Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 576)

Han Doi yang segera dapat menguasai diri juga memungut bedil, lalu ikut memuntahkan peluru ke arah yang sama. Demikian juga dengan Duc Thio. Sepi !
“Ada apa?” bisik Thi Binh yang terlungkup di bawah pelukan tangan kiri si Bungsu di lantai rakit.
Thi Binh sangat beruntung karena tak sempat melihat wujud monster yang menyerang rakit mereka sebentar ini.
“Ada bahaya…” bisik si Bungsu sambil mata¬nya menatap ke dedaunan dalam arah kabut yang sudah mereka siram dengan peluru bedil itu.
“Tetaplah menelungkup, pejamkan mata dan berpe gang erat-erat, Thi Binh…” bisik si Bungsu, kemudian berbisik ke arah Han Doi.
“Han Doi… potong dua galahmu itu. Kayuh rakit ini terus, namun posisimu harus tetap menelungkup…”
Han Doi tak perlu diberitahu sampai dua kali. Sambil tetap menelungkup dia memotong galahnya. Lalu potongan galah itu dia tancapkan ke air, dan menekannya. Rakit bergerak perlahan men¬jauhi kabut tersebut.
Si Bungsu bangkit. Dia berdiri dan menatap ke arah pepohonan berkabut itu sambil mengerenyitkan kening. Dia yakin monster itu masih menatap ke arah mereka dan menunggu kesempatan.
Tak ada sesuatu yang bergerak di dalam kabut itu. Si Bungsu mengangkat bedil dan menembak. Namun baru peluru pertama yang menyembur, tiba-tiba kepala monster itu muncul secepat kilat dan mendesis dengan mulut menganga lebar, me¬nyambar ke arah rakit.
Duc Thio menembak, namun gerakan melengkung kepala ular itu dari arah kanan ke kiri, se¬perti gerakan sabit, amat cepat. Bahkan si Bungsu sendiri tak sempat beraksi. Pelurunya dan peluru dari bedil Duc Thio tak mengenai sasaran sebuah pun.
Tragisnya, moncong ternganga dengan taring yang panjangnya hampir setengah meter itu kini menyapu ke arah si Bungsu yang dalam posisi tegak. Si Bungsu tak sempat lagi menembak. Kepala monster yang menganga lebar itu, dengan dua biji mata merah sebesar tinju di kepalanya, hanya tinggal semeter di bahagian kanannya. Dengan gerakannya yang amat cepat, tubuh si Bungsu hanya tinggal hitungan detik untuk masuk ke dalam moncong makhluk dahsyat itu.
Si Bungsu tidak menunduk, dia mencoba berkelit dengan memajukan kaki dan menundukkan badan. Namun sambaran kepala itu sampai sudah. Kendati dia tidak kena terkam, namun tubuhnya kena sabet ular dahsyat itu. Saat itu si Bungsu melihat bahwa kepala ular besar ini memiliki dua tanduk yang panjang masing-masingnya sejengkal, tertancap tak jauh di atas kelompak matanya. Ha¬nya itu yang sempat dia ingat. Sebab setelah itu tubuhnya tercampak amat jauh ke air akibat terkena senggolan kepala ular raksasa tersebut. Hanya dalam hitungan detik, kepala raksasa itu kemudian lenyap ke dalam kabut.
“Kayuh rakit itu terus, Han Doi…!” pekiknya sesaat sebelum tubuhnya tercemplung ke air.
Han Doi berhenti mengayuh rakit itu. Dia menatap ke arah si Bungsu yang tercampak sekitar sepuluh depa dari rakit. Thi Binh memekik.
“Menjauh dari sini, Han Doi…!” teriak si Bungsu, yang sudah tegak di dalam air sebatas pinggang.
Namun saat itu pula kepala naga raksasa itu muncul. Kali ini kepalanya menyapu rendah di atas permukaan air, dengan tubuh yang nampaknya melilit ke kayu besar di dalam kabut, moncongnya yang menganga lebar menyabet seperti lengkung sabit ke arah tubuh si Bungsu.
Kali ini si Bungsu juga tetap tak bisa menembak. Waktunya sangat singkat, namun dengan tubuh tegak di dalam air, dia menghadap ke arah datangnya sambaran moncong kepala bertanduk yang amat menjijikkan, sekaligus mengerikan itu.
Baik Duc Thio, Han Doi maupun Thi Binh ha¬nya bisa menatap dengan terpaku di rakit mereka, melihat moncong ular besar itu menganga lebar menyambar ke arah si Bungsu. Menjelang moncong ular besar itu sampai, si Bungsu menegakkan posisi bedilnya lurus-lurus dan merentangkan tangan kanannya yang berbedil itu ke arah datangnya sambaran moncong ular itu.
Thi Binh terpekik, Duc Thio dan Han Doi merasa dilumpuhkan tatkala melihat tubuh si Bungsu disambar ular itu dan terangkat tinggi ke udara. Namun hanya sesaat, tubuh si Bungsu kemudian terlempar kembali ke air. Sementara kepala raksasa itu kelihatan meliuk di udara. Liukannya kemudian makin keras, menghempas dan membanting serta membuncah kabut, pohon dan dedaunan di mana tubuhnya melilit kukuh.Kini kabut di selingkar pohon kayu besar dimana tubuhnya melilit, terkuak. Ular besar itu tetap menghempas dan mulutnya tetap ternganga. Ter¬nyata mulutnya tak bisa dikatupkan. Tersekang oleh bedil si Bungsu.
Ternyata itulah jalan yang diambil si Bungsu. Dia tak punya kesempatan untuk menembak. Kendati badannya demikian besar, namun gerakan makh¬luk raksasa ini demikian cepat. Satu-satunya yang terlintas di otak si Bungsu adalah menyekang moncong ular itu dengan bedilnya.
Maka ketika moncong menganga lebar itu me¬nyambar ke arahnya, dia menegakkan be¬¬dil¬¬¬n¬ya. Dan siasat serta perangkapnya mengena. Moncong ular itu menyambar dengan cepat, sekaligus bedil di ta¬ngan si Bungsu masuk ke moncongnya dan terhenti dengan posisi tegak pada bahagian pangkal moncongnya.
Merasa tubuh si Bungsu sudah berada di moncongnya, ular itu mengatupkan mulutnya, kemudian meliukkan kepala ke atas. Tubuh si Bungsu ikut terangkat karena dia masih memegang bedilnya dengan kuat. Tubuhnya baru terlepas dan tercampak setelah kepala ular itu menghempas-hempas di udara.
Makhluk raksasa itu nampaknya menjadi berang karena tak bisa mengatupkan mulutnya. Tersekang oleh bedil yang masih tertegak di bahagian pangkal kerongkongannya. Dalam keadaan menghempas itu terdengar suara aneh keluar dari moncong makhluk raksasa itu. Perpaduan seperti suara pekik ayam jantan dan pekik monyet.
Si Bungsu dengan cepat berenang kembali ke arah rakit. Duc Thio menolongnya naik. Begitu dia sampai di atas rakit, Thi Binh memeluknya dengan erat. Gadis itu menyurukkan mukanya di dada si Bungsu sambil menangis terisak-isak.
“Jangan tinggalkan aku… demi Tuhan, jangan tinggalkan aku…” bisiknya di antara isak tangis.
Duc Thio menyemburkan peluru ke arah makh¬luk raksasa yang seolah-olah membuncah hutan belantara di dalam kabut sekitar dua puluh meter dari rakit mereka.
“Jangan habiskan…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s