Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 568)

Tentara Vietkong berpakaian preman namun membawa bedil berlaras panjang itu memang tak segera mengetahui siapa yang datang mengendap-ngendap di sisinya. Gelap yang kental membatasi pemandangan. Dia hanya merasakan ‘tepukan ramah’ di tengkuknya. Setelah itu ma¬tanya juling. Ada derak kecil. Tengkuk¬nya bukan ditepuk ramah. Melainkan terpelintir karena rambut di kepalanya disentakan dan dagunya dihantam berlawan arah dengan sentakan di rambutnya.
Derak kecil yang terdengar sesaat sebelum matanya juling itu adalah derak tulang tengkuknya, yang patah akibat pelintir dengan teknik yang amat mahir. Tubuhnya melosoh. Si Bungsu menahan tubuh lelaki yang menjawab bisiknya dengan ucapan ‘ceng cong ceng’ yang tak dia pahami itu, agar tak jatuh terlalu keras. Perlahan dia baringkan lelaki itu. Kemudian mengendap ke bawah rumah, menuju posisi lelaki yang tegak di samping kiri rumah di dekat pohon bambu kecil. Lelaki di dekat pohon bambu kecil itu melihat ada yang menunduk di bawah rumah menuju dirinya.
Karena arahnya dari sisi kanan rumah, dia menyangka yang datang adalah temannya sendiri. Ketika orang itu sudah dekat, dia berbisik.
“Hek hok hek….”
Tentu saja dia memakai bahasa Vietnam Uta¬ra, yang tak dimengerti oleh si Bungsu. Padahal orang itu bertanya ‘Mengapa meninggalkan posmu?” Si Bungsu mana peduli. Dia terus saja mendekat. Dan pura-pura ingin berbisik. Orang itu memiringkan kepala untuk mendengarkan apa yang akan dibisikkan ‘kawannya’ itu. Namun ketika jarak kepala mereka hanya tinggal sejengkal, tiba-tiba dia terkejut. Orang yang ingin ‘berbisik’ dengannya itu ternyata bukan kawannya. Orang asing yang tak pernah dia kenal. Dia berusaha mengangkat ujung bedilnya.
Namun tangan si Bungsu yang memegang samurai kecil sudah sampai di leher lelaki itu. Sa¬murai kecil itu membenam di bawah jakun ten¬tara Vietkong tersebut sampai ke gagangnya. Lelaki itu sebenarnya ingin berteriak. Namun mulutnya se¬gera dibekap oleh si Bungsu. Suaranya tertahan di tenggorokan. Tubuhnya berkelojotan, dan perla¬han dibaringkan si Bungsu di tanah, di balik rumpun bambu. Masih dalam posisi berjongkok menaruh tubuh lelaki yang sudah mati itu, si Bungsu menolehkan kepala karena mendengar suara tangga dinaiki. Dia melihat ke bahagian depan.
Kedua lelaki yang di depan rupanya naik beriringan ke rumah Duc Thio. Si Bungsu segera me¬ngendap-ngendap ke depan. Dia mendengar suara perintah membuka pintu. Namun tak ada sahutan. Orang yang di kepala jenjang itu kembali mengetuk pintu agak keras dan bicara dalam bahasa Vietnam kepada yang berada di dalam rumah. Si Bungsu ikut naik tangga. Lelaki yang berada di anak tangga ketiga menoleh dan merasa jengkel. Dia menyangka yang ikut naik adalah salah seorang temannya yang disuruh menjaga di samping rumah.
“Pim pommm… pommmm?” ujar orang itu sedikit menyergah kepada si Bungsu.
Gelap yang kental menyebabkan dia tak tahu bahwa yang ditanyainya itu bukan temannya. Dia baru merasa kaget ketika orang yang di bawah itu menyentakkan kakinya.
“Heei, ini pekerjaan mancirik namanya…!”
Mungkin itulah serapah yang diucapkannya pada si Bungsu. Namun karena bahasanya tak difahami si Bungsu, maka si Bungsu diam saja. Sambil menyentakkan kaki sehingga lelaki itu tergerajai, tangannya bekerja. Lelaki yang tergerajai dan terlempar ke bawah itu merasa hulu jantungnya amat linu. Dia meringis, dan berkelojotan, dan mati! Dia tak tahu apa benda yang menyebabkan jantung¬nya demikian linu yang membuat dia tak bisa bernafas. Dia tak tahu, jantungnya sudah ditembus sebuah pisau kecil yang amat tajam, yang ditusukkan oleh lelaki yang menariknya.
