Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 542)

Ami kembali menyurukkan wajahnya ke dada si Bungsu. Lama mereka saling berdiam diri. Ta¬ngan Ami mem permainkan anak rambut di tengkuk si Bungsu.
“Bungsu….?”
Si Bungsu tak menjawab
“Engkau punya istri di kampungmu?”
Si Bungsu masih tak menjawab.
“Dia tentulah wanita cantik yang sangat beruntung….”
Si Bungsu tak berkomentar sepatah kata pun
“Berapa orang anakmu?”
Si Bungsu memejamkan mata. Tetap tak menjawab. Lama mereka sama sama berdiam diri.
“Bungsu…?”
“Ya…?”
”Maafkan kalau pertanyaanku….”
“Tak ada yang harus dimaafkan, karena tidak ada yang harus dijawab….”
“Maksudmu….?”
“Aku tidak punya anak…”
“Oh maafkan aku…”
“Aku juga belum pernah menikah….”
Gadis itu mengangkat wajahnya yang tadi di¬surukkan ke dada si Bungsu. Menatap wajah pemuda yang hanya berjarak setengah jengkal dari wajahnya. Lama diperhatikannya wajah pemuda tersebut. Kemudian dia kembali menjadi anak ku¬cing yang kedinginan, menyurukkan wajahnya ke dada si Bungsu. Sebagai seorang ahli ilmu jiwa, Ami segera bisa mengetahui bahwa lelaki yang dipeluk¬nya dan yang memelukknya ini tidak berbohong sedikit pun. Lebih dari itu, dari sinar matanya Ami juga mengetahui bahwa lelaki ini seorang yang sering dikecewakan wanita. Bekasnya amat dalam menggurat pada sinar mata dan air mukanya.
“Maafkan pertanyaanku tadi…”
“Tidak apa-apa, jangan difikirkan….”
“Bungsu…?”
“Ya…”]
“Kau ke Vietnam ini disebabkan merasa hidup tak ada guna, karena dikecewakan seorang gadis?”
Si Bungsu ingin menampar gadis itu. Namun itu tak dia lakukan, karena apa yang dikatakan gadis ini 85,5 persen benar. Yang 14,5 persen lagi karena dia benar-benar ingin membantu Alfonso Rogers. Karenanya dia tetap berdiam diri.
“Siapa pun gadis yang tega meninggalkan dirimu, orangnya sungguh keterlaluan…” bisiknya dari dalam dekapan si Bungsu.
Si Bungsu masih berdiam diri.
“Sudah berapa lama engkau meninggalkan kampungmu?”
“Tiga tahun…”
“Selama itu engkau di Amerika?”
“Ya…”
Sepi setelah itu.
Si Bungsu menarik nafas, dia senang kalau gadis ini tak ngomong lagi. Apalagi omongannya te¬rus-terusan menyucuk puncak kadanya. Dia sudah mulai memejamkan mata. Tetapi…
“Bungsu…?”
”Hmmmmm…”
“Kalau sudah tiga tahun engkau meninggalkan kampungmu, berarti gadis yang meninggalkan dirimu itu kini ada di Amerika, bukan?”
Si Bungsu merasa sakit perutnya, sakit jantungnya. Tapi tiba-tiba saja dia ingin tahu, sampai dimana hebatnya gadis ini bisa ‘menebak’ apa yang sudah terjadi pada dirinya. Dia lalu memutuskan berada pada posisi sebagai penyerang.
“Ami…?”
“Ya…?”
“Di negeriku cewek seperti engkau punya gelar yang cukup hebat dan menarik….”
“Gelar apa itu?”
“Upik asteb dan Upik asngom….”
“Gelar apa pula itu, sehingga disebut sebagai cukup hebat dan cukup menarik?”
