkuhnya. Dan rengkuhan ini membuat tubuh si Bungsu hampir terpelintir. Agar tidak terpelintir, dia terpaksa menurutkan rengkuhan itu. Tubuhnya kini menghadap pada Ami. Dan tiba-tiba dia mendapatkan hidung dan wajahnya hanya sejengkal dari hidung dan wajah gadis itu. Dia menarik kepalanya agak ke belakang, agar kepala mereka agak berjarak. Namun tangan gadis itu mencekal rambutnya, menariknya dengan agak kuat, sehingga hidung mereka beradu.
“Kau seperti anak perawan saja. Bicara yang jelas, apa maksud kata-katamu tadi?” ujar Ami de¬ngan geram, sementara tangannya masih mencekal rambut si Bungsu.
Kalau ada yang membuat si Bungsu marah, bukan karena cekalan tangan gadis itu di rambutnya. Melainkan kata-kata ‘kau seperti anak perawan saja’ itu. Oo, mengkalnya hati si Bungsu. Tangannya segera menjambak pula rambut Ami. Menariknya kepala gadis itu sehingga hidung mereka hampir berlantak.
“Sekali lagi kau ucapkan kata-kata ‘seperti anak perawan’ itu, ku patahkan lehermu, Upik….” desisnya dengan mata melotot.
Ami bukannya takut, dia balas memelototkan matanya. Kemudian tersenyum. Kemudian kepala si Bungsu diraihnya. Dan sebelum pemuda itu sadar apa yang akan terjadi, ya ampuuun… bibir gadis itu sudah melumat bibirnya. Lama pula!
“Oke, oke! Sekarang katakan padaku, apa arti kata-katamu tadi. Engkau durian aku mentimun, dan diriku akan cabik-cabik, dan agar aku jangan banyak siginyang. Apa artinya itu?”
Si Bungsu tak segera menjawab. Ada beberapa saat dia pergunakan waktu untuk menormalkan degup darahnya yang mengencang ketika gadis itu melumat bibirnya tadi.
“Katakan, apa artinya ucapanmu tadi, please…” ujar Ami sambil menyurukkan wajahnya ke dada si Bungsu, dan tangannya memeluk tubuh lelaki itu dengan erat. Persis seperti anak ku¬cing kedinginan, yang menyurukkan tubuh ke bawah perut induknya.
Si Bungsu menarik nafas. Di arif, kedegilan gadis ini merupakan pelarian dari hidupnya yang keras. Sekuat-kuatnya manusia bertahan menjalani kehidupan dengan tegar, pasti ada ketika dimana dia seolah-olah terpuruk ke lobang tanpa dasar. Pada saat-saat seperti itu, orang membutuhkan tempat pelarian. Memerlukan teman yang bisa diajak bicara.
Bahkan tidak hanya tempat pelarian dan teman yang mendengar dan didengar, melainkan juga tempat berlindung! Orang pandai dan ulet bisa me¬ngatasi persoalan pelik dalam kerja dan tugas¬nya. Namun ketika persoalan pelik itu justru datang dari dalam, bukan ancaman dari luar, orang sering merasa gamang. Perlahan didekapnya tubuh Ami Florence, dibelainya rambut gadis itu yang menebarkan aroma harum yang lembut. Kemudian dia paparkan apa arti ucapannya tadi. Arti kiasan yang sering dipakai di kampungnya, berkaitan dengan hubungan lelaki dan perempuan.
Gadis itu mengangkat wajah, menatap pada sibungsu, tatkala usai menceritakan arti kata-kata¬nya itu.
“Apakah di kampungmu wanita selalu berada dalam posisi seperti itu? Lemah dan harus dika¬sihani?” tanyanya perlahan.
“Dalam teori tidak. Tapi dalam kenyataan, ya….”
“Apa contohnya?”
“Kampungku itu secara kultur disebut Minangkabau. Di Minang, dalam teori, wanitalah yang memegang kekuasaan. Baik dalam hal harta pusaka maupun dalam membentuk garis keturunan. Suku anak harus menurut suku ibu. Namun dalam praktek, wanita tetap saja menggantungkan hidupnya pada lelaki. Di manapun kondisi seperti itu berlaku. Bagaimana mungkin menerapkan persamaan hak dan kewajiban dalam kehidupan secara riil….”
“Wanita selalu dalam posisi terjajah?” potong Ami.
“Kadang-kadang ya. Namun sebenarnya mereka di lindungi, kaum lelaki punya kewajiban membuatkan rumah bagi istri dan anak anaknya….”
Ami kembali………..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s