Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 588)

Cukup lama dia berbuat seperti itu, kemudian membuka mata dan menatap ke arah puncak pepohonan di rawa.
“Adakah kalian mendengar sesuatu…?”
Han Doi dan Duc Thio mempertajam pendengaran. Kemudian menggeleng.
“Kami tak mendengar apapun…” ujar Han Doi.
“Saya juga…” ujar Duc Thio.
“Juga tidak suara burung malam?” tanya si Bungsu.
Kedua orang itu menatap ke arah rawa. Kemudian menggeleng.
“Itu yang mendatangkan rasa aneh pada diriku. Sejak setengah jam yang lalu, ketika saya masih bicara dengan Thi Binh, tiba – tiba suara burung malam lenyap. Ada sesuatu yang dahsyat, yang membuat mereka takut dan terbang jauh, atau tetap di tempatnya, namun mereka berdiam diri…” ujar si Bungsu.
“Apakah yang di tengah rawa itu tentara Vietnam?” tanya Han Doi.
Si Bungsu mengeleng.
“Tidak ada gerak menusia yang tak bisa kutangkap. Setangguh apapun dia menyelinap. Yang mengintai kita kini bukan manusia. Namun wujudnya aku tak tahu. Tapi yang jelas, dia nampaknya tak menyerang kita karena takut pada nyala api…” dan ucapannya yang terakhir mambuat si Bungsu sadar.
Dia bisa mencoba dengan api? Diambilnya sebuah puntung sebesar lengan, yang apinya menyala dengan marak.
“Siapkan senjata kalian. Saya akan melemparkan obor ini ke rawa sana. Apapun yang bergerak, siram dengan tembakan…” ujar si Bungsu.
Han Doi dan Duc Thio memutar duduk. Dengan bertelekan di lutut kiri, mereka mengarahkan moncong bedil ketengah rawa. Si Bungsu perlahan membangunkan Thi Binh. Dia tak ingin gadis itu terkejut oleh suara tembakan.
“Ssst. Ada bahaya mengancam kita dari rawa sana. Tetaplah berbaring dan diam…” bisik si Bungsu.
Si Bungsu perlahan berdiri. Kemudian memutar tegak menghadap ke rawa. Lalu tiba – tiba dia melemparkan puntung yang menyala di tangannya ke tengah rawa sana. Begitu puntung itu melayang, tiba – tiba wujud makhluk yang mengintai mereka itu segera menjadi jelas. Hanya saja, makhluk itu ternyata bukannya di bahagian agak ke tengah rawa, melainkan sudah berada di pinggir, hanya sekitar empat depa dari tempat mereka!
Makhluk itu tak lain dari seekor ular raksasa berwarna hitam. Puntung api yang masih menyala itu dilemparkan justru persis ketika ular raksasa itu sedang akan melakukan serangan ke arah kelompok manusia di bawah pohon tersebut. Bahagian tubuhnya sudah keluar dari air sepanjang lima depa, dan bahagian lehernya sudah melengkung ke belakang seperti busur panah.
Gerak berikutnya dari ular itu adalah meluncurkan kepalanya ke depan, dengan mempergunakan lengkungan tubuhnya sebagai pegas. Saat itulah puntung dilemparkan, dan dengan sangat terkejut Duc Thio dan Han Doi me muntahkan peluru dari bedil mereka. Tembakan yang paling telak adalah yang dimuntahkan dari mulut bedil Han Doi, yang memang bekas tentara.
Belasan peluru bedilnya langsung bersarang di atas tenggorokan ular raksasa itu, yang sedang meluncurkan ke arah mereka dalam keadaan ternganga lebar! Kemudian dengan suara mendesis, kepala ular raksasa itu jatuh sedepa dari tempat mereka. Tubuhnya yang panjang, sekitar dua puluh depa, menggeliat dan menggelepar ketika meregang nyawa. Beberapa pohon sebesar paha berderak patah dihantam libasannya.
Ular itu menggelepar beberapa saat, kemudian mati dengan matanya yang merah bak api mendelik menatap mereka. Thi Binh tak dapat menahan rasa ngeri dan terkejutnya, dia memekik dan memeluk si Bungsu. Si Bungsu menghapus keringat dingin yang tiba-tiba membersit di wajahnya. Duc Thio dan Han Doi terhenyak lemas dan menggigil.
Makhluk yang menyerang mereka ini benar-benar monster raksasa yang amat dahsyat. Kalau saja naluri si Bungsu tidak menangkap isyarat adanya bahaya yang mengancam, sudah bisa dipastikan mereka akan berkubur di dalam perut ular yang mengerikan ini.
“Ular ini betina, yang jantan adalah yang bertanduk yang kita bunuh siang tadi. Ular ini adalah yang bertemu oleh kita saat akan membuat rakit…” ujar si Bungsu pada Han Doi dengan suara terputus-putus.
Han Doi hanya bisa mengangguk. Dia masih dicekam teror dan ketakutan yang dahasyat. Ular betina ini nampaknya ingin membalas dendam atas kematian pasangannya. Bagi makhluk berpenciuman amat tajam ini tidaklah sulit mencium jejak musuh yang dicarinya. Buktinya, dengan mudah dia bisa menemukan tempat para pembunuhnya bermalam.
“Kita berangkat…” ujar si Bungsu.
Dia memutuskan meninggalkan tempat itu karena tak ingin teman-temannya dicekam ketakutan berkepanjangan. Sebab kepala ular itu hanya sedepa dari mereka. Dan matanya masih mendelik, seolah-olah masih hidup. Selain itu, subuh nampaknya sudah turun.
Mereka segera meninggalkan tempat ini. Duc Thio mengumpulkan parang dan bedil. Kemudian bersama Han Doi mengangkat rakit itu ke rawa agak ke utara, menjauhi bangkai ular yang tergeletak di tepian di mana kemarin mereka mendarat.
“Kita berangkat, mari…” bisik si Bungsu kepada Thi Binh.
Namun gadis itu masih menggigil dan menyurukkan wajahnya di dada si Bungsu. Nampaknya tubuhnya menjadi lemas oleh ketakutan dahsyat tersebut, sehingga tak mampu bergerak. Si Bungsu berdiri, menyerahkan parang dan bedil kepada Duc Thio. Kemudian dibopongnya tubuh Thi Binh ke rakit. Han Doi mengumpulkan peta dan galah bambu yang berserakan di dekat api unggun. Kemudian cepat-cepat menyusul ke rakit. Mereka segera mengayuh rakit itu ke tengah dan de¬ngan cepat menyelusup di dalam kabut, menyalip di antara pepohonan raksasa dan akar-akar rawa yang menjulai seperti kelambu dari dahan-dahan.
Tak seorang pun di antara mereka yang bicara. Karena hari masih gelap, yang menggalah rakit di depan adalah si Bungsu. Dengan nalurinya yang tajam dan hafalnya dia pada struktur belantara, dia dengan mudah mencari jalan di antara pepohonan yang dipalun kabut itu.
Thi Binh tak mau..

2 Comments

  1. terima kasih uda, ditunggu lanjutanya

  2. Cerita petualangan si bungsu di fietnam sangat fantastic,saya mohon tolong di lanjut kan.terima kasih.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s