Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 591)

Di sela-sela celah itulah si Bungsu meluncurkan rakitnya dengan amat perlahan.
Melewati baris pertama ke baris kedua, yang memakan waktu antara satu sampai dua menit, bagi mereka terasa seperti bertahun-tahun. Ada sepuluh jajaran yang harus mereka lewati. Tatkala sudah melewati baris ke tujuh, tiba-tiba buaya di baris ke sembilan menghantamkan ekornya. Air muncrat ke udara. Buaya-buaya di sekitarnya pada mengangakan mulut.
Si Bungsu menghentikan rakit dan semua mereka seperti merasa sudah berada di dalam mulut buaya. Buaya di baris ke sembilan itu melibaskan ekornya karena merasa terganggu oleh seekor bangau yang hinggap di punggungnya. Ada enam ekor buaya yang mengangkat mulutnya lebar-lebar. Semula kepala dengan moncong menganga lebar itu bergerak ke kiri dan kekanan, seperti parabola televisi.
Kemudian, masih dalam posisi menganga lebar, semua kepala itu kembali menghadap ke depan. Berada dalam posisi seperti itu dengan tubuh diam tak bergerak-gerak. Mereka berempat masih terdiam seperti membeku di atas rakit. Detik demi detik merangkak seperti bertahun-tahun.
Buaya di bahagian kiri, kanan dan belakang rakit tetap mengapung diam. Ada satu dua menit rakit mereka tak bergerak. Si Bungsu menahan gerak rakit itu dengan bertahan dan memegang kuat-kuat galah yang dia pancangkan ke dasar rawa.
“Kita akan bergerak maju. Tetaplah waspada…” bisik si Bungsu sambil menekan galah arah ke belakang. Rakit itu bergerak perlahan ke depan.
“Perhatikan dahan terdekat, bila terjadi sesuatu melompatlah ke sana…” kembali si Bungsu berbisik. Diangkatnya galah, kemudian ditancapkannya perlahan ke bahagian depan. Lalu ditekannya, dan kini rakit mereka bergerak hanya sedepa dari dua ekor buaya yang mulutnya masih menganga lebar.
Ketika sedang melewati buaya pertama, tiba-tiba buaya di baris paling akhir memutar badan ke arah mereka. Si Bungsu terkesiap. Duc Thio dan Han Doi mengangkat bedil.
“Jangan menembak…” ujar si Bungsu yang berdiri di bahagian depan rakit.
Dia mencari akal bagaimana bisa melewati rintangan terakhir ini dengan selamat. Celakanya, buaya terakhir ini lebih besar dari buaya-buaya yang sudah mereka lewati sebelumnya. Thi Binh yang mencoba membuka mata karena mendengar ucapan si Bungsu ‘jangan menembak’ barusan, hampir saja terpekik melihat mulut buaya yang menganga sedepa di depan rakit yang berhenti.
Padahal, di belakang mereka buaya lain juga masih menganga mulutnya menghadap lurus ke depan. Si Bungsu membelokkan rakitnya perlahan ke kanan. Celaka! Buaya itu juga mengarahkan mulutnya yang terbuka lebar itu ke arah rakit mereka. Nampaknya buaya ini memang mengintai mereka.
“Di belakang…!” ujar Duc Thio yang sudut matanya menangkap ada gerakan di belakang rakit mereka.
Si Bungsu menoleh. Dan dengan terkejut melihat buaya yang menganga yang baru saja mereka lewati tadi kini juga memutar kepala ke arah mereka.
“Di kanan…” ujar Duc Thio.
Si Bungsu dan Han Doi menoleh ke kanan mereka. Dan mereka melihat buaya yang di kanan mereka yang tadi hanya mengapung diam, kini bergerak mendekati rakit.
“Tembak mulut buaya yang di depan!” perintah si Bungsu sambil mencabut galah.
Hanya sedetik kemudian rentetan peluru terdengar memecah kesunyian. Semburan belasan timah panas menghajar mulut buaya besar yang di depan mereka. Menghancurkan kepalanya. Akibat tembakan itu sungguh luar biasa. Hampir semua buaya yang mengapung diam itu tiba-tiba bergerak.
Buaya yang kena tembak itu menggelepar dan meng hempas di dalam air. Mengejutkan buaya di kiri kanannya. Dan saat itulah si Bungsu bertindak cepat dengan galahnya. Dia menancapkan galah, kemudian meluncurkan rakit di antara dua buaya yang sedang bergerak mendekati mereka.
Duc Thio dan Han Doi menghantamkan popor bedil mereka masing-masing ke kiri dan ke kanan rakit, ke kepala buaya yang sudah sangat dekat ke rakit. Buaya yang kena hantam kepalanya itu menggelepar. Seekor buaya yang berada di bahagian kiri rakit kelihatan menyelam.
Si Bungsu tahu maksudnya. Buaya itu akan membalikkan rakit mereka dari bawah. Dia melihat buaya yang lain juga sedang memutar kepala ke arah mereka. Mereka benar-benar sudah berada di pintu neraka. Sebelum hal itu benar-benar terjadi, si Bungsu menghentakkan galah dengan cepat dan dengan cepat pula menekan galah itu sambil melangkah ke belakang, agar rakit itu bisa bergerak dengan cepat.
Namun dia lupa, saat bergerak melangkah ke belakang sambil menekan galah itu Thi Binh masih memeluk pahanya. Akibatnya sungguh mengejutkan. Pelukan tangan gadis itu di pahanya terlepas. Sementara akibat gerakan si Bungsu yang cepat, membuat Thi Binh terseret dan… jatuh ke air. Kendati sebelah tangannya masih sempat menyambar kaki kanan si Bungsu, yang dia sambar dalam keadaan kalut, namun seluruh tubuhnya sudah berada dalam rawa.
Celakanya, saat itu pula seekor buaya yang lain berada hanya sehasta dari tubuhnya yang berada di dalam air. Mulut buaya itu segera menganga dan dengan cepat meluncur ke arah Thi Binh. Gadis itu memekik-mekik dan berusaha dengan panik meng¬angkat dirinya kembali ke rakit. Saat itu pula mulut buaya itu menyambar betisnya yang menggapai – gapai di air.
Namun sebelum celaka menimpa Thi Binh, si Bungsu segera menghantam ujung galah ke mulut buaya yang mengaga itu. Galah bambunya menghentak pangkal kerongkongan reptil besar itu, kemudian mendorongnya kuat – kuat. Pada saat yang bersamaan, tangan kirinya menyambar tubuh Thi Binh.
Gadis itu tak berhasil dia sambar tangannya. Yang tersambar hanya bajunya. Namun itu usaha terakhir si Bungsu untuk menyelamatkan nyawa Thi Binh yang sudah berada di ujung tanduk. Sekali betis atau kaki gadis itu kena sambar buaya, tubuh gadis itu pasti disentakkan dan di bawa jauh ke dalam air. Dan maut jelas menantinya.
Dengan sekuat tenaga pakaian di bahagian punggung Thi Binh yang berhasil dia sambar itu di sentaknya kuat – kuat. Pakaian gadis itu robek di bahagian punggungnya. Namun sentakan itu menyebabkan tubuh Thi Binh terangkat dari air, dan mereka berdua jatuh bergulingan di rakit.
Untunglah rakit itu sedang meluncur cepat ke pinggir rawa, akibat dorongan si Bungsu pada tenggorokan buaya yang akan menyambar Thi Binh tadi.
Duc Thio menyemburkan…

peluru di bedilnya ke arah tiga buaya lain yang datang

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s