Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 592)

Duc Thio menyemburkan peluru di bedilnya ke arah tiga buaya lain yang datang memburu. Demikian pula puluhan buaya yang lain pada meluncur ke arah rakit tersebut. Rakit itu tiba-tiba tersampang di akar pohon di pinggir rawa. Dua ekor

[Episode II – 592)

buaya sudah mendekat. Duc Thio dan Han Doi kembali menembak.
“Meloncat ke darat…!!” ujar si Bungsu sambil membawa tubuh Thi Binh berdiri.
Han Doi dan Duc Thio segera melompat ke akar-akar kayu besar di tepi rawa. Hanya beberapa detik kemudian si Bungsu dengan memanggul Thi Binh di bahunya juga melompat. Begitu sampai di daratan. Si Bungsu meletak kan Thi Binh di tanah
“Ayo kita selamatkan rakit…” ujar si Bungsu sambil bergegas kembali ke akar-akar kayu yang besar itu.
Duc Thio dan Han Doi faham, kendati mereka bisa selamat dari kejaran tentara Vietnam kelak, mereka harus tetap memiliki rakit untuk melintasi rawa maut ini. Mereka segera berlari ke arah rawa. Dan menariknya pada saat yang benar-benar kritis. Sebab begitu rakit itu disentakkan ke atas, libasan ekor salah satu buaya menghantam tempat itu
Kalau saja rakit tersebut masih di sana, bisa dipastikan sudah bercerai berai menjadi kepingan tak berguna. Sementara di rawa sana, suatu kejadian dahsyat sedang berlangsung. Beberapa ekor buaya yang tadi mati ditembak Duc Thio dan Han Doi jadi rebutan belasan buaya yang hidup. Membuat rawa itu menggelegak dan berbuih oleh libasan belasan ekor buaya yang saling rebut, bahkan saling bunuh untuk mendapatkan makanan.
Bau darah yang menyebar di dalam air rawa tersebut merangsang mereka menjadi amat buas. Ada beberapa saat ketiga lelaki tersebut menatap kejadian ke tengah rawa itu dengan tegak mematung. Degan perasaan ngeri yang luar biasa, membayangkan bagaimana jadinya jika tadi mereka terbalik di rawa itu.
“Mari kita simpan rakit ini…” ujarsi Bungsu perlahan, sambil memutar badan dan melangkah ke darat.
Mereka menyembunyikan rakit tersebut di antara pepohonan yang rindang. Kemudian si Bungsu memebuka peta, memberi tanda di mana rakit itu diletakkan pada peta tersebut. Mereka lalu menyandang senapan masing – masing. Kemudian mulai menerobos hutan. Mendaki sebuah perbu¬kitan kecil tak jauh dari rawa tersebut.
Dari puncak bukit batu yang memanjang itu mereka dapat melihat cukup jauh. Di depan sana, terlihat bukit – bukit batu menjulang tinggi.
“Itu, bukit yang ada pohon kayu berdaun merah itu. Di bawah bukit ituada belasan wanita lainnya disekap untuk dijadikan pemuas nafsu. Aku kenal daun – daun merah itu, karena setiap akan pergi ke sungai kecil untuk mandi, aku selalu menatap ke puncak bukit tersebut…” ujar Thi Binh dengan suara menggigil.
Si Bungsu menatap gadis itu. Kemudian memeluk bahunya dengan lembut.
“Akan kuberi engkau kesempatan untuk membalaskan dendammu, Thi-thi. Percayalah, akan tiba saatnya engkau membalaskan dendammu…” ujar si Bungsu perlahan.
Dia tak mengatakan, bahwa dia tahu, jalan ke bukit merah itu takkan mudah. Paling tidak jarak dari bukit rendah ini ke bukit batu yang ditumbuhi pohon berdaun merah itu harus ditempuh dalam setengah hari.
Namun itu ada baiknya. Mereka bisa sampai di sana ketika malam sudah turun. Si Bungsu memutuskan untuk beris tirahat di puncak bukit itu beberapa saat, sembari me-mulihkan mental dari cengkeraman rasa takut atas teror buaya di rawa yang baru mereka tinggalkan.
