Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 545)

Ami memasang rokok Dunhill-nya. Mengisap dan mengepulkan asapnya dengan nikmat.
“Bila engkau berada di bahagian luar sana, dan ingin masuk ke terowongan rahasia, perhatikan warna merah. Itu adalah tanda pengumpil. Mung¬kin terlihat hanya sebagai sebuah besi tua, mungkin berbentuk tong sampah, mungkin berbentuk tiang bendera. Benda-benda itu harus engkau putar se¬tengah putaran. Pintu rahasia berada setengah meter dari pengumpil itu. Mungkin di tanah, mung¬kin di dinding rumah, mungkin di dasar parit besar. Well, semua yang kau perlukan telah kupaparkan…” ujar Ami mengakhiri uraiannya.
Ketika itu pintu terbuka. Le Duan, abang Ami Florence masuk ke ruangan. Di ikut duduk di sam¬ping si Bungsu setelah terlebih dahulu menyapa dan menyalami anak muda tersebut dengan ramah. Ami menuangkan secangkir kopi untuk abangnya itu. Kemudian mengoles kan selai ke roti yang sudah dibakar. Memberikannya kepada Le Duan.
“Nampaknya ada sesuatu yang penting…?” tanya Ami pada abangnya.
Le Duan mengunyah roti di mulutnya, menelannya. Kemudian menghirup kopi. Lalu menatap pada si Bungsu, kemudian pada Ami.
“Kita terpaksa merubah rencana. Kita tidak bisa pergi memakai speed boat karet. Komandan kapal USS Alamo sudah lama meninggalkan perairan Natuna dan kini siaga sekitar 200 mill dari Pulau Hainan mengabarkan perairan Teluk Tonkin sudah dipenuhi puluhan kapal perang Vietnam Uta¬ra….” papar Le Duan sambil berhenti sejenak, mengu nyah kepingan roti bakar ditangannya.
Usai menghabiskan roti bakar dia menyambung lagi.
“Tiga kapal dan dua speed boat yang dipakai orang-orang Vietnam untuk melarikan diri mereka tangkap. Risiko tertangkap dengan memakai boat adalah sembilan ber banding satu. Karena¬nya, untuk mencapai USS Alamo kita amat disarankan memakai balon udara. Masalahnya, balon tergantung dari arah hembusan angin. Angin hanya berhembus ke arah laut di siang hari. Malam hari ang¬in berhembus dari darat ke laut. Gravitasi alam menyebabkan hal itu terjadi sejak dunia berkembang….”
Le Duan berhenti lagi, kemudian menatap adiknya.
“Melarikan diri dengan balon di siang hari sama dengan menyerahkan leher ke tiang gantung¬an. De¬ngan senang hati tentara Vietnam akan menjadikan kita sasaran tembak meriam-meriam penangkis udara mereka, bukan?” ujar Ami Florence.
Le Duan menghirup sisa kopinya yang terakhir. Dia tak perlu mengomentari ucapan adiknya dengan menggeleng atau mengangguk. Tak seorang pun yang bicara setelah itu. Mereka saling bertatapan dalam diam.
“Saya rasa, menyelinap dalam kegelapan malam dengan speed boat berkecepatan tinggi jauh lebih punya kemung kinan untuk lolos dari pada memakai balon di siang hari…”ujar si Bungsu.
“Tetapi perairan yang akan dilalui penuh kapal-kapal perang yang juga berkecepatan tinggi…” ujar Le Duan.
Mereka kembali saling menatap dengan diam.
“Berapa lama USS Alamo bisa menanti?” ta¬nya si Bungsu.
Kapal-kapal perang Amerika secara bergantian akan bertahan di perairan internasional itu dalam setahun ini…” ujar Ami.
“Jika saat ini risiko melarikan diri amat tinggi, maka alternatif yang tersisa tetap bertahan di terowongan bawah tanah ini, sampai keadaan me¬mungkinkan untuk pergi. Untuk itu, setiap hari kontak tetap dilakukan dengan USS Alamo. Mereka bisa memonitor keadaan laut dengan radar mereka. Minta mereka mengabarkan jika mereka melihat ada kesempatan untuk pergi…” ujar si Bungsu.
Le Duan menatap anak muda di sampingnya itu. Kemudian menatap adiknya. Mereka sama-sama tersenyum.
“Anda benar. Kenapa harus cepat-cepat menghadang maut, kalau di sini masih tersedia makanan untuk dua atau tiga bulan. Siang hari kita tidur, malam hari kita gentayangan di luar. Siapa tahu ada hal-hal lain yang bisa kita perbuat di luar sana. Saya rasa, saya harus menyampaikan saran Anda ke Komandan USS Alamo…” ujar Le Duan sambil menyalami si Bungsu, kemudian bangkit dan keluar dari kamar tersebut.
“Well, kita nampaknya harus mencari catur, agar bisa bertahan dan betah di bawah tero¬wongan ini…” ujar Ami.
Si Bungsu tersenyum. Dia meraih dan memperhatikan peta yang penuh tanda-tanda rahasia yang tadi diberikan Ami.
“Anda akan keluar ke atas sana?” ujar Ami.
“Sesegeranya…” jawab si Bungsu.
Gadis itu tertegun.
“Maksudmu…?”
Si Bungsu menatap gadis itu. Ami Florence menatap si Bungsu, seperti menanti sesuatu yang tidak diharapkannya.
“Engkau harus menjalankan tugasmu, saya harus menjalankan tugas saya, bukan?”
“Engkau akan segera pergi untuk mencari Roxy Roger?”
Si Bungsu mengangguk. Ami Florence merasa sesak nafasnya.
“Tidakkah….” dia tak jadi melanjutkan ucapannya.
Tiba-tiba saja gadis yang terbiasa menghadang maut itu, yang mahir menggunakan senjata dan mampu membunuh tanpa berkedip, kini berubah dan kembali ke fitrahnya sebagai seorang wanita yang membutuhkan kasih sayang dan perlindungan.
“Hei, apa yang salah…?”ujar si Bungsu kaget, tatkala melihat mata gadis cantik itu berkaca-kaca.
Ami Florence menggelengkan kepala. Membuang pandangan ke tempat lain. Dia berusaha untuk tidak menjadi sentimentil. Namun usaha¬nya gagal. Matanya basah.
“Hei…hei…..ada apa…?” ujar si Bungsu lagi, sambil memegang tangan Ami Florence. Gadis itu menggeleng.
“Kapan engkau…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s