Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 574)

Setelah menggeliat,raksasa itu meluncur ke arah tengah rawa. Mereka masih tak mampu ber¬gerak dari tempatnya, kendati bahagian ekor monster menakutkan itu sudah lama lenyap ke dalam kabut di bahagian tengah rawa.
“Kita harus segera bergerak…” ujar si Bungsu tanpa dapat menyembunyikan suaranya yang menggigil.
“Iy… iya…” ujar Han Doi yang tak mampu menahan kencingnya untuk tak terpancar sesaat setelah melihat raksasa dahsyat itu tadi.
Mereka bergerak cepat ke tepi rawa.
“Mencari apa kita kemari…” tanya Han Doi setelah mengikuti si Bungsi berputar-putar bebe¬rapa saat di dalam hutan di pinggir rawa tersebut.
“Mencari kayu itu…” ujar si Bungsu sambil menunjuk batang kayu kuning keputih-putihan sebesar dua kali pelukan manusia dewasa.
“Kayu ini besar daya apungnya di air. Bisa kita jadikan rakit untuk menerobos rawa ini ke hulu¬nya,” ujar si Bungsu tatkala mereka mulai menebang kayu besar tersebut.
Han Doi merasa takjub pada pengetahuan lelaki Indonesia ini tengah rimba belantara dan jenis kayu yang tumbuh di dalamnya. Sebab, ketika menebang kayu besar itu parangnya seperti memakan kayu gabus. Dalam waktu yang tak begitu lama, dan tanpa harus membuang tenaga banyak, kayu itu segera tumbang arah ke danau.
“Potong-potong sepanjang tiga depa, sebatang kayu ini bisa dapat tiga potong. Saya akan mencari sesuatu…” ujar si Bungsu sambil meninggalkan Han Doi.
“Hei, jangan tinggalkan saya. Nanti monster di rawa itu datang lagi kemari…” ujar Han Doi.
“Kalau dia datang, suruh tunggu saya sebentar…” ujar si Bungsu sambil menyelinap ke dalam hutan.
Han Doi menggerutu panjang pendek, sembari tiap sebentar menoleh ke arah rawa, di mana tadi dia baru saja melihat monster yang teramat dahsyat. Sete¬lah kayu itu terpotong menjadi tiga bahagian, Han Doi mencari rotan dan mengapitnya dengan kayu sebesar-besar betis. Si Bungsu tiba de¬ngan memikul nangka hutan, pisang dan empat buah durian.
“Hei dari kebun mana kau panen buah-buahan itu?” ujar Han Doi berseloroh.
“Kau makanlah, saya akan merampungkan rakitmu ini…” ujar si Bungsu.
Dia mendekati rumpun bambu kuning yang tumbuh tak jauh dari tepi rawa. Memotongnya belasan batang. Kemudian dengan cepat mengikatnya menjadi lantai di bahagian atas rakit tersebut. Han Doi terkesima ketika melihat betapa bagus¬nya rakit itu kini.
“Mari kita apungkan ke air…” ujar si Bungsu.
Dengan mudah mereka berdua memikul rakit itu ke air. Ketika diletakkan di air, rakit itu meng¬apung dengan bagusnya.
“Ayo ambil buah-buahan tadi, kita jemput Thi Binh dan ayahnya…” ujar si Bungsu sambil membersihkan tiga batang bambu, masing-masing se¬panjang sepuluh depa, untuk galah menjalankan rakit tersebut.
Mereka naik ke rakit itu. Kemudian perlahan si Bungsu yang tegak di bahagian depan rakit menancapkan bambu panjang itu ke dasar rawa. Dengan menekan bambu tersebut si Bungsu berjalan sepanjang pinggir rakit tiga meter itu ke belakang.
Rakit itu segera meluncur di atas air. Si Bungsu kemudian mencabut bambu itu, lalu berjalan ke depan. Menancapkan kembali, dan menekannya sambil berjalan ke belakang. Dengan cara demikian rakit itu meluncur cepat ke depan.