“Tinggallah di sini sebentar. Saya akan kembali ke pinggir rawa sana, mencari buah-buahan untuk dimakan…” ujar si Bungsu.
Ternyata si Bungsu pergi cukup lama. Tidak hanya Thi Binh yang merasa amat gelisah, Duc Thio dan Han Doi juga merasa cemas. Kegelisahan itu baru sirna tatkala dua jam kemudian si Bungsu muncul.
“Hai, agak terlambat ya…” ujarnya sambil meletakkan pikulan yang di ujung depan ada pisang, rambutan dan durian dan di bagian belakang ada anak rusa yang sudah matang.
Thi Binh segera melompat dan menghambur memeluknya sebelum si Bungsu menurunkan pikulannya.
“Kenapa engkau tinggalkan saya begitu lama?” bisiknya sambil terisak.
Si Bungsu menjadi rikuh ditatap Duc Thio dan Han Doi. Namun dia berusaha menenangkan Thi Binh.
“Baik, lain kali saya tak akan meninggalkanmu…” bisiknya.
“Saya temukan anak rusa ini. Sudah saya bakar. Tak cukup kenyang kalau hanya memakan buah-buahan melulu. Membakar di dekat rawa sana lebih aman, asapnya tak kelihatan…” ujar si Bungsu pada Duc Thio dan Han Doi.
Mereka segera melahap panggang anak rusa itu sampai ludes. Panggang daging itu ludes bukan hanya karena perut mereka lapar, tapi terutama karena rasanya memang lezat sekali. Usai makan daging panggang itu, mereka masih sempat memakan beberapa buah rambutan.
Tapi, kecuali si Bungsu, tak seorang pun di antara ketiga orang Vietnam itu yang mampu untuk menambah makan pencuci mulut dengan rambutan, apalagi durian. Ketiga orang itu sudah pada tersandar, benar-benar kekenyangan. Malah Han Doi dan Duc Thio sudah mencari tempat berbaring.
Lelah dan kenyang, menyebabkan mereka cepat tertidur. Tidak demikian halnya dengan Thi Binh dan si Bungsu. Thi Binh kendati diserang kantuk dan lelah dan kekenyangan, namun dia tak bisa tidur begitu saja, karena cemas si Bungsu akan me-ninggalkan dirinya.
Sementara si Bungsu yang sudah terbiasa dan kebal diserang lelah sedahsyat apapun, tidak mengantuk bukan karena tak mau tidur. Melainkan karena dia ingin makan durian yang sudah dua kali dia nikmati kelezatannya itu. Dengan dua kali menghayunkan parang tajam milik Duc Thio, sebuah durian besar segera terbuka. Isinya kuning seperti kunyit. Baunya sangat harum, jika tak dia tahan, air liurnya pasti sudah tumpah bergelas-gelas saking ngilernya.
“Hei, mau durian…?” ujarnya pada Thi Binh yang duduk di sisinya.
Gadis itu menggeleng.
“Saya kenyang sekali…” ujarnya.
“Tidak mengantuk…?” ujar si Bungsu sambil memasukkan isi durian ke mulutnya.
Thi Binh menggeleng. Si Bungsu tersenyum.
“Kenapa tersenyum?”
“Duriannya enak sekali…”
“Kau tersenyum bukan karena durian…” ujar Thi Binh.
Si Bungsu mengangguk.
“Kenapa tersenyum?” desak Thi Binh.
“Kau sebenarnya mengantuk, tapi hatimu yang keras menyebabkan engkau tak mau tidur…” ujar si Bungsu dengan suara yang tak begitu jelas karena mulutnya dipenuhi durian.
Thi Binh tak beraksi. Si Bungsu tersenyum lagi. Thi Binh menjadi jengkel.
“Kenapa kau tersenyum lagi?” tanyanya.
“Kerena aku senang. Senang ada yang tak tidur. Jadi aku punya teman.…”
Si Bungsu tak sempat menghabiskan ucapannya, dia terpekik, karena dicubit Thi Binh.
“Kenapa kau mencubit?” ujar si Bungsu sambil mema sukkan isi durian ketiga ke mulutnya, yang besarnya sebesar lengan anak-anak.
“Senyummu sebenarnya menertawakan diriku…” ujar Thi Binh, sambil tangannya tetap mencubit lengan si Bungsu.
Si Bungsu tersenyum.
“Apa yang kau…

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s