Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 546)

“Kapan engkau akan pergi, Bungsu…?” ujar¬nya sambil mencoba untuk tersenyum.
Namun senyumnya lenyap ketika akan mulai. Dia menunduk. Tak berani menatap pada si Bungsu.
“Hei, ada se….”
Si Bungsu menghentikan ucapannya. Sebagai seorang lelaki yang sudah malang melintang dalam berbagai kemelut hidup, tiba-tiba dia jadi arif. Ucapannya tadi, yang menyatakan bahwa dia akan segera pergi menjadi penyebab gadis ini tiba-tiba menjadi murung. Ditatapnya gadis itu. Lama sekali. Ami semula hanya menunduk. Namun merasa ditatap terus, perlahan dia mengangkat wajah. Menatap si Bungsu dengan mata basah.
“Malam nanti kita coba keluar, oke?” ujar si Bungsu sambil mengenggam tangan Ami Florence.
Wajah gadis itu tiba-tiba berubah ceria. Ajak¬an ‘keluar’ itu berarti si Bungsu takkan segera pergi. Paling tidak masih ada waktu baginya untuk tetap bersama-sama semalam lagi. Gadis itu tersenyum dan mengangguk. Lalu malamnya, saat si Bungsu menunggu Ami bertukar pakaian di ruangan dimana tadi mereka ngobrol, tiba-tiba pintu terbuka. Sesosok lelaki muncul dari kamar di mana Ami bertukar pakaian tadi. Si Bungsu menatap nanap pada lelaki berambut pendek, berkumis tipis, muda dan tampan yang kini tegak di depannya. Lelaki itu tersenyum padanya.
Kemudian dengan lagak kegenit-genitan dia mendekati si Bungsu. Lalu tanpa ba tanpa bu, lelaki itu memeluknya. Membelai pipinya. Si Bungsu merinding.Kemudian lelaki muda itu berbuat lebih jauh lagi. Tiba-tiba saja dia merengkuh kepala si Bungsu sembari mendekatkan bibir. Si Bungsu berusaha mengelak. Namun lelaki itu nampaknya sudah amat bernafsu, dan… cup! Bibir si Bungsu kena terkam bibir lelaki itu. Semakin keras si Bungsu menolakkan tubuh lelaki itu. Semakin keras pula lelaki tampan berkumis pendek itu memeluk dan melumat bibirnya. Sampai nafasnya sesak. Setelah puas, lelaki itu melepaskan bibirnya dari bibirnya si Bungsu, tapi tidak pelukannya. Kemudian lelaki muda itu cengar-cengir. Menjilat bibirnya sendiri dengan lidahnya yang merah.
“Asyik juga jadi homo, ya?” ujarnya sambil tersenyum.
Si Bungsu tak bisa menahan mukanya untuk tidak menjadi merah.
“Ini muka menjadi merah tentu karena nafsu atau karena malu. Pasti bukan karena marah. Iyakan, ya kan?” ujar lelaki berkumis itu sambil tersenyum dan tangannya malah dengan ramahnya mencubit pipi si Bungsu.
“Ini orang gila…” rutuk si Bungsu.
Lelaki tampan itu tertawa cengengesan. Kemudian melepaskan pelukannya dari pinggang si Bungsu. Kemudian memutar diri, mematut pakaian model komprang berwarna hitam, sebagaimana lazimnya dipakai orang-orang Cina.
“Persis lelaki kan?” tanya lelaki tampan itu.
Si Bungsu memang harus mengakui, pakaian bersahaja dengan kumis tipis dan rambut dipotong sangat pendek itu merupakan penyamaran yang amat sempurna. Kalau saja dia bertemu orang ini di tempat lain, bukan di dalam ruang bawah tanah ini, dia pasti takkan menyangka bahwa lelaki ini sebenarnya adalah Ami Florence. Gadis blasteran Vietnam-Perancis yang cantik itu. Yang agak su¬sah disembunyikan adalah warna matanya yang biru dan alisnya yang lentik. Tapi bentuk fisiknya yang lain tersembunyi secara total di balik pe¬nyamaran yang sempurna. Dadanya yang montok pun kelihatan datar. Di bahagian dalam dia memakai baju kaos model T-Shirt, baru di luarnya ditutup dengan baju model Cina berwarna hitam dengan dasar kain kepar.
Untuk menutupi matanya yang biru dan alisnya yang lentik, agar tak menarik perhatian orang-orang secara mencolok, Ami memakai sebuah topi pet berwarna abu-abu. Lidah topi itu ditekankan agak ke bawah, sehingga matanya terlindung di bawah bayang-bayang ujung lidah topi tersebut. Kemudian dia menyisipkan sebuah pistol kecil pada sebuah ban karet yang dikalungkan di betis kirinya.Pistol itu tersembunyi dengan aman dibalik pipa celananya yang lebar.
