Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 573)

“Oke, tempat ini aman. Kau naik ke atas…” ujar si Bungsu.
Sebelum Thi Binh faham benar apa yang dimaksud si Bungsu, dia merasa pinggulnya ditekan oleh kedua tangan lelaki dari Indonesia itu. Detik berikutnya tubuhnya sudah terangkat dan didudukkan di dahan rendah itu.
“Hei….!” protesnya.
“Diam di sini bersama abang dan ayah mu…” bisik si Bungsu, sambil memberi isyarat pada Duc Thio dan Han Doi agar mendekat.
“Naik ke dahan itu. Pohon ini aman, tak ada ular atau binatang berbisa lainnya. Tunggu saya di sini….”
Sebelum kedua lelaki itu naik ke dahan, si Bungsu sudah melangkah. Dia kembali mengikuti jejak darimana mereka tadi datang. Tak lama kemudian, sekitar lima puluh meter dari pohon yang mereka naiki, mereka mendengar pekikan dan rentetan tembakan dari tentara Vietnam yang disambar buaya itu.
Si Bungsu tak berapa jauh dari sana. Setelah tentara yang memburu mereka balik kanan, dia kembali ke tempat kawan-kawannya. Dalam perjalanan menuju pohon di mana kawan-kawannya menunggu, dia mendengar desir dan kecipak air. Dia hafal, kecipak air itu muncul akibat buaya melahap mangsanya.
Dia bergegas. Mereka harus menjauhi tempat ini, sejauh yang bisa mereka lakukan. Sebab, buaya-buaya yang lain dari berbagai penjuru rawa kini sedang menuju ke daerah penjagalan tentara Vietnam itu. Mereka datang karena terangsang oleh bau darah yang membanjir di dalam rawa, yang tum¬pah dari tubuh beberapa manusia yang kini te¬ngah dilahap buaya-buaya tersebut.
“Naiklah ke dahan yang lebih tinggi…” ujar¬nya kepada Thi Binh dan Han Doi, sesampainya dia di pohon di mana teman-temanya itu menanti.
Dia sendiri ikut naik dan duduk berjuntai di dahan sekitar dua meter di atas air. Akan halnya Thi Binh, begitu si Bungsu duduk, dia segera me¬ninggalkan cabang dimana dia berada. Dia duduk di belakang si Bungsu, kemudian memeluk pinggang anak muda itu dari belakang.
Tak berapa menit kemudian, rawa itu sudah agak terang karena pagi sudah datang. Si Bungsu memberi isyarat kepada Duc Thio dan Han Doi. Dia menunjuk ke bawah, dimana tadi mereka berdiri.
Air di bawah dahan dimana mereka kini berada mereka lihat bergerak. Dari gerigi yang muncul di permukaan air, mereka segera tahu, bahwa ge¬rak air itu disebabkan buaya besar yang tengah menuju ke arah dimana malam tadi mereka datang.
Si Bungsu kembali memberi isyarat dengan telunjuk ke arah kanan dari pohon tempat mereka berada. Dengan terkejut Han Doi dan Duc Thio melihat betapa ada sekitar lima sampai tujuh ekor buaya sedang meluncur ke arah yang sama.
“Ya Tuhan. Rawa ini ternyata memang sarang buaya…” ujar Han Doi.
“Bagaimana kita meninggalkan tempat ini?” bisik Thi Binh dari belakang.
“Kita tunggu berapa saat lagi. Mereka pasti memperebutkan bangkai tentara Vietnam yang terjebak tadi. Perebutan itu juga akan menyebabkan dua sampai empat ekor buaya itu akan mati berkelahi sesamanya. Mereka akan menyantap bangkai teman mereka sendiri. Itulah saatnya kita me¬ninggalkan tempat ini. Dan dalam cuaca yang agak terang, kita bisa lebih bebas mencari jalan yang aman dalam rawa maut ini…” ujar si Bungsu.
Bisikannya yang cukup keras itu tak hanya di dengar Thi Binh di belakangnya, tetapi juga dide¬ngar Han Doi dan Duc Thio. Mereka masih nanap melihat buaya-buaya yang meluncur cepat ke arah hilir sana.
Tak lama kemudian, ketika tak ada lagi ge¬rakan air di permukaan rawa, dan ketika rawa itu sudah cukup terang oleh terobosan cahaya matahari, si Bungsu memperhatikan rawa tersebut dari utara ke barat, dari selatan ke timur.
Semua mereka terpana melihat rawa dahsyat itu. Sesayup-sayup mata memandang kemana pun tatapan diarahkan, yang terlihat hanyalah air me¬rah ke hitam-hitaman di antara belantara yang tegak mematung. Di permukaan air rawa, di sela-sela belukar maupun pohon-pohon raksasa yang tegak menjulang, mengapung kabut tipis.
Kabut itu seolah-olah ingin menutupi misteri yang tersembunyi di bawah permukaan air me¬rah kehitam-hitaman tersebut. Air merah kehitam-hitaman itu nyaris tak bergerak, tak beriak sedikitpun.
