Tikam Samurai (Bagian 11)

Salah seorang Kempetai itu melepaskan pegangannya dari Malano. Kemudian maju menangkap si bungsu. Namun sebuah tendangan menyebabkan Kempetai ters urut dengan perut mual.

”Bagero Habisi nyawanya” si gemuk yang merasa sudah banyak waktunya yang terbuang

segera memerintahkan untuk membunuh anak muda itu.

Kedua jepang itu maju dengan menghunus samurai mereka. Mata si bungsu tiba-tiba berkilat. orang yang hadir tak melihat perubahan sedikitpun pada diri anak muda itu. Wajahnya tetap murung. Sinar matanya tetap luyu. Begitu dulu, begitu sekarang. Tiba-tiba kedua jepang itu membabat. Dan tiba-tiba….snap Tiga bacakon yang terlalu cepat untuk bisa diikuti. Akhirnya sebuah tikaman yang telak ke belakang. Persis seperti jurus yang dipergunakan oleh ayahnya, Datuk Berbangsa, di halaman rumahnya belasan purnama yang lalu.

Kedua Kempetai itu tertegak diam. Mata mereka menatap kosong ke depan. Wajah mereka

seperti keheranan. Tiba-tiba mereka rubuh Si bungsu tegak diam di tempatnya. Samurai di

tangannya berada kembali dalam sarungnya. Semua orang terdiam. Bahkan anginpun seperti berhenti bertiup, jepang gemuk itu juga tertegun. Namun hanya sesaat, kemudian dengan memaki dalam bahasa jepang dia maju. Tangannya tergantung dekat samurai. Dia maju setelah mendorong Saleha hingga rubuh.

”Kubunuh kau jahanam” jepang gemuk itu memaki, dan samurainya berkelebat.

Aneh, tiba-tiba pula seperti halnya ketika dia melawan harimau jadi-jadian di gunung sago

sebulan yang lalu, wajah Kempetai gemuk ini seperti berubah. Wajahnya kini mirip wajah Saburo Matsuyama. Komandan Kempetai yang membunuh ayah, ibu dan memperkosa kakaknya.

Wajahnya yang murung berubah jadi keras. Gerakan samurai si gemuk itu bukan main

cepatnya. Namun lebih cepat lagi gerakan lompat tupai yang dipergunakan oleh si bungsu.

Tubuhnya tiba-tiba berguling ke kanan. Samurai si gemuk memburu ke sana. Kosong Tiba-tiba dia melambung tegak dua depa di depan Kempetai itu. Kini mereka berhadapan. Tak seorangpun di antara penduduk yang percaya atas apa yang baru saja mereka saksikan.

Mulai dari saat kematian kedua Kempetai itu, sampai pada peristiwa sebentar ini. Benarkah

yang berada di hadapan mereka dan yang berhadapan dengan Kempetai itu adalah si Bungsu anak Datuk Berbangsa? Si penjudi yang terkenal penakutnya itu?. Mereka tak sempat berpikir. Kedua lelaki itu berhadapan lagi. Kempetai gemuk itu menggeser telapak kakinya di tanah, inci demi inci. Tiba-tiba samurainya bekerja.

Tapi saat itu si bungsu mencabut samurainya. Tak seorangpun yang melihat bergeraknya

samurai kedua orang itu. Kedua-duanya alangkah cepatnya. Namun, kini si bungsu kelihatan

berlutut di lutut kirinya. Samurainya menghujam ke belakang. Dan di ujung samurainya Kempetai gemuk itu tertusuk persis di dada kiri Kempetai itu tertegak diam. Matanya mendelik. Samurainya terangkat tinggi.

Dia menggertakkan geraham. Menghimpun tenaga. Kemudia menghayunkan samurai di

tangannya ke tengkorak si bungsu yang berlutut disebelah kaki membelakanginya. Saleha

terpekik. Begitu pula beberapa perempuan yang tegak dengan kaku di sekitar halaman masjid itu. Namun hayunan samurai si gemuk hanya sampai separoh. Kempetai itu rubuh ke tanah. Si bungsu menyentakan samurainya dan dengan amat cepat memasukkan kembali ke sarungnya.

Gerakan cepat Bungsu mencabut samurainya diawal pertarungan tadi membuat konsentrasi si gemuk terganggu. itulah salah satu sebab kenapa serangannya tak terarah. Tak pernah dia sangka sedikitpun, bahkan hampir tak masuk di akal, ada penduduk pribumi yang masih sangat muda memilki kecepatan luar biasa mempergunakan samurai. Lebih cepat dari seorang Kempetai Apakah ini bisa terjadi? Ketika kedua anak buahnya meninggal tadi, sebenarnya dia sudah merasa heran.

Kuda-kuda dan langkah kaki anak muda ini tak menurut aturan dan teori seorang samurai.

Nampaknya asal melangkah saja. Bahkan beberapa gerakannya terlihat canggung dan lucu. Tapi kenapa dia bisa secepat itu? Kempetai gemuk itu tak sempat mengambil kesimpulan atas pertanyaan di kepalanya. Dia keburu mati.

