Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 557)

Sekitar satu jam menyelam, akhirnya ketiga marinir itu muncul sekitar tiga puluh meter dari kapal. Salah seorang pemberi isyarat kepada komandannya di kapal, bahwa mereka tak menemukan seorang pun di dalam laut. Dengan tanda ta¬nya besar komandan kapal itu menyuruh jurumudi mengarahkan kapal untuk men jemput ketiga orang marinir tersebut.
Si komandan tak bisa mempercayai begitu saja bahwa kapal patroli yang kini tertambat di belakang kapalnya ini datang sendirian, tanpa seorangpun yang menge mudikannya. Tiba tiba dia ter¬ingat sesuatu.
“Periksa scuba dikapal itu…” serunya kepada tiga tentara yang masih berada di kapal yang tadi ditinggalkan si Bungsu.
Ketiga tentara itu segera memeriksa peti besi di ruang kemudi, tempat di mana biasanya dua pasang alat selam tersimpan. Mereka segera mendapatkan bahwa di dalam peti itu kini hanya ada sepasang alat selam. Dan kelihatan pula bahwa yang sepasang lagi baru saja diambil dari peti ini.
“Kalian jaga di sini, saya akan melapor ke komandan…” ujar salah seorang dari tentara yang bertiga di kapal itu.
Usai berkata, dia segera menarik tali kapal, sehingga merapat ke kapal yang satu lagi. Kemudian dia melompat, naik ke kapal di mana komandannya berada. Lalu dia melaporkan apa yang mereka temukan di peti penyimpan alat selam itu kepada komandan mereka.
“Siapapun yang memakai alat selam itu kini, pastilah dia seorang musuh yang sangat berbahaya. Pertama, dialah yang merampas kapal yang kini tertambat di belakang kapal kita ini, yang kemudian menghancurkan kapal patroli yang sebuah lagi. Dia pasti tak pergi jauh, dan akan muncul di kapal ini. Periksa dan jaga setiap jengkal pinggir kapal ini…” ujarnya.
Kapal itu memiliki dua puluh lima awak. Kini mereka menyebar tegak berbaris di kedua sisi kapal, mulai dari haluan sampai ke belakang. Mereka tegak dengan senjata terhunus, siap untuk memuntahkan peluru. Tak ada tempat bagi seorangpun untuk bisa naik ke kapal itu, meski agak satu sentimeter, tanpa diketahui oleh awak kapal yang dua puluh lima orang itu, di luar si kapten.
Namun si Bungsu, yang sejak tadi sengaja menjauh dari kapal yang berlayar berputar-putar itu, sama sekali memang tak merasa perlu untuk naik ke kapal tersebut. Dari kejauhan pula dia melihat tiga marinir melompat terjun ke laut.
Dia memunculkan kepalanya sedikit di permukaan air, saat cahaya sorot lampu baru meninggalkan lokasi di mana dia menyelam. Bila sorot lampu itu mengarah ke tempatnya, perlahan dia menyelam sekitar satu meter. Dari dalam laut dia melihat ke atas, menanti cahaya terang pada air akibat sorot lampu menghilang. Setelah itu dia kembali muncul.
Dari tempatnya mengapung, dia perhatikan pula ketiga marinir itu kembali naik ke kapal. Kemudian dia melihat pula si komandan memerintahkan anak buahnya yang di kapal untuk meme¬riksa peti penyimpanan alat-alat selam. Dia juga melihat si komandan memberi perintah, disusul bersebarnya semua awak membuat pagar betis di pinggiran kapal dari haluan sampai ke buritan.
Setelah anak buahnya tegak berbaris, si komandan memerintahkan jurumudi untuk segera meninggalkan tempat itu dengan kecepatan penuh. Namun saat itu pula si Bungsu muncul di permukaan air, sekitar dua puluh lima meter dari haluan kapal dengan posisi agak ke kiri. Yang pertama melihat kemunculannya adalah seorang tentara yang tegak di sisi mitraliyur di haluan. Yaitu saat jurumudi kapal menambah kekuatan mesin untuk meluncur kencang, dan lampu menyorot ke bahagian depan.
“Itu dia! Di depan, di sebelah kiri…!” serunya sambil menarik pelatuk bedil.
Namun sebelum jarinya sempat menarik pe¬latuk bedil, si Bungsu yang di kapal tadi mengambil pistol sinar, yaitu pistol berpeluru besar yang dipergunakan untuk isyarat. Kini pistol itu dia tembakan. Sebuah garis sinar yang amat terang berwarna merah jambu, segera meluncur ke arah kapal.
Saat itu peluru si tentara yang melihatnya pertama tadi muntah dari mulut bedilnya. Menyusul kemudian muntahan peluru dari mitraliyur yang ada di depan. Namun semua tembakan itu terlambat sudah. Tidak hanya karena si Bungsu sudah menyelam amat dalam, tapi juga karena tembakan si Bungsu dengan pistol sinar berpeluru tunggal, yang pelurunya hampir sebesar lengan anak kecil itu sudah menghantam bahagian depan tabung torpedo yang berada di bahagian kiri dek.