Air gelap itu baru beriak jika ada daun atau buah kayu yang jatuh. Setelah riak-riak bundar aki¬bat sesuatu yang jatuh ke air itu, yang makin lama makin besar dan kemudian lenyap, air rawa itu akan kembali rata. Diam seolah-olah membeku, seperti lantai batu marmer berwarna gelap dan di¬ngin.
“Sampai kapan kita di sini?” tiba-tiba Thi Binh bertanya lagi.
Si Bungsu menoleh ke belakang. Kepada Thi Binh yang duduk dan masih saja memeluk tubuhnya. Gadis itu menatap padanya dari jarak hanya sekitar sejengkal.
“Kalau lapar…” ujar si Bungsu.
Thi Binh menatap lelaki Indonesia itu beberapa jenak. Kemudian mengangguk.
“Saya lapar sekali…” desah Thi Binh sambil menyandarkan wajahnya ke bahu si Bungsu.
Duc Thio segera membuka tas kerunjut kain yang dia sandang. Dari dalamnya dia mengeluarkan ayam yang biasanya digantung di atas tungku. Ayam itu setelah dipotong direbus, kemudian diberi bumbu, lalu dikeringkan di atas tungku.
Duc Thio menyayat daging ayam itu dengan pisau yang dia bawa. Kemudian menyerahkan sa¬yatan terbesar kepada Thi Binh. Sayatan kedua diserahkannya kepada si Bungsu. Lalu kepada Han Doi. Kemudian dia menyayatnya untuk dirinya sendiri. Sisanya dia masukkan kembali ke dalam tas kain, bercampur dengan dua potong pakaiannya dan pakaian Thi Binh.
“Engkau tinggal di sini bersama ayahmu. Kami akan pergi mencari sesuatu untuk dijadikan sampan…” ujar si Bungsu kepada Thi Binh.
Gadis remaja itu menatap si Bungsu sambil mengunyah dendeng ayamnya, kemudian mengangguk. Kemudian melepaskan pelukan tangan kirinya dari pinggang si Bungsu.
“Tetap sajalah di sini. Pergunakan senapan ini jika ada bahaya. Saya akan pergi bersama Han Doi…” ujar si Bungsu kepada Duc Thio.
Dengan berbekal dua buah parang milik Duc Thio dan Han Doi, kemudian masing-masing sebuah bedil, si Bungsu dan Han Doi turun dari kayu tersebut. Di dalam air setinggi dada, mereka bergerak perlahan ke arah utara, yaitu ke arah pinggir rawa. Namun si Bungsu mengambil jalan memutar, yang berlawanan arah dengan tempat buaya-buaya memangsa tentara Vietkong itu.
“Engkau pernah bertempur di rawa seperti ini, Han Doi?” tanya si Bungsu, tatkala mereka berenang, karena rawa yang mereka lewati airnya sudah sangat dalam.
“Tidak. Dahulu saya hanya bertugas di desa-desa sekitar Da Nang. Hanya dua tahun bertugas sebagai tentara saya direkrut untuk menjadi mata-mata oleh Ame…” suara Han Doi tersekat di tenggorokan, setelah dia menoleh ke belakang karena mendengar ada suara aneh di belakangnya.
Matanya mendelik. Dia lupa di tangannya ada bedil. Si Bungsu yang kemudian ikut menoleh ke belakang, segera membekap mulut Han Doi kuat-kuat. Bekapan itu me-nyebabkan pekik orang Vietnam itu tertahan di tenggorokan.
“Jangan bersuara, jangan bergerak…” bisik si Bungsu dengan suara hampir menggigil.
Semula, tatkala berjarak sekitar dua puluh depa dari tepi rawa, mereka terhalang oleh sebuah batang kayu panjang, yang nampaknya sudah lama mati dan terendam di rawa tersebut.
Sambil tetap bercerita mereka melewati batang kayu yang mungkin besarnya sebesar paha lelaki dewasa, dan panjangnya sekitar belasan depa itu, dengan cara menyelam dan muncul di sebelahnya.
Ternyata, kayu itu adalah seekor ular raksasa yang bahagian kepalanya melilit ke sebuah kayu besar. Mungkin ketika mereka menyelam di bawah tubuh ular itu, si ular merasa terusik, dan menggeliat bangun!
Ular raksasa itulah yang pertama tertatap oleh Han Doi saat menolehkan kepala ke belakang. Ujung ‘kayu’ itu seperti segi tiga pipih, yang lebarnya tak kurang sedepa. Dari mulutnya yang pipih lancip itu tiap sebentar menjulur lidahnya yang bercabang.
Si Bungsu masih tetap membekap mulut Han Doi, dan tubuh mereka tetap mengapung diam mematung di permukaan air rawa. Menatap dengan jantung menggigil pada monster raksasa penunggu rawa dahsyat itu.
Setelah menggeliat,…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s