Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 569)

“Kalau tak salah, agak jauh di sebelah kiri ada rawa. Kita harus ke sana…” ujarnya si Bungsu sambil berdiri.
Han Doi, Duc Thio dan Thi Binh saling menatap. Mereka takjub pada tebakan orang asing ini. Memang di bahagian kanan mereka ada rawa yang sangat luas, tapi juga sangat berbahaya karena ada pasir apung, ular dan buaya.
“Rawa itu sangat berbahaya. Selain itu, jika kita ke sana, kita akan menempuh jalan memutar untuk sampai ke sekitar bukit batu tempat penyekapan tentara Amerika itu…” ujar Duc Thio, sambil mendahului melangkah ke arah rawa.
“Siang tadi saya melihat jejak anjing yang cu¬kup besar di tengah kampung. Saya yakin itu bukan anjing peliharaan penduduk. Itu pasti anjing pelacak milik tentara Vietnam. Ada berapa ekor anjing pelacak itu?” tanya si Bungsu.
Duc Thio kembali bertukar pandangan dengan Han Doi. Ketajaman penglihatan orang asing ini sehingga dapat membedakan jejak anjing pelacak de¬ngan anjing kampung, sungguh luar biasa.
“Kami hanya pernah melihat empat ekor. Kebetulan anjing itu tiba di desa dengan truk sore hari…” ujar Duc Thio sambil menyeruak belukar untuk tempat lewat.
“Di tanah daratan ini jejak kita akan mudah ditemukan anjing pelacak. Mereka tak berdaya kalau orang yang dia lacak masuk ke air, apalagi masuk ke rawa yang sangat besar. Itulah sebabnya kita harus melewati rawa itu agar tak mudah diburu anjing pelacak…” papar si Bungsu.
Mereka berhenti, karena langkah Duc Thio terhambat oleh sebuah pohon besar yang tumbang. Han Doi mengarahkan cahaya senternya ke bahagian ujung. Cukup jauh. Lalu ke bahagian pangkal. Juga cukup jauh, pohon tumbang itu terlalu besar untuk dinaiki agar bisa melintas ke sebelah.
“Boleh saya yang di depan?” tanya si Bungsu.
Duc Thio mengangguk, sambil menyerahkan senter.
“Barangkali Tuan dan Thi Binh bisa memakai senter itu. Saya sudah terbiasa berjalan dalam belantara…” ujar si Bungsu.
Dia mulai melangkah ke kanan, ke arah ujung kayu tumbang itu. Ketiga orang Vietnam anak beranak itu segera menemukan bukti atas ucapan orang asing di depan mereka ini, bahwa dia sudah ‘terbiasa’ berjalan dalam belantara. Lelaki muda itu, dalam gelap yang amat kental, dengan cepat me¬nemukan lorong dan celah untuk melangkah cepat di antara rimbunan semak belukar. Ketika sampai ke bahagian ujung pohon tumbang itu, di mana tingginya pohon itu tinggal sebatas pinggang, si Bungsu segera meloncat naik.
“Ayo… kita seberangi pohon ini…” ujar si Bungsu sambil mengulurkan tangan pada Han Doi.
Beberapa detik kemudian mereka sudah berada di sebelah pohon besar yang tumbang itu. Si Bungsu berhenti. Menunduk dan mendekapkan telinga kanannya ke tanah. Ketiga orang Vietnam itu menatapnya dengan diam.
“Belum ada tanda-tanda bahwa kita sudah mulai dikejar. Kita harus cepat sampai ke rawa tersebut…” ujar si Bungsu sambil berdiri.
Kembali ketiga Vietnam itu hanya bisa saling menatap. Mereka pernah mendengar cerita, bahwa ada tentara yang ahli mendengarkan keda¬tangan musuh dengan men dekapkan telinga ke tanah. Tapi kini mereka tidak hanya sekedar mendengar cerita, tapi melihat sendiri buktinya.
“Mari kita terus…” ujar si Bungsu sambil melangkah duluan.
Mereka berjalan dalam jarak sejangkauan ta¬ngan. Bagi si Bungsu aroma belantara berikut pe¬pohonannya yang menjulang dan semak belukar adalah tempat yang dirin dukannya. Bagi dia, dan juga bagi beberapa perimba, belantara di mana pun tempatnya, memiliki sifat yang hampir sama. Dia hafal akan hal tersebut. Dia seolah-olah “pulang ke rumah”. Dengan nalurinya yang amat tajam de¬ngan mudah dia mencari jalan, kendati malam dipagut gelap yang amat kental. Dia mrenunjukkan ke mana harus melangkah, menghindari semak berduri atau pohon tumbang yang tak mudah dilewati.
“Saya lelah, dapatkah kita istirahat sebentar?” tiba-tiba terdengar suara Thi Binh.
Gadis itu bicara dengan nafas sesak, sementara tangannya menjangkau ke depan, bergantung pada tangan si Bungsu. Si Bungsu menghentikan langkahnya. Tiga orang lainnya juga berhenti. Ter¬nyata nafas mereka juga pada sesak semua. Namun yang paling lelah tentu saja Thi Binh. Gadis itu belum pulih benar dari sakitnya. Si Bungsu duduk berlutut dengan lutut kiri di tanah. Kemudian kembali dia mendekatkan telinga ke bumi. Ada beberapa saat dia berlaku demikian. Kemudian dia mengangkat kepala. Lalu mem bersihkan dedaunan kering, sehingga terlihat tanah dimana mereka berada.
Ke tanah itu si Bungsu kembali mendekapkan telinganya. Sementara ketiga orang Vietnam itu menatap dengan diam. Lalu dia berdiri. Menatap kepada tiga orang temanya itu dengan diam.
“Mereka sudah mulai memburu kita. Saya tak tahu berapa jumlahnya. Namun mereka membawa anjing pelacak. Masih cukup jauh, belum sampai ke pohon besar yang tumbang itu. Kita bisa istirahat sebentar, tapi setelah itu kita harus menambah kecepatan dua kali lipat….”
“Tidak kita terus saja. Saya bisa berjalan…” ujar Thi Binh.
Si Bungsu menatap gadis itu. Jarak mereka ha¬nya setengah depa. Kendati malam amat gelap. Namun dalam jarak yang demikian dekat, mereka bisa saling tatap.
“Kita terus atau istirahat?” tanya si Bungsu pada ayah Thi Binh dan Han Doi.
“Sebaiknya kita terus…” ujar Han Doi.
“Kalau terus, harus ada yang menggendong Thi Binh…” ujar si Bungsu.
Tak ada yang bersuara.
“Saya bisa… berjalan…”

1 Comment

  1. ayo bang diterusin ceritanya…!
    ke ingat waktu zaman sekolah dulu.uang jajan di pake buat nyewa novel ini…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s