Bahagian depan tabung torpedo itu terbuat dari plat besi, dan hanya bisa terbuka secara otomatis jika tombol untuk menembakkan torpedo di ruang kemudi ditekan. Namun peluru pistol sinar yang amat besar itu setelah menghantam tutup tabung yang besarnya sekitar paha lelaki dewasa, menancap di sana.
Kapal patroli besar itu menjadi terang benderang oleh cahaya. Peluru yang menancap itu membuat tutup tabung menjadi merah. Hanya berjarak tiga jari dari tutup tabung terletak hulu ledak torpedo. Panas yang luar biasa dari peluru sinar yang menancap di tutup tabung tersebut, yang membuat tutup tabung itu merah menyala, tentu saja mengirimkan panas yang amat sangat ke hulu ledak torpedo.
Tembakan dari hampir semua tentara di bahagian kiri kapal itu masih membahana sambung bersambung, ketika kapten di kapal patroli itu me¬nyadari bahaya yang mengancam mereka, yang berasal dari peluru pistol sinar yang menyala di tutup tabung torpedo.
“Tinggalkan kap…..”
Perintahnya terlambat sudah. Sebuah ledakan yang amat dahsyat, akibat meledaknya torpedo di bahagian kiri kapal itu, tidak hanya menelan suara si kapten, tapi sekaligus menelan kapal berikut nyawa semua awaknya. Bersamaan dengan suara ledakan yang menggelegar, hampir semua bahagian kapal berikut dua puluh lima tentara di atasnya hancur berkeping.
Bahkan kapal yang tadi dibawa si Bungsu, yang ditam batkan di belakang, tak luput dari terkaman ledakan torpedo yang dahsyat itu. Kepingannya disemburkan ke udara belasan meter bersama nyala api yang amat marak. Kemudian satu persatu kepingan itu runtuh berderai ke laut yang gelap. Kemudian laut pun ditelan sepi.
Beberapa saat kemudian si Bungsu muncul ke permukaan air. Yang kelihatan hanya gelap yang mencekam. Beberapa keping kayu dan fiberglass mengapung di sekitar si Bungsu. Namun kege¬lapan yang sunyi itu hanya berlangsung beberapa menit. Setelah itu, dari kejauhan dia melihat cahaya lampu sorot bermunculan. Dari kiri, dari kanan dan dari belakangnya. Sayup-sayup dia menangkap suara mesin kapal mendekat.
Dia segera tahu, suara kapal itu adalah suara lima kapal patroli yang ketika masih di kapal tadi dia lihat di monitor radar.
“Mudah-mudahan saya bisa menumpang de¬ngan salah satu di antaranya…” bisik hati si Bungsu.
Dia memperhatikan salah satu kapal yang agak dekat, lalu sebelum cahaya lampu sorot sampai ke tempatnya mengapung dia pun menyelam perla¬han beberapa meter. Sambil menyelam dia meng¬ambil tali gulungan nilon sebesar kelingking, yang tersedia di pakaian renang yang dia pakai.
Pada ujung tali nilon itu ada cangkok seperti mata kail, yang terbuat dari bahan aluminium dilapis plastik. Panjang keseluruhan tali itu sekitar lima belas meter. Kini dia harus mengarahkan pikiran bagaimana agar dia bisa ‘menompang’ di salah satu dari ke lima kapal tersebut.
Dia tak mungkin mengaitkan kait tali nilon ke bahagian belakang salah satu kapal patroli itu, untuk kemudian bergelantungan dalam laut mengikuti kapal yang berlari kencang. Awak kapal tentu akan ronda hilir mudik di kapal itu. Dan de¬ngan mudah cangkokan tali nilonnya akan ditemukan.
Dia harus cepat bertindak. Jika terlambat, kapal-kapal itu akan berangkat meninggalkan lokasi ini. Jika itu yang terjadi, maka dia akan mati sendiri. Bila persediaan oksigen di tabung gas yang terletak di punggungnya habis, dia tentu takkan bisa lagi menyelam.
Jika tak bisa menyelam, maka jika dia masih hidup, lambat atau cepat, salah satu kapal patroli Vietnam pasti akan menemukannya. Jikapun tak ditemukan kapal patroli Vietnam, maka kematian tetap akan menjemput lewat rasa lapar dan haus yang sangat di tengah laut tak bertepi ini, atau dimangsa ikan hiu yang terkenal ganas itu.
Dengan fikiran tak ingin mati konyol itu dia lalu kembali mengapungkan diri di bawah ke¬pingan kapal patroli yang hancur itu. Memperhatikan cahaya sorot lampu berseliweran. Ketika daerah di atasnya menjadi gelap, dengan cepat dia memperhatikan sekitarnya. Kemudian menyelam lagi dengan cepat pula ketika sorot lampu me¬nyambar ke arah tempatnya berada.
“Kau lihat..

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s