Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 589)

Thi Binh tak mau jauh dari pemuda itu. Dia duduk di rakit sambil tangannya memeluk sebelah kaki si Bungsu yang tegak menggalah. Han Doi menggalah di bahagian belakang rakit. Sementara Duc Thio berjaga di tengah rakit, dengan bedil siap memuntahkan peluru. Dengan sikap waspada penuh, mata mereka nyalang menatap ke segala penjuru ke tempat-tempat yang akan dan sedang mereka lewati.
Ketika subuh tiba dan sinar matahari menyinari bahagian-bahagian air rawa yang tak terlindung pepohonan, si Bungsu melihat di sebelah kanan depan ada sebuah pohon berdahan banyak dan sela-sela daun bermunculan buahnya. Dia membelokkan rakit ke arah pohon besar tersebut, yang batangnya mencuat ke permukaan air.
“Kalian kenal pohon itu…?” tanyanya sambil menunjuk ke pohon yang buahnya mirip buah apel.
Han Doi dan Duc Thio memperhatikan pohon itu dengan seksama, kemudian sama-sama menggeleng.
“Saya juga tak mengenalnya. Namun dari daun dan warna pohonnya, buah itu nampaknya bisa dimakan…” ujar si Bungsu.
Ketika rakit itu sampai di bawah pohon, si Bungsu menjuluk setangkai buah berwarna kuning. Tangkai dengan empat buah kayu itu jatuh ke rakit. Si Bungsu mengambilnya sebuah. Kemudian membasuhnya ke air. Menciumnya, lalu menggigit buah tersebut. Tih Binh, Han Doi dan Duc Thio memperhatikan dengan diam. Ada beberapa saat si Bungsu mengunyah, lalu menelan.
“Waw, manis dan gurih…” ujarnya sambil menggigit buah tersebut.
Ganti kini ketiga orang Vietnam itu yang meng¬ambil buah tersebut, membasuhnya ke air, dan memakannya. Dan mereka nampaknya se¬pakat, bahwa itu memang nikmat. Si Bungsu menjuluk bebe¬rapa kali lagi. Setelah terkumpul sekitar tiga puluh buah, dia lalu mengayuh rakitnya kembali.
“Untuk sementara kita harus makan buah-bu¬ahan saja. Kita tak bisa lagi memakan da¬ging atau ikan. Terlalu berbahaya menghidupkan api untuk membakarnya. Asap api akan menimbulkan kecurigaan tentara Vietkong,” ujar si Bungsu.
Namun belum berapa jauh mereka menggalah rakit dari pohon yang buahnya lezat tapi tak dikenal namanya itu, si Bungsu tiba-tiba berhenti menggalah. Tidak hanya itu, dia menancapkan galahnya ke dasar rawa, yang kedalaman airnya sekitar lima depa, kemudian menghentikan rakit.
“Ada apa…?” ujar Thi Bingh yang sudah tak lagi memeluk kaki si Bungsu, melainkan sudah duduk di tengah rakit tak jauh dari ayahnya yang tetap siap dengan bedil di tangan.
Duc Thio dan Han Doi menatap pada si Bungsu, kemudian mengamati rawa itu dengan tatapan mereka ke segala penjuru.
“Ada apa?” ujar Han Doi setelah tatapan matanya tak menemukan hal-hal yang mencurigakan di sekitar mereka.
“Jalan ke arah yang kita tuju nampaknya nyaris tertutup,” ujar si Bungsu perlahan.
Ketiga orang Vietnam itu mencoba menatap ke depan, ke arah mata si Bungsu nanap memandang. Namun tak ada sesuatu yang menimbulkan kecurigaan mereka. Di depan air rawa itu tetap diam tak bergerak. Seolah-olah batu mar-mar hitam kemerah-merahan. Diam, dingin dan mencekam.
“Kenapa tertutup?” tanya Han Doi.
“Ada bahaya pada satu-satunya jalur yang harus kita tempuh…” ujar si Bungsu sambil tangannya tetap berpegang pada galah yang tertancap ke dasar rawa dan matanya nanap menatap ke depan.
Ketiga orang Vietnam itu kembali berusaha menatap permukaan air di depan sana, maupun di sekitar rakit mereka. Tapi sungguh tak ada satu hal pun yang patut ditakuti yang mereka lihat. Sekitar tiga puluh depa di depan sana, di antara belukar dan pepohonan berdahan dan berdaun rindang, kabut mengapung rendah di permukaan air.
“Saya tak melihat apapun sebagai tanda-tanda adanya bahaya…” ujar Duc Thio perlahan.
“Saya juga tidak…” ujar Han Doi.
Si Bungsu melemparkan pandangannya sekali lagi ke depan sana. Seolah-olah ingin menembus kabut tebal itu. Kemudian menatap ke bahagian kanan, lalu ke bahagian kiri. Kemudian kembali menatap ke arah kabut tebal yang menggantung rendah itu.
“Di air yang tertutup oleh kabut itu ada belasan, mungkin puluhan ekor buaya. Rawa berkabut di sana nampaknya tempat mereka berkumpul…” ujar si Bungsu.
Baik Duc Thio maupun Han Doi dan Thi Binh segera saja memelototi kabut tebal yang menutup sebahagian besar wilayah rawa sekitar tiga puluh depa di depan mereka. Namun apalah yang akan nampak, kecuali kabut dan pohon yang mencuat di atasnya. Kabut tebal itu memang benar-benar berada di permukaan air, dengan ketebalan sekitar tiga atau empat meter. Di atas kabut itu pohon-pohon besar kelihatan seolah-olah tumbuh.
“Mana peta…” ujarnya pada Han Doi sambil berjongkok.
Thi Binh segera meraih gulungan peta yang ada dalam tas kain ayahnya. Kemudian menyerahkannya pada si Bungsu, yang kemudian membuka dan membentangkannya di atas rakit. Beberapa saat dia mempelajari rawa itu dan daerah sekitarnya yang tertera di peta. Kemudian dia melihat kompas yang ada di jam tangannya. Menekan sebuah tombol, kemudian memperhatikan posisi matahari yang sudah terbit.
“Nampaknya kita..

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s