“Kita keluar sekarang?” tanya Ami setelah puas mematut diri, sambil kembali memeluk pinggang si Bungsu.
“Kita beritahu abangmu…” ujar si Bungsu.
Mereka lalu keluar dari kamar berukuran kecil itu. Setelah dua kali membelok dalam gang kecil di bawah tanah tersebut Ami menekan sebuah tombol. Dinding di depan mereka bergerak perlahan. Mereka masuk, si Bugsu melihat di kamar beru¬kuran dua kali dua meter itu ada seperangkat alat-alat radio. Beberapa buah peti, pistol dan senapan otomatis di dinding. Ada sebuah velbed militer. Le Duan menyapa si Bungsu dengan melambaikan tangan, dibalas si Bungsu dengan senyum. Le Duan tersenyum melihat adiknya dalam pakaian sa¬maran itu.
“Kami akan keluar. Nonton, lalu ke nightclub, dansa dan minum es krim campur sedikit soda…” ujar Ami pada abangnya.
“Bawakan aku hamburger…” ujar Le Duan me¬nimpali guyonan adiknya.
“Masih ada kontak dengan kapal Amerika?” ujar Si Bungsu.
“Kita berhubungan terus setiap tiga jam sekali. Subuh tadi kapal patroli Vietnam menyergap dua kapal ikan yang dipenuhi pengungsi. Karena posisi mereka jauh sekali di Laut Cina Selatan, kapal Amerika itu tak bisa berbuat apa-apa, tatkala salah satu kapal nelayan yang berisi penuh sesak oleh sekitar dua ratus pengungsi. Lelaki dan perempuan, dari bayi sampai orang-orang tua ditembaki dan tenggelam karena berusaha terus melarikan diri dalam kabut subuh…” tutur Le Duan.
“Mereka mati semua?” tanya si Bungsu de¬ngan dada terasa ngilu membayangkan kanak-kanak dan para wanita mengakhiri hidupnya di laut yang dingin.
“Ya, kapal Vietnam memang mendekati tempat kapal nelayan itu tenggelam. Bukan untuk menolong, melainkan memastikan tak ada sepotongpun papan yang bisa dijadikan tempat bergantung oleh para pelarian tersebut. Setelah menembaki semua yang bergantungan di pecahan kapal, kapal perang Vietnam itu segera berlalu….”
“Darimana kita bisa mendapatkan sebuah kapal nelayan untuk melarikan diri?” tanya si Bungsu.
Le Duan bertukar pandang dengan adiknya. Kemudian menatap kepada si Bungsu. Tiba-tiba saja bulu tengkuk Le Duan dan Ami Florence merinding membayangkan maksud lelaki dari Indonesia ini.
“Maksudmu…”
“Perang adalah antara tentara dengan tentara. Bukan antara tentara dengan rakyat. Hanya iblis yang tega menembaki atau membiarkan para wa¬nita dana anak-anak mati dalam kedinginan laut, menjadi santapan ikan-ikan hiu. Iblis seperti itu harus dilawan dan dihancurkan. Jika tentara di kapal perang Amerika itu tak berminat melakukannya, saya akan melakukannya sebisa saya. Apapun caranya…” desis si Bungsu memotong pertanyaan Ami Florence.
Kedua kakak beradik itu tak bisa berkata sepatahpun. Jika kapal perang Amerika saja, yang lengkap dengan meriam dan torpedo tidak berani menghadang kapal perang Vietkong itu, apa pula yang bisa dilakukan anak muda ini?
“Amerika tak mau dicap melanggar teritorial negara lain. Mereka tak mau terperosok lagi dalam pertempuran dengan Vietnam. Mereka tak mau menolong hanya karena masalah teritorial dan pertimbangan politik. Jika saya yang terjun ke sana,tak ada masalah teritorial. Kendati saya orang Indonesia, namun saya tak memiliki kartu penduduk. Tak satu pun negara yang dituding mendalangi saya. Dimana saya bisa mendapatkan kapal nelayan itu…?”
Kedua adik beradik itu belum mampu bicara sepatah pun, ketika tiba-tiba si Bungsu teringat speed boat karet yang semula akan dipergunakan kedua adik-beradik ini untuk melarikan diri.
“Kalian punya speed boat karet, bukan?” ta¬nyanya.
“Engkau sungguh-sungguh, sobat?” tanya Le Duan.
“Kita akan jalan-jalan keluar, bukan?” ujar Ami sebelum si Bungsu menjawab pertanyaan abangnya.
“Saya sungguh-sungguh, Le…” jawab si Bungsu tanpa menghiraukan pertanyaan Ami Florence.
“Saya ikut…” ujar Ami.
Le Duan menatap adiknya nanap-nanap.
”Kita ikut berdua…” ujar Le Duan.
“Hei, hei… tunggu dulu! Saya tidak pernah mengajak kalian, bukan? Dan ke laut sana tidak pergi darmawisata…” ujar si Bungsu.
Namun Le…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s