Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 577)

“Jangan habiskan peluru. Jika bedil di mulutnya tak terlepas, dia akan mati sendiri. Mungkin dalam sebulan, mungkin dalam dua bulan….” ujar si Bungsu sambil meraih galah.
“Han Doi ambil galah. Kita harus segera menyingkir dari sini. Raksasa ini bukan yang bertemu dengan kita tadi pagi. Ini yang jantannya, kepala¬nya bertanduk. Yang pagi tadi betinanya. Dia pasti tak jauh dari sini…” ujar si Bungsu.
“Thi Binh…. duduklah, ya. kita harus bergerak cepat…” ujar si Bungsu membujuk gadis itu agar mau melepaskan pelukan dari tubuhnya.
Thi Binh memang melepaskan pelukannya namun tak jauh-jauh. Dia menyelosoh duduk di lantai rakit. Namun kedua tangannya masih memeluk kaki si Bungsu. Si Bungsu dan Han Doi mulai menancapkan galah ke dasar rawa, kemudian menekannya sehingga rakit itu menjauhi neraka yang masih saja membuncah hutan di belakang mereka.
“Makhluk itu ada dua ekor…?” tanya Duc Thio yang masih berlutut di rakit sambil memegang bedil dan menatap kepala ular besar itu yang sebentar-bentar muncul dari dalam kabut.
“Ya. Tadi pagi ketika akan membuat rakit ini saya dan Han Doi bertemu dengan yang betina dalam jarak yang amat dekat…” ujar si Bungsu sambil menekan galah ke arah ke belakang kuat-kuat.
Dengan dua orang lelaki dewasa yang menggalah, rakit itu meluncur dengan cepat menyeruak di antara pepohonan besar, menembus kabut dan dedaunan, menjauh dan meninggalkan tempat yang amat menakutkan itu.
Rawa ini sungguh-sungguh rawa maut. Nampaknya memang tak seorangpun yang pernah menerobosnya. Mungkin juga tidak pernah dijejak tentara Amerika atau Vietnam Utara maupun Selatan dalam pertempuran dahsyat selama belasan tahun.
“Han, arahkan rakit ke kayu besar itu…” ujar si Bungsu tatkala menjelang sore dia melihat sebuah pohon yang sebahagian daunnya berwarna kuning dan sebahagian lagi berwarna merah di te¬ngah rawa yang maha luas itu.
Han Doi mengarahkan rakit tersebut ke arah kayu yang dimaksud si Bungsu. Di bawah pohon yang tegak tinggi menjulang itu mereka berhenti. Si Bungsu menatap ke daun-daun kayu yang berserakan dan mengapung di permukaan air. Kemudian memperhatikan bahagian batangnya yang berada di permukaan air.
Batang pohon berwarna putih itu dipenuhi lumut, mulai semeter di atas air sampai ke bahagian bawah yang terendam ke air. Si Bungsu meraih beberapa lembar daun kayu yang mengapung di air itu. Kemudian mendekatkan rakit ke pohon.
“Pinjam saya parangmu…” ujar pada Han Doi.
Dengan parang dia kikis lumut yang tumbuh di pohon tersebut sampai dua genggam. Kemudian dia tatap pohon itu dua kali. Dari bekas tetakan parang kelihatan mengalir getah berwarna kehijau-hijauan dan menyebarkan bau agak harum. Si Bungsu kembali mengambil lumut pohon itu, lalu mengapungkan lumut di genggamannya ke getah yang menetes perlahan. Setelah merasa cukup, dia menyuruh Han Doi kembali menjalankan rakit. Dia lalu duduk dan meremas-remas daun kayu yang tadi dia ambil de¬ngan lumut yang sudah dilumur getah pohon tersebut. Semua perbuatannya dilihat dengan diam oleh Thi Binh dan Duc Thio.
Kemudian ketika rakit melewati sebuah pohon yang agak rendah, dia memetik sehelai daunnya yang lebar. Ramuan yang dia remas tadi dia letakkan di daun tersebut. membuatnya merata di seluruh lebar daun, kemudian meletakkanya di bahagian belakang rakit.
“Saya tak tahu apa nama pohon itu tadi. Namun pohon itu amat langka. Bahkan di negeri saya pun tak ada. Dari bentuk batang dan daun, dari bau yang disebarkannya, orang yang ahli meramu obat akan tahu bahwa bahagian-bahagian pohon itu amat bermanfaat untuk ramua obat, guna menyembuhkan berbagai bentuk penyakit dan luka…” paparnya sambil menatap pada Duc Thio.
Duc Thio dan Han Doi segera teringat pada ramuan yang diminumkan si Bungsu kepada Thi Binh kemarin malam. Ingat pada ramuan yang diminumkan itu, baik Han Doi maupun Duc Thio menatap pada Thi Binh. Mereka baru menyadari, bahwa luka mirip kudis berair yang beberapa hari lalu muncul di sudut bibir Thi Binh, kini sudah lenyap sama sekali.
Hanya tersisa sedikit seperti bekas luka yang sudah mengering. Dan kondisi Thi Binh sendiri kelihatan amat sehat. Wajahnya yang kemarin pu¬cat, kini kembali bersemu merah. Kecantikannya seperti pulih.
“Seperti obat yang..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s