Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 556)

Tidak sembarangan jenderal atau staf Gedung Putih memiliki akses langsung ke pusat rahasia Pentagon tersebut. Hanya orang dengan klasifikasi tertentu saja. Pejabat lain yang menginginkan data, harus memintanya melalui jalur resmi, yang bisa memakan waktu satu atau dua hari.
Setelah beberapa detik berlalu, di layar komputer muncul jawaban “akses diterima”. Si kapten berdiri, tempatnya kembali digantikan letnan yang segera mengetikkan beberapa nomor kode lagi. Di layar Komputer muncul kata ‘entry’. Si letnan mengetik kata ‘Bungsu’, beberapa saat muncul kata ‘tunggu’ Mereka kemudian menanti.
Data dasar mencatatat nama, tahun lahir, pendidikan, kampung tempat lahir, provinsi, dan sekaligus negaranya. Kemudian data spesialisasi orang tersebut, berikut prestasi-prestasi puncak yang mereka capai.
Jika dia Veteran, tercatat pertempuran di mana saja yang bersangkutan terlibat. Selain prestasi positif data juga mencatat semua ‘prestasi’ negatif orang yang ada dalam file tersebut.
Semua yang hadir dalam di dalam ruang komando kapal USSAlamo itu pada ternganga melihat data ‘kemampuan’ si Bungsu yang ditampilkan dalam layar komputer. Di sana tertera bahwa secara individual lelaki Indonesia ini adalah salah satu dari sedikit sekali orang-orang yang memiliki kemampuan beladiri yang amat luar biasa.
Dalam waktu relatif singkat lelaki ini memiliki kemampuan menghabisi nyawa lima sampai sepuluh orang yang menjadi musuhnya. Dengan senjata spe sifiknya berupa samurai kecil, paku atau besi pipih runcing yang lazim dipakai oleh Ninja dari Jepang, orang ini mampu menghabisi sepuluh sampai dua puluh lawan dalam waktu singkat.
Bila dia memiliki senapan maka kemampuan membu nuhnya setara dengan satu kompi pasukan khusus bersenjata lengkap. Orang ini adalah satu dari sedikit manusia di du¬nia yang berpredikat sebagai “mesin pembunuh pa¬ling berrbahaya”.
Kemampuan beladirinya tercipta secara alamiah. Salah satu faktor pendukung yang menyebabkan dia mampu mengalahkan lawan dalam jumlah yang banyak, adalah karena naluri atau indra keenamnya yang amat luar biasa tajamnya. Instingnya sepuluh kali lebih tajam dibanding ular kobra, macan tutul bahkan dibanding puma, harimau paling ganas dan paling tajam inderanya di padang prairi Amerika sekalipun.
Tingkat ‘bahaya’ individu seperti orang ini, bernilai 100 bila berada di kota. Nilai tertinggi bagi seseorang yang memiliki kemampuan sebagai ‘me¬sin pembunuh’. Tetapi bila dia berada di belukar atau belantara, tingkat bahaya itu melonjak menjadi 250. Padang gurun, belukar dan belantara ib¬arat rumah baginya yang amat dia hafal lekuk lekuknya, yang amat dia kenal setiap denyut dan pe¬rangainya.
Dalam daftar itu juga tertera ‘prestasi’ berupa korban yang berjatuhan di tangan si Bungsu. Mulai dari tentara Jepang di Payakumbuh, bandit-bandit Yakuza, Kumagaigumi dan tentara Amerika yang memperkosa wanita di Jepang, bandit-bandit Cina di Singapura, bandit-bandit di Australia, tentara PRRI, APRI sampai bandit-bandit Mafia di Dallas, dalam kasusnya terbunuhnya Presiden Keneddy.
Keterangan di layar komputer itu ditutup de¬ngan kalimat yang amat intimidatif, namun bisa diyakini kebenarannya: “Orang ini benar-benar tidak memihak kepada siapa atau negara manapun, kecuali kepada kebenaran. Jika Anda beruntung bisa ‘memakai’-nya, jangan sekali-kali berbuat curang atau berlaku tak benar. Orang ini akan segera mengetahuinya, sepandai apapun Anda menyembunyikan kecurangan itu. Begitu dia mengetahui kecurangan tersebut, satu-satu-nya jalan bagi Anda untuk selamat dari pem balasannya hanyalah bunuh diri!”
