Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 579)

Namun, mereka sudah terlalu jauh bergerak. Pohon itu sudah lenyap di balik ribuan pohon-pohon lain jauh di belakang sana. Ketiga orang Vietnam itu ternganga. Kalau saja mereka hanya mendengar orang bercerita tentang khasiat ramuan itu, mereka pasti akan menganggapnya sebagai bualan kosong belaka. Namun, bagaimana mereka bisa tak percaya, kalau kini mereka menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri?
Ya, jika si Bungsu saja yang mengenal amat ba¬nyak pohon yang berkhasiat tinggi sudah terkejut melihat demikian cepat reaksi penyembuhan ramuan dari pohon tersebut, tentu saja ketiga orang Vietnam itu jauh lebih terkejut lagi. Si Bungsu menatap keliling. Ke pohon-pohon yang memenuhi rawa tersebut. ke airnya yang hitam kemerah-merahan.
“Hutan di rawa ini sangat kaya dengan bahan obat-obatan. Mungkin suatu hari kelak, orang yang mendirikan pabrik obat akan mencari bahan bakunya kemari…” ujar si Bungsu perlahan.
Si Bungsu terkejut ketika merasa air membasahi kakinya. Ketika dia menoleh, dia lihat Thi Binh menyauk air dari rawa dengan tangannya, kemudian membasuhkan darah di betis si Bungsu, yang tadi mengalir dari luka yang menganga itu.
“Hei, terimakasih…” ujar si Bungsu sambil memegang tangan Thi Binh.
Kemudian dia mencelupkan kakinya ke rawa. Mem bersihkan sisa darah yang masih melekat di sana. Ketika malam hampir turun, si Bungsu memetik dedaunan beberapa kayu yang tumbuh seperti semak di rawa tersebut. Kemudian membawa rakit ke tepi.
Dia memilih tempat untuk beristirahat di bawah sebuah pohon yang rindang, sekitar sepuluh depa dari tepi rawa. Ketiga orang Vietnam itu tak perlu bertanya apakah tempat itu aman atau tidak. Mereka yakin, nyawa mereka berada di bawah perlin¬dungan lelaki asing yang luar biasa ini.
“Kita istirahat di sini menjelang subuh datang…” ujar si Bungsu.
Di bawah pohon rindang itu tanahnya datar dan bersih. Tak ada semak atau rumput yang tumbuh. Bersama Han Doi, dia meneteng rakit yang terbuat dari kayu gabus itu ke bawah pohon tersebut.
“Lebih nyaman tidur di atas lantai bambu ini daripada di atas dedaunan kayu…” ujar si Bungsu.
Duc Thio dan Thi Binh ternganga heran melihat betapa ringannya rakit besar itu ditentang hilir mudik. Ukuran rakit itu memang cukup luas untuk tempat tidur bagi lima atau enam orang de¬wasa. Si Bungsu kemudian berjalan ke tepi rawa, membawa dedaunan yang tadi dia petik. Daun-daun itu dia remas, kemudian mencampurnya de¬ngan sedikit lumpur yang dia ambil dari rawa. Kemudian dia kembali ke bawah pohon.
Dedaunan yang sudah diremas dengan sedikit lumpur itu dia tebarkan dua depa di sekeliling ra¬kit. Kemudian dia menatap pada agas dan nyamuk yang semula bertebaran di bawah pohon itu. Ha¬nya beberapa detik setelah ‘ramuan’ itu dia sebar, sebagian dari agas dan nyamuk itu berjatuhan menggelepar-gelepar mati. Sebagian besar lainnya pada berhamburan terbang menjauh.
“Mujarab obat nyamuk tradisional ini kan?” ujar si Bungsu sambil tersenyum.
Duc Thio dan Han Doi tak bisa berbuat lain, kecuali kagum. Mereka tak mengerti, kenapa nyamuk-nyamuk itu pada meregang nyawa. Padahal ramuan yang ditebar lelaki dari Indonesia ini baunya tidak seperti berbagai obat nyamuk yang mereka kenal. Ramuan basah yang disebar si Bungsu justru berbau agak harum.
Tapi bukan soal harum atau tak harumnya itu yang membuat mereka kagum. Yang membuat mereka tak habis pikir adalah bagaimana lelaki asing ini demikian hafalnya pada bentuk-bentuk semak dan pepohonan yang memiliki khasiat untuk obat atau racun.
“Han Doi, kumpulkan dahan dan ranting kayu kering. Buat api unggun agar kita bisa memasak sesuatu untuk makan malam ini…” ujar si Bungsu.
Dia meraih salah satu galah bambu yang panjangya sekitar sepuluh depa itu. Kemudian berjalan ke rawa. Namun sebelum mencapai bibir rawa dia berhenti. Menoleh kepada Thi Binh, yang duduk di rakit dan juga sedang menatap ke arahnya. Sambil meruncingkan bahagian ujung bambu itu dia bertanya.
“Hei, adik kecil, engkau suka makan ikan bakar?”
Thi Binh yang tak mengerti kemana arah pembicaraan itu hanya mengangguk. Si Bungsu melambaikan tangan. Menyuruh Thi Binh datang pada¬nya. Gadis itu segera bangkit dan berjalan mendekati si Bungsu. Sementara ayahnya dan Han Doi sedang mengumpulkan dahan-dahan dan ranting kering, sebagaimana tadi diminta si Bungsu. Mereka menyusun dahan kering itu antara rakit dengan pohon besar yang rindang tersebut.
“Engkau pernah menombak ikan?” tanya si Bungsu yang baru selesai meruncingkan ujung galah bambu kepada Thi Binh yang sudah tegak di dekatnya.
Thi Binh menggeleng.
“Pernah makan ikan bakar?”
Thi Binh mengangguk.
“Suka?”
Thi Binh mengangguk, bibirnya tersenyum.
“Dari sungai di belakang rumah…” jawah gadis itu.
“Berapa besar sungai itu?”
“Cukup besar….”
“Dalam?”
“Tidak begitu dalam. Batu-batu besar banyak di sungai tersebut. Sungai itu baru dalam airnya jika musim hujan….
“Berapa besar ikan pernah didapat orang di sana?”
“Sebesar paha….”
“Paha orang dewasa..

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s