Hanya sekitar lima belas menit bergalah, mereka sampai ke pohon yang dimana Thi Binh dan ayahnya menunggu. Kedua anak beranak itu tercengang melihat rakit berlantai bambu kuning, yang terlihat amat elok tersebut.
“Kita akan memulai perjalanan ke selatan. Kita akan bergantian bergalah. Saya duluan. Namun yang lain harus memperhatikan dengan seksama setiap dahan dan cabang yang menggantung, serta setiap pohon atau dahan yang mengapung di air. Dalam rawa angker ini, benda-benda itu bisa saja bukan cabang, dahan atau pohon melainkan ular, buaya atau makhluk berbahaya lainnya, yang mung¬kin belum pernah kita temui…” ujar si Bungsu tatkala Thi Binh dan Duc Thio sudah berada di rakit tersebut.
Ketika si Bungsu bergalah, dan rakit itu berge¬rak maju di antara pepohonan rakasa, Thi Binh melahap durian dan nangka hutan yang amat harum dan nikmat rasanya itu. Setelah beberapa saat bergalah, dan melihat Thi Binh masih saja memakan buah-buahan itu dengan nikmat, si Bungsu tiba-tiba ikut merasa amat lapar. Dia menyerahkan galah kepada Han Doi.
“Hindari lewat di bawah cabang-cabang kayu, hindari menerobos belukar. Hindari kayu-kayu besar yang menga pung. Hindari kabut yang terlalu tebal. Tetaplah pertahankan posisi ke arah matahari terbenam,” ujar si Bungsu pada Han Doi, saat dia akan duduk bersila di bahagian belakang rakit berhadap-hadapan dengan Thi Binh.
Si Bungsu segera ikut melahap durian yang isi¬nya sebesar-besar lengannya itu. Dalam sebuah ruang hanya ada seulas atau sebuah isi durian. Biji¬nya tak sampai sebesar jempol tangan. Isi durian itu liat seperti ketan. Rasanya nikmat luar biasa.
“Di Indonesia ada buah seperti ini?” tanya Thi Binh ketika melihat betapa si Bungsu melahap buah yang kulitnya berduri itu seperti orang kalap.
Si Bungsu hanya mengangguk setelah menelan ulas ke empat, kemudian sendawa. Kemudian menatap ke depan. Han Doi yang tegak di sisi kanan rakit sedang menancapkan galahnya.
Dari bahagian galah yang tersisa di bahagian atas, si Bungsu tahu rakit mereka kini berada di tempat yang tak begitu dalam airnya. Paling-paling ha¬nya sebatas paha. Sekitar lima depa di bahagian kiri mereka ada belukar lebat yang memanjang ke depan.
Di depan, sekitar sepuluh depa dari rakit mereka, terdapat kumpulan kabut tebal. Han Doi tengah menggalah rakit menuju arah kabut tersebut. si Bungsu mencuci tangannya ke air rawa. Matanya nanap menatap kabut tebal yang mengapung di atas pepohonan di permukaan rawa di depan sana.
Thi Binh yang sejak tadi menatap si Bungsu melihat sikap aneh lelaki Indonesia tersebut. Kening lelaki itu berkerinyit. matanya disipitkan seolah-olah ingin menembus ketebalan kabut di depan sana, yang makin lama makin didekati rakit.
“Ada apa?” tanya Thi Binh perlahan.
Si Bungsu menggeleng. Namun tatapan ma¬tanya yang tajam tetap diarahkan ke depan. Sesaat dia mengalihkan tatapannya ke kiri. Kemudian ke kanan, kemudian ke kabut tebal itu. Dia berdiri.
“Berpegang erat-erat ke bambu lantai rakit…” ujarnya perlahan pada Thi Binh. Kemudian kepada Han Doi yang sedang bergalah dia berbisik.
“Han Doi… Hentikan rakit….”

Advertisements

1 Comment

  1. ayo terusin bang …?


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s