Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 572)

Malangnya dia salah dalam memilih tempat menghambur. Dia memutar badan ke arah belakang, bermaksud lari ke arah dari mana mereka tadi datang. Tapi itulah kesalahannya. Sebab di belakangnya seekor buaya besar sudah sejak tadi menanti dengan mengangakan mulutnya lebar-lebar.
Si tentara yang sudah memutar badan, dan sudah mengayunkan langkah lebar untuk kabur, pada detik terakhir baru tahu bahwa di belakangnya ada neraka yang amat menakutkan. Padahal langkah sudah diayunkan sekuat tenaga untuk lari.
Dia mencoba merubah arah ke kanan, agar langkahnya tak langsung menuju ke mulut buaya itu. Namun karena sudah dicekam takut kakinya yang berada di dalam air tergelincir. Dia kehilangan keseimbangan.
Tanpa ampun tubuhnya justru jatuh ke dalam mulut buaya yang sedang ternganga lebar itu. Mulut bergigi seperti gergaji itu segera terkatup dengan kepala si tentara persis berada di dalam!
Dalam waktu sekejap rawa itu sepi. Ada tiga buah senter yang tenggelam ke dasar danau yang dangkal. Cahayanya nampak menari-nari dalam air yang berge-lombang akibat pergumulan manusia dengan hewan.
Pergulatan kelima orang itu dengan buaya, disaksikan oleh komandannya dan belasan teman-temannya yang lain dari tepi rawa. Tak satu pun bantuan yang bisa mereka berikan. Mereka mahir menembak. Tapi ke arah mana tembakan harus diarahkan?
Sungguh suatu pemandangan yang tak bisa dibayangkan betapa dahsyat dan mengerikannya, tatkala melihat teman-teman sepasukan lenyap satu demi satu ke dalam air, diseret buaya untuk dijadikan santapannya!
Matinya si pencari jejak tersebut sangat menguntungkan pelarian si Bungsu dan teman-temannya. Kalau mereka selamat, mereka pasti melaporkan kepada komandannya bahwa ada jebakan di dalam rawa tersebut.
Namun dengan matinya si pencari jejak bersama empat temannya yang lain di rawa maut itu, tidak hanya memu dahkan pelarian mereka, tetapi sekaligus juga menyebabkan pemburuan diakhiri.
“Tak seorang pun yang bisa selamat memasuki rawa ini. Mereka yang kita buru itu juga pasti sudah terlebih dahulu menjadi santapan buaya atau ular…” ujar si komandan yang memimpin pengejaran itu, setelah menyenter permukaan rawa belantara tersebut beberapa saat.
Ketika subuh hampir turun, dia memerintahkan seluruh pasukan pemburu itu segera meninggalkan pinggir rawa, kembali ke markas mereka. Saat itu, di tengah rawa sana, hanya sekitar dua ratus meter dari tempat belasan tentara Vietnam itu menarik diri, para pelarian tersebut sedang berada di dahan kayu, sekitar semeter dari permukaan air. Namun mereka hanya bertiga.
Si Bungsu tak ada di sana. Rawa itu sudah mulai terang-terang tanggung oleh cahaya subuh yang mulai datang. Pandangan mereka hanya mampu menembus beberapa meter ke depan. Kabut akibat uap air nampak menggantung rendah di permukaan air rawa. Mereka sungguh dibuat takjub oleh ramuan yang malam tadi disuruh si Bungsu agar diusapkan ke tubuh mereka.
Semula mereka menuruti perintah itu dengan perasaan antara percaya dan tidak. Ternyata apa yang dikatakan lelaki dari Indonesia itu benar belaka adanya. Usapan getah daun berwarna merah, yang diambil si Bungsu dari dalam air rawa, yang kemudian diremasnya, ternyata tidak hanya menye babkan mereka tak didekati nyamuk atau lintah, bahkan mereka tak merasa kedinginan sedikit pun.
—o0o—
AWALNYA, ketika masih dalam perjalanan mengarungi danau, rombongan si Bungsu dikejutkan oleh suara pekik dan tembakan dari pinggir danau. Si Bungsu berhenti sesaat, orang-orang di belakangnya juga berhenti. Dalam gelap dan suasana mencekam mereka menanti dengan diam.
“Tadi, saat akan memutar arah, untuk apa Tuan me-lemparkan kepala ular yang terpotong lehernya itu ke dalam rawa?” bisik Thi Binh yang masih berada dalam bopongan si Bungsu.
“Darah amat merangsang penciuman buaya. Mereka mampu mencium bau darah di dalam air dari jarak dua ratus sampai tiga ratus meter. Mereka pasti akan memburu ke sana. Dengan demikian, kita bisa aman bisa buat sementara, karena perhatian dan selera mereka tersedot ke arah darah dari kepala ular itu. Mudah-mudahan tentara yang memburu kita juga menuruti jejak kita tadi. Mereka ke tempat kepala ular itu, baru kemudian melihat arah kita berbelok. Jika itu yang terjadi, mereka sesungguhnya sedang memasuki sarang buaya…” bisik si Bungsu.
“Apakah danau ini memang banyak buaya?” bisik Thi Binh.
“Barangkali ada dua atau tiga ratus ekor…” ujar si Bungsu.
Thi Binh merasa merinding mendengar jawaban itu. Dia menyurukkan mukanya ke dada anak muda itu. Dalam cahaya senter si Bungsu melihat tiga depa di kanan ada pohon bercabang banyak, yang dahannya sekitar semeter dari permukaan air. Dia memperhatikan pohon itu dengan seksama.
“Tunggu di sini saya periksa pohon itu. Barangkali bisa tempat beristirahat sementara…” bisik si Bungsu pada Thi Binh sambil akan menurunkan gadis itu.
“Saya ikut…” ujar gadis itu.
“Di sana ada ular….” bisik si Bungsu.
“Biarin….” ujar gadis itu.
“Di sana ada buaya…”
“Biarin, biariiin!! Pokoknya aku ikut kemana Tuan pergi…” ujar Thi Binh.
Namun ucapan itu disampaikan Thi Binh tetap dalam berbisik, dan tangannya tetap memeluk leher si Bungsu. Si Bungsu mengalah.
Dalam posisi membopong Thi Binh itu si Bungsu beringsut perlahan mendekati pohon tersebut. Sesampainya di pohon, tangan kirinya meraba-raba dahan pohon itu. Memegang dahan itu beberapa saat, dan menatap ke rimbunan daun di atasnya.
“Oke, tempat..

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s