Bahkan dia juga tak tahu, bahwa bedil yang tadi dia pegang sudah berpindah ke tangan lelaki yang menariknya dengan sangat kuat lagi kasar, sehingga tubuhnya tergerajai dan jatuh terjelapak ke tanah. Kawannya yang sudah dua kali mengetuk pintu heran mendengar ada yang tergerajai dan jatuh. Dia menoleh ke belakang.
“Cincong cincau cincai…?!” sergahnya.
Tentu saja dia bicara dalam bahasa Vietnam Utara, namun di telinga si Bungsu yang tak mengerti bahasa langit itu, suara yang sampai yang seperti “cincong cincau, cincai” saja. Dalam kegelapan malam si Vietkong tak tahu bahwa bahaya mengan¬cam dirinya. Sebelum pertanyaannya usai, si Bungsu mengulurkan popor bedil kepada ten¬tara yang ada di atas itu. Cuma cara meng¬ulurkannya memang beda. Pangkal bedil itu dia ulurkan dengan amat kuat dan amat cepat, tidak ke tangan si tentara, melainkan ke selangkangannya. Terde¬ngar suara berderuk, Vietkong di depan pintu itu melenguh.
Hantanam pangkal bedil itu teramat sangat kuatnya menghajar selangkangannya. Gelandutnya mungkin pecah. Tentara itu tidak hanya melenguh. Mulutnya kontan berbuih. Kedua tangannya se¬gera bergerak ke selangkangannya, yang sakitnya bukan main. Namun gerakannya terhenti sampai di situ. Tubuhnya yang membungkuk langsung rubuh dan terjungkal ke bawah jenjang. Matanya juling dan lidahnya terjulur. Tentara itu sudah mati sebelum tubuhnya mencapai tanah. Si Bungsu menarik nafas. Dia menaiki tangga.
Mengambil bedil yang tertinggal di depan pintu, kemudian memanggil Han Doi yang masih berbaring pura-pura tidur.
“Kita harus segera berangkat…” ujar si Bungsu sambil melangkah masuk.
Duc Thio dan Thi Binh sudah bangkit pula dari pura-pura tidurnya. Si Bungsu membagikan empat pucuk bedil otomatis yang dia rampas dari keempat Vietkong yang sudah mati di luar. Satu dia sandang sendiri, satu untuk Duc Thio, satu untuk Han Doi dan satu lagi dia berikan pada Thi Binh.
“Mereka Tuan bunuh semua?” tanya Thi Binh saat menerima bedil itu, sambil matanya nanap menatap si Bungsu.
“Kita berangkat?” ujar si Bungsu, setelah meng¬angguk mengiyakan pertanyaan Thi Binh.
Duc Thio mendahului melangkah ke pintu depan, kemudian Han Doi, Thi Binh dan terakhir si Bungsu. Mereka turun ke halaman. Kentalnya gelap malam itu menyembunyikan pelarian mereka. Thi Binh masih sempat melihat dua tubuh tentara Vietkong yang terkapar di dekat tangga. Dari depan rumah, melalui jalan raya di tengah kampung, mereka dibawa Duc Thio ke hulu kampung. Kemudian mereka membelok ke kiri memasuki hutan dan mendaki sebuah bukit. Melangkah perlahan dalam gelap yang amat kental. Setelah beberapa jauh masuk ke hutan, Duc Thio menghidupkan senter.
“Tunggu…” ujar si Bungsu setelah beberapa lama mereka menerobos hutan.
Rombongan kecil itu berhenti dan tegak saling ber dekatan.
“Ada apa…?” bisik Han Doi.
Si Bungsu tak menjawab. Dia menunduk dan tangannya meraba tanah lembab di bawah. Kemudian dia mengangkat kepala. Memejamkan mata dan hidungnya seperti mencoba mencium aroma belantara.
“Kalau tak salah, agak..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s