“Di Minang, Upik itu panggilan untuk seorang gadis secara umum. Butet kalau di Tapanuli, geulis kalau di Jawa Barat, nona kalau bahasa Indonesia¬nya. Asteb itu singkatan dari katakan ‘asal tebak’, sementara asngom singkatan dari kata-kata ‘asal ngomong’…. Aduh!…duh. aduh mak, Ampuun….!”
Dia tak bisa menyelesaikan penjelasannya. Dia terpekik-pekik. Antara sakit dan geli, soalnya Ami Florence yang merasa diolok-olok dengan gemas mencubit dadanya.
“Masih mau mengolok-ngolok?” ancam Ami sambil segera menempelkan mulutnya yang ternganga, dengan gigi siap menerkam ke dada si Bungsu.
“Tidak, tidak mak ooii! Ampunlah aku. Sebelas dengan kepala….!” ujarnya dengan bulu tengkuk merinding.
Ami justru menjadi heran dengan kata-kata ‘sebelas dengan kepala’ itu.
“Sebelas dengan kepala, kalimat aneh apa pula itu? Kenapa tidak sembilan, tujuh atau dua puluh lima?” ujarnya.
Meski bulu romanya merinding, karena mulut dan gigi gadis itu menempel terus di dadanya, se¬perti perangko nempel di amplop, si Bungsu mau tak mau terpaksa tertawa juga mendengar pertanyaan gadis tersebut. Entah kenapa, tiba-tiba saja dalam berbicara dengan gadis ini dia banyak mengeluarkan kata-kata yang berasal dari rumpun bahasa kam¬pungnya. Yang tentu saja tak dimengerti oleh Ami Florence, dan sekaligus mengusik keingintahuan gadis itu.
“Oke, kuceritakan. Tapi mulut dan gigi drakulamu itu jangan ditempelkan terus ke dad…. Addow…!!
Dia terpekik lagi. Ami rupanya jadi jengkel gi¬ginya disebut gigi drakula. Dia lalu menggigit dada si Bungsu, yang menyebabkan pemuda itu terpekik.
“Sebut lagi gigiku gigi drakula….!” ujar Ami, sembari mengangkat kepala dan menyeringaikan giginya yang putih di hadapan wajah si Bungsu. Tak cukup hanya sampai menyeringaikan gigi saja, gadis itu tiba-tiba mempergunakan giginya untuk menyambar bibir si Bungsu, dan menggigitnya de¬ngan gemas. Bibir si Bungsu terkalayak, menjadi dower seperti bibir Mick Jager, penyanyi rock yang berbini cantik amat itu.
“Amfun…amfuuun…!” ujarnya.
“Ayo katakan apa arti sebelas dengan kepala itu….” perintah Ami.
‘Huu… alamaaak….!” keluh si Bungsu tatkala Ami melepaskan gigi dari bibirnya. Kemudian menyurukkan lagi kepalanya ke dada si Bungsu. Persis anak kucing kedinginan.
“Bungsu….?”
“Apa lagi, eh…ya….?”
Si Bungsu cepat-cepat meralat suaranya yang semula bernada jengkel menjadi dilembut-lembutkan.
“Ceritakan soal sebelas kepala itu….”
Usai menarik nafas panjang, si Bungsu lalu menuturkan apa artinya kata-kata tersebut. Bahwa orang biasanya minta ampun dengan merapatkan kedua telapak tangan yang berjari sepuluh, kemudian menundukkan kepala. Jari yang sepuluh dengan sebuah kepala, menjadi sebelas.
“Ami….”
“Ya… Aku mengantuk….”
“Kita tidur, ya…?” ujar si Bungsu gembira.
“Jadi, selama tiga tahun engkau berada di Amerika?” tanya gadis itu.
“Tapi sudah mengantuk….” ujar si Bungsu.
“Soal gadis yang mengecewakanmu itu belum selesai….”
“Biarlah, kuanggap selesai saja….”
“Bagiku belum….”
“Besok kita…
selesaikan….”

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s