Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 570)

“Saya bisa… berjalan…” ujar Thi Binh sambil mengencangkan pegangan tangannya ke lengan si Bungsu.
“Baik kita akan maju terus. Saya rasa rawa itu tak berapa jauh lagi.”
“Itu suara salak anjing…” tiba-tiba suara Han Doi memutus ucapan si Bungsu.
Mereka semua pada memasang telinga. Dan sayup-sayup terdengar salak anjing sahut bersahut. Suasana tegang segera saja menyergap ketiga orang Vietnam tersebut.
“Kita harus berjalan cepat. Maukah engkau kugen dong, Nona…?” ujar si Bungsu pada Thi Binh.
Gadis itu tak menjawab, saking kagetnya. Bagaimana mungkin orang asing ini mau menggendong seorang yang jelas-jelas kena spilis, pikirnya. Namun, dia tak sempat berfikir banyak si Bungsu bergerak cepat. Tiba-tiba gadis itu sudah berada dalam pangkuannya. Dan dia segera mulai melangkah.
Han Doi dan Duc Thio terpana melihat gerak lelaki dari Indonesia yang berjalan di depan mereka itu. Kendati memangku tubuh Thi Binh namun kecepatan geraknya tak berkurang sedikit pun dibanding saat dia tak membawa beban tadi.
Thi Binh melingkarkan kedua tanganya ke leher si Bungsu. Sementara kepalanya dia sandar¬kan ke dada lelaki tersebut. Kendati dia yakin bahwa suatu saat pasti bertemu dengan lelaki yang selalu datang ke dalam mimpinya ini, namun tak pernah terlintas dalam fikirannya bahwa dia juga akan berada dalam pelukan lelaki perkasa ini.
Apalagi lelaki ini tahu bahwa dia adalah penderita spilis. Ingat pada penyakitnya dan keikh¬lasan lelaki ini meng gendong tubuhnya, tanpa dapat ditahan air matanya mengalir perlahan.
“Jangan menangis, Thi Binh. Penyakitmu akan sembuh, dan kecantikanmu akan kembali seperti biasa…” bisik si Bungsu sambil menyeruak belan¬tara.
Thi Binh kaget separoh mati bagaimana lelaki ini tahu bahwa dia menangis? Dia menangis tanpa bersuara sedikit pun. Dan kagetnya semakin menjadi-jadi, tatkala si Bungsu kembali berbisik.
“Tak sulit untuk mengetahui bahwa engkau menangis Dik, kendati tak ada isak tangismu. Air matamu menembus baju, terasa hangat di dadaku….”
Thi Binh merasa terharu. Dia pererat pelukannya ke leher si Bungsu, dan dipejamkannya ma¬tanya. Dia merasa amat tentram berada dalam pelukan lelaki tersebut. Tak lama kemudian mereka sampai ke tepi rawa yang amat luas. Rawa itu, sebagaimana diceritakan Han Doi, selain amat luas, juga dipenuhi hutan belantara. Perlahan si Bungsu menurunkan tubuh Thi Binh.
Dia meminta senter dari Duc Thio. Menyoroti rawa berwajah hitam itu beberapa saat kemudian melangkah memasuki air. Sekitar sedepa memasuki rawa, dia mematah kan sebuah kayu yang sebahagian daunnya yang berwarna merah terendam dalam air. Di pinggir rawa, dipetiknya belasan daun kayu berwarna merah itu, kemudian diremas nya beberapa saat.
“Lumurkan getah daun ini ke sekujur tubuh kalian. Selain mampu menghangatkan tubuh, getahnya juga bisa menye lamatkan kita dari hisapan lintah dan nyamuk…” ujarnya sambil membagikan daun yang sudah diremas itu pada ketiga orang Vietnam tersebut.
Tak seorang pun yang membantah. Mereka menuruti perintah si Bungsu. Mengoleskan daun yang sudah diremas itu ke sekujur kaki, tangan dan bahagian tubuh lainnya. Saat mereka sedang meng¬oleskan daun ke tubuh masing-masing itu si Bungsu menurunkan bedil yang disandangnya sejak tadi.
Sebuah tembakan menggelegar. Membuat semua mereka terkejut, terutama Thi Binh. Sebab peluru itu seolah-olah hanya berjarak seinci dari te¬linganya, artinya, tembakan itu seolah-olah memang diarahkan ke kepalanya.
Gadis itu menatap pada si Bungsu. Dan saat itu dia mendengar bunyi menggelosoh sedepa di belakangnya. Dia menoleh, tak ada apapun yang terlihat dalam gelap itu. Si Bungsu menghidupkan senter, menyorot ke belakang gadis itu.
Thi Binh terpekik dan melompat memeluk ayahnya tatkala melihat seekor ular belang me¬rah hitam sebesar betis lelaki dewasa menggeliat-geliat meregang nyawa di tanah. Ular itu, sebelum peluru si Bungsu menghabisi nyawa¬nya, berada persis di dahan rendah sedepa di belakang Thi Binh!
“Engkau membawa parang?” tanya si Bungsu pada Han Doi.
Han Doi, yang juga seperti terbang semangatnya mendengar tembakan dan melihat ular yang panjangnya tak kurang dari lima depa itu, meng¬angguk.
“Bawa kemari…” ujar si Bungsu.
Han Doi mencabut parang yang dia sisipkan di bahagian belakang tubuhnya. Si Bungsu memberikan senter kepada Duc Thio. Di bawah sorotan cahaya senter, si Bungsu memotong ular itu menjadi dua bahagian. Kemudian membelah tubuh ular tersebut.
“Han Doi, seret yang sepotong ini ke arah sana sekitar lima puluh meter, dan letakkan saja di tanah. Saya akan menyeret sisanya ini kebahagian sana…” ujar si Bungsu.
Dia sendiri segera menyeret bangkai ular itu ke arah yang berlawanan dari arah yang ditunjuknya untuk Han Doi. Sepanjang jalan yang ditempuh saat menarik bangai ular itu, darah ular tersebut berserakan di dedaunan kering di tanah.
Tak lama kemudian…

1 Comment

  1. ayo di terusin bang…! trims


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s