Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 543)

“Besok kita selesaikan….”
“Besok kita justru akan berpisah….”
Si Bungsu terdiam.
“Bungsu….?”
“Ya….?”
“Kita berdua tak punya hari esok, bukan? Yang kita miliki hanya saat ini. Ceritalah sebelum ‘saat ini’ itu berakhir. Please….” ujar gadis itu sambil mempererat pelukannya.
Si Bungsu menarik nafas. Diciumnya rambut gadis itu. Dipereratnya pula pelukannya ke tubuh Ami.
“Gadis itu ada di Amerika?” bisik gadis itu perlahan.
“Ya….” ujar si Bungsu.
“Dia pastilah orang Asia….”
Si Bungsu tertegun. Gadis ini ternyata tidak hanya ‘asteb’ dan ‘asngom’. Bagaimana dia bisa menyimpulkan, Michiko, gadis yang meninggalkannya itu, orang Asia?
“Dia orang Asia, kan?”
“Bagaimana engkau bisa menyimpulkan begitu…?”
“Entahlah, barangkali naluri kewanitaanku….”
Sepi sesaat.
“Dia bukan gadis kampungmu, bahkan bukan gadis Indonesia, kan?”
“Bukan..” ujar si Bungsu dengan perasaan semakin mengagumi ketajaman naluri Ami.
“Karena dia orang Asia, maka yang paling punya kaitan tentulah Jepang. Dia gadis Jepang, Bungsu…?”
Kali ini si Bungsu meraih wajah Ami yang masih berlindung di pelukan dadanya. Ditengadahkannya wajah gadis tersebut sehingga mereka saling bertatapan.
“Bagaimana engkau menebak setepat itu, Ami…?
“Orang Asia yang pernah punya kaitan sejarah dengan kalian adalah Jepang. Alur logikanya ada¬lah sebagai berikut. Pasukan Jepang pernah menjajah negeri kalian, barangkali ada dendam antara eng¬kau dengan bangsa Jepang yang menjajah negeri kalian. Mungkin sanak keluargamu, atau mungkin ayah atau ibumu tersiksa atau terbunuh semasa penjajahan Jepang. Engkau lalu datang ke Jepang untuk menuntut balas. Di Jepang engkau bertemu dan jatuh hati dengan seorang gadis Jepang. Mung¬kin kau belajar mempergunakan samurai kecil itu dari dia, atau mungkin dari orang lain. Yang jelas, samurai kecil yang menjadi senjatamu, kemudian Jepang dan dirimu, lalu gadis itu dan kedatanganmu ke Amerika, saling kait berkait. Merupakan sebuah sebab akibat….”
Ami menatap dalam-dalam ke mata si Bungsu. Si Bungsu juga menatap gadis yang amat cerdas itu dengan perasaan takjub. Kecuali dari siapa dia belajar mempergunakan samurai kecil itu, paparan Ami yang lain benar semuanya. Perlahan didekatnnya wajahnya ke wajah gadis itu. Perla¬han didekatkannya bibirnya ke bibir gadis itu. Ami memejamkan mata, tangannya memeluk kepala si Bungsu. Perlahan diciumnya bibir gadis itu de¬ngan lembut. Setelah itu, perlahan dia tuturkan tentang Michiko secara garis besar. Dia ceritakan mana yang perlu-perlu saja.
Ami Florence mendengarkan dengan kepala tetap berada dalam pelukan si Bungsu. Dengan ta¬ngan tetap memainkan rambut di tengkuk pemuda tersebut. Ketika si Bungsu selesai bercerita, suasana menjadi sunyi.
“Kau punya kekasih?” suara si Bungsu memecah keheningan.
Ami semula tak bereaksi. Namun setelah beberapa saat, dengan wajah masih berada di dada si Bungsu, dia mengangguk.
“Dulu tunanganku seorang perwira Vietnam Selatan. Tujuh tahun yang lalu dia dan dua ten¬tara Amerika tertangkap oleh Vietkong. Kemudian dinyatakan hilang. Saya sudah berusaha mencari jejaknya, namun tak ada bekas sama sekali. Sampai akhirnya dia ditemukan dalam keadaan gila di pinggiran Saigon. Kemudian bunuh diri. Sejak itu aku membenci tentara Utara dengan sepenuh kebencian. Lima tahun yang lalu aku menawarkan diri menjadi mata-mata Amerika. Itu¬lah mula asalnya aku bertugas untuk Selatan dan Amerika….”
Sepi beberapa saat.
“Maafkan kalau aku membangkitkan kenangan lamamu, Ami….”
Gadis itu menjawab dengan mencium dada si Bungsu. Kemudian wajahnya, kemudian bibirnya. Kemudian sepi.
“Tadi kata abangmu akan menunggu jawaban radio dari salah satu kapal Angkatan Laut Amerika yang berlabuh di sekitar Natuna. Apa maksudnya…?”
“Ya, Natuna di Laut Cina Selatan, yang berada di wilayah Kepulauan Riau, Indonesia. Hanya satu itu pulau bernama Natuna di dunia….”
“Apakah Pemerintah Indonesia mengetahui perairannya dipakai oleh armada Amerika untuk kegiatan perang melawan Vietnam?”
“Pasti tahu. Amerika bukan negera bodoh yang tak tahu hukum perairan Internasional. Militer dan pemerintah Indonesia juga bukan orang-orang tak bersekolah. Tentu ada pembicaraan diam-diam di tingkat paling tinggi. Perairan itu sudah lama sekali dimanfaatkan Amerika, sejak pecah Perang Teluk Tonkin tahun 63-an. Saat itu, Armada VII Amerika berada di perairan tersebut. Kini armada itu sudah ditarik. Tetapi beberapa buah kapal perangnya masih di sana. Menunggu perintah-perintah darurat. Misalnya untuk menyelamatkan dan meng¬ungsikan orang-orang tertentu, jumlahnya mungkin masih ratusan di daratan Vietnam ini. Itu di luar orang yang dinyatakan sebagai yang hilang dalam bertugas….”
“Antara lain seperti engkau dan abangmu?”
“Ya…”
“Kalian akan diantarkan kemana?”
“Terserah kemana kami inginkan. Bisa ke Inggris, Perancis, Philipina, ke Jepang atau Honolulu. Bisa langsung ke Amerika….”
“Kalian akan hidup di penampungan?”
“Yang bertugas khusus seperti kami, tidak. Kami akan diberi status warga negara Amerika. Diberi perumahan, mobil biaya hidup untuk jangka tertentu. Lamanya bisa dua atau tiga tahun. Juga diberi pekerjaan sesuai keahlian yang dimiliki. Ah, kita bercerita terus. Dapatkah kita memanfaatkan sisa waktu kita yang sedikit ini tidak hanya de¬ngan bercerita?” bisik Ami sembari mempererat pelukannya di tubuh si Bungsu.
—o0o—
DI ATAS sana embun sudah sejak tadi turun mendekap bumi. Namun di reruntuhan bangunan yang diledakkan dengan bom waktu, ada lusinan tentara Vietkong sedang bekerja. Mereka mengais tiap kepingan puing. Me ngumpulkan serpihan tubuh tentaranya yang bercerai-berai oleh bom. Yang lain memblokir areal seluas dua hektar di belakang dan di kiri kanan bar itu. Memeriksa setiap rumah dan lorong dalam usa¬ha mencari pemilik bar itu. Sebab, dari serpihan tubuh yang mereka kumpulkan, tak ditemukan serpihan tubuh wanita. Tak ada juga serpihan tubuh lelaki dengan pakaian sipil. Berarti ketiga pemilik bar ini, blasteran Vietnam-Perancis yang amat dicurigai itu, selamat dari ledakan bom. Artinya lagi, mereka sudah lebih dahulu menyingkir, sebelum bom meledak.
Setiap yang bergerak di tempat-tempat yang dicurigai pasti diperiksa oleh tentara Vietnam de¬ngan ketat. Seringkali yang bergerak dan dicu¬rigai itu hanya kucing atau anjing. Seekor kucing berwarna hitam bertubuh besar, yang muncul dari sela-sela semak di bawah dua batang pohon palem, hampir saja ditembak. Kucing besar itu terkejut ketika matanya disorot senter. Dia melompat ke antara dua pohon palem lain yang di bawahnya ditumbuhi rerumputan lebat. Tentara Vietnam yang tadi terkejut mengarahkan senternya ke bawah pohon palem itu. Mungkin karena situasi dalam perang, pemilik pohon palem tak sempat mengurus tamannya. Selain rumputnya lebat karena tak disiangi, warna rumput itu menjadi pirang. Mungkin karena tak pernah disiram.
Dua tentara Vietnam mendekat ke pohon palem itu. Tubuh kucing hitam besar yang bersembunyi di rerumputan tebal dan pirang itu menegang. Seolah-olah membaca bahaya yang meng¬ancamnya. Saat kritis itu dia melihat sebuah lobang kecil di depannya. Kucing itu segera masuk ke lobang tersebut. semula agak sempit. Tapi karena dia berusaha terus untuk menerobos, akhirnya seluruh tubuhnya amblas ke dalam. Di dalam juga sempit. Namun dibanding udara dingin berselimut embun di luar, di dalam ini terasa amat hangat. Dia tak tahu bahwa dua tentara Vietnam yang tadi memburunya melihat saat dia masuk ke dalam lobang kecil. Baru saja dia berada di dalam lobang kecil yang hangat itu, tiba-tiba kedua tentara Vietnam tersebut mengangkat sebuah kardus.
“Dia di dalam, ayo kita kerjain…” ujar yang seorang.
Seperti kekurangan..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s