Kalau Kempetai itu sudah menganggap bahwa si bungsu terlalu cepat dengan samurainya,

maka penduduk kampung itu benar-benar tak tahu apa yang terjadi. Mereka melihat si Bungsu hanya sekali memegang samurai terhunus. Yaitu ketika dia menikamkan samurai itu pada si gemuk di belakangnya. Kemudian samurai itu disentakkan, dan lenyap ke dalam sarungnya. Kini anak muda itu seperti hanya memegang sebuah tongkat kayu yang panjangnya kurang sedepa.

Si Bungsu tegak di antara mayat-mayat Kempetai itu. Menatap pada Saleha, kemudian pada

Sawal dan Malano. Sementara mereka membalas tatapannya dalam diam. Mereka benar-benar takjub. Kejadian ini terlalu luar biasa bagi mereka. Anak muda itu masih tegak dengan muka murung. Lalu si Bungsu menoleh pada Imam yang masih tersandar di pintu masjid.

”Saya rasa Kempetai ini hanya datang bertiga. Mudah-mudahan yang lain tak tahu. Kuburkan mereka jauh-jauh. Lenyapkan segala tanda kedatangan mereka kemari. Jangan sampai yang lain tahu. Kalau mereka tahu mereka mati di sini, yang lain akan mereka bunuh. Terima kasih atas bantuan pak Imam pada saya….” lalu dia menoleh pada Sawal.

”Tinggaikan kampung ini buat sementara. Agar jepang-jepang itu tak curiga.” Kemudian dia

menghadap lagi pada Malano yang tadi melayanyaunya dengan tangan.

”Terima kasih Malano, engkau seorang pejuang. Ayah pasti bangga mempunyai murid seperti engkau. Siang tadi kalian memberiku waktu sampai sore untuk berada di kampung ini. Sudah tiba saatnya bagi saya untuk pergi…”

Lalu dia memandang pada Saleha. Gadis itu juga menatap padanya.

”Terima kasih Saleha. Atas air hangat dan kain lap yang engkau berikan tadi….”

Tak ada yang menjawab. Tak ada yang bersuara. Dan anak muda itu berjalan menuju hilir

kampung. Suaranya tadi terdengar tenang. Tak ada nada dendam. Tak ada nada sakit hati. Dia tetap seperti dahulu. Wajahnya tetap murung dengan tatapan mata yang kuyu. Ya, tak ada yang berobah pada dirinya. Dia tetap seperti dulu. Bedanya kini hanyalah Samurai di tangan dan bara dendam di hatinya

Si bungsu makin lama makin jauh. Semua orang ingin memanggil dan berkata agar dia jangan pergi. Semua orang ingin minta maaf atas apa yang telah mereka perlakukan terhadap anak muda itu. Saleha, Malano, Sawal. Semuanya. Namun tak seorangpun yang mampu membuka mulut. Tak ada suara yang mampu diucapkan. Tak tahu bagaimana cara memulai kalimat. Imam ayah Saleha itulah yang bicara. Dia bicara perlahan, di antara air matanya yang mengalir turun- Dia bicara daripintu masjid, sambil bersandar ke pintu dan memegangi luka di dadanya.

”Setahun yang lalu, ketika semua kita melarikan diri dari kampung ini, dialah yang

menguburkan jenazah anak kemenakan kalian. Dialah yang menguburkan suami dan isteri kalian.

Dia tak ingin mayat-mayat itu dimakan binatang buas. Dia kuburkan mereka dalam keadaan

dirinya sendiri luka parah. Bukankah engkau Datuk Labih yang melihat bahwa dia kena bacokan samurai sebelum engkau sendiri melarikan diri? Meninggaikan kakak perempuanmu diperkosa dan dibunuh tentara jepang? Kemudian engkau pula yang mengatakan pada orang kampung bahwa tak mungkin dia menguburkannya. Bahwa bangkainya pasti telah dimakan anjing atau diseret binatang buas ke rimba?. Bahwa kalian semua mempercayai, bahkan memang berharap. anak itu mendapat celaka seperti itu? Bukankah begitu?”

Tak ada yang menjawab. Beberapa orang kelihatan menghapuskan air mata. Imam itu juga

menghapus air mata di pipinya yang tua. Tiba-tiba dia menjadi muak melihat orang kampungnya ini. Dia juga muak pada dirinya. Kenapa tak sejak dahulu dia mempunyai keberanian untuk berkata begini? Seekor burung Gagak terbang tinggi. Suaranya menyayat pilu.

Gaaak….gaaak…gaaak. Di ujung sana, tubuh si Bungsu lenyap di balik tikungan. Pergi bersama tenggelamnya matahari senja. Hilang si Noru tampak pagai Hilang dilamun-lamun ombak. Hilang si bungsu karanosansai Hilang di mato urang banyak.

–odowo—

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s