Semua yang berada di ruang komando kapal itu pada tertegun dan saling bertukar pandang. Tak seorang pun di antara mereka yang menganggap data yang diberikan komputer itu sebagai senda gurau, apalagi omong kosong. Informasi mengenai orang-orang berkualifikasi khusus, yang masuk ke dalam pusat informasi rahasia Pentagon, akurasi datanya nyaris tak sebuah pun yang bisa dimasukkan ke dalam klasifikasi ‘tidak bisa dipercaya’.
Dalam ratusan peristiwa yang data awalnya terekam di pusat informasi rahasia Pentagon, aku¬rasi data dan analisanya minimal 95 persen.
“Lihat Kapal Vietnam itu meledak…” seruan Wakil Komandan USS Alamo, yang sempat meli¬rik monitor radar, membuat semua yang hadir ka¬get dan terpana.
Di layar terlihat satu titik dari enam titik putih yang menunjukkan kapal-kapal Vietnam yang didempeti kapal patroli yang dilayarkan si Bungsu, berubah menjadi merah. Kemudian secara perla¬han titik merah itu hilang dari layar monitor. Di layar itu kini hanya ada lima titik putih. Dan kelima titik putih itu kelihatan segera mendekat ke arah titik merah yang lenyap dari layar monitor itu.
“My God! Dia meledakkan kapal itu. Dan kini kelima kapal perang Vietnam yang ada di laut menuju ke arah kapal yang meledak itu…” desis Komandan Kapal USS Alamo.
Laksamana itu menatap pada Ami dan Le Duan.
“Kalian sangat beruntung bertemu dengan salah seorang manusia yang memiliki kemahiran beladiri dan kemampuan yang langka ini. Kami ing¬in sekali berkenalan dengannya. Sayang dia tak sempat naik ke kapal ini…” ujar Komandan USS Alamo tersebut.
Ami masih menatap ke monitor radar. Ha¬¬ti¬¬nya semakin buncah. Kapal itu meledak atau diledakkan, siapapun yang melakukannya, apakah si Bungsu atau orang Vietnam itu sendiri, yang jadi pikirannya adalah keselamatan lelaki Indonesia itu. Kalau kapal itu meledak, bagaimana nasib si Bungsu? Apa sesungguhnya yang telah terjadi atas dirinya?
Ya, apa sesungguhnya yang terjadi atas diri lelaki dari Situjuh Ladang Laweh itu? Siapa yang meledakkan kapal perang Vietnam tersebut?
Beberapa saat setelah meninggalkan USS Alamo, si Bungsu mengetahui kedatangan kapal kapal Vietnam itu dari radar di meja. Setelah menemukan alat penyelam di kapal itu, dia segera meng¬arahkan kapalnya ke salah satu kapal Vietnam tersebut dengan memperkirakan kapal terdekat dengan posisinya.
Beberapa puluh meter menjelang sampai ke kapal yang dia tuju, kapalnya segera diterangi cahaya lampu sorot dari kapal tersebut. Saat kapalnya masuk ke dalam terkaman cahaya lampu sorot, de¬ngan pakaian selam dia sudah bergelantungan di bahagian belakang kapal.
Ketika kapal yang sengaja dia perlambat mesinnya itu merapat ke kapal patoli yang datang, yang ternyata jauh lebih besar dari yang mereka rampas, si Bungsu sudah menyelam. Di bawah sikap siaga penuh dengan todongan belasan senjata, tiga orang serdadu Vietnam segera melompat ke kapal yang merapat itu.
Mereka menyebar memeriksa kapal dengan senjata siap memuntahkan peluru. Di bawah sorot lampu yang amat terang benderang dan di bawah pengawalan yang amat siaga, tak ada sudut atau ruang yang luput dari pemeriksaan ketiga orang ini.
“Kapal ini kosong…” ujar salah seorang ten¬tara Vietkong setelah berkeliling di kapal tersebut.
Komandan kapal patroli yang baru datang itu memberi isyarat kepada tiga anggota marinir¬nya untuk segera memakai alat selam. Sementara ketiga tentara yang tadi naik ke kapal yang di¬tinggalkan si Bungsu tetap di posisinya. Komandan kapal itu lalu memerintahkan untuk menambatkan kapal tak berawak itu ke kapalnya.
Tiga marinir yang sudah berpakaian selam, dengan senjata khusus berupa tombak dengan alat tembak berkekuatan tinggi segera mencebur ke laut. Kapal patroli itu sendiri berlayar perlahan dengan membuat lingkaran berdiameter sekitar 50 meter, dan dengan lampu sorot yang menjelajahi setiap sentimeter laut di sekitarnya.
Sekitar satu…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s