Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 590)

“Nampaknya kita tidak punya pilihan lain. Memutar ke barat atau utara terlalu jauh. Satu-satunya jalan adalah menembus kabut itu, melewati barisan buaya yang sedang mengapung di sana…” ujarnya perlahan sambil menatap pada Thi Binh, Duc Thio dan Han Doi.
Mereka juga menatap padanya dengan diam. Si Bungsu menarik nafas panjang.
“Baik. Dengarkan, jika saya tak salah hitung, kabut di depan sana merupakan dinding yang tebalnya hanya sekitar dua atau tiga meter. Setelah itu setiap jengkal air rawa yang akan kita lalui adalah sarang buaya. Jumlah buaya di balik kabut itu, se¬perti yang kukatakan, mungkin belasan, tapi saya punya firasat jumlahnya bisa puluhan. Mudah-mudahan saya salah…” dia berhenti sebentar.
Dimintanya buah mirip jambu atau apel itu kepada Thi Binh. Gadis itu mengambil sebuah, mencucinya terlebih dahulu ke air rawa, kemudian memberikannya kepada si Bungsu. Si Bungsu me¬ngunyahnya perlahan sambil menatap Thi Binh.
“Kau masih ingin ikut?” tanyanya pada gadis itu.
“Saya akan terjun di sini bila kau tinggalkan…” ujar Thi Binh perlahan.
Si Bungsu mengusap kepala gadis itu. Kemudian menatap pada Duc Thio dan Han Doi.
“Kemarin dan malam tadi kita diteror dua monster yang amat menakutkan. Tapi pagi ini kita akan memasuki neraka dalam arti yang sebenarnya. Tetap¬lah berada di tengah rakit. Bedil takkan ada gunanya. Sekali mereka menghantam rakit habislah kita, hanya ada satu cara untuk selamat. Bila salah satu dari buaya itu mulai menghantam rakit, berusahalah untuk melompat ke dahan kayu terdekat dan memanjat tinggi-tinggi. Kesempatan itu hanya satu di antara seratus ribu, tapi tak ada salahnya untuk mencoba…” Si Bungsu menghentikan penjelasannya.
Dia kembali mengunyah dan menelan buah di tangannya perlahan. Menarik nafas panjang dan menikmati telanan terakhir dari buah di mulutnya.
“Biar saya yang menggalah sendiri…” ujarnya sambil mencabut galah yang dia tancapkan di rawa.
Ketika dia berdiri, dia menatap pada Thi Binh. Gadis itu juga tengah menatap padanya.
“Kemarilah Thi Binh. Duduk di dekatku…” ujarnya.
Thi Binh berdiri. Melangkah perlahan ke arah si Bungsu. Berdiri di depan pemuda itu dengan mata menatap dalam-dalam ke mata si Bungsu.
“Jika… jika aku harus mati, aku hanya rela mati dalam pelukanmu…” bisik gadis itu perlahan.
Si Bungsu memeluk gadis itu erat-erat. Duc Thio tak mampu menahan air mata. Derita panjang dan dahsyat yang dialami anak gadisnya yang masih belia itu membuat hatinya runtuh. Dan kini, ketika anak gadisnya itu jatuh hati pada seorang lelaki asing yang perkasa, dia tak berani berharap banyak. Bahkan untuk berdoa agar anaknya menikah dengan lelaki itu pun dia tak punya keberanian. Dia takut berharap terlalu besar.
“Engkau sudah terlalu banyak menderita, Thi-thi. Kita akan keluar dengan selamat. Engkau akan kembali melihat kota, masuk sekolah, aku berjanji untuk membuktikan ucapanku ini padamu…” bisik si Bungsu.
Lalu mereka berpelukan dalam diam.
“Duduklah, jangan jauh dariku. Aku tak ingin engkau tak berada di dekatku jika terjadi apa-apa…” ujar si Bungsu.
Thi Binh menatap lelaki dari Indonesia itu. Perlahan didekatkannya wajahnya. Kemudian mencium si Bungsu. Lalu perlahan dia duduk di rakit, di samping kaki si Bungsu. Si Bungsu menatap Duc Thio dan Han Doi.
“Baik, kita berangkat…” ujarnya sambil mulai menggalah.
Hanya dalam waktu satu menit, rakit itu se¬gera menyeruak kabut di depan mereka. Udara di¬ngin terasa menyelusup ke dalam sela-sela pa¬kaian, membuat tubuh mereka terasa dingin. Dan tak sampai semenit kemudian, rakit itu tiba-tiba saja sudah menerobos dinding kabut tersebut.
Persis seperti yang dikatakan si Bungsu. Kabut itu hanya merupakan dinding setebal dua atau tiga meter. Setelah itu sebuah hamparan luas air rawa di antara pepohonan besar yang tumbuh amat jarang. Dan di depan mereka… ya Tuhan, ya Tuhan…!
Bukan belasan, mungkin ada puluhan ekor buaya kelihatan mengapung di permukaan air di depan mereka. Anehnya, semua buaya itu seperti berbaris, semua kepalanya menghadap ke matahari terbit. Sesayup-sayup mata memandang, ke utara maupun ke barat, yang nampak adalah kepala dan punggung buaya yang mengapung, diam tak ber-gerak sedikit pun!
Han Doi dan Duc Thio ternganga dan menggigil melihat pemandangan yang amat dahsyat itu. Thi Binh memeluk paha si Bungsu erat-erat dan menahan gigilannya di sana. Si Bungsu menghentikan rakit hanya sedepa dari buaya terdekat, yang besarnya lebih besar dari pohon kelapa. Mereka berhenti dalam kebisuan yang amat mencekam.
“Jangan bersuara, jangan bergerak…” bisik si Bungsu sambil mulai menarik galahnya.
Dengan sangat hati-hati dia memasukkan galah itu ke air, lalu perlahan menancapkan ke dasar rawa, dan perlahan pula dia menekan ke arah belakang. Rakit itu meluncur amat perlahan. Si Bungsu berusaha agar tak berbuat khilaf, yang bisa membuat arah meluncurnya rakit melenceng mendekati salah seekor buaya yang mengapung diam itu.
Satu saja dari buaya-buaya itu beraksi, maka dunia mereka akan kiamat. Dua hal yang dia jaga, pertama agar rakit itu tak menyentuh salah seekor buaya, kedua bagaimana rakit itu tetap bergerak dari pohon ke pohon. Maksudnya tak lain jika terjadi apa-apa, maka mereka bisa meloncat ke pohon tersebut.
Memilih alur seperti itu sungguh sulit. Ja¬ngankan Duc Thio, Han Doi dan Thi Binh, tubuh si Bungsu saja dibasahi keringat dingin. Mereka dicekam rasa tegang dan takut yang luar biasa. Thi Binh yang duduk di rakit, di dekat si Bungsu tegak, memeluk dan mencengkram paha si Bungsu de¬ngan erat. Dia sampai tak berani membuka mata, saking takutnya.
Rakit bergerak amat perlahan. Si Bungsu mencari celah di antara barisan buaya yang berlapis-lapis itu. Jarak antara buaya yang satu dengan yang di bahagian belakang ada sekitar empat atau lima depa. Sementara jarak baris pertama dengan baris kedua dan baris kedua dengan baris ke tiga ada sekitar dua atau tiga meter, begitu seterusnya.
Di sela-